Tanah warisannya di incar oleh PT besar untuk di jadikan tambang, anaknya di culik, cintanya di hianati, Ia keluar masuk rumah sakit sampai Ia hilang ingatan.
Setelah anaknya lahir, anak itupun tak sempurna fisiknya, bahkan anak nya di bilang kutukan di dusunnya.
dengan penuh perjuangan dan airmata Ia berjuang sekuat tenaganya memulihkan kondisi anaknya dengan cara yang sangat dramatis, di situlah muncul cinta tanpa syarat buat buah hatinya.
dua perjuangan menyelamatkan anak dan mempertahankan warisannya, menjadi tonggak terciptanya novel ini dengan judul, *CINTA TANPA SYARAT*
ikuti kisah juang nya, yang penuh airmata dan pengorbanan dalam dalam mempertahankan hak miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Terakhir Diatas Sabana
Jam 7 pagi. 1 jam lagi batas waktu 12 jam surat 135 juta itu habis.
RSUD Waingapu, UGD masih bau alkohol dan darah.
Sari tidak jadi keguguran. Tuhan masih kasih kesempatan. Setelah 5 jam di UGD, pendarahannya berhenti jam 5 pagi. Janin kedua di dalam perutnya yang bekas donor sumsum tulang itu masih ada.
Detak jantungnya masih ada di monitor, lemah tapi ada. Bu Dokter Rina bilang, "Keajaiban, Bu Sari. Seperti Bintang dulu."
Bintang juga tidak jadi meninggal. Kejangnya berhenti jam 6 pagi setelah diberi obat penurun panas. Demamnya turun dari 40 ke 38. Bintang tidur lagi di dada Sari, masih panas, tapi sudah tidak kejang. Sama seperti setahun lalu setelah donor sumsum, Bintang selamat lagi karena cinta Sari.
Tapi di luar UGD, Johan tidak ada. Johan dibawa polisi jam 3 pagi ke Polres Waingapu karena laporan pengrusakan kaca 15 juta itu. Johan yang lumpuh dengan tongkat kayu jati itu ditahan di sel tahanan Polres, tidak boleh pulang, karena PT Nikel bilang Johan ikut pecahkan kaca.
Mama Leni jaga Bintang dan Sari di RSUD sendirian, dengan motor bebek tua yang mogok itu, dan surat 135 juta di tas kainnya.
Jam 7 pagi, orang kacamata hitam yang culik Bintang kemarin — yang kata orang-orang dipanggil *Thor*, bos lapangan tambang — datang ke RSUD.
Bukan pakai jaket hitam lagi, pakai kemeja putih rapi, bawa 2 polisi dan 1 notaris, bawa map coklat, bawa koper kecil berisi uang cash 135 juta.
Dia masuk UGD dengan senyum, seperti malaikat, padahal kemarin seperti iblis.
"Bu Sari, selamat pagi. Bagaimana janinnya? Bagaimana Bintang? Saya dengar selamat ya, syukurlah. Saya kesini bukan mau ribut, Bu, saya kesini mau bantu.
"Ini uang 135 juta cash, seperti janji surat tadi malam. Ibu tanda tangan jual tanah 2 hektar itu 50 juta, dan tanda tangan kontrak Bintang jadi duta yayasan kami 1 tahun di Jakarta 85 juta, uangnya langsung saya kasih sekarang."
Ibu bisa tebus suami di Polres, bisa bayar rumah sakit, bisa buat Rumah Bintang baru di Waingapu, lebih bagus dari gubuk kayu jati itu. Bintang bisa sekolah di Jakarta, bukan main di sabana berdebu."
Sari duduk di ranjang UGD, infus masih di tangan, Bintang tidur di pangkuannya, perutnya masih sakit bekas pendarahan. Mama Leni pegang tangan Sari erat-erat.
Sari lihat koper uang 135 juta itu. 135 juta itu banyak sekali untuk keluarga miskin di sabana Kolorai. Bisa buat beli motor baru, bisa buat bangun rumah tembok di Waingapu, bisa buat berobat Johan yang lumpuh, bisa buat Bintang sekolah.
Tapi 135 juta itu harga tanah warisan ayah Sari yang 2 hektar, yang ada Rumah Bintang kayu jati di atasnya, yang dibangun pakai darah dan koma 11 hari. 135 juta itu harga Bintang, anak yang dulu dibilang kutukan karena kaki bengkok, yang bisa berlari karena cinta tanpa syarat.
