NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Di Balik Gaun Sederhana

Alisha Amanda berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memperhatikan gaun berwarna biru navy yang tergantung di balik pintu lemari. Gaun itu bukan pakaian baru. Ia sudah memilikinya cukup lama, tetapi jarang memakainya karena lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit, tempat kerja, atau di rumah.

Malam ini, ia akan menghadiri acara tahunan Mahendra Group bersama Adrian Mahendra.

Awalnya, Alisha mengira undangan itu hanya bagian dari kewajiban mereka sebagai pasangan suami istri. Namun, semakin dekat waktunya, semakin ia menyadari bahwa menghadiri acara perusahaan besar bukanlah hal yang biasa baginya.

Ia tidak terbiasa berada di antara orang-orang berpakaian mahal, berbicara tentang bisnis, atau menghadapi tatapan orang asing yang mungkin mempertanyakan dirinya.

Alisha mengembuskan napas pelan.

"Yang penting aku datang, bersikap sopan, lalu pulang," gumamnya kepada diri sendiri.

Ia mengambil gaun itu dan memeriksa bagian lengannya, memastikan tidak ada benang yang terlepas. Setelah itu, ia mengeluarkan sepasang sepatu hitam sederhana dari kotak di bawah tempat tidur.

Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Namun, semuanya masih layak digunakan.

Alisha tidak ingin menghabiskan uang hanya untuk menghadiri satu acara. Ia masih memiliki pengeluaran rumah sakit yang harus diperhitungkan, termasuk biaya pemeriksaan dan kebutuhan ibunya, Ratih Amanda.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar.

Pesan dari rumah sakit masuk.

Alisha segera membukanya. Pesan tersebut berisi pengingat mengenai jadwal pemeriksaan Ratih berikutnya.

Ia membaca pesan itu dua kali, kemudian membuka catatan keuangannya. Setelah menghitung perkiraan pengeluaran untuk beberapa hari ke depan, ia menambahkan tanggal pemeriksaan ke dalam jadwal.

Barulah setelah semuanya selesai, ia meletakkan ponsel dan kembali memperhatikan gaunnya.

Malam ini memang penting bagi Adrian, tetapi bagi Alisha, ada banyak hal lain yang tetap harus menjadi prioritasnya.

Di lantai bawah, Adrian Mahendra baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan salah satu direktur perusahaannya.

Ia berdiri di dekat jendela ruang kerja sambil memeriksa beberapa dokumen yang harus dibawanya ke acara malam itu. Sebagai CEO Mahendra Group, ia tidak bisa datang hanya untuk menghadiri jamuan makan. Selalu ada kemungkinan seseorang akan mengajaknya membicarakan pekerjaan.

Pintu ruang kerja diketuk.

"Masuk."

Daniel muncul sambil membawa sebuah map tipis.

"Pak, daftar tamu untuk acara malam ini sudah diperbarui. Nama Ibu Alisha juga sudah tercantum."

Adrian mengambil map tersebut dan memeriksanya sekilas.

"Baik."

"Ada beberapa direktur yang membawa pasangan mereka. Kemungkinan besar mereka akan memperkenalkan keluarga masing-masing."

Adrian menutup map.

"Kalau mereka bertanya tentang istriku, jawab seperlunya. Tidak perlu membuat pengumuman khusus."

"Baik, Pak."

Daniel tidak langsung pergi. Ia memperhatikan Adrian yang kembali memeriksa ponselnya.

"Apakah ada hal lain yang perlu saya siapkan?"

"Tidak."

"Kalau begitu, saya kembali ke kantor."

Daniel keluar setelah berpamitan.

Adrian memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia sebenarnya tidak terlalu memikirkan acara tersebut. Jamuan perusahaan seperti itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Namun, ada satu hal yang sedikit berbeda malam ini.

Ia tidak akan datang sendirian.

Alisha akan berada di sisinya, meskipun pernikahan mereka pada awalnya dibangun atas kesepakatan yang tidak diketahui orang lain.

Adrian tidak mengharapkan Alisha bersikap seperti istri yang jatuh cinta kepadanya. Ia juga tidak berniat menuntut kedekatan yang tidak pernah mereka sepakati.

Mereka hanya perlu menjalankan peran masing-masing dengan baik.

Setidaknya, itulah yang selama ini ia pikirkan.

Menjelang sore, suasana di Sweet Morning Bakery masih cukup sibuk.

Alisha sedang merapikan beberapa kotak kue yang baru selesai dikemas ketika Mira menghampirinya sambil membawa daftar pesanan.

"Lis, pesanan untuk meja depan sudah selesai?"

"Sudah. Tinggal dua kotak lagi yang harus kuletakkan di rak."

Mira mengangguk, lalu melirik jam dinding.

"Kamu nanti pulang lebih awal, kan?"

