Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Qin Mu tidak langsung menyentuh kertas hitam di dekat kakinya.
Dalam satu gerakan hening, tangan kirinya menyambar Pecahan Logam Hitam serta kompas perunggu di atas meja dan memasukkannya kembali ke balik jubah, sementara tangan kanannya mencabut sebelah Bilah Kembar Taring Hantu.
Alih-alih membuka pintu depan yang bisa saja telah dipasangi jebakan kawat atau jarum beracun Qin Mu menendang ringan dinding kayu di belakangnya, melompat keluar melalui celah jendela samping, dan mendarat tanpa suara di atas bubungan atap gubuknya.
Angin malam di Lembah Murid Baru berhembus dingin, membawa aroma daun bambu basah.
Mata hitam Qin Mu menyapu kegelapan dengan tajam. Lima belas tombak di sebelah utara, tepat di batas hutan bambu yang mengelilingi lembah, sesosok bayangan ramping baru saja melompat naik ke atas pucuk batang bambu.
Gerakan orang itu sangat ganjil. Tubuhnya tidak tampak berat seperti praktisi Penempaan Tubuh, namun juga tidak memancarkan pendaran cahaya Qi yang mencolok. Saat kakinya menyentuh pucuk bambu yang tipis, batang bambu itu hanya melengkung sedikit tanpa mengeluarkan suara gemerisik. Pakaian hitam pudarnya seolah melebur langsung dengan bayangan malam.
"Berhenti," desis Qin Mu rendah. Ia tidak berteriak, namun suaranya cukup jelas untuk menembus desir angin.
Sosok di atas pucuk bambu itu berhenti. Ia menolehkan kepalanya perlahan.
Di bawah sinar bulan sabit yang pucat, Qin Mu melihat wajah seorang pemuda yang usianya mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun di atasnya. Wajah itu tirus, pucat, dan sama sekali tidak memiliki ekspresi seperti topeng kayu yang dipahat kasar. Namun yang membuat otot punggung Qin Mu menegang adalah sepasang mata pemuda itu.
Mata itu tenang, rasional, dan sepenuhnya kosong dari emosi manusia. Itu adalah mata seseorang yang telah tumbuh di tengah tumpukan mayat sejak bayi.
"Kau cukup cepat untuk ukuran orang baru," ucap pemuda misterius itu dengan nada datar. Suaranya dingin dan kering. "Kebanyakan penghuni gubuk nomor satu baru menyadari kedatanganku setelah aku kembali ke tempat tidurku."
"Siapa yang mengirimmu? Wei Tian?" tanya Qin Mu, ujung bilah hitam di tangannya sedikit terangkat, mengunci pusat gravitasi pemuda itu.
Pemuda di atas bambu itu melirik sekilas ke arah Bilah Kembar Taring Hantu di tangan Qin Mu. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya perhitungan singkat seorang pembunuh yang menilai senjata lawannya.
"Aku tidak bekerja untuk anjing-anjing bangsawan itu," jawab pemuda itu datar. "Aku hanya menerima satu keping Batu Roh di papan bursa gelap untuk mengantarkan surat itu ke pintumu malam ini. Tugasku selesai. Apakah kau hidup atau mati besok pagi, bukan urusanku."
"Siapa namamu?"
Pemuda itu tidak menjawab. Tubuhnya tiba-tiba merosot jatuh ke belakang, menyatu dengan bayangan rapat pohon bambu di bawahnya. Dalam satu kedipan mata, baik suara langkah maupun hawa keberadaannya lenyap tak berbekas, seolah ia adalah hantu yang ditelan bumi.
Qin Mu berdiri diam di atas atap selama beberapa tarikan napas sebelum akhirnya melompat turun dan kembali masuk ke dalam gubuknya.
Langkah kaki yang menyatu dengan bayangan, batin Qin Mu sambil mengunci kembali jendelanya. Dia belum mencapai Foundation Establishment, bahkan Qi-nya terasa samar di tahap awal Qi Gathering. Tapi jika kami bertarung di tempat gelap, dia jauh lebih berbahaya daripada Su Heng.
Akademi Kekaisaran Tianhe benar-benar bukan tempat yang sederhana. Bahkan di Gerbang Luar, ada harimau yang menyembunyikan taringnya di balik jubah murid biasa.
