NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - Remember

Sore harinya, setelah seharian bekerja, aku pun pulang.

Seperti biasa, aku menggunakan ojek online.

Sore itu cuaca cukup cerah. Jalanan ramai, tetapi lalu lintas masih lancar.

Tiba-tiba motor yang kunaiki terasa aneh. Driver ojek online langsung menepikan motornya.

“Ada apa, Mas?” tanyaku.

“Ada yang aneh sama motornya. Tolong Mbak turun dulu. Saya mau mengecek,” ujar driver.

Aku pun turun dan melihat ke arah ban belakang.

Kempes.

“Mas, ban belakangnya kempes,” kataku.

Driver itu langsung menoleh ke belakang.

“Ya Allah... kenapa harus kempes sekarang?” keluhnya. Dia kemudian menatapku. “Maaf, ya, Mbak.”

“Iya, nggak apa-apa, Mas. Mungkin tadi waktu kita lewat, bannya kena paku.”

“Kayaknya sih begitu.” Dia menghela napas. “Ya sudah, Mbak pesan driver lain saja. Dan nggak usah bayar.”

“Eh, jangan begitu, Mas.”

Aku langsung membuka tas, mengambil uang, lalu menyerahkannya kepada driver.

“Ini, Mas.”

“Nggak usah, Mbak. Kan belum sampai tujuan.”

“Nggak apa-apa, Mas. Hitung-hitung buat biaya tambal bannya.”

“Ya Allah... makasih, Mbak. Semoga Allah membalas kebaikan Mbak.”

Aku hanya tersenyum meskipun Tuhan kami berbeda.

“Ya sudah, saya ke bengkel dulu. Mbak langsung pesan driver lain saja.”

Aku mengangguk.

Driver itu pun pergi sambil mendorong motornya.

Aku kemudian sedikit menyingkir ke tepi jalan dan membuka aplikasi ojek online.

Baru saja aplikasi itu terbuka, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku.

Siapa?

Kaca jendela di sisi penumpang perlahan turun.

Dari balik kaca itu, kulihat seseorang yang sangat kukenal.

Liam.

“Elle?” panggilnya. “Kamu lagi apa di situ?”

“Bukan urusan Anda,” jawabku ketus sebelum kembali menatap ponsel.

Tiba-tiba Liam keluar dari mobil dan menghampiriku.

Aku langsung menatapnya.

“Apa kamu lagi nunggu ojek online?” tanyanya.

“Iya.”

“Tapi kenapa kamu nunggunya di sini? Kantormu kan di sana.”

“Tadi ojek yang saya tumpangi bannya kempes. Jadi saya mau pesan driver lain,” jelasku.

“Kamu nggak usah pesan lagi. Aku anter aja.”

“Tidak usah. Saya tidak mau pulang dengan Anda.”

Liam menghela napas.

Tanpa menjawab, Liam berbalik ke arah mobil.

Aku mengira dia akan pergi begitu saja.

Ternyata, dia malah membuka pintu penumpang.

 “Masuk.”

Aku menatapnya.

“Tidak perlu. Saya bisa pesan ojek lagi.”

“Elle, hari udah sore. Kamu mau berdiri di pinggir jalan sampai dapet driver?”

“Aku bisa menunggu.”

“Aku tahu.”

Liam menatapku.

“Tapi aku akan tetep nganterin kamu."

Aku terdiam.

Kenapa laki-laki ini masih saja keras kepala?

“Udah, ayo masuk,” ujar Liam.

“Pak William, saya bilang tidak usah,” kataku mulai kesal.

“Ayo masuk.”

Liam kemudian mendorong tubuhku pelan ke arah mobil.

“Eh?”

Brak!

Pintu mobil tertutup begitu aku duduk di kursi penumpang.

Aku menghela napas.

“Pakai seat belt-nya,” ujar Liam begitu dia masuk ke dalam mobil.

Dengan terpaksa, aku memasang sabuk pengaman.

Liam melakukan hal yang sama sebelum menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.

“Ternyata kita bisa ketemu di sini,” ujar Liam. “Tapi kenapa selama ini kita nggak pernah ketemu, ya?”

“Entahlah. Mungkin memang sudah takdirnya kita untuk tidak bertemu.”