"Iya. Aku sudah izin sebelumnya."

Rani yang sedang membersihkan meja langsung menoleh.

"Jadi, malam ini benar-benar datang ke acara perusahaan suamimu?"

Alisha menahan senyum kecil.

"Iya, Rani. Aku sudah bilang dari kemarin."

"Aku masih penasaran," kata Rani. "Kamu pasti bertemu banyak orang penting, kan? Direktur, manajer, orang-orang yang pakaiannya mahal-mahal."

"Aku juga belum tahu seperti apa acaranya."

"Terus, kamu pakai baju apa?"

"Gaun biru yang sudah kupunya."

Rani mengerutkan kening seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Gaun biru? Bagus, dong. Yang penting kamu nyaman."

Mira menyela sambil menaruh daftar pesanan di meja.

"Betul. Tidak perlu membeli baju baru hanya karena menghadiri acara. Kalau masih bagus, kenapa harus memaksakan diri?"

Alisha tersenyum lega. Ia senang karena kedua temannya tidak membuatnya merasa harus tampil mewah agar pantas berada di acara tersebut.

"Aku juga berpikir begitu. Lagi pula, aku tidak akan sering menghadiri acara seperti ini."

Rani mendekat sedikit, lalu menurunkan suaranya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.

"Tapi, Lis, aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Adrian itu kalau di rumah sebenarnya seperti apa?"

Alisha terdiam sebentar.

Ia mencoba mengingat kebiasaan Adrian sejak mereka tinggal bersama. Pria itu hampir selalu bangun tepat waktu, sarapan tanpa banyak bicara, lalu berangkat bekerja. Ketika pulang, ia sering masih membawa pekerjaan ke rumah.

Meskipun demikian, Adrian tidak sepenuhnya mengabaikan keberadaannya.

"Dia pendiam," jawab Alisha akhirnya. "Tapi kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan, dia tetap bicara."

"Galak?"

"Menurutku tidak."

"Serius?"

Alisha mengangguk.

"Dia memang tidak banyak tersenyum, tetapi aku tidak pernah merasa perlu takut hanya karena dia diam."

Mira tertawa kecil.

"Jawabanmu seperti sedang menjelaskan atasan di kantor."

"Memangnya harus bagaimana?" Alisha ikut tersenyum. "Aku menjawab sesuai yang kutahu."

Rani menggeleng sambil tertawa.

"Sudahlah. Nanti kalau sudah pulang dari acara, ceritakan bagaimana suasananya."

"Kalau ada sesuatu yang menarik, akan kuceritakan."

Mereka kembali bekerja.

Beberapa menit kemudian, Alisha memeriksa ponselnya dan memastikan jadwal kunjungan ke rumah sakit tidak berbenturan dengan pekerjaannya esok hari. Setelah itu, ia menyelesaikan tugas terakhir sebelum berpamitan kepada Mira dan Rani.

"Hati-hati nanti," pesan Mira.

"Iya. Kalian juga."

"Jangan lupa makan," tambah Rani. "Jangan sampai sibuk menemani orang-orang penting sampai kamu sendiri tidak makan."

Alisha tertawa kecil.

"Aku akan mengingatnya."

Ia mengambil tasnya, lalu meninggalkan bakery dengan langkah tenang.

Ketika Alisha tiba di rumah, jam menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit.

Ia meletakkan tas di kamar, mencuci tangan, lalu memeriksa ponselnya untuk memastikan tidak ada pesan baru dari rumah sakit.

Setelah itu, ia mandi dan mulai bersiap.

Alisha mengenakan gaun biru navy pilihannya. Potongannya sederhana, tidak terlalu mencolok, dan cukup nyaman untuk bergerak. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, lalu mengikat sebagian rambutnya agar tidak menutupi wajah.

Ia hanya menggunakan riasan tipis.

Setelah mengenakan sepatu hitamnya, Alisha berdiri di depan cermin.

Ia memperhatikan penampilannya selama beberapa detik.

Bukan karena ingin terlihat sempurna, melainkan untuk memastikan semuanya sudah rapi.

"Cukup," gumamnya.

Ia mengambil tas kecil, memasukkan ponsel, dompet, dan beberapa barang penting, lalu keluar dari kamar.

Saat menuruni tangga, ia melihat Adrian sudah menunggu di ruang tengah.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih. Penampilannya rapi dan berwibawa, seperti sosok yang biasa dilihat Alisha dalam foto-foto perusahaan.

Adrian sedang memeriksa jam tangannya ketika mendengar langkah kaki.

Ia mengangkat kepala.

Untuk sesaat, pandangannya berhenti pada Alisha.

Gaun biru navy itu sederhana, tetapi terlihat cocok dikenakan olehnya. Rambutnya yang ditata rapi membuat penampilannya tampak sedikit berbeda dari kesehariannya di rumah atau di bakery.

