NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Di lantai teratas gedung Bratadikara Group, suasana justru berbanding terbalik dengan kehangatan di rumah Ananda. Ruang rapat utama mendadak berubah mencekam. Tuan Surya Bratadikara, ayah kandung Tristan sekaligus pemilik tertinggi Bratadikara Group sedang berdiri di ujung meja panjang dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam menahan amarah.

Rapat penting bersama dewan direksi yang seharusnya menentukan arah investasi baru terpaksa bubar di tengah jalan karena sang CEO, Tristan, tidak menampakkan batang hidungnya. Ditambah lagi, pagi ini papan bursa menunjukkan sentimen negatif yang membuat saham perusahaan Bratadikara Group menurun tajam hingga 10%.

"Ke mana anak tidak tahu diuntung itu, Kevin?!" gertak Tuan Surya, menggebrak berkas laporan di atas meja. "Saham kita anjlok 10% hari ini! Harusnya dia berdiri di sini untuk mempertanggungjawabkan masalah ini di depan para direksi! Tapi apa? Dia malah mangkir dan melarikan diri dari tanggung jawab seperti pengecut!"

Kevin yang berdiri di sudut ruangan dengan memegang tablet kerjanya langsung menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun sebagai asisten yang tahu bagaimana dedikasi Tristan selama ini, ia mencoba memberanikan diri untuk membela bosnya.

"Maaf, Tuan Besar... sepertinya Tuan Tristan tidak seperti yang Tuan Besar pikirkan," ucap Kevin dengan suara bergetar namun berusaha terdengar meyakinkan. "Tuan Tristan itu sangat berkompeten dan selalu bertanggung jawab di setiap masalah yang selama ini terjadi semasa kepemimpinannya. Saya yakin, sepertinya memang ada sesuatu hal yang benar-benar sangat mendesak dan tidak bisa beliau tunda hari ini, Tuan."

Tuan Surya justru mengibaskan tangannya ke udara dengan kasar, menolak mentah-mentah pembelaan Kevin.

"Alah! Anak itu hanya mencari-cari alasan saja untuk membolos!" ketus Tuan Surya sambil mendudukkan tubuhnya kembali ke kursi kebesaran dan memijit pelipisnya yang mendadak pusing. "Sepertinya sikap arogannya sudah kembali ke setelan awal seperti zaman kuliah dulu. Tahu begitu, aku tidak akan pernah memintanya untuk memimpin anak perusahaan di Jakarta ini! Lebih baik dia aku buang lagi untuk mengurus perusahaan cabang di Kanada sana!"

*

*

Sementara itu, di ruang tamu rumah kontrakan yang sederhana, Tristan dan Ananda sedang duduk berdampingan di atas kursi sofa kain yang sudah agak usang. Di sudut ruangan lain dekat televisi, Bu Mila tampak sibuk dan telaten menemani Elvano yang sedang asyik menyusun mainan baloknya dengan tawa riang.

Tristan menoleh ke arah Ananda, menatap wajah wanita itu dengan tatapan posesif yang sarat akan kerinduan.

"Nanda, besok aku tidak mau melihatmu tidak masuk ke kantor lagi seperti hari ini," ucap Tristan, nadanya terdengar seperti perintah namun ada nada manja tersembunyi di sana. "Aku bisa gila kalau seharian tidak melihat wajahmu di depan meja kerjamu."

Ananda terkekeh pelan melihat sisi lain dari bos monsternya yang ternyata bisa bersikap kekanak-kanakan. "Iya, kamu tenang saja. Aku pastikan besok aku akan masuk ke kantor sebagai sekretaris pribadimu yang rajin."

Tristan langsung mengerucutkan bibirnya, tidak puas dengan jawaban Ananda.

"Kalau aku maunya kamu masuk ke kantor sebagai istriku, bukan sebagai sekretarisku lagi."

