Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Untuk Edward
Malam semakin larut ketika mobil sedan hitam yang ditumpangi Edward melaju membelah jalanan kota. Edward baru saja menyelesaikan rapat penting dengan beberapa kolega bisnisnya. Suasana hatinya masih kacau, kepalanya berdenyut memikirkan ucapan Yoselin yang meminta cerai serta bekas luka yang ia tinggalkan di leher istrinya sendiri. Penyesalan dan amarah bercampur menjadi satu, membuat raut wajahnya terlihat sangat mengerikan.
Mobil yang dikendarai oleh sopirnya melintasi area jalan pintas yang cukup sepi dan minim penerangan. Pohon-pohon rindang di sisi jalan menambah kesan mencekam di tengah keheningan malam.
Tiba-tiba, suara deru mesin sepeda motor meraung nyaring dari arah belakang. Dua unit sepeda motor besar melaju kencang dan langsung memotong jalur secara mendadak, berhenti melintang tepat di depan mobil Edward. Sopir Edward refleks menginjak rem dalam-dalam.
Ckiieeeek!
Tubuh Edward terdorong ke depan. "Ada apa ini?!" bentak Edward murka dari kursi belakang.
"M-maaf, Pak Edward... Jalan kita dihadang oleh empat orang berbadan besar!" sahut sang sopir dengan suara gemetar ketakutan.
Empat pria berpostur tinggi besar dengan pakaian serba hitam turun dari motor mereka. Dua di antaranya melangkah mendekat dan mengetuk pintu kaca mobil secara kasar.
Brak! Brak! Brak!
"Turun kalian! Keluar dari mobil!" teriak salah satu pria berbadan tegap itu dengan suara berat mengintimidasi.
Sopir Edward makin panik, wajahnya pucat pasi. "Pak, bagaimana ini? Sepertinya mereka perampok! Kita panggil polisi saja, Pak!"
Mendengar kepanikan sopirnya, Edward justru menyunggingkan senyuman sinis penuh kesombongan. Amarah yang menumpuk di dadanya sejak kemarin seolah menemukan wadah untuk diluapkan. Lagipula, Edward bukan pria biasa yang mudah digertak. Ia memegang sabuk hitam Taekwondo dan menguasai beberapa teknik seni bela diri lainnya. Di matanya, empat pria preman ini hanyalah sarana melampiaskan kekesalan.
"Jangan panik. Tetap di dalam mobil dan kencangkan sabuk pengamanmu," perintah Edward dingin seraya membuka pintu mobil.
"Tapi, Pak Edward—"
Edward tidak memedulikan peringatan sopirnya. Ia melangkah keluar dari mobil dengan gaya yang sangat tenang dan angkuh. Ia membetulkan kerah jas mewahnya, menatap empat pria berbadan besar di hadapannya dengan pandangan meremehkan.
"Kalian tahu sedang berurusan dengan siapa, hah?" tanya Edward dengan nada suara datar namun sarat ancaman.
"Berapa banyak uang yang kalian butuhkan sampai berani menghadang mobilku di tempat sepi seperti ini?"
Pria bertubuh paling besar yang menjadi pemimpin kelompok itu tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin dan merendahkan.
"Kami tidak butuh uangmu, Edward Galvano," sahut pria itu sinis.
"Kami hanya datang untuk memberikan sedikit pelajaran atas kelakuan burukmu."
Dahi Edward bertaut rapat. "Pelajaran? Siapa yang menyuruh kalian?!"
"Kamu tidak perlu tahu siapa bos kami. Yang jelas, malam ini kamu harus membayar harganya," tegas pria kedua seraya memasang kuda-kuda bertarung.
Edward terkekeh meremehkan. "Mencoba bersikap tangguh, ya? Baik, kalau kalian memang ingin bermain-main, aku tidak keberatan menghabisi kalian berempat sekaligus!"
Tanpa membuang waktu, Edward memasang posisi kuda-kuda Taekwondo. Dengan percaya diri yang membumbung tinggi, Edward melayangkan tendangan memutar yang sangat cepat ke arah dada pria pertama.
Brak!
Tendangan Edward mengenai sasaran, membuat pria pertama terdorong dua langkah ke belakang. Namun, yang membuat Edward terkejut, pria berbadan besar itu sama sekali tidak meringis atau tersungkur. Ia justru mengusap dadanya santai, lalu tersenyum mengerikan.
"Hanya segini kemampuanmu?" ejek pria itu dingin.
Sebelum Edward sempat menarik kembali kakinya, pria kedua bergerak bagaikan kilat. Ia mencengkeram pergelangan kaki Edward lalu memutarnya secara kasar. Pada saat yang sama, pria ketiga melayangkan pukulan mentah berkekuatan penuh tepat ke arah rahang Edward.
Bugh!
"Ugh!"
Suara hantaman keras bergema di kegelapan malam. Pandangan Edward seketika berkunang-kunang. Rasa panas luar biasa menghantam rahang kirinya. Tubuh tinggi tegaknya limbung dan terhempas keras ke atas permukaan aspal yang dingin.