Sari ingat setahun lalu, saat dia melahirkan Bintang sendirian di badai dengan pisau dapur berkarat, saat semua orang bilang Bintang kutukan harus dibuang ke laut. Sari tidak jual Bintang waktu itu, meskipun miskin.
Sari ingat 5 km jalan kaki berdarah gendong Bintang ke Puskesmas, donor darah 750 cc, koma 11 hari, semua orang bilang Sari akan mati, tapi Sari bangun karena dengar tangisan Bintang.
Dan sekarang, Thor ini mau beli semua itu dengan 135 juta cash dan surat.
Sari buka tas kainnya yang kotor, yang dari Kolorai. Di dalamnya bukan uang, tapi ada 3 barang:
Foto Bintang yang baru bisa berlari di sabana kejar kupu-kupu kuning kemarin, yang bilang "Rumah jangan jual".
Sertifikat tanah 2 hektar warisan ayah Sari yang asli, yang sudah 30 tahun, kertasnya kuning, ada tanda tangan ayah Sari.
Surat kecil tulisan tangan Sari sendiri yang dia tulis jam 4 pagi tadi saat pendarahan, saat dia kira dia dan janin keduanya akan mati. Surat itu untuk Bintang jika Sari mati.
Sari kasih 3 barang itu ke Thor, bukan koper uangnya.
"Pak Thor, ini foto anak saya yang bisa berlari karena saya tidak jual dia setahun lalu. Ini tanah ayah saya yang saya jaga 30 tahun. Dan ini surat saya untuk anak saya jika saya mati tadi pagi karena pendarahan.
Saya tidak akan tanda tangan jual tanah 2 hektar itu 50 juta. Saya tidak akan tanda tangan jual anak saya 85 juta untuk 1 tahun di Jakarta.
Rumah Bintang di sabana Kolorai itu bukan 135 juta harganya. Harganya adalah nyawa saya, nyawa Johan, nyawa Bintang, dan nyawa anak kedua saya yang masih di perut saya ini.
Jadi Pak, ambil koper uang 135 juta itu, keluar dari RSUD ini, dan bilang ke bos tambang di Jakarta, tanah Kolorai tidak dijual, anak Sumba tidak dijual, cinta tanpa syarat tidak ada harganya."
Thor kaget, mukanya merah, "Bu Sari, pikir-pikir lagi! Suami ibu di penjara! Ibu tidak punya uang! Video viral ibu 2 juta views itu sudah dibilang settingan demi uang! Kalau ibu tolak, kami akan gugat ibu, penjara ibu, ambil tanah ibu gratis di pengadilan!"
Sari yang masih infus, yang masih pendarahan, yang gendong Bintang yang masih demam, berdiri dari ranjang UGD, dengan kaki tanpa sandal, sama seperti kemarin dia berdiri di sabana saat Bintang diculik.
"Kalau begitu penjara saya, Pak Thor, tapi jangan penjara anak saya. Tanah itu ambil di pengadilan kalau bisa, tapi Rumah Bintang kayu jati itu akan tetap berdiri, karena dibangun pakai darah saya, bukan pakai uang 135 juta Bapak."
Polisi yang ikut Thor lihat Sari berdiri berani itu, lihat Bintang yang tidur demam di gendongan, lihat foto Bintang berlari itu. Polisi itu berbisik ke Thor, "Pak, sudah Pak, jangan dipaksa, banyak orang lihat, video viral sudah 3 juta views."
Thor akhirnya ambil koper 135 juta itu, keluar dari UGD dengan malu. Semua suster dan pasien di RSUD lihat dan video lagi.
Jam 8 pagi, batas waktu 12 jam habis. Sari tidak tanda tangan.
Jam 9 pagi, Johan dilepaskan dari Polres. Bukan karena uang 135 juta, tapi karena Bu Dokter Rina dan Mama Leni bawa video viral 3 juta views itu ke Kapolres. Kapolres bilang ini bukan pengrusakan, ini ibu selamatkan anak diculik, tidak bisa ditahan.
Johan lari dengan tongkatnya dari Polres ke RSUD, peluk Sari dan Bintang di UGD.