Adrian tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Alisha berhenti di dekat tangga.

"Maaf, apa aku terlalu lama?"

Adrian seolah baru kembali dari pikirannya sendiri.

"Tidak. Kita masih punya waktu."

Alisha mengangguk.

Ia mengira Adrian sedang memikirkan acara perusahaan, sehingga tidak mempertanyakan tatapan singkat pria itu.

"Apakah pakaianku sudah sesuai?" tanyanya. "Kalau ada yang kurang, aku masih bisa memperbaikinya."

Adrian memperhatikan gaunnya sekali lagi, kali ini dengan lebih singkat.

"Sudah sesuai."

"Benarkah?"

"Ya. Kamu tidak perlu mengganti apa pun."

Alisha tampak lega.

"Syukurlah. Aku tidak ingin membeli pakaian baru hanya untuk acara satu malam."

Adrian mengambil kunci mobil dari meja.

"Aku juga tidak memintamu membeli pakaian baru."

"Aku tahu. Aku hanya memastikan."

Adrian mengangguk kecil.

Percakapan mereka kembali berhenti.

Alisha tidak merasa canggung dengan keheningan itu. Ia sudah terbiasa dengan sikap Adrian yang tidak banyak bicara. Selama tidak ada masalah yang perlu dibahas, mereka bisa menjalani waktu bersama tanpa harus mencari bahan percakapan.

Namun, entah mengapa, Adrian justru menyadari betapa mudahnya Alisha menerima keheningan di antara mereka.

Perempuan itu tidak berusaha menarik perhatiannya.

Tidak pula memaksakan percakapan agar suasana terasa lebih dekat.

Ia hanya berdiri di sana, menunggu dengan tenang.

Adrian mengalihkan pandangan.

"Kita berangkat sekarang."

"Baik."

Perjalanan menuju Grand Arunika Hotel berlangsung cukup lancar.

Alisha duduk di kursi penumpang sambil memperhatikan jalanan dari balik jendela. Lampu kendaraan mulai menyala, sementara beberapa gedung di sepanjang jalan tampak semakin terang ketika langit berangsur gelap.

Adrian mengemudi dengan tenang.

Beberapa menit pertama berlalu tanpa percakapan berarti.

Kemudian, Adrian memecah keheningan.

"Kalau nanti ada orang yang mengajakmu berbicara tentang perusahaan, kamu tidak perlu menjawab sesuatu yang tidak kamu ketahui."

Alisha menoleh.

"Aku memang tidak tahu banyak tentang perusahaanmu."

"Karena itu, jawab saja dengan jujur."

"Kalau mereka bertanya tentang pekerjaanmu?"

"Katakan bahwa aku bekerja sebagai CEO Mahendra Group."

Alisha menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Kurasa mereka sudah tahu itu."

Adrian meliriknya sekilas.

Alisha segera melanjutkan, "Maksudku, kalau mereka bertanya tentang pekerjaanmu sehari-hari, aku mungkin tidak bisa menjawab banyak."

"Kamu tidak harus menjelaskan pekerjaanku kepada mereka."

"Baiklah."

Adrian kembali memperhatikan jalan.

"Kalau kamu merasa tidak nyaman, beri tahu aku."

Alisha mengangguk.

"Terima kasih. Tapi aku akan berusaha menyesuaikan diri."

"Jangan memaksakan diri."

Ucapan itu membuat Alisha sedikit terdiam.

Ia menatap Adrian, mencoba memahami maksudnya. Namun, wajah pria itu tetap tenang, seolah kalimat tersebut hanyalah pengingat biasa.

Alisha pun tidak memperpanjang pembicaraan.

"Aku mengerti."

Beberapa saat kemudian, ia kembali melihat ke luar jendela.

Pikirannya sempat beralih kepada Ratih. Ia berharap ibunya bisa beristirahat dengan nyaman malam ini dan tidak mengalami keluhan yang membuatnya harus segera kembali ke rumah sakit.

Alisha membuka ponsel, memeriksa waktu, lalu memastikan tidak ada panggilan yang terlewat.

Adrian melihat gerakan itu sekilas.

"Kamu sedang memeriksa kabar ibumu?"

"Iya. Aku hanya memastikan tidak ada pesan dari rumah sakit."

"Kalau ada sesuatu, kita bisa langsung pergi."

Alisha menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut.

"Di tengah acara?"

"Kalau memang diperlukan."

Alisha terdiam sesaat, kemudian mengangguk.

"Semoga tidak ada apa-apa. Ibu sedang beristirahat."

Adrian tidak memberikan tanggapan panjang. Ia hanya kembali berkonsentrasi pada jalan.

Meskipun percakapan mereka sederhana, ada sesuatu yang tertinggal dalam pikiran Adrian.