Qin Mu berjalan mendekati pintu depan. Mengingat pelajaran dari Warisan Alkimia dan Seribu Racun Luo Tua, ia tidak memungut surat hitam itu dengan tangan kosong. Ia menggunakan ujung bilah pedangnya untuk mengangkat kertas tersebut ke atas meja, lalu menaburkan sedikit bubuk kapur putih dari botol Penatua Luo ke atas permukaannya.
Bubuk itu tetap berwarna putih. Tidak ada racun.
Barulah Qin Mu membuka lipatan kertas hitam yang kaku itu. Di dalamnya, tertulis deretan kalimat dengan tinta merah berbau karat besi:
"Penghuni Gubuk Nomor Satu, Qin Mu. Menurut tradisi Gerbang Luar, gubuk dengan mata air Qi terbaik adalah milik Faksi Wei. Besok pagi saat lonceng orientasi berbunyi, serahkan lempeng gubukmu dan seluruh Batu Roh milikmu di depan Paviliun Bela Diri, lalu berlututlah meminta maaf atas nama Su Heng. Jika kau menolak, atau jika kau pengecut dan bersembunyi di dalam gubukmu, kami akan mematahkan kedua kaki teman pandai besimu di gubuk sebelah."
Di bagian paling bawah surat itu, tertera cap bergambar pedang bersilang di atas timbangan—tanda dari Wei Tian, kakak sepupu Wei Canglan.
Mata Qin Mu menyipit dingin.
Wei Tian tahu bahwa dengan peringatan keras dari Instruktur Yan di gerbang tadi siang, ia tidak bisa mengirim orang untuk membunuh Qin Mu secara diam-diam di malam hari tanpa memancing kemarahan sang pengawas Core Formation. Karena itu, mereka menggunakan "tradisi murid" dan mengancam Han Lie untuk memaksa Qin Mu keluar dan bertarung di bawah aturan akademi!
Qin Mu mendekatkan kertas hitam itu ke nyala lentera. Api melahap kertas tersebut hingga berubah menjadi abu hitam di atas meja.
"Ingin bermain dengan aturan akademi?" gumam Qin Mu di dalam kamar yang mulai gelap. "Mari kita lihat siapa yang lebih dulu kehilangan kakinya."
Ia tidak tidur malam itu. Qin Mu duduk bersila di atas bantal meditasi, mengeluarkan sepuluh keping Batu Roh tingkat rendah dari kantungnya, dan mulai menyerap energi murni di dalamnya sambil mengulangi pernapasan Sutra Penempaan Tulang Kehampaan hingga fajar menyingsing.
DONG—! DONG—! DONG—!
Tiga dentang lonceng perunggu menggema membelah kabut pagi di lereng gunung Akademi Kekaisaran.
Ketika Qin Mu membuka pintu gubuknya, Han Lie sudah berdiri di halaman luar dengan martil besi raksasa terikat di punggungnya. Di bawah pintu gubuk Han Lie, terdapat serpihan kertas hitam yang sudah diinjak hingga hancur oleh sepatu pemuda kekar itu.
"Kau juga dapat surat cinta dari bajingan Klan Wei itu?" tanya Han Lie sambil menyeringai kasar, meski matanya memancarkan amarah yang menyala-nyala.
"Mereka takut pada Instruktur Yan, jadi mereka ingin memancing kita memulai perkelahian lebih dulu di tempat umum," ujar Qin Mu tenang sambil merapikan jubah murid luarnya yang berwarna abu-abu gelap. "Ayo pergi. Hari ini adalah pembagian teknik dasar di Paviliun Bela Diri."
Keduanya berjalan menuruni jalan berbatu dari Lembah Murid Baru menuju Alun-alun Gerbang Luar.
Di sepanjang jalan, seratus murid baru yang lolos dari ujian Tangga Penekan Tulang kemarin tampak berjalan dalam kelompok-kelompok kecil. Namun berbeda dengan kemarin, suasana pagi ini terasa jauh lebih tegang. Setiap kali para murid baru melihat Qin Mu dan Han Lie lewat, mereka buru-buru menyingkir sejauh tiga tombak, menatap keduanya seperti melihat orang yang sudah dijatuhi hukuman mati.
Sesampainya di Alun-alun Gerbang Luar yang beralaskan batu giok kelabu, sebuah bangunan kayu raksasa berlantai tiga dengan atap melengkung seperti sayap elang berdiri gagah di ujung lapangan. Paviliun Bela Diri.
Di depan tangga paviliun itu, seorang pengurus tua berjubah biru berdiri di atas mimbar batu, membacakan aturan dasar akademi kepada seratus murid baru yang berbaris.