“Tapi sekarang kita dipertemukan lagi. Kayaknya memang rencana Tuhan kayak gini.”

“Saya lebih suka kita tidak dipertemukan kembali.”

Liam melirikku sebentar.

“Kenapa dari tadi bahasa kamu formal banget, sih? Kita kan seumuran. Dulu kita juga...” Dia terdiam sejenak. “Teman.”

“Tapi sekarang Anda CEO dan klien saya. Bukan teman saya lagi.”

“Tapi sekarang kita nggak lagi dalam situasi pekerjaan. Jadi ngomongnya nggak usah formal.”

Aku menghela napas.

“Oke.”

Liam tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu nyetir sendiri? Bukannya CEO punya sopir?”

“Sopirku lagi sakit, jadi aku nyetir sendiri.”

“Oh... Kak Davin nggak nyetirin kamu?”

“Nggaklah. Dia kan sekretaris, bukan sopir.” Liam melirikku sekilas. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu memanggil Davin ‘Kak’?”

“Karena dia seniorku waktu kuliah.”

“Oh... Jadi kalian satu kampus dulu?”

“Iya.”

“Pacarnya Davin juga?”

“Iya. Mereka kan udah pacaran sejak kuliah.”

“Oh, begitu.”

Seketika suasana di dalam mobil kembali hening.

Aku memilih menatap ke luar jendela.

Tak lama kemudian, mobil Liam berhenti di lampu merah.

“Tempat tinggal kamu di mana?”

Aku menoleh ke arahnya.

“Di Aster Apartment.”

“Kamu tinggal di apartemen?” Liam terlihat sedikit terkejut. “Kirain kamu ngekos atau tinggal di rumah kontrakan.”

“Kalau di apartemen nggak terlalu berisik. Yang paling penting, nggak ada tetangga julid karena semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.”

Liam tertawa kecil.

“Alasanmu lucu juga.”

Aku mengernyitkan kening.

Apanya yang lucu?

Tak lama kemudian, lampu berubah hijau. Liam kembali melajukan mobilnya menuju apartemenku.

Kami kembali diam.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada Liam. Tapi aku malas membuka percakapan dengannya.

“Ini tempat tinggal kamu?” tanya Liam begitu kami sampai di depan apartemenku.

“Iya. Makasih udah nganterin aku."

Aku melepas sabuk pengaman.

“Elle...” panggil Liam.

Aku menatapnya.

“Boleh numpang ke kamar mandi nggak?”

Aku mengernyitkan kening.

“Mau ngapain?” tanyaku waspada.

“Ada panggilan alam nih.”

“Ke toilet umum aja sana. Di depan ada SPBU, kok.”

“Yaelah, tega banget kamu, Elle. Nyuruh aku ke toilet umum. Tempat tinggal kamu di sini, lho.”

Aku terdiam.

“Aku udah nggak tahan ini, Elle.”

“Eh... kata-katamu.”

Liam mengernyitkan kening.

“Kenapa sama kata-kataku?”

“Itu... ‘nggak tahan’.”

“Aku nggak tahan pengin buang air kecil. Bukan yang lain.” Liam tertawa kecil. “Ternyata kamu bisa mikir ke mana-mana juga.”

“Nggak! Siapa yang kayak gitu?”

“Itu tadi.”

Aku terdiam.

“Ya udah, ya. Aku numpang ke toiletmu.”

Liam kembali menyalakan mesin mobil.

“Eh? Aku bilang nggak boleh!”

Tapi Liam seperti tuli. Dia terus melajukan mobil hingga masuk ke basement apartemen.

Begitu mobil terparkir, Liam langsung keluar.

“Eh, Liam! Tunggu!”

Aku buru-buru keluar dan mengejarnya.

Liam sudah berlari menuju lift.

Aku ikut berlari mengejarnya.

Kami masuk ke dalam lift.

Begitu pintu lift tertutup, Liam berdiri dengan gelisah. Sepertinya panggilan alam itu sudah benar-benar mendesak.

Aku menahan senyum.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai tempat unitku berada.

Aku dan Liam langsung keluar.

Begitu sampai di depan unit, aku memasukkan kode sandi pintu.

“Kata sandinya ulang tahun kamu?” tanya Liam.

Aku langsung menoleh.

“Kamu lihat?”

“Ya iyalah. Aku punya mata.”