Pipi Ananda merona merah mendengar gombalan Tristan. Ia menyenggol pelan lengan kekar Tristan untuk menyembunyikan salah tingkahnya. "Sabar dulu, Tristan... jangan terburu-buru. Tapi, boleh tidak aku meminta satu permintaan sama kamu?"

Tristan langsung memajukan tubuhnya, menatap Ananda dengan binar mata antusias. "Apa itu, Sayang? Katakan saja, jangankan satu, seratus permintaan pun akan aku kabulkan."

Ananda menarik napas dalam-dalam, menatap Tristan dengan tatapan serius.

"Aku ingin... kita tetap merahasiakan hubungan kita dan fakta tentang Elvano saat berada di lingkungan kantor. Aku ingin kita tetap bekerja sama secara profesional seperti biasa sebagai atasan dan bawahan. Bagaimana?"

Mendengar permintaan itu, senyuman di wajah tampan Tristan seketika lenyap. Ia langsung terdiam sejenak, dahinya mengernyit dalam tanda tidak setuju.

"Tapi kenapa harus dirahasiakan di kantor, Nanda?" tanya Tristan keberatan. "Aku justru ingin memamerkan kepada dunia, terutama pada Bella dan orang-orang yang merendahkan mu, bahwa kau adalah wanita milikku. Aku ingin melindungi mu dengan statusku."

Ananda menggelengkan kepala pelan, lalu menggenggam lembut tangan Tristan untuk meredakan kekecewaan pria itu. "Aku tahu niatmu baik, Tristan. Tapi situasi kantor sedang tidak stabil, belum lagi gosip-gosip miring dari karyawan lain. Aku tidak mau fokus kerjamu terganggu. Pokoknya, aku minta hubungan kita dirahasiakan dulu di kantor sampai suasananya tepat!"

Tristan menghembuskan napasnya dengan berat. Bahunya merosot lemas. Meskipun di dalam hatinya ia teramat kurang setuju dan ingin membantah, ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak binar mata memohon dari wanita yang baru saja kembali ke pelukannya ini.

"Hah... baiklah," sahut Tristan pasrah dengan wajah cemberutnya. "Aku menyetujui permintaanmu. Kita rahasia-rahasiaan dulu di kantor. Tapi ingat, itu hanya berlaku di dalam gedung perusahaan! Begitu keluar dari kantor, kau dan Elvano sepenuhnya adalah milikku."

*

*

Matahari perlahan mulai condong ke barat, memancarkan rona jingga yang hangat di langit sore. Menyadari hari sudah semakin larut, Tristan dengan berat hati memutuskan untuk pamit kembali ke apartemennya agar tidak mengganggu waktu istirahat keluarga kecilnya itu.

Sebelum beranjak dari tempat duduknya, Tristan menarik Elvano ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh mungil putranya dengan sangat erat, seolah ingin menggantikan enam tahun waktu yang hilang dalam satu dekapan hangat.

"Pah, besok main lego lagi yah... Ternyata Papah jago banget menyusunnya, Mamah kalah...!" ucap Elvano bersemangat sambil tertawa cekikikan di dalam pelukan sang ayah.

Tristan melepaskan pelukannya, lalu mencolek hidung mungil Elvano dengan gemas. "Wah, berarti Papah lebih hebat dong dari Mamah?"

Elvano melirik ibunya yang sedang merapikan cangkir di meja, lalu berbisik dengan jenaka, "Mamah jangan marah ya, kalau aku memuji Papah!"

"Ya... ya... ya, mentang-mentang sekarang sudah ada Papah... Mamah jadi tersisihkan, ya!" sahut Ananda pura-pura merengut sambil melipat kedua tangannya di dada dengan bibir cemberut.

Melihat ekspresi menggemaskan Ananda, Tristan dan Elvano kompak tertawa renyah. Kebahagiaan kecil itu terasa begitu nyata di dalam ruang tamu sederhana tersebut. Sementara itu, di balik gorden pembatas dapur, Bu Mila mengintip diam-diam. Air mata haru mengalir di pipinya, namun senyum bahagia terukir jelas di wajah tuanya melihat putri dan cucunya akhirnya bisa tertawa lepas tanpa beban.

