CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWEN KEMBALI KE KAMPUS
Keesokan harinya, suasana kampus kembali gempar. Berita tentang kembalinya Awen membuat teman-temannya senang. Mereka bahkan berkumpul untuk menyiapkan kejutan khusus bagi Awen.
Sementara itu, Alu yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini berada di tubuh Awen berjalan tanpa gairah. Afu yang berjalan di sampingnya sampai harus menarik tangannya agar mempercepat langkah menuju kampus.
Ketika mereka melewati pos penjagaan, satpam yang melihat keduanya langsung menggoda.
“AFu, kalian lagi berantem, ya? Kok si cantik kelihatan lesu begitu?”
Belum sempat Afu menjawab, Alu sudah menyahut lebih dulu.
“Gue lagi dapet, puas lo, Pak Satpam!”
Satpam itu tertawa sambil menggaruk kepalanya.lalu berteriak .
Afu, Lo harus jagain Pacar baru Lo, jangan sampai di gaet Cowok lain!"
Alu semakin kesal mendengar godaan tersebut.
Kalau tubuh gue masih kayak dulu, udah gue beri pelajaran itu petugas keamanan!
Namun, Afu tidak memberinya kesempatan untuk membalas. Dia kembali menarik tangan Alu agar berjalan lebih cepat.
“Udah, buruan! Udah siang. Nanti ngomelnya di kampus aja.”
Alu mendengus, tetapi akhirnya mengikuti langkah Afu.
Begitu memasuki gerbang kampus, Alu mulai melihat perubahan suasana. Para mahasiswa yang dahulu mengenal Awen sebagai salah satu mahasiswi tercantik di kampus kini menyambutnya dengan senyum dan sapaan.
Beberapa mahasiswa bahkan sengaja mendekat untuk mencari perhatian.
Perlahan, semangat Alu yang semula meredup mulai bangkit kembali.
Wah, ternyata gue masih punya pesona juga di kampus, biarpun kemarin sempat bikin geger.
Dia merapikan mantel yang dikenakannya untuk menutupi seragam yang tidak pas di tubuhnya. Namun, ketika melihat tonjolan di dadanya, semangatnya kembali merosot.
Sebentar, sebenarnya gue mau jadi Awen atau tetap jadi Alu, sih?
Belum selesai memikirkan nasibnya, seorang mahasiswa menyapanya.
“Pagi, Awen!”
Mahasiswa itu tersenyum sambil melambaikan tangan.
Afu yang melihatnya mulai merasa sedikit kesal. melihat beberapa mahasiswa yang menggoda Awen,
Namun, Afu mencoba menenangkan diri.
Sudahlah. Bagaimanapun juga, dia itu Alu.
Beberapa mahasiswa lain kembali menyapa Alu dengan nama Awen. Bahkan, ada yang sengaja berjalan di sampingnya untuk mengajak bicara.
Melihat semua itu, Alu tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang menurutnya sangat brilian.
Kalau begitu, gue jadi Awen aja! Dengan wajah ini, gue bisa menarik perhatian cowok. Tapi gue juga tetap bisa dekat sama cewek-cewek. Wah, kalau dipikir-pikir, jadi Awen ternyata menguntungkan juga!
Dia tersenyum puas membayangkan rencananya sendiri.
Namun, saat melewati deretan ruang kampus, Alu mulai merasa heran. Beberapa ruangan tampak sepi, padahal pintunya terbuka. Sementara itu, salah satu ruangan yang dilewatinya justru tertutup rapat.
Karena penasaran, Alu mempercepat langkah dan meninggalkan Afu yang masih berjalan santai di belakangnya.
“Eh, Alu! Mau ke mana lo?” panggil Afu.
Alu tidak menjawab. Dia langsung membuka pintu ruangan yang tertutup itu.
“SURPRISE!”
Letusan balon dan kertas warna-warni langsung berhamburan di hadapannya.
“Taraaa! Selamat datang kembali di kampus, Awen!”
Clara berlari menghampiri Alu dan langsung memeluknya. Teman-teman Awen yang lain ikut mengerumuninya, memberikan pelukan dan ucapan selamat datang.
Alu sempat tertegun. Namun, sesaat kemudian, dia justru merasa sangat beruntung berada di tubuh Awen.
Gila! Gue nggak perlu susah-susah mendekati cewek. Mereka malah datang sendiri buat meluk gue!
