Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam di Rumah Utama
Malam harinya, sebuah mobil sedan mewah hitam meluncur mulus memasuki kawasan perumahan elit di Menteng, berhenti tepat di depan gerbang besi tempa yang menjulang tinggi.
Gedung mansion keluarga Mahendra tampak bagaikan istana megah bergaya eropa klasik, dipenuhi pendar lampu kristal hangat dan deretan pilar-pilar raksasa.
Naya yang duduk di kursi penumpang samping Raka meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Gaun malam simpel berwarna krem yang dibelikan oleh asisten Raka tadi sore terasa sangat kaku di tubuhnya.
"Jangan memperlihatkan wajah ketakutan seperti itu," tegur Raka dingin seraya mematikan mesin mobil. "Rileks. Anggap saja kamu sedang menghadiri wawancara kerja tingkat tinggi."
"Wawancara kerja tidak menentukan apakah keluarga saya diseret ke penjara atau tidak, Pak Raka," sindir Naya tajam.
Raka tidak membalas. Pria itu keluar dari mobil, memutar jalan, lalu membukakan pintu untuk Naya. Namun sebelum Naya sempat melangkah turun, Raka tiba-tiba mengulurkan tangannya ke depan dada Naya, menahan gerakan wanita itu.
"Apa lagi?" tanya Naya heran.
Tanpa mengindahkan pertanyaannya, Raka meraih jemari tangan kanan Naya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan cermat, pria itu menyusupkan sebuah cincin berlian berdesain elegan ke jari manis Naya. Kilauan batu permata itu memantulkan cahaya lampu mobil secara sempurna.
Naya tertegun, menatap jari manisnya yang kini dihiasi perhiasan berharga fantastis. "Cincin ini..."
"Cincin pernikahan resmi keluarga Mahendra," jawab Raka pelan. Tatapan matanya terkunci pada jemari Naya yang ramping. "Ibu akan langsung mengecek jari manismu begitu kita melangkah masuk. Jangan pernah melepasnya sampai kita keluar dari rumah ini."
Sensasi hangat dari jemari Raka yang sempat mengelus punggung tangannya saat memasang cincin itu membuat dada Naya kembali berdesir aneh. Namun Raka dengan cepat menarik tangannya kembali dan menegakkan tubuhnya, kembali mengenakan topeng tanpa ekspresinya.
"Ayo masuk," perintahnya.
Langkah kaki mereka disambut oleh kepala pelayan senior yang membungkuk khidmat, mengantarkan mereka menuju ruang makan utama yang amat luas. Di ujung meja kayu jati berukir panjang, seorang wanita berusia lima puluhan yang tampil sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra dan kalung mutiara sedang menyesap tehnya.
Siska Mahendra. Ibunda Raka.
"Raka ..." sapa Siska dengan suara yang amat tenang namun sarat akan wibawa yang menekan. Wanita itu meletakkan cangkirnya, lalu berdiri dari kursinya.
Raka melangkah mendekat, membungkuk dan mencium pipi ibunya dengan penuh rasa hormat. "Malam, Bu. Maaf Raka agak terlambat karena jalanan macet."
Pandangan mata Siska yang tajam dan dingin seketika beralih, mengunci sosok Naya yang berdiri setengah langkah di belakang Raka. Naya bisa merasakan bagaimana pandangan menilai itu menyapu penampilannya dari tatanan rambut, riasan tipis, gaun krem, hingga bermuara pada cincin berlian di jari manisnya.
Naya memberanikan diri melangkah maju, membungkuk sopan. "Selamat malam, Tante... maksud saya, Ibu."
Siska tidak langsung menyahut. Keheningan selama lima detik di ruang makan itu terasa bagaikan siksaan lambat bagi Naya. Tiba-tiba, Siska melangkah mendekati Naya. Wanita itu mengulurkan tangannya, mengelus bahan gaun krem yang dikenakan Naya dengan raut wajah agak berkerut.
"Kania ..." panggil Siska lambat-lambat. "Pilihan gaunmu agak berbeda dari biasanya. Dulu saat kita bertemu di Singapura, kamu sangat menyukai pakaian berwarna mencolok dengan potongan yang agak terbuka. Sekarang kamu kelihatan jauh lebih ... sederhana. Bahkan sangat tertutup."
Punggung Naya seketika dibasahi keringat dingin. Sial, Mbak Kania memang tipe wanita glamor yang suka jadi pusat perhatian!