Aku mendecakkan lidah.

“Kamu masih aja pakai ulang tahun kamu buat kata sandi.”

“Yang mudah diinget.”

“Biar aman, jangan pakai tanggal ulang tahun kamu. Nanti gampang ditebak.”

Liam kemudian memasukkan beberapa angka ke panel pintu.

Aku langsung menyadari sesuatu.

“Eh! Kenapa malah pakai tanggal ulang tahun kamu?” protesku.

Liam menatapku.

“Kamu masih inget hari ulang tahunku?”

Aku terdiam.

“Kamu juga masih inget hari ulang tahunku,” balasku.

“Karena nggak aku lupain.”

Aku terdiam menatapnya.

Tidak dia lupakan?

Kenapa?

“Udah, ayo masuk. Aku udah nggak tahan ini,” ujar Liam sambil membuka pintu dan mendorong tubuhku masuk.

“Di mana toiletnya?” tanyanya begitu berada di dalam.

“Itu di sana.” Aku menunjuk ke arah kamar mandi.

Liam langsung menuju kamar mandi.

Begitu Liam masuk, aku langsung duduk di sofa.

Kenapa situasinya jadi seperti ini?

Orang yang ingin kulupakan dan berharap tidak akan pernah muncul lagi di hadapanku, sekarang justru berada di dalam tempat tinggalku.

Tak lama kemudian, Liam keluar dari kamar mandi.

“Udah?” tanyaku.

Liam mengangguk.

“Ya udah, sana pulang.”

“Yaelah, setidaknya kasih aku minum dulu, kek.”

“Kamu bukan tamu. Kamu cuma numpang toilet.”

“Aku tetap tamu, lah. Aku kan nggak tinggal di sini.”

Aku menghela napas lalu berdiri dan menghampirinya.

“Udah, sana pulang.”

Aku mendorong tubuhnya pelan ke arah pintu.

Namun, bukannya pergi, Liam malah memegang kedua tanganku dan mengangkatnya ke atas.

Aku langsung terkejut.

“Liam, kamu mau apa? Jangan macem-macem, ya. Atau aku teriak."

Liam tertawa kecil.

“Kenapa kata-katamu itu terus? Kalau aku nggak lepasin kamu, kamu selalu ngancem mau teriak.”

“Soalnya itu satu-satunya cara supaya orang-orang bisa nolongin aku."

“Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, kok.”

“Ya udah, lepasin. Atau aku nekat ngelakuin yang lain.”

“Ngelakuin yang lain apa?”

“Itu... yang di bawah.”

“Yang di bawah?” Liam terlihat bingung.

“Itu punya kamu.”

“Punya aku?”

Liam langsung menunduk melihat ke bawah sebelum kembali menatapku.

“Apa yang mau kamu lakuin?”

“Apa pun. Yang bisa bikin kamu ngelepasin tanganku.”

“Hei... kalau kamu ngelakuin itu, bisa-bisa aku nggak punya masa depan.”

“Aku nggak peduli.”

“Tega banget kamu, Elle.”

“Dulu kamu juga tega sama aku.”

Liam langsung terdiam.

Aku menatapnya.

“Liam, lepasin tanganku.”

Dia masih diam.

“Liam!”

Liam akhirnya melepaskan kedua tanganku.

“Elle... soal yang dulu—”

“Udah.” Aku langsung memotong ucapannya. “Sekarang kamu pulang. Aku nggak mau denger apa pun lagi dari kamu.”

“Elle... dengerin aku dulu.”

“Nggak!”

Aku terus mendorong tubuhnya ke arah pintu.

“Pulang sana.”

Begitu Liam berhasil keluar, aku langsung menutup pintu.

Brak!

Aku bersandar di balik pintu sambil mengatur napas.

Aku tidak ingin mendengar apa pun dari Liam.

Dua belas tahun lalu, aku sudah menutup pintu untuk semua penjelasannya.

Dan sekarang, ketika dia akhirnya mencoba membukanya kembali, aku tetap tidak ingin membukanya.

Bagiku, apa yang terjadi dua belas tahun lalu sudah cukup.

Aku tidak ingin mendengarnya.

Aku tidak ingin mengingatnya.

Dan yang paling aku takutkan...

aku tidak ingin kembali mempercayainya.

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!