Alisha tidak pernah datang kepadanya dengan tuntutan berlebihan. Bahkan ketika membicarakan sesuatu yang penting baginya, perempuan itu selalu berusaha mencari jalan keluar tanpa membuat orang lain merasa terbebani.

Adrian belum tahu apakah itu memang sifat Alisha sejak awal atau kebiasaan yang terbentuk karena keadaan hidupnya.

Ia juga tidak merasa perlu mencari tahu malam ini.

Setidaknya, ia mengatakan hal itu kepada dirinya sendiri.

Mobil akhirnya memasuki halaman Grand Arunika Hotel.

Bangunan hotel yang megah tampak diterangi lampu-lampu keemasan. Beberapa mobil mewah sudah terparkir di area depan, sementara para tamu berjalan menuju pintu masuk yang dijaga petugas.

Alisha memandang gedung itu dengan mata sedikit melebar.

Ia pernah melihat hotel semewah ini dari luar, tetapi jarang memiliki kesempatan untuk masuk ke dalamnya.

"Ramai sekali," katanya pelan.

"Acara tahunan perusahaan," jawab Adrian.

Mobil berhenti di dekat pintu masuk.

Seorang petugas hotel segera menghampiri dan membuka pintu untuk Adrian. Setelah turun, Adrian berbalik ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk Alisha.

Alisha sempat terkejut.

"Aku bisa membuka pintunya sendiri."

"Aku tahu."

Adrian mengulurkan tangan sekadar membantu Alisha turun dari mobil.

Alisha menerimanya agar tidak kehilangan keseimbangan ketika menapakkan kaki di permukaan jalan.

"Terima kasih."

Adrian mengangguk, kemudian menyerahkan kunci mobil kepada petugas.

Setelah itu, ia berdiri di samping Alisha.

Untuk beberapa saat, mereka memperhatikan pintu masuk yang dipenuhi para tamu. Dari dalam gedung terdengar alunan musik lembut dan percakapan orang-orang yang berkumpul di ruang acara.

Alisha merapikan tali tas kecilnya.

"Apa kita langsung masuk?"

"Ya."

Adrian mulai berjalan, lalu menyadari bahwa Alisha masih berdiri sedikit di belakangnya.

Ia memperlambat langkah.

"Kamu tidak perlu terburu-buru."

Alisha segera menyusul.

"Aku tidak terburu-buru. Aku hanya belum terbiasa berada di tempat seperti ini."

"Aku mengerti."

Mereka berjalan berdampingan melewati pintu utama.

Beberapa pegawai perusahaan yang berada di dekat meja penyambutan langsung mengenali Adrian. Mereka menyapa dengan sopan, lalu mengalihkan perhatian kepada perempuan yang berjalan di sampingnya.

Adrian memperkenalkan Alisha secara singkat.

"Ini Alisha, istri saya."

Alisha tersenyum sopan.

"Senang bertemu dengan Anda."

Para pegawai itu membalas sapaan tersebut.

Tidak ada pertanyaan aneh yang langsung diajukan, tetapi Alisha bisa merasakan beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia tidak menyalahkan mereka. Adrian adalah CEO perusahaan besar, sedangkan dirinya hanyalah perempuan biasa yang bekerja di sebuah toko roti.

Mereka mungkin penasaran bagaimana Adrian menjalani kehidupan rumah tangganya.

Alisha tetap menjaga sikap tenang.

Ia tidak perlu membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada siapa pun. Ia hanya ingin menjalani malam itu dengan baik dan tidak membuat Adrian kesulitan.

Di sisi lain, Adrian menyadari beberapa orang memperhatikan mereka.

Ia tidak merasa terganggu oleh tatapan itu. Namun, ketika melihat Alisha berdiri dengan tenang di sampingnya, ia mendapati dirinya ingin memastikan perempuan itu tidak merasa sendirian di tengah keramaian.

"Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, katakan saja kepadaku," ujarnya pelan.

Alisha menoleh.

"Baik."

Setelah itu, mereka melangkah menuju ruang utama tempat acara akan berlangsung.

Alisha belum tahu bahwa malam itu akan mempertemukannya dengan orang-orang baru, percakapan yang tidak ia duga, dan situasi yang perlahan membuat Adrian melihatnya dari sudut pandang berbeda.

Sementara itu, Adrian masih menganggap kehadiran Alisha sebagai bagian dari kewajiban mereka dalam pernikahan.

Ia belum menyadari bahwa perhatian kecil yang mulai diberikannya kepada perempuan itu suatu hari nanti akan menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diabaikan.

Malam baru saja dimulai.

Dan di balik pintu ruang utama, kehidupan mereka perlahan bergerak menuju perubahan yang belum diketahui oleh keduanya.

1
katya
Good luck with your novel, it's quite an interesting novel.👍
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
katya
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!