NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

#BERSAMA DRILON#

TUJUH BULAN SEBELUMNYA...

"Tuan Drilon, bayinya sudah lahir, tapi ada masalah," kata sang dokter.

"Apa?" tanya Drilon dingin.

"Sebaiknya Anda lihat sendiri." Dokter itu menyingkir, memberi ruang bagi keluarga Drilon untuk masuk.

Zara terbaring di ranjang rumah sakit milik mafia, tampak kelelahan tapi bertahan, karena berharap setidaknya saat ini suaminya akan menunjukkan sedikit kepedulian. Namun begitu semua orang masuk, mereka langsung menghampiri si bayi, dan kebenaran pun terbuka.

"Apa-apaan ini?" seru Hana, ibu Drilon.

"Itu yang tadi saya maksud," ujar sang dokter, menunjukkan bayi mungil yang menggemaskan dan berkulit hitam, yang tidur tenang tanpa tahu apa-apa.

"Ibu, aku memang bukan orang yang paling jeli, tapi kurasa bayi ini bukan anakku." Drilon bersedekap.

"Dia... dia anakmu." Zara menatap bayi itu, berusaha memahami apa yang terjadi.

"Anak itu hitam," ucap Altin, sekadar menyatakan fakta.

"Mustahil bayi ini anak Drilon," kata Besnik.

"Tapi dia anaknya, aku yakin. Aku mengambil punyanya..."

"Diam!" bentak Drilon, membungkam Zara dan mengagetkan si bayi hingga terbangun dan menangis. "Aku sudah tak tahan padamu sejak dulu, sekarang kamu memberiku alasan untuk mengakhiri semua ini. Bawa dia ke sel bawah tanah, sampai aku berhasil membatalkan pernikahan sialan ini."

"Lalu anak itu?" tanya Besnik.

"Serahkan ke keluarga ibunya. Dia tidak bersalah padaku," kata Drilon sambil keluar dari rumah sakit.

Drilon menyetir pulang ke mansion keluarganya dengan hati riang bukan main. Sesampainya di rumah ia langsung ke ruang kerja dan mendapati salah satu anak buahnya sedang merapikan dokumen.

"Masco."

"Ya, Bos."

"Ada kabar?"

"Belum, Bos."

"Teruskan pencarian. Sekarang aku sudah bercerai, aku harus menemukan si pemilik senyum yang menawan itu," katanya dengan senyum genit.

"Siap, Bos." Masco kembali ke laporannya.

"Ini dia pria paling beruntung di dunia," seru Altin sambil masuk bersama Besnik.

"Lolos dari bencana besar," timpal Besnik, duduk di salah satu kursi, sementara Drilon mengambil botol dan gelas-gelas wiski.

"Aku sendiri kaget, tapi memang mustahil anak itu anakku."

"Kira-kira apa yang salah ya? Zara begitu yakin akan punya anak darimu," kata Altin, menyeruput wiski yang baru dituangkan.

"Tapi syukurlah, aku tak akan menjadi ayah dari bayi yang dibuat perempuan gila itu di klinik."

"Bos, boleh saya bicara?" tanya Masco, yang menyadari satu hal yang belum terpikir oleh para kakak-beradik itu.

"Di hari lain aku tak akan mengizinkan, tapi suasana hatiku sedang baik, jadi bicaralah," kata Drilon sebelum menyesap wiskinya.

"Kalau istri Bos pergi ke klinik lalu yang ditanamkan padanya adalah sperma pria berkulit hitam, bukankah mungkin ada perempuan lain yang akhirnya hamil dari Bos?" Ketiga bersaudara itu menoleh pada Masco.

"Masuk akal juga, Adikku," kata Altin.

"Saya hanya berpikir, semua sampel kan disimpan di tempat yang sama. Bisa saja ada yang tertukar."

"Gadis yang kamu cari itu, dari caramu menceritakan keadaannya, dia ada di sana untuk inseminasi," kata Besnik.

"Kalau aku tahu, aku sendiri yang akan menghamilinya dengan cara tradisional. Dia seperti sedang mengundangku, mulus bersih, Bro. Rasanya ingin kubuat dia merangkak..."

"Berhenti mesum dan fokus. Kamu, wakil bos mafia Albania, salah satu pria paling dibenci di dunia, mungkin punya anak di luar sana dari ibu yang bahkan belum kita ketahui siapa."

"Maaf, aku terbawa suasana lagi."

"Bagaimana cara kita menemukan perempuan itu?" tanya Besnik.

"Maaf menyela lagi. Saya sudah mengubah pendekatan, Bos," kata Masco. "Saya kirim pesan ke kontak saya, minta dia mencari perempuan yang memeriksakan kehamilan di Albania. Dia mencocokkan ciri-ciri yang Bos sebutkan dengan para ibu itu, dan kami menemukan satu yang cocok."

"Siapa namanya?" tanya Altin.

"Dia sudah menikah?" tanya Drilon.

"Memangnya kenapa?" tanya Besnik.

"Karena kalau dia sudah menikah, suaminya juga harus kubunuh."

"Satu-satu dulu. Namanya siapa?"

"Nadira Prameswari Wijaya, warga negara Indonesia. Saat itu ada di sini sebagai dokter relawan."

"Saat itu?" tanya Besnik.

"Dia pergi ke Prancis bersama seorang teman untuk melahirkan di sana, tapi kami belum berhasil menemukan keberadaannya."

"Teruskan pencarian. Begitu dia muncul lagi di radar bersama anakku, aku mau tahu," ujar Drilon sambil keluar dari ruang kerja.

"Bos, ada fotonya," seru Masco.

"Kirim ke aku," teriak Drilon dari kejauhan.

"Ini bakal berujung masalah," gumam Besnik.

"Cari tahu apa saja yang bisa didapat," perintah Altin.

Masco mengangguk lalu keluar dari ruang kerja, meninggalkan kedua kakak-beradik itu dalam diam yang penuh pikiran.

#BERSAMA NADIRA#

SAAT INI...

"Bintang, sayangnya Mama," ucap Nadira sambil membaringkan si kecil di ranjang setelah mandi.

"Da, da," celoteh Bintang sambil menggerak-gerakkan lengan mungilnya.

"Boleh aku masuk?" tanya Intan seraya membuka pintu.

"Masuk saja, Intan."

Intan menutup pintu lalu masuk. Ia putri bungsu Rosa dan Marwan, yang mewarisi bentuk tubuh ibunya dan sifat pemalu ayahnya.

"Aku dengar kabar baiknya. Hai, Putri," sapanya pada si kecil yang sedang menatap kalungnya. "Ceritakan, bagaimana semua itu bisa terjadi?"

"Aku sudah muak sama cowok brengsek. Sudah diselingkuhi, ya sudah, kuputuskan bikin makhluk lezat ini. Setidaknya ada yang akan mencintaiku dengan tulus."

"Itu cinta yang paling murni."

"Kalau kamu?"

"Masih mengoleksi katak. Semuanya cuma tertarik pada uang Papa." Intan menunduk, termenung. "Umurku dua puluh enam dan aku masih perawan. Kayaknya aku harus pakai caramu untuk punya anak."

"Lihat saja, suatu hari akan ada pria yang mengetuk pintumu untuk mencarimu."

"Bisa jadi. Malam ini aku tidur di sini ya, bantu jaga si montok." Ia mencium bayi itu, yang tertawa.

Dua sahabat itu mengobrol sebentar lagi, lalu tertidur, tanpa membayangkan apa yang akan dibawa pagi hari untuk mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!