NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:717k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Kamis malam, Jena kembali datang ke lapak roti bakar milik Budi. Seperti biasa, tempat itu ramai dan di penuhi aroma sedap berbagai macam makanan. Dan yang paling tercium saat ini, adalah aroma nasi goreng Mang Udin.

"Eh, si Neng cantik datang lagi," sapa Mang Udin. "Roman-romannya emang ada sesuatu nih sama Budi."

Jena hanya membalas dengan senyuman. Ia mendekati gerobak Budi, celingukan saat tak menemukan laki-laki itu ada disana.

Sebagai gantinya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar sembilan tahun sedang berdiri di sana. Rambutnya dikuncir dua, mengenakan kaus sederhana dan celana panjang. Ia tampak sibuk melipat kotak roti.

“Budi mana?”

Anak itu mendongak. “Ayah sedang pergi membeli cokelat,” jawabnya polos. “Kalau mau beli, tolong tunggu sebentar.”

Jena terdiam. Ayah? Matanya menatap anak itu dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya sedikit mirip dengan Budi.

“Kamu...” Tatapan Jena masih tertuju pada anak itu. “Anaknya Budi?”

Gadis kecil itu mengangguk mantap.

Jena semakin syok. “Anaknya?” Ulangnya sekali lagi.

“Iya.” Gadis itu mengangguk.

Jena menelan ludah. Jangan-jangan...Budi duda? Atau... jangan-jangan punya istri tapi mengaku lajang?

"Kamu... punya Ibu?"

Gadis kecil itu mengangguk.

"Sialan si Budi, ternyata dia bangsat juga, penipu!" Kedua telapak tangan Jena terkepal. "Bisa-bisanya aku hampir tertipu dengan muka polosnya."

"Tante mau beli roti bakar? Tunggu sebentar, Ayah masih membeli coklat."

Jena mendengus, merasa sudah tak perlu lagi untuk bertemu Budi malam ini. Dia balik badan disaat bertepatan dengan Budi yang baru datang.

"Jen, kamu kesini lagi." Senyum Budi mengembang. Pria yang baru turun dari motor tersebut, tampak membawa dua keresek berukuran sedang di tangan kanannya.

"Ternyata kamu bajingan juga ya." Jena menatap tajam. "Ah, ternyata semua laki-laki sama saja."

Kening Budi mengernyit. "Maksudnya?"

"Ngakunya lajang, tapi ternyata punya anak istri."

"Ayah," panggil Alena.

Budi menoleh pada Alena yang ada di balik gerobak, dan ia langsung faham apa yang dibicarakan Jena. "Dia bukan anakku." Ia tersenyum.

Jena terdiam beberapa detik, tak bisa langsung percaya.

"Dia Alena, anak Alm. Abangku."

"Tapi kok_"

"Awalnya dulu manggil Om, tapi karena ia sering sedih karena tak punya ayah, akhirnya dia memanggilku ayah." Budi menatap Alena. "Sekarang, dia tinggal denganku dan Ibu. Mamanya Alena jadi TKW di Hongkong."

"Kamu gak bohongkan?" Jena tak bisa langsung percaya.

"Untuk apa aku bohong. Orang-orang di sini juga pada tahu kok. Atau..apa perlu aku tunjukkan KTP?" Budi tersenyum. "Dan...kamu kayaknya peduli amat sama statusku?"

"Ja, jangan salah faham. Aku bukan suka sama kamu ya."

"Aku gak bilang gitu juga." Budi menahan senyum.

"Aku cuma gak mau dekat sama suami orang, ntar dikira pelakor?"

"Emang kita dekat?" Budi malah mancing.

"Tauk ah!" Jena cemberut, melipat kedua lengan di dada.

"Sorry, sorry." Budi tersenyum tipis. "Ada apa kesini? Kangen ya?"

Jena nyengir.

"Sama roti bakar aku maksudnya," Budi terkekeh.

"Ada yang mau aku bicarain sama kamu."