Sebelum Naya sempat memikirkan kebohongan yang masuk akal, Raka melangkah maju secara refleks. Tangan kanannya melingkar mulus di pinggang Naya, menarik tubuh Naya merapat ke sisinya dalam sebuah dekap posesif yang sangat meyakinkan.
"Raka yang meminta Kania berpakaian seperti ini, Bu," potong Raka dengan suara hangat yang dibuat-buat, persis seperti seorang suami yang protektif. Raka menunduk sedikit, menatap Naya dengan pendar mata yang amat penuh kasih sayang, sebuah akting yang lagi-lagi membuat bulu kuduk Naya meremang. "Raka tidak suka kalau keindahan istri Raka dinikmati oleh orang lain. Cukup Raka saja yang bisa melihatnya."
Naya menahan napasnya, menatap Raka dengan mata membelalak pelan. Pria ini benar-benar jago berbohong tanpa berkedip!
Siska mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap putra tunggalnya yang terkenal dingin pada wanita.
Namun sebuah senyuman tipis bercampur puas perlahan terbit di bibir wanita paruh baya itu.
"Begitu?" Siska terkekeh pelan. "Ibu tidak menyangka putra Ibu yang sekaku kayu ini bisa jadi begitu posesif setelah menikah. Tapi baguslah kalau begitu. Duduklah, makanan sudah siap."
Makan malam bertema course meal mewah itu pun dimulai. Sepanjang makan malam, pertunjukan drama roman picisan antara Raka dan Naya terus berlanjut di bawah pengawasan ketat Siska. Raka secara rutin memotongkan daging steak untuk Naya, membetulkan letak serbet di pangkuan Naya, bahkan menyapu sudut bibir Naya dengan ibu jarinya saat ada sedikit noda saus yang menempel.
Setiap kali jemari hangat Raka menyentuh kulit wajahnya, tubuh Naya merinding hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suara detakannya bisa terdengar oleh Ibu mertuanya.
"Bagaimana dengan rencana honeymoon kalian?" tanya Siska tiba-tiba di sela-sela hidangan penutup. "Ibu sudah memesankan vila pribadi di Maladewa untuk kalian berdua minggu depan."
Naya yang sedang minum air langsung tersedak pelan. Honeymoon?! Ke Maladewa?!
Raka dengan sigap menepuk-nepuk pelan punggung Naya, menyerahkan tisu dengan raut wajah penuh perhatian. "Hati-hati, Sayang ..." bisik Raka lembut sebelum berpaling menatap ibunya.
"Terima kasih atas perhatian Ibu," jawab Raka tenang. "Tapi jadwal pekerjaan Raka di kantor sedang sangat padat minggu depan.
Pembebasan lahan proyek pusat perbelanjaan baru membutuhkan pengawasan langsung. Kami memutuskan untuk menunda liburan sampai akhir tahun."
Siska mendesah kecewa. "Selalu saja pekerjaan. Kamu ini baru menikah, Raka. Jangan siksa istri barumu dengan kesepian di rumah."
"Kania tidak kesepian kok, Bu," potong Raka seraya menggenggam erat jemari Naya di atas meja, menyatukan jemari mereka dengan erat. "Lagipula, Kania sekarang ikut membantu Raka di kantor sebagai asisten khusus proyek."
Siska mengerutkan dahi. "Kania bekerja di kantor? Bukankah latar belakang pendidikannya Seni Rupa?"
Deg! Naya membeku. Ia lupa bahwa Mbak Kania adalah lulusan jurusan seni, sementara dirinya sendiri adalah sarjana Manajemen Administrasi!
Raka meremas jemari Naya sedikit lebih kuat, memberikan sinyal agar Naya tetap tenang. "Justru karena latar belakang seninya, Kania punya keahlian khusus dalam menata arsip dan desain estetika dokumen proyek, Bu. Kehadirannya sangat membantu Raka."
Siska menatap mereka berdua bergantian, lalu akhirnya mengangguk angguk mengerti. "Baiklah kalau itu keputusan kalian. Tapi ingat Raka, Ibu mau cucu pertama dari kalian berdua sebelum akhir tahun depan."
UHUK!
Kali ini giliran Raka yang hampir tersedak ludahnya sendiri. Wajah CEO yang biasa dingin dan tak tersentuh itu seketika berubah agak memerah di bagian telinga. Naya yang melihat momen langka itu diam-diam merasa sangat puas dan ingin tertawa keras di dalam hati.
Setelah melewati dua jam makan malam yang penuh ketegangan, acara akhirnya selesai. Siska melepas kepulangan mereka di depan teras mansion dengan pelukan hangat untuk Naya.