“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — PENGANTIN DI TENGAH MALAM
Roma, Italia — Pukul 21.30
Bianca Laurent tidak pernah membayangkan bahwa gaun pengantin pertamanya akan berwarna putih gading, dibuat oleh desainer ternama Italia, dan dikenakan di sebuah kapel pribadi yang bahkan tidak tercantum dalam peta wisata Roma.
Terlebih lagi, ia tidak pernah membayangkan bahwa pria yang akan menunggunya di altar adalah seorang bos mafia bermata biru safir.
Dante Alessandro Vieri.
Pria yang baru dikenalnya dua hari lalu, tetapi kini memiliki kekuatan untuk mengubah seluruh masa depannya.
Bianca berdiri di hadapan cermin besar di kamar yang disediakan untuknya di kediaman keluarga Vieri. Gaun sutra itu membalut tubuhnya dengan anggun, sementara renda halus menghiasi bagian lengan dan pinggangnya. Rambut hitam panjangnya ditata dalam gelombang lembut, sebagian disematkan dengan jepit berlian.
Ia tampak seperti seorang putri dari keluarga bangsawan.
Namun, di balik penampilan itu, jantungnya berdegup tidak karuan.
“Cantik sekali, Signorina,” ujar Sofia, perempuan yang ditugaskan mendampinginya sejak pagi.
Bianca menatap bayangannya sendiri.
“Apakah menurutmu aku terlihat seperti perempuan yang akan menikah karena cinta?”
Sofia terdiam sebentar.
“Menurut saya, Anda terlihat seperti perempuan yang sedang berusaha menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.”
Bianca tersenyum tipis.
Jawaban itu jauh lebih jujur daripada pujian mana pun.
Ia mengambil kalung kecil peninggalan ibunya dari atas meja. Liontin emas berbentuk bulan sabit itu telah menemaninya sejak kecil. Ibunya pernah berkata bahwa benda tersebut akan mengingatkannya agar tidak kehilangan dirinya sendiri, bahkan ketika dunia berusaha menentukan siapa dirinya.
Bianca mengenakan kalung itu.
“Aku tidak akan menyerahkan hidupku begitu saja,” bisiknya kepada bayangannya.
Ketukan terdengar di pintu.
“Signorina, Tuan Vieri menunggu.”
Bianca menarik napas panjang.
Malam itu, ia akan menjadi istri seorang pria yang menyimpan terlalu banyak rahasia.
Dan ia bertekad menemukan semuanya.
Kapel pribadi keluarga Vieri berdiri di belakang sebuah vila tua di pinggiran Roma. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi interiornya dipenuhi marmer putih, ukiran emas, dan lilin-lilin yang menerangi lorong menuju altar.
Tidak ada tamu dari kalangan masyarakat umum.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada pesta besar.
Hanya beberapa anggota keluarga Vieri, pengacara, dan orang-orang kepercayaan Dante yang berdiri dalam keheningan.
Pernikahan itu memang harus dirahasiakan.
Ketika mobil berhenti di depan kapel, seorang pengawal membukakan pintu untuk Bianca.
Ia turun dengan hati-hati, menggenggam buket mawar putih.
Lalu ia melihat Dante.
Pria itu berdiri di dekat pintu kapel dengan setelan hitam yang dijahit sempurna. Rambutnya disisir ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang tegas. Di bawah cahaya lampu keemasan, mata biru safirnya tampak semakin tajam.
Dante menatap Bianca tanpa berkedip.
Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.
Bianca merasa tidak nyaman dengan tatapan tersebut.
“Ada sesuatu di wajah saya?” tanyanya.
Dante menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Lalu mengapa Anda menatap saya seperti itu?”
“Karena aku sedang mencoba memahami bagaimana seseorang bisa terlihat begitu tenang ketika hendak menikahi pria yang jelas-jelas tidak disukainya.”
Bianca mengangkat dagu.
“Jangan terlalu percaya diri. Saya hanya sedang memastikan kaki saya tidak gemetar.”
Senyum samar muncul di bibir Dante.
“Kalau begitu, kita memiliki kesamaan. Aku juga tidak pernah membayangkan akan menikah dengan perempuan yang berani membantahku di setiap kesempatan.”
“Masih ada waktu untuk membatalkannya.”