Budi mengernyit. "Kayaknya penting." Ia menarik satu kursi plastik, meletakkan di samping Jena. "Duduk dulu, biar gak capek."

"Bud, aku mau minta bantuan kamu sekali lagi."

"Buat jadi pacar pura-pura lagi? Jadi CEO yang menyamar? Eh salah ya, menyamar jadi CEO." Budi terkekeh.

"Bukan." Jena menggeleng.

"Lalu?"

Jena baru membuka mulut, saat seseorang tiba-tiba berkata.

"Mas, roti bakar dua." Seorang pelanggan ibu-ibu berjalan ke depan gerobak Budi. Sepertinya ia sudah langganan, jadi tahu siapa yang jualan meski Budi tidak sedang berada di balik gerobak.

"Kamu layanin dulu aja." Jena menghela nafas pelan, kemudian duduk di kursi yang tadi diambilkan Budi. Ia memilih menunggu, karena tak mungkin pembicaraannya dilakukan sambil Budi melayani pelanggan.

Dia fikir tidak lama, tapi ternyata salah. Belum juga pembeli tadi pergi, sudah datang yang lainnya lagi, mengantri.

Ternyata Alena ada fungsinya, tidak hanya diam saja. Selain membantu menyiapkan kotak, menutup kotak dan memasukkan ke dalam keresek, ia juga menerima uang pembeli dan mengambilkan kembalian.

Budi sibuk memanggang roti, mengoleskan mentega, menaburkan meses, keju, dan cokelat. Tangannya bergerak cepat, nyaris tanpa berhenti. Jena hanya bisa duduk di kursi plastik depan gerobak sambil memperhatikan.

Budi beberapa kali ia menatap Jena yang tampak gelisah. Ia jadi penasaran, apa hal yang ingin dikatakan Jena. Gadis itu ingin minta tolong apalagi? Semoga bukan sesuatu yang aneh dan gila seperti hari itu.

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya pelanggan habis. Jena bernafas lega, karena akhirnya dia ada waktu untuk bicara senang Budi.

“Ayah...” Alena menarik kaos Budi.

“Kenapa?”

“Ngantuk. Anterin aku pulang."

Budi menatap Jena, sungkan telah membuat gadis itu menunggu lama. “Sebentar lagi ya.”

Alena menggeleng. “Alena mau pulang, udah gak kuat."

Budi melihat jam tangannya. Sudah cukup malam, hampir jam 10, pantas Alena sudah mengantuk.

"Antar aja dia pulang dulu," ujar Jena.

“Ya sudah. Aku nitip gerobak bentar ya."

Jena mengangguk.

Budi mengambil kunci motor, lalu mengantar Alena pulang. Butuh waktu sekita 15 menit untuk sampai ke rumahnya dan balik kesini lagi.

Jena masih tetap di sana, menunggu hingga Budi kembali mengingat tujuannya datang untuk hal yang sangat penting.

Beberapa saat kemudian, Budi kembali. Namun ternyata seorang pelanggan sudah menunggu.

“Mas, roti bakar cokelat keju dua."

Budi menatap Jena.

"Gak papa." Jena mengangguk.

Budi kembali bekerja, dan lagi-lagi Jena hanya bisa menunggu.

Lima menit, sepuluh menit. Lama-kelamaan matanya terasa berat. Ia menguap, kemudian mengusap wajah.

Budi sempat meliriknya di sela-sela pekerjaannya.

Jena menguap lagi, kali ini lebih lebar. Ia sampai kasihan melihat gadis itu menahan kantuk.

“Jen.”

Jena mendongak, menatap Budi. “Hm?”

“Sorry ya."

“Enggak, gak papa."

Melihat Jena yang rela menunggunya seperti ini, Budi jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang ingin Jena bicarakan? Sepenting apa sampai rela menahan kantuk.

Budi mulai tidak tega melihat Jena terus menunggu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar ingin segera menyelesaikan semua pesanan agar bisa mendengar apa yang sebenarnya dibutuhkan perempuan itu.

"Maaf Pak, sudah habis." Budi terpaksa berbohong meski sebenarnya masih ada sekitar 4 roti lagi yang belum dibakar."