Dia pun membalas pelukan teman-teman perempuannya dengan gaya sedikit nakal.
Awalnya, tidak ada yang mencurigai sikap tersebut. Mereka mengira Awen hanya terlalu bahagia karena bisa berkumpul kembali bersama teman-temannya.
Suasana pun menjadi ramai. Mereka saling bercerita, bercanda, dan membicarakan berbagai hal yang terjadi selama Awen tidak berada di kampus.
Namun, Alu justru semakin bersemangat ketika mendengar beberapa mahasiswi membicarakan dirinya.
“Sayang banget, ya, Alu udah lama nggak masuk kuliah. Padahal, gue pengin banget ketemu dia.”
“Iya! Alu itu ganteng banget. Kampus jadi terasa kurang lengkap tanpa dia.”
Alu langsung menegakkan tubuhnya.
Hahaha! Tuh, kan! Pesona gue masih diakui!
Tanpa sadar, sisi kepribadian Alu mulai semakin menonjol. Awen yang dikenal lembut dan sedikit pemalu kini berubah menjadi sosok yang lantang membanggakan Alu.
Salah seorang mahasiswi sampai mengernyitkan dahi.
“Awen, bukannya selama ini lo sukanya sama Afu? Kok sekarang malah muji-muji Alu?”
Mahasiswi lain ikut menimpali.
“Padahal tadi pagi gue lihat lo gandengan sama Afu. Kok sekarang lo jadi aneh, sih? Plin-plan banget!”
Clara yang sejak tadi berada di dekatnya juga ikut bicara.
“Awen, kemarin di ruangan dosen gue lihat lo pelukan sama Afu. Jangan bilang sekarang lo juga suka sama Alu!”
Alu langsung mengibaskan tangan.
“Oh, bukan begitu maksud gue! Gue cuma bilang Alu itu keren. Bukan berarti gue suka sama dia!”
Clara tersenyum lega, lalu kembali memeluk Alu.
Namun, kesempatan itu justru dimanfaatkan Alu untuk bertingkah jahil. Dia menggelitik tubuh Clara sampai gadis itu tertawa dan melepaskan pelukannya.
Clara tidak terlalu memikirkannya. Dia menganggap Awen hanya sedang sangat bahagia karena bisa berkumpul lagi dengan mereka.
“Ingat, ya, Awen. Dari dulu kita udah sepakat. Lo deketin Afu, gue deketin Alu!”
Mendengar ucapan Clara, Alu semakin bangga.
Wah, ternyata cewek tercantik nomor dua di kampus juga menyukai gue! Benar-benar luar biasa pesona Alu!
Dia tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari bahwa tingkah lakunya mulai membuat teman-teman Awen curiga.
Tidak lama kemudian, sekelompok mahasiswa memasuki ruangan. Salah seorang di antara mereka berjalan mendekati Alu sambil tersenyum.
“Hai, cantik. Masih ingat gue?”
Begitu melihat wajah pria itu, Alu langsung kehilangan senyumnya.
“Lohan? Ngapain lo dekat-dekat gue? Minggir sana!”
Alu mendorong Lohan yang baru saja mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
Lohan tampak terkejut, tetapi belum sempat membalas, Clara sudah berdiri di samping Alu dan ikut menghalangi pria itu bersama teman-temannya.
“Udah, minggir sana! Ini urusan perempuan. Jangan pada ribut di sini!”
Lohan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah menghadapi mereka.
Namun, bukannya pergi, dia justru berbalik keluar ruangan.
Alu mengira pria itu akhirnya menyerah. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Lohan kembali masuk sambil membawa seikat bunga.
Dia berjalan menghampiri Alu dan menyodorkan bunga tersebut.
“Awen, bunga ini buat lo. Gue dan teman-teman senang banget lo bisa kembali ke kampus.”
Alu tertegun melihat bunga di hadapannya.
Gila! Ternyata gue masih punya pesona juga! Oke, walaupun sekarang gue ada di tubuh perempuan, pesona Alu tetap nggak terkalahkan!
Lohan tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya.
“Awen, hari ini lo ada waktu, nggak? Gue mau ngajak lo makan malam.”
Alu menunjuk dirinya sendiri.
“Lo ngajak gue makan?”
Lohan mengangguk.
