Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Tes DNA
Sion menatap tangan Laura yang menggenggam lengannya. Kemudian perlahan melepaskannya. "Maaf."
Laura menggeleng. "Kita sudah saling mengenal sejak kecil."
"Aku tahu."
"Aku cinta pertamamu."
"Itu sudah masalalu."
"Tidak, Sion!” teriak Laura menolak tegas keputusan yang sudah Sion siapkan. “Hari ini adalah pernikahan kita. Apapun yang terjadi, kita tetap harus menikah.”
“Semua orang sudah tidak ada di sini. Kau pikir pernikahan ini masih bisa berjalan seperti seharusnya?”
Semua orang seketika menoleh. Di sana, sejak awal, seorang lelaki tua duduk dengan tenang di kursinya. Edwin Maximillian, Ketua keluarga Maximillian sang kakek kandung Sion yang akhirnya buka suara setelah sekian lama menonton.
Sejak Raina datang, lelaki tua itu tidak pernah mengucapkan satu kata pun. Ia hanya duduk sambil mengamati. Mengamati Raina, Mengamati Sean dan Shia terutama... mengamati Sion. Tatapan Edwin kembali jatuh kepada kedua anak kecil itu.
Sean sedang sibuk menggenggam tangan Raina. Shia masih berada dalam gendongan Sion dengan boneka kecil dalam pelukan. Edwin menyipitkan mata. Ada sesuatu pada kedua anak itu yang membuat dadanya terasa asing. Bukan karena mereka mirip Sion, melainkan karena ia pernah melihat mata yang sama.
Puluhan tahun lalu, diwajah istrinya sendiri. Edwin perlahan bangkit. Suara tongkatnya kembali terdengar. Seluruh ballroom otomatis membuka jalan. Tidak ada seorang pun yang berani menghalangi.
Calista yang sejak tadi penuh amarah mendadak menundukkan kepala. "Ayah..."
Edwin tidak menjawab. Ia berjalan sampai berhenti tepat di hadapan Raina. Raina menegang, Ia pernah mendengar banyak hal mengenai Edwin Maximillian.
Lelaki tua yang memiliki keputusan tertinggi dalam keluarga. Lelaki yang bahkan Sion tidak berani lawan secara terbuka. Raina hanya pernah bertemu dengannya satu kali… hanya di hari pernikahannya dengan Sion dulu. Karena Edwin harus menjalani perawatan khusus dari dokter pribadinya. Sehingga sebagian besar waktu pria tua itu dihabiskan di rumah sakit.
Raina menundukkan kepalanya. "Kakek!"
"Angkat kepalamu."
Suara Edwin tidak keras. Namun cukup membuat seluruh ruangan diam. Raina perlahan mengangkat wajah, sehingga Edwin dapat menatapnya secara langsung beberapa detik. Pria tua itu terlihat masih sedikit mengingat tentang Raina, tetapi tidak begitu jelas.
"Kau Raina?"
"Ya, Kakek."
"Mantan istri Sion?"
Raina mengangguk. "Benar."
Edwin kemudian mengalihkan pandangan kepada dua anak di sampingnya. "Dan mereka?"
Raina menarik napas. "Sean dan Shia."
"Nama lengkapnya?"
Raina terdiam sebentar. "AlSean King Maximillian..." Ia kembali berhenti sejenak. "… dan ElShia Queen Maximillian."
Bisikan langsung terdengar dari antara para tamu. Mereka tidak menyangka kalau Raina akan langsung memasukkan nama keluarga besar Maximillian ke dalam nama kedua anak kembar itu. Bahkan sebelum Sion dan keluarga itu mau mengakuinya secara resmi.
Terlihat sekali Calista dan yang lainnya sangat ingin menentang nama yang Raina berikan kepada kedua anaknya, tetapi mereka tidak berani mengutarakan penolakan itu di depan Edwin.
Edwin mengangkat alis. "Kau memberi mereka nama keluarga Maximillian?"
Raina menatapnya dengan tenang. "Karena mereka anak Sion dan darah keluarga Maximillian juga ada ditubuh mereka."
Calista langsung menyela. "Ayah, jangan dengarkan dia! Dia hanya—"
"Diam."
Satu kata itu sudah berhasil membuat Calista langsung membisu. Edwin bahkan tidak menoleh kepadanya. Tatapannya tetap kepada Raina.
"Sejak kapan kau tahu?"
"Tentang apa?"
"Bahwa mereka adalah anak Sion."