"Dengarkan baik-baik! Di Akademi Kekaisaran Tianhe, tidak ada makan siang gratis!" suara pengurus itu menggema tegas. "Mulai bulan kedua, gubuk tempat kalian tidur, makanan spiritual yang kalian makan, hingga izin untuk masuk ke lantai atas Paviliun Bela Diri atau ruang kultivasi Spirit Vein bawah tanah... semuanya membutuhkan Poin Kontribusi!"
Mendengar kata ruang kultivasi bawah tanah, telinga Qin Mu sedikit bergerak. Ia teringat pada Pecahan Logam Hitam milik ayahnya yang semalam menunjuk lurus ke perut gunung di bawah akademi.
"Poin Kontribusi hanya bisa didapatkan dengan menyelesaikan misi akademi, menyerahkan pil atau senjata hasil tempaan, atau... memenangkan pertarungan resmi di Panggung Kehormatan!" lanjut pengurus itu. "Untuk hari pertama ini, setiap murid baru berhak masuk ke lantai satu Paviliun Bela Diri dan memilih satu gulungan teknik dasar secara gratis. Sekarang, silakan masuk!"
Para murid baru mulai bergerak maju dengan antusias. Namun tepat ketika Qin Mu dan Han Lie melangkah mendekati kaki tangga Paviliun Bela Diri, selusin murid senior yang mengenakan jubah abu-abu dengan sulaman garis perak di lengan baju mereka melangkah turun dari teras paviliun, membentuk barisan setengah lingkaran yang menutup jalan.
Para murid baru lainnya langsung berhenti dan mundur dengan wajah pucat.
Di tengah-tengah selusin murid senior itu, berdiri seorang pemuda jangkung berwajah tirus dengan sebilah pedang panjang bersarung kulit hiu di pinggangnya. Aura yang memancar dari tubuhnya membuat udara di sekitar tangga terasa bergetar seorang kultivator yang telah berada di Tahap Tengah Qi Gathering.
Dia adalah Zhao Kun, tangan kanan kepercayaan Wei Tian di Gerbang Luar.
"Lihat siapa yang akhirnya berani keluar dari kandang," Zhao Kun tersenyum miring, melangkah maju sambil menatap rendah ke arah Qin Mu dari atas anak tangga. "Aku sempat mengira juara pertama ujian tahun ini akan mengompol di dalam gubuknya dan menangis meminta perlindungan Instruktur Yan."
"Minggir," ucap Qin Mu datar, langkah kakinya berhenti tiga tindak di bawah tangga. "Aku datang untuk mengambil jatah gulungan teknikku."
"Jatah?" Zhao Kun tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh tawa mengejek dari sebelas murid senior Faksi Wei di belakangnya.
Zhao Kun tiba-tiba menghapus senyumnya, lalu meludah tepat ke anak tangga batu di depan sepatu Qin Mu. "Di Gerbang Luar ini, kata-kata Kakak Senior Wei Tian adalah aturan! Selama kau belum menyerahkan lempeng Gubuk Nomor Satu dan merangkak di bawah selangkanganku untuk menebus apa yang kau lakukan pada Tuan Muda Su Heng kemarin, jangan harap kau bisa menginjakkan kaki ke dalam Paviliun Bela Diri!"
"Anjing gila! Kau pikir cuma kalian yang punya kepalan tangan?!"
Han Lie menggeram marah, tangannya langsung meraih gagang martil di punggungnya. Namun sebelum Han Lie sempat melangkah maju, lengan kiri Qin Mu terentang, menahannya.
Mata Qin Mu tidak menatap Zhao Kun, melainkan melirik ke arah sebuah papan batu hitam di sisi kanan tangga Paviliun Bela Diri tempat seorang instruktur pengawas disiplin sedang berdiri melipat tangan dengan wajah tak peduli.
"Buku aturan Akademi Kekaisaran pasal keempat," suara Qin Mu keluar dengan sangat tenang, namun cukup keras untuk didengar oleh seluruh murid di alun-alun. "Murid yang menyerang sesama murid lebih dulu di luar Panggung Kehormatan akan dicabut status muridnya dan dipenjara di Tambang Batu Hitam. Tapi... jika seseorang menghalangi jalan masuk menuju Paviliun Bela Diri pada hari orientasi, murid yang dihalangi berhak mengajukan Ujian Jalan Darah di tempat tanpa dianggap melanggar disiplin."