Siang itu, mereka bertiga, Sari yang masih pendarahan tapi janin selamat, Bintang yang masih demam tapi tidak kejang, Johan yang lumpuh tapi bebas, naik motor bebek tua yang mogok itu pelan-pelan balik ke Kolorai, 35 km jalan tanah berbatu.
Di tengah padang sabana Kolorai, di depan Rumah Bintang kayu jati yang hampir dijual itu, mereka berhenti.
Bintang yang dari tadi tidur demam di gendongan Sari, tiba-tiba bangun, lihat Rumah Bintang, dan bilang dengan suara serak demam, "Rumah... Mama... tidak jual..."
Sari nangis, Johan nangis, Mama Leni nangis di tengah sabana.
Di atas Rumah Bintang kayu jati itu, ada surat terakhir yang Sari tulis jam 4 pagi tadi, yang Sari tempel di pintu rumah sebelum ke Waingapu kemarin. Surat itu sekarang berkibar tertiup angin timur sabana:
_"Untuk Siapapun yang Mau Beli Tanah Ini 50 Juta, Tanah ini tidak dijual. Anak saya Bintang tidak dijual. Rumah Bintang ini dibangun dengan darah 750 cc, koma 11 hari, jalan kaki 5 km berdarah, dan cinta tanpa syarat. Jika kamu mau ambil, ambil nyawa saya dulu. - Sari Kolorai, Ibu dari Bintang yang dulu dibilang kutukan, sekarang bisa berlari."_
Angin timur sabana bawa surat itu terbang tinggi, terbang sampai ke Waingapu, sampai ke Jakarta, sampai ke HP 3 juta orang yang nonton video viralnya.
Di ujung sabana, motor trail merah yang culik Bintang kemarin terlihat lagi, parkir jauh, lihat Rumah Bintang dari jauh, tidak berani dekat.
Sari peluk Bintang erat-erat, Johan pegang tongkatnya erat-erat, mereka masuk ke Rumah Bintang kayu jati itu, tutup pintu kayu yang bunyinya berderit, seperti setahun lalu.
Di dalam rumah, amplop putih Yayasan Jakarta 100 juta yang asli, yang bukan dari tambang, masih ada di atas dipan kayu, belum dibuka. Itu yayasan yang benar-benar mau bantu Bintang, bukan yang palsu tadi.
Tapi Sari belum buka amplop itu. Sari taruh Bintang yang demam di dipan kayu, kasih minum air putih, dan bisik, "Bintang, tidur nak, besok Mama buka amplop itu, besok kita lihat apakah cinta tanpa syarat itu masih ada harganya di Jakarta yang asli, atau semua Jakarta sama seperti tambang ini..."
Bintang tidur, demamnya masih 38, di luar angin timur sabana makin kencang, seperti badai setahun lalu saat Sari melahirkan sendirian.
Dan di kejauhan, suara motor trail merah itu nyala lagi, pelan-pelan mendekati Rumah Bintang.
*[Cliffhanger Bab 25 - Jangan di-skip editor!]*
Motor trail merah itu bukan Thor. Thor sudah pergi dengan koper 135 juta.
Ini motor trail merah lain. Orangnya pakai helm hitam, bawa map biru, bukan map coklat. Di map biru itu tertulis: *"SERTIFIKAT ASLI 2 HEKTAR - ATAS NAMA SARI - SUDAH BALIK NAMA KE PT NIKEL JAKARTA TANPA TANDA TANGAN?"*
Di dalam Rumah Bintang, Sari baru sadar, sertifikat asli yang tadi dia kasih lihat ke Thor di UGD, tidak ada di tas kainnya lagi. Tertinggal di UGD? Atau diambil Thor?
Pintu Rumah Bintang kayu jati itu diketuk. Tok... tok... tok...
Bukan ketukan Thor yang kasar. Ini ketukan pelan, sopan.
"Buk Sari... ini saya... Bu Dokter Rina dari Waingapu... ada yang harus ibu lihat... tentang amplop putih 100 juta itu... amplop itu palsu juga..."
____
Menurut kalian, apakah Sari harus buka amplop putih 100 juta itu besok, atau bakar saja karena takut itu jebakan Thor lagi?
*Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya, kak Atik baca semua! Bab 26 Thor akan lebih nagih besok jam 19:00!*