"Oh, habis ya Mas?"

"Iya. Ini terakhir." Budi sedang memanggang roti saat ini.

Mendengar itu, Jena langsung tersenyum. Akhirnya...

Setelah menyerahkannya roti bakar pada pelanggan, Budi menghampiri Jena, menarik kursi, duduk di dekatnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"

"Bud, aku butuh bantuan kamu." Wajah Jena tampak sangat serius.

"Bantuan apa?"

"Sabtu malam, kamu libur ya. Ikut aku ke rumah."

1
Eli Rahma
astagaaaaa....
Eli Rahma
Aamiin
Eli Rahma
bener bgt jen..
Hani Ekawati
Calon bapak lebih posesif dari calon ibu 😁🤭
Hani Ekawati
Makanya jangan main main sama yang namanya perempuan ,😂
Hani Ekawati
Di ungkit terusss....😁
Hani Ekawati
Ya ampun Bud, kayanya janin tidak selemah itu ☺️ asal jangan Jena makan yang sekiranya bikin perut jadi kram.
Hani Ekawati
Mending dikamar 🤭
Hani Ekawati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Pengen apa Jen 🤭
Hani Ekawati
Iya bener Jen, jangan seolah olah kehadirannya sebagai alat tukar supaya kamu dapat warisan.
Aidil Kenzie Zie
alah dasar jantan 😝😝 kalo nggak liat si jalang lagi main kuda-kudaan sama dukun palingan y belum cerai 😝😝😝
Nurul Boed
kasih kesempatan kak buat Pak Andika, biarkan mereka menikmati mass tua bersama 😍😍😍
Kar Genjreng
Jena namanya juga rezeki jadi bagi Budi laki laki atau perempuan pasti akan di sayang. nanti kalau punya Anak Budi protektif jangan cemburu ya sama Pak Su
pasti akan sayang banget ,,, apapun jenis kelamin nya karena Budi tipe sayang dengan Anak Anak buktinya dengan Alena kan malah panggil nya Ayah. orang mengira sudah punya Anak termasuk Kamu kan 🤣 ternyata keponakan. mama nya mau nikah lagi tetap saja mau tinggal dengan Nenek dari Budi,,, selamat ya Jena pelan pelan Bu Mil cemburu an ya 😂😂
achi
dia menyesal dan bercerai karena tau kelakuan juwita kalo nggak kayanya tetap begitu terus kan jadi alasan andika mau hidup sama asri ya sebagai ban serep karena sama juwita dah ancur😢
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
pingin di plock2 apa pingin di puk2 jen 😂 bumil satu ini sudah mulai berani minta duluan yaa 😂 sudah tahu ternyata buat anak nikmat yaa jen, jadinya mau lagi dan lagi 😂 sekarang baru tahu kan jen? ternyata menikah tidak semenakutkan dalam bayangan kamu, menikah itu enak pas bagian Buat anaknya 😆🤭
lyani
tenang Bud nanti dapat twins sepasang
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mau anak kamu laki2 atau perempuan, pada akhirnya semua yang di miliki papa kamu, tetap jatuh ke tangan kamu jen. papa kamu sudah mau pensiun, sudah mau menikmati hari tua dengan momomg cucu 😂 dan masalah Dara tak usah kamu takut dan khawatir jen, Dara bukan seperti Naura. Apalagi Dara sudah berfikir kalau mau masuk pesantren. jadi, belajar lah menerima Dara berdamai lah dengan keadaan, punya saudara cewek itu asyik lhoo jen. Kamu boleh membenci juwita, tapi jangan benci Dara. karena kalian sama, sama2 korban Andika.
Asih Rahmadhani Bohara
kox pengen endingnya Jena baikan ama Dara ya. kayak Yumi sama sani.. lama2 kn mereka akur juga.. bisa d panjangin g Thor. sampai anak mereka besar 😁😁
Turwaty suketi
Nah gini kan enak nurut apa kata mas suami.😍
mimief
mantab..warisan aman🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!