"Yasudah, besok sore pas Mamah dan Papah selesai bekerja, nanti Papah belikan kamu mainan lego yang banyak banget. El mau tidak?" tanya Tristan menawarkan kejutan.

"Mau... Mau Pah, hore...!" Elvano bersorak girang. Bocah itu bahkan sampai berjingkrak-jingkrak di atas sofa kain, lalu kembali menghambur memeluk leher Tristan dan mencium kedua pipi sang ayah bergantian dengan sayang.

Diperlakukan sehangat itu oleh darah dagingnya sendiri, rasanya Tristan enggan melangkahkan kaki pergi meninggalkan rumah kontrakan ini. Namun, ia tahu ada kewajiban yang harus ia selesaikan. Tristan pun perlahan bangkit dan berpamitan dengan Bu Mila yang keluar dari balik gorden, lalu beralih menatap Ananda.

"Aku pulang dulu, Nanda... Sampai bertemu besok di kantor," ucap Tristan lembut.

Sebelum Ananda sempat membalas, Tristan memajukan tubuhnya dan mengecup kening Ananda dengan durasi yang cukup lama, menyalurkan seluruh rasa cinta dan hormatnya. Sentuhan mendadak itu seketika membuat wajah Ananda merona merah, tersipu malu di hadapan ibu dan anaknya sendiri.

Tristan tersenyum puas melihat reaksi Ananda, lalu bergegas keluar dan melajukan mobil mewahnya meninggalkan halaman kontrakan.

Begitu mobilnya sudah membelah jalanan kota yang mulai padat, Tristan meraih ponselnya yang sengaja ia matikan sedari siang demi tidak mau diganggu oleh siapa pun. Begitu layar ponsel menyala, rentetan notifikasi langsung menyerbu masuk. Ada puluhan panggilan tidak terjawab serta pesan darurat dari Kevin dan juga ayahnya, Tuan Surya Bratadikara

Tristan menghembuskan napasnya dengan kasar, cengkeramannya pada kemudi mengerat. Tepat di saat itu, ponselnya kembali bergetar hebat menampilkan nama Kevin di layar. Tristan langsung menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeaker.

"Tuan... Duh, Tuan Tristan kemana saja?!" suara Kevin di seberang sana terdengar sangat panik dan gemetar. "Tadi Tuan Besar mengamuk hebat di ruang rapat karena saham anjlok dan Anda tidak hadir! Sekarang Tuan Besar sudah pulang, dan Anda ditunggu malam ini juga di Mansion Bratadikara, Tuan!"

Tristan terdiam sejenak, menatap lurus ke depan jalanan kota. Ia menghela napas panjang untuk mengumpulkan kekuatannya. Setelah menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Ananda dan Elvano, Tristan tahu bahwa ia harus siap menghadapi badai apa pun di mansion keluarganya nanti.

"Baik, Kevin. Aku akan ke sana sekarang," jawab Tristan dingin, lalu mematikan sambungan telepon dan memutar arah kendaraannya menuju Mansion Bratadikara.

Bersambung...

1
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Ilfa Yarni
waah Tristan sekarang udah terang2an bilang sayang sama Nanda eits hati2 Tristan jgn sampe keceplosan dikantor bilang sayang ya nanti kebongkar hubungan kalian sebelum wkt yg tepat selesaikan dulu urusan perusahaanmu yg kacau dan km jg hrs cari tau gmn kehidupan bella dan tingkah lakunya diluar sana agar nanti km menolaknya ada bukti klo bella itu ga pantas buat km tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda
total 1 replies
Aghitsna Agis
aih padahal tristan pura2 duterima pertunana itu nah nanti bongkar semua kebusukan bella dan mungkin bella sydah sering gunti ganti pasang nanti pasang lsyar tancap disana dsn thor harus langsung up juga dirunggu mks
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti ada saatnya si Bella di balas oleh Tristan ya kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!