NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 7

Keesokan harinya, suasana pagi di kediaman mereka terasa jauh lebih hidup. Cahaya matahari membiaskan kehangatan di area dapur tempat Misya sibuk meracik bekal makan siang.

Aroma tumis ayam lada hitam dan telur gulung isi sayuran menguar harum. Jemari Misya begitu lincah menata nasi dan lauk-pauk ke dalam wadah bekal transparan. Senyum di bibirnya tak kunjung padam sejak bangun tidur tadi. Bagi Misya, perubahan kecil pada sikap Reyden adalah celah harapan yang sangat besar untuk masa depan pernikahan mereka.

"Wah, wangi sekali sarapan dan bekalnya pagi ini, Bu," sapa Mbak Atin yang sibuk mengelap meja dapur sambil terkekeh pelan.

"Iya, Mbak Atin! Hari ini aku bikin ayam lada hitam kesukaan Mas Rey. Mumpung kemarin Mas Rey bilang suka sama masakan aku," jawab Misya riang, memiringkan kepalanya sedikit saat memoleskan sedikit saus tambahan.

Langkah kaki yang teratur dari arah tangga menandakan kehadiran sang pemilik rumah. Reyden turun dengan setelan kemeja biru gelap yang terpasang rapi di tubuhnya, lengkap dengan celana bahan hitam dan jam tangan melingkar di pergelangan.

Misya bergegas melepas apronnya, lalu melangkah ke meja makan menyambut suaminya.

"Selamat pagi, Mas!"

Reyden menghentikan langkahnya sejenak saat menatap binar bahagia di wajah istrinya. Tatapannya melunak secara alami.

"Pagi, Misya."

Pria itu duduk di kursinya, sementara Misya dengan telaten menyajikan secangkir kopi hitam panas dan piring berisi sarapan.

"Ini bekal untuk makan siang kamu nanti ya, Mas. Sudah aku rapikan di tas bekal," ujar Misya antusias sambil menunjukkan kotak bekal bernuansa pastel yang sudah berdiri rapi di atas meja konsol.

"Jangan sampai lupa dimakan lagi, dan vitaminnya juga sudah aku masukin di kantong depan tas kerja kamu."

Reyden menyesap kopinya perlahan, membiarkan rasa pahit hangat itu membasahi tenggorokannya sebelum menatap Misya lurus-lurus.

"Kamu se sepi itu ya di rumah, sampai niat sekali bikin bekal tiap hari?" tanya Reyden dengan nada datar khasnya, namun tatapan matanya sama sekali tidak menyiratkan rasa terganggu.

Misya terkekeh pelan sambil menarik kursi di hadapan suaminya.

"Nggak sepi kok, Mas. Aku kan senang masakin buat kamu. Lagian, dibanding kamu makan di luar terus waktu kerja, mending makan masakan rumah kan? Lebih sehat."

"Iya," balas Reyden singkat. Ia menyendokkan sarapannya, mengunyah sebentar lalu menambahkan,

"Masakan kamu memang lebih cocok di lidah saya."

Mendengar pujian singkat namun jujur itu, mata Misya berbinar makin terang.

"Beneran, Mas? Berarti besok-besok aku bikinin menu baru lagi ya?"

Reyden menatap istrinya dalam-dalam. Sifatnya yang kaku membuat pria itu sulit mengekspresikan betapa ia mulai menghargai setiap perhatian kecil ini. Namun, ia tidak berniat menahan antusiasme Misya.

"Terserah kamu saja. Asal kamu tidak kelelahan," jawab Reyden pelan.

Suara klakson mobil di luar menandakan Anggara, sang asisten, sudah tiba di depan pekarangan. Reyden menyelesaikan tegukan terakhir kopinya, lalu berdiri dan meraih jas kerja yang tersampir di sandaran kursi.

Misya ikut berdiri, menyambar tas bekal dan menuntun langkah suaminya hingga ke teras depan.

"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan lupa kabari aku ya..." pesan Misya penuh kehangatan. Ia mengulurkan tangannya.

Reyden menerima uluran tangan itu, membiarkan Misya mencium punggung tangannya khidmat seperti biasa. Namun kali ini, sebelum Reyden membalikkan badan menuju mobil, tangannya terulur merapikan helai rambut Misya yang tertiup angin pagi, membelai pipi istrinya singkat dengan ibu jarinya.

"Saya berangkat dulu. Kamu baik-baik di rumah," ucap Reyden penuh ketegasan yang bernada hangat.

"Iya, Mas. Semangat kerjanya!"

Reyden mengangguk kecil, lalu melangkah menuju mobil tempat Anggara sudah membukakan pintu untuknya. Dari dalam kabin, Reyden sempat melirik ke arah luar jendela, memperhatikan sosok Misya yang terus berdiri di teras sambil melambaikan tangan hingga mobil melaju meninggalkan halaman.