“Tidak malam ini, Bianca.”
Senyumnya menghilang ketika ia mengulurkan lengan.
“Sudah waktunya.”
Bianca menatap lengan itu sebelum akhirnya menerimanya.
Mereka berjalan memasuki kapel bersama-sama.
Setiap langkah terasa seperti meninggalkan sebagian kehidupan lamanya.
Ketika mereka berdiri di hadapan pendeta, Bianca menyadari bahwa telapak tangannya dingin. Dante berdiri di sampingnya dengan tenang, seolah pernikahan ini hanyalah sebuah pertemuan bisnis biasa.
Namun, ketika pendeta mulai membacakan janji pernikahan, Dante sedikit menoleh kepadanya.
“Apakah kau baik-baik saja?” bisiknya.
Bianca terkejut.
Ia tidak menyangka pria itu akan menanyakan hal tersebut.
“Saya akan baik-baik saja setelah semuanya selesai.”
Dante tidak membalas.
Pendeta melanjutkan upacara.
Ketika tiba waktunya mengucapkan janji, Bianca menatap pria di hadapannya.
“Aku, Bianca Elena Laurent, menerima Dante Alessandro Vieri sebagai suamiku, untuk berjalan bersamanya dalam suka maupun duka, dalam keadaan baik maupun buruk.”
Kata-kata itu terasa asing di lidahnya.
Bukan karena ia tidak memahami artinya, melainkan karena ia tidak tahu apakah mereka akan benar-benar menjalani kehidupan sebagai pasangan atau sekadar dua orang asing yang berbagi nama.
Giliran Dante tiba.
Ia menatap Bianca dengan mata biru safirnya.
“Aku, Dante Alessandro Vieri, menerima Bianca Elena Laurent sebagai istriku. Aku berjanji akan melindunginya, menghormatinya, dan berdiri di sisinya selama ia memilih untuk berjalan bersamaku.”
Bianca terdiam.
Janji itu berbeda dari yang ia bayangkan.
Dante tidak menjanjikan cinta.
Namun, ia juga tidak mengatakan bahwa Bianca harus mematuhinya.
Setelah cincin disematkan di jari masing-masing, pendeta menyatakan mereka sebagai suami dan istri.
“Silakan mencium pengantin Anda.”
Bianca membeku.
Ia menoleh kepada Dante, berharap pria itu memahami kegelisahannya.
Dante tidak langsung mendekat.
Ia menundukkan kepala sedikit dan berbisik, “Boleh aku menciummu?”
Pertanyaan itu membuat Bianca terkejut.
Di tengah semua kesepakatan, ancaman, dan rahasia, Dante masih memberinya kesempatan untuk menjawab.
Bianca menelan ludah.
“Jangan membuatnya terlalu lama.”
Dante mengangguk.
Ia menyentuh pipi Bianca dengan lembut, lalu mengecup bibirnya singkat.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada pertunjukan berlebihan.
Hanya sebuah ciuman sederhana yang disaksikan beberapa orang terpilih.
Namun, ketika Dante menjauh, Bianca menyadari bahwa jantungnya berdegup lebih cepat daripada sebelumnya.
Ia segera memalingkan wajah.
Dante memperhatikan reaksinya, tetapi tidak menggodanya.
“Selamat datang, istriku,” bisiknya.
Bianca menatap cincin di jarinya.
Ia tidak tahu apakah ucapan itu merupakan awal dari sesuatu yang baik atau peringatan tentang sesuatu yang jauh lebih buruk.
Pukul 23.48, upacara telah selesai.
Bianca berdiri di balkon vila, memandangi taman yang diterangi cahaya bulan. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa aroma bunga melati dari taman.
Ia membutuhkan waktu sendirian untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
Kini ia benar-benar menjadi istri Dante Vieri.
Secara hukum.
Secara rahasia.
Dan, entah bagaimana, secara emosional pun ia mulai menyadari bahwa pria itu tidak sesederhana yang ia pikirkan.
“Aku tahu kau akan berada di sini.”
Suara Dante terdengar dari belakang.
Bianca tidak menoleh.
“Apakah Anda selalu mengawasi istri Anda?”
“Hanya ketika istriku menghilang dari ruangan tanpa memberi tahu siapa pun.”
“Saya hanya membutuhkan udara segar.”