Senyum di wajah Zhao Kun sedikit membeku. Ia tidak menyangka bocah desa yang baru masuk kemarin sore itu sudah menghafal celah hukum akademi di luar kepala.
Memang benar, ia sengaja memprovokasi Han Lie dan Qin Mu agar mereka menyerang lebih dulu di tangga ini, sehingga pengawas disiplin yang sudah dibayar oleh Wei Tian punya alasan sah untuk menangkap dan mematahkan kaki mereka!
"Kau cukup pintar membaca, Bocah," desis Zhao Kun dingin, melepaskan tekanan Qi tahap Tengah Qi Gathering-nya hingga debu di tangga berhamburan. "Kalau begitu, ajukan saja Ujian Jalan Darah itu sekarang! Di depan semua orang ini, aku Zhao Kun akan menerima tantanganmu dan memastikan kau keluar dari alun-alun ini di atas tandu!"
Seluruh murid baru menahan napas. Seorang murid baru tahap Menengah Penempaan Tubuh melawan murid senior tahap Tengah Qi Gathering? Itu bukan pertarungan, itu adalah eksekusi sepihak!
Namun tepat ketika Qin Mu hendak melangkah maju dengan mata sedingin es untuk mengambil celah yang baru saja ia ciptakan, suara keributan besar tiba-tiba meledak dari arah gerbang utama yang menghubungkan Gerbang Luar dengan langit Ibu Kota.
SWOOOSH—!
Udara di atas alun-alun mendadak membeku oleh hawa dingin yang murni dan agung, jauh melampaui aura siapa pun di lapangan itu.
Di langit biru di atas atap Paviliun Bela Diri, seberkas cahaya putih keperakan membelah awan. Itu adalah sebuah perahu giok terbang berukuran sedang yang ditarik oleh dua ekor Bangau Roh Bersayap Salju. Di haluan perahu terbang itu, berkibar panji sutra putih bergambar sebilah pedang yang membelah bintang lambang dari salah satu raksasa kultivasi terkuat di luar struktur kerajaan: Sekte Pedang Tianxuan!
Seluruh keributan di depan Paviliun Bela Diri terhenti seketika. Bahkan Zhao Kun buru-buru menarik kembali Qi-nya dan menundukkan kepala dengan wajah pucat penuh hormat.
Di tepi haluan perahu giok yang melayang menuju puncak gunung terdalam Akademi Kekaisaran itu, berdiri sesosok gadis berusia sekitar lima belas tahun.
Ia mengenakan jubah putih sebersih salju tanpa satu pun hiasan emas, rambut hitamnya yang panjang terurai diikat pita perak sederhana, dan di punggungnya tergantung sebilah pedang giok es. Wajahnya begitu cantik namun sedingin puncak gunung es yang tak tersentuh manusia. Ia bahkan tidak menoleh ke bawah untuk melihat ratusan murid Gerbang Luar di alun-alun baginya, kerumunan di bawah sana tidak ada bedanya dengan semut di atas tanah.
"I-itu Bai Shuang! Putri Surga dari Sekte Pedang Tianxuan!" bisik salah satu murid senior dengan suara bergetar penuh kekaguman. "Kudengar dia sudah menembus tahap Puncak Qi Gathering di usia lima belas tahun dan datang sebagai utusan pertukaran untuk memasuki Ruang Rahasia Bawah Tanah akademi kita!"
Qin Mu mendongak, menatap sekilas punggung gadis berjubah putih yang menghilang ke balik awan puncak gunung dalam itu. Inilah jurang pemisah dunia kultivasi yang sesungguhnya sementara dirinya harus mempertaruhkan nyawa di lumpur dan selokan untuk setiap langkah, ada orang-orang yang sejak lahir sudah terbang di atas awan.
Namun perhatian Qin Mu tidak berlama-lama di langit.
Saat bayangan perahu giok itu berlalu, pandangan Qin Mu turun ke balkon lantai tiga Paviliun Bela Diri yang berada tepat di atas kepala Zhao Kun.
Di sana, bersandar pada pagar kayu ukir, berdiri seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dengan jubah brokat biru tua yang sangat mirip dengan pakaian Wei Canglan. Pemuda itu Wei Tian sedang menatap lurus ke arah Qin Mu dari ketinggian.
Wei Tian tidak berteriak seperti adik sepupunya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan, memegang lempeng perunggu milik pemuda misterius pengantar surat semalam, lalu menggerakkan ibu jarinya melintasi leher dengan senyum tipis yang mematikan.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️