Di dalam mobil, Anggara melirik dari kaca spion tengah sambil tersenyum tipis.

"Pak Reyden terlihat jauh lebih segar dan rileks pagi ini."

Reyden berdehem pelan, memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan memasang kembali raut wajah kaku andalannya.

"Fokus menyetir, Anggara."

"Baik, Pak," sahut Anggara terkekeh pelan.

Sementara itu di teras rumah, Misya memegangi kedua pipinya yang terasa hangat. Walaupun perjalanan mereka masih panjang dan suaminya masih terkesan kaku dalam banyak hal, Misya hanya berharap perlahan namun konsisten, pintu hati Reyden kini terbuka semakin lebar untuknya.

Mobil yang dikendarai Anggara membelah kemacetan jalanan ibu kota menuju kawasan perkantoran distrik bisnis. Di kursi belakang, Reyden sudah kembali ke mode profesionalnya. Pria itu menyandarkan punggung, membuka iPad miliknya untuk memeriksa jadwal kegiatan hari ini. Raut wajahnya kaku dan penuh wibawa, sangat bertolak belakang dengan senyum tipis yang sempat terukir di teras rumahnya beberapa menit yang lalu.

"Pak Reyden," panggil Anggara hati-hati sambil terus mengawasi jalanan di depan.

"Ya?" sahut Reyden pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.

"Untuk jadwal siang nanti jam satu, kita ada meeting eksternal dengan tim dari Production House yang baru saja menandatangani kerja sama proyek iklan kampanye produk baru kita."

Reyden mengangguk pelan. "Pastikan semua materi presentasi dari tim internal kita sudah siap. Saya tidak mau ada kendala teknis."

"Sudah siap semua, Pak. Tapi..." Anggara menggantungkan kalimatnya sejenak. Ia melirik spion tengah, mengamati respons atasannya dengan cermat.

"Ada satu hal lagi mengenai perwakilan dari pihak Production House tersebut."

Reyden menghentikan jemarinya di atas layar. Ia mengangkat wajahnya, menatap lirik mata Anggara di cermin spion.

"Kenapa? Ada masalah dengan jajaran direksi mereka?"

"Tidak, Pak. Hanya saja... pihak PH mengonfirmasi bahwa yang memimpin proyek ini langsung adalah Creative Director mereka yang baru saja kembali dari luar negeri," Anggara menarik napas pendek sebelum menyebutkan sebuah nama.

"Bu Aurelia Parlita Handoko."

Deg.

Cengkeraman tangan Reyden pada tepi iPadnya seketika mengetat. Rahangnya mengeras secara refleks. Suasana dingin nan mencekam mendadak memenuhi kabin mobil mewah itu. Nama yang baru saja diucapkan Anggara seolah melemparnya kembali ke masa lalu, sebuah masa yang baru beberapa malam lalu menjadi bahan perbincangan panas di rumah keluarganya.

Aurelia Parlita Handoko.

Wanita yang pernah singgah dalam hidupnya. Wanita yang memilih pergi untuk melanjutkan studi dan karirnya di luar negri. Wanita berpendidikan tinggi dengan ambisi segunung, yang oleh sepupu-sepupunya kemarin malam diagung-agungkan dan dibanding-bandingkan dengan Misya.

Anggara yang sudah menjadi asisten pribadi Reyden sejak lima tahun lalu tentu tahu betul jalan cerita masa lalu atasannya. Ia bisa merasakan perubahan aura di dalam mobil.

"Pak Reyden? Bapak tidak apa-apa?" tanya Anggara dengan nada cemas.

"Apalagi pihak mereka ingin anda sendiri dan Bu Aurelia yang bertemu untuk membicarakan kelanjutan kerjasama kita ini..."

Reyden terdiam selama beberapa detik. Tatapannya menajam, menatap lurus ke arah jalan raya di depan sana. Ia menghela napas panjang, menetralkan desakan emosi asing yang sempat mencubit dadanya.

"Tidak masalah, Anggara," jawab Reyden, suaranya kembali dingin dan tidak tersentuh.

"Ini urusan profesionalisme pekerjaan. Saya tidak punya alasan untuk menghindar. Dan siapkan semua berkasnya dengan baik,"

"Baik, Pak. Saya mengerti," balas Anggara patuh.

Sedangkan Rey memilih melihat ke arah jendela, entah apa yang ada dalam pikiran pria itu, Angara juga tak bisa menebak-nebak pastinya. Hanya saja sebagai seorang bawahan dia ingin yang terbaik untuk atasan dan perusahaannya. Terlebih melihat pernikahan perjodohan antara Reyden dan Misya juga sudah mulai jauh lebih baik.

1
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, ditunggu ya 👍
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!