Raina menelan ludah. "Sejak mereka lahir…tidak, bahkan sejak mereka hadir di dalam perutku. Aku sudah tahu bahwa mereka adalah anak Sion. Karena aku tidak pernah tidur dengan pria manapun, selain dengan Sion."
Edwin mengernyit. "Dan Sion?"
"Dia tidak tahu."
Sion yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang langsung mengangkat wajah. Ia menyadari tatapan Kakeknya kini sudah tertuju padanya seolah meminta penjelasan yang masuk akal untuk masalah kali ini.
Edwin masih menoleh tajam kepadanya. "Kau tidak tahu?"
Sion menggeleng perlahan. "Tidak."
"Kenapa?"
Sion masih terdiam saat Raina menjawab lebih dulu. "Karena saat itu kami sudah bercerai dan aku sudah meninggalkan Sion."
Edwin kembali memandang Raina. "Kenapa kau tidak memberitahunya?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ballroom kembali sunyi. Raina menatap kedua anaknya. Rupanya sudah waktunya ia memberitahu semua orang mengapa ia menghilang begitu saja… tanpa jejak ataupun kabar sama sekali.
"Karena saya tidak ingin mereka tumbuh sebagai alat untuk mengikat seseorang." Matanya kemudian beralih kepada Sion. "Saya tidak ingin Sion bersama saya hanya karena merasa bertanggung jawab. Dan yang lebih penting… aku harus memastikan kedua anakku tetap aman dari orang-orang yang memburuku saat itu."
Edwin diam mendengar perkataan Raina. Kata ‘memburu’ itu jelas bukan dengan tujuan yang bagus ataupun mengarah pada Sion yang berusaha mencari keberadaan Raina saat itu. Namun, ada pihak lain yang menginginkannya… lebih tepatnya menginginkan nyawa Raina.
“Ada yang memburunya? Siapa? Apakah musuhku? Pantas saja aku tidak bisa menemukan jejaknya sedikitpun, rupanya dia sedang menyembunyikan diri dari mereka. Lalu siapa yang membantunya? Tidak mungkin Raina bisa menyembunyikan diri sebaik ini, jika tidak ada yang membantunya?”
Berbagai pertanyaan, kemungkinan dan dugaan seketika bermunculan di dalam kepala Sion. Tatapannya seketika beralih kepada anak buahnya, Falleo… untuk mencari tahu lebih jauh apa yang terjadi selama delapan tahun pencarian mereka. Falleo hanya bisa mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya, menyampaikan perintah itu kepada yang lainnya.
Kemudian lelaki tua itu mengangguk pelan. "Aku mengeti sekarang."
Calista membelalak. "Ayah!"
Edwin berbalik. "Kau keberatan? Atau kau pihak yang memburunya saat itu?"
Calista kehilangan suara."Mana mungkin, Ayah! Ini keluarga kita!" katanya akhirnya. "Kita tidak tahu dari mana perempuan itu datang membawa dua anak dan mengaku mereka darah daging Maximillian! Dan fitnah apalagi yang sedang coba ia sebarkan kepada keluarga kita."
Edwin menatapnya dingin. “Jika memang bukan kau, itu bagus. Dan untuk kebenaran tentang kedua anak ini kita akan melakukan tes DNA."
Semua orang terdiam, karena keputusan Edwin sudah final. Ditambah Sion juga mengangguk setuju akan hal itu. Sehingga tidak ada lagi yang berani menolak ataupun memprotes keputusan tersebut.
Edwin menoleh kepada asistennya. "Hubungi dokter keluarga."
"Baik, Tuan."
"Siapkan pemeriksaan DNA."
Tatapan Edwin kembali kepada Sion. "Ambil sampel darah Sion." Kemudian ia menatap Sean dan Shia. "Dan kedua anak itu."
Laura terlihat semakin pucat. Ia tahu jika pernikahan ini tidak dilanjutkan sekarang, maka selamanya ia tidak akan bisa menikahi Sion. Kembalinya Raina dan juga keberadaan sepasang anak kembar itu akan sell menjadi penghalang terbesar untuk mendapatkan Sion.
"Kakek... lalu bagaimana dengan pernikahanku dengan Sion?"
Edwin menatapnya. "Kita akan membicarakannya lagi nanti, setelah hasil tesnya keluar."
Laura menggigit bibir. "Bagaimana jika hasilnya negatif? Kalau mereka bukan anak Sion..."
Edwin memotong dengan tenang. "Untuk itu kita akan segera mengetahui kebenarannya."
Bersambung….