"Pak Edward!" jerit sopirnya dari dalam mobil yang terkunci rapat.
Edward merintih, memegang rahangnya yang terasa sangat perih dan kaku. Ia berusaha keras untuk bangkit kembali, menyadari bahwa empat pria di hadapannya ini bukanlah preman jalanan biasa. Gerakan mereka sangat terukur, terlatih, dan mematikan jauh di atas tingkatan lawan bertarung yang pernah ia hadapi.
"Sialan..." gumam Edward menahan sakit, mencoba berdiri dengan bertumpu pada kedua tangannya.
"Kalian..."
Belum sempat Edward menyempurnakan posisinya untuk berdiri, pria pimpinan kelompok itu melangkah maju. Tanpa rasa iba, sepatu boots tebal milik pria itu mendarat keras tepat di atas punggung telapak tangan kanan Edward yang menempel di aspal.
Krak!
Suara derakan tulang yang bergeser dan patah terdengar begitu nyata di tengah kesunyian malam.
"AAAKKKHHH!"
Jeritan histeris meluncur dari tenggorokan Edward. Rasa sakit yang teramat sangat, bagaikan ditusuk ribuan jarum beracun, seketika menjalar dari jemari hingga ke seluruh lengan tangannya. Wajah Edward berubah pucat pasi, peluh dingin bercucuran deras membasahi dahinya. Pria yang biasanya selalu tampil dingin dan angkuh itu kini terkulai lemas di atas tanah, memegangi lengan tangannya yang memar mengerikan dan tak lagi bisa digerakkan.
Pria pimpinan itu sengaja menekan tumit sepatunya lebih dalam selama beberapa detik, membuat Edward mengerang kesakitan hingga kehabisan suara.
"Ini pesan dari bos kami," bisik pria itu, menundukkan wajahnya tepat di atas telinga Edward yang bersimbah keringat dingin.
"Jika kamu berani menyentuh atau menyakiti wanita itu lagi, bukan cuma tanganmu yang patah... tapi lehermu yang akan kami patahkan. Paham?"
Edward meringis memegangi lengannya, matanya membelalak lebar mendengar kata wanita itu.
"Yoselin...? Apakah ini perbuatan pria yang bersama Yoselin di telepon malam itu?!"
Dari kejauhan, sorot lampu dari dua mobil warga yang kebetulan melintas mulai terlihat mendekat. Suara klakson nyaring terdengar menyalak di kegelapan.
"Ada warga yang datang! Ayo cepat pergi!" seru salah satu pria.
Pria pimpinan itu mengangkat kakinya dari tangan Edward yang hancur, lalu menatap Edward yang bersimbah penderitaan dengan pandangan dingin.
"Anggap ini sebagai peringatan pertama, Galvano."
Keempat pria itu dengan cepat melompat ke atas motor besar mereka, menancap gas dalam-dalam, dan melaju kencang menghilang di balik kegelapan malam.
Mobil-mobil warga berhenti di sekitar lokasi kejadian. Beberapa orang tampak turun dengan terburu-buru untuk memberikan pertolongan. Sopir Edward yang panik pun bergegas keluar dari mobil dan berlari menghampiri majikannya yang terkapar di aspal.
"Pak Edward! Pak Edward, Anda tidak apa-apa?! Astaga, tangan Anda!" jerit sang sopir panik melihat kondisi pergelangan tangan kanan Edward yang membengkak parah dan membiru dalam posisi yang melengkung tidak wajar.
"Uhuk... Se-segera bawa aku... ke rumah sakit..." rintih Edward dengan suara terputus-putus, menahan gelombang rasa sakit luar biasa di lengan dan rahangnya.
"Baik, Pak! Baik! Tolong, Pak, bantu saya mengangkat beliau ke dalam mobil!" seru sang sopir meminta bantuan pada warga sekitar.
Beberapa warga dengan hati-hati membantu mengangkat tubuh Edward yang melemah ke dalam kursi belakang mobil. Begitu pintu ditutup, sopir Edward langsung menancap gas melaju secepat kilat menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil yang melaju kencang, Edward bersandar lemas pada jok kulit. Tangannya yang patah bergetar hebat, memicu rasa nyeri yang luar biasa setiap kali mobil melewati jalanan yang bergelombang. Namun, di balik rasa sakit fisik yang menyiksa tubuhnya, pikiran Edward justru dipenuhi oleh bayangan Javier Vernand dan Yoselin.
"Javier Vernand Romero..." batin Edward dengan kemurkaan yang tertahan di tenggorokannya.
"Bajingan itu benar-benar mengirim orang untuk mematahkan tanganku?! Beraninya dia... Beraninya dia melindungi mu seperti ini, Yoselin!"
Edward memejamkan matanya rapat-rapat, merintih dalam kesakitan dan kekalahan yang teramat sangat, menyadari bahwa musuh yang kini berdiri di balik keputusan istrinya adalah sosok raksasa yang tidak akan ragu untuk menghancurkannya hingga berkeping-keping.
Bersambung...