Alu kemudian menoleh ke arah Afu, seolah meminta izin. Namun, Afu justru memalingkan wajahnya. Dia lalu bangkit dan berjalan keluar ruangan tanpa mengatakan apa-apa.
Melihat reaksi Afu, Alu semakin bingung.
Belum sempat dia memikirkan sikap saudara kembarnya itu, teman-teman perempuannya yang berdiri di belakangnya mulai mendorong tubuhnya pelan-pelan agar semakin dekat dengan Lohan.
“Udah, Awen! Terima aja!”
“Sekali-kali jalan sama cowok, dong!”
Alu terpaksa berdiri tepat di hadapan Lohan.
Tiba-tiba, jantungnya berdebar kencang.
Eh, gila! Apa yang gue rasain ini? Gue kan cowok! Ngapain jantung gue deg-degan cuma gara-gara berdiri dekat cowok?
Dia berusaha mengabaikan perasaan aneh itu. NamuN, sebelum sempat menjauh, Lohan meraih tangannya dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
Alu langsung membeku.
“Kalau lo diam, gue anggap lo setuju makan malam sama gue!” ujar Lohan sambil tersenyum.
Alu hanya bisa memandangi wajah pria itu.
Selama ini, dia selalu menganggap dirinya sebagai cowok paling tampan di kampus, dengan pesona yang mampu membuat banyak perempuan terpikat. Dia terbiasa menjadi pihak yang membuat perempuan salah tingkah, bukan sebaliknya.
Namun, sekarang justru dia sendiri yang merasakan jantungnya berdebar hanya karena seorang pria mengecup punggung tangannya.
Kenapa gue malah merasa aneh begini?
Setelah beberapa saat terdiam, Alu akhirnya mengangguk.
“Boleh, deh. Kalau cuma makan malam.”
Lohan tersenyum puas. Dia lalu mencolek hidung Alu dengan ujung jarinya.
“Oke! Nanti malam gue jemput di depan apartemen lo, ya.”
Pipi Alu mendadak terasa panas.
Biasanya, dia selalu punya jawaban pedas untuk siapa pun yang berani menggodanya. Namun, kali ini mulutnya terasa kaku. Dia bahkan tidak sanggup membalas godaan Lohan dengan kata-kata seperti biasanya.
Alu hanya mengangguk kecil.
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Lohan pergi bersama teman-temannya.
Begitu Lohan menghilang dari ruangan, Clara dan beberapa teman Awen langsung melipat tangan di depan dada. Mereka mengelilingi Alu dengan tatapan tidak percaya.
“Awen, kok lo mau, sih, makan malam sama Lohan? Bukannya selama ini lo sukanya sama Afu?”
Clara kemudian memegang kedua pundak Alu.
“Awen, kayaknya ada yang aneh sama lo. Dulu, lo benci banget sama Lohan karena dia suka gangguin lo. Kok hari ini lo malah mau diajak makan malam?”
Alu memandang mereka bergantian dengan wajah kebingungan.
“Emangnya gue pernah benci sama cowok?”
Seketika itu juga, teman-temannya berteriak serempak.
“AWEN!”
Alu sampai tersentak mendengarnya.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Alu merasa sisi kegagahan yang selama ini dia banggakan seolah luluh di hadapan seorang pria.
Dia masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya dirasakan ketika Lohan mengecup punggung tangannya. Apakah itu hanya reaksi tubuh Awen, atau ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah?
Alu sendiri tidak tahu.
Namun, dia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Dia kembali bercanda bersama teman-temannya, berusaha bertingkah seperti biasa meskipun pikirannya masih dipenuhi kebingungan.
Sampai akhirnya, bel perkuliahan berbunyi.
Tidak lama kemudian, Afu masuk ke ruangan dan duduk di sebelah Alu dengan wajah yang tampak kurang senang.
Alu meliriknya sekilas.
“Kenapa muka lo begitu? kusut kaya baju belum di strika”
Afu tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap ke depan dengan rahang mengeras.
Alu mengangkat bahu.
Dasar Afu. Ditanya malah diam.
Dia pun kembali menghadap ke depan, tanpa menyadari bahwa sikap Afu sejak tadi bukan semata-mata karena kesal melihatnya digoda teman-teman kampus.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Afu, terutama setelah melihat Alu menerima ajakan makan malam dari Lohan.