Dante berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang sopan.
Untuk beberapa saat, mereka memandangi taman dalam diam.
“Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini,” katanya akhirnya.
“Lalu mengapa Anda tetap melakukannya?”
“Karena aku percaya kau berada dalam bahaya.”
“Dan Anda yakin menikahi saya akan menyelesaikan semuanya?”
“Tidak.” Dante menatap langit. “Aku hanya yakin bahwa membiarkanmu sendirian akan lebih berbahaya.”
Bianca menoleh.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu saya?”
Pertanyaan itu membuat Dante membeku.
Bianca memperhatikan perubahan kecil di wajahnya.
“Saya membaca surat ayah saya. Dia menyebut keluarga Anda dan mengatakan ada darah keluarga Laurent yang mengalir di dalam kerajaan Vieri. Saya ingin tahu apa artinya.”
Dante terdiam cukup lama hingga Bianca mengira ia tidak akan menjawab.
“Ada hal-hal yang bahkan belum kupahami sepenuhnya,” katanya akhirnya. “Tetapi aku berjanji akan mencari tahu.”
“Apakah Anda mengenal ibu saya?”
Tatapan Dante beralih kepadanya.
Untuk sesaat, Bianca melihat keraguan di sana.
“Aku pernah melihat fotonya.”
“Di mana?”
“Di rumah ayahku.”
Jawaban itu membuat Bianca merinding.
“Mengapa foto ibu saya ada di rumah keluarga Anda?”
“Aku belum tahu.”
Bianca menggeleng, kecewa.
“Selalu begitu. Anda memiliki potongan-potongan kebenaran, tetapi tidak pernah memberikan jawaban yang utuh.”
“Aku tidak akan berbohong kepadamu hanya untuk membuatmu tenang.”
“Lalu jangan menyembunyikan sesuatu yang menyangkut keluarga saya.”
Dante mengangguk pelan.
“Aku akan berusaha.”
Sebelum Bianca sempat menjawab, pintu balkon terbuka.
Seorang pengawal masuk dengan wajah tegang.
“Tuan Vieri, maaf mengganggu.”
Dante langsung menoleh.
“Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu di kamar tamu sebelah barat.”
“Apa?”
Pengawal itu mengeluarkan sebuah amplop kecil.
“Surat ini ditujukan kepada Nyonya Vieri.”
Bianca mengambilnya.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya namanya yang tertulis dengan tinta hitam.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar kertas dan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda berambut hitam berdiri di samping seorang pria yang wajahnya sangat mirip Dante.
Namun, perempuan itu bukan ibu Dante.
Itu adalah Elena Laurent.
Ibu Bianca.
Di balik foto tersebut terdapat tulisan singkat:
Pernikahan ini telah dimulai dengan sebuah kebohongan. Tanyakan kepada suamimu siapa yang sebenarnya membunuh ibumu.
Bianca merasa seluruh tubuhnya membeku.
Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap Dante.
“Apakah Anda tahu tentang ini?”
Dante mengambil foto itu.
Begitu melihat wajah ayahnya di samping Elena, ekspresinya berubah drastis.
Ia mengenali foto tersebut.
Ia pernah melihatnya bertahun-tahun lalu, tersembunyi di dalam sebuah kotak besi milik ayahnya.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui.
Mengapa Elena Laurent berada di samping ayahnya pada malam sebelum ibu Dante dibunuh?
Dan mengapa seseorang baru mengirimkan foto itu sekarang?
Dante mengepalkan tangannya.
“Bawa semua orang keluar,” perintahnya kepada pengawal.
Setelah pria itu pergi, Bianca berdiri tepat di hadapannya.
“Jawab saya, Dante.”
Dante menatap istrinya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memiliki jawaban yang bisa melindunginya dari kebenaran.
“Aku tidak membunuh ibumu,” katanya perlahan.
Bianca menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Saya tidak bertanya apakah Anda yang membunuhnya. Saya bertanya apakah Anda tahu siapa pelakunya.”
Dante terdiam.
Dan dalam keheningan itulah Bianca menemukan sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada sebuah pengakuan.
Suaminya mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini ia katakan.
Bersambung ke Bab 5 — Istri yang Tidak Boleh Dikenal.
jangan lupa mampirr🤭