-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
****
Langkah kaki Aini tergesa-gesa menyusuri koridor lantai dua menuju Ruang Amphitheater B, tempat orientasi seluruh anggota koas baru periode ini dilaksanakan. Hatinya perlahan merasa lega setelah berhasil meloloskan diri dari intimidasi dokter senior di lorong tadi. Ia melirik jam di pergelangan tangannya—masih ada sekitar empat puluh menit sebelum acara dimulai.
"Untunglah... setidaknya aku tidak terlambat untuk acara ini," gumam Aini seraya mendorong pintu kayu berukir yang menjadi akses masuk ruang auditorium tersebut.
Ruangan itu masih sangat sepi dan lengang. Suhu pendingin udara terasa menusuk kulit, namun Aini memilih duduk di barisan ketiga dari depan, posisi yang menurutnya cukup ideal untuk memperhatikan paparan materi tanpa terlalu mencolok. Ia meletakkan tumpukan map berkas pasien yang telah dirapikan kembali di pangkuannya, lalu mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang masih belum stabil.
Sepuluh menit berlalu, pintu auditorium mulai sering terbuka. Satu per satu dokter muda lainnya bermunculan dengan raut wajah beragam—sebagian tampak bersemangat, namun tak sedikit yang memperlihatkan kantung mata tebal dan wajah pucat akibat kurang tidur.
Seorang gadis berhijab simpel dengan snelli bersih duduk tepat di samping Aini. Ia menghela napas berat lalu menepuk pelan bahu Aini.
"Hai... kamu koas baru dari Universitas Indonesia juga?" tanya gadis itu ramah.
Aini menoleh lalu menyunggingkan senyum tipis. "Bukan, aku dari Universitas Airlangga. Aku Aini Zahra Wijaya. Kamu?"
"Aku Nina," jawab gadis itu sembari membetulkan letak kacamatanya. "Wah, dari Surabaya ya? Btw, kamu dapat bagian stase pertama di mana, Aini?"
"Bedah Saraf," jawab Aini polos.
Seketika itu juga, raut wajah Nina berubah drastis. Matanya melebar, dan ia memajukan tubuhnya ke arah Aini seraya berbisik dengan nada penuh ketakutan. "Kamu serius? Bedah Saraf di RS Wigunadi? Ya ampun, Aini... kamu harus siap-siap mental dari sekarang!"
Aini mengerutkan keningnya heran. "Memangnya kenapa, Nin? Bukannya stase Bedah Saraf memang terkenal padat di mana-mana?"
"Bukan cuma padat, Aini!" Nina memotong cepat, suaranya makin direndahkan. "Di Departemen Bedah Saraf sini ada satu dokter spesialis yang dipanggil seluruh koas dan residen sebagai 'Dokter Iblis'. Mukanya ganteng banget kayak aktor drama, tapi mulutnya tajam kayak pisau bedah. Nggak ada toleransi buat kesalahan sekecil apa pun!"
Aini menelan ludahnya yang terasa kesat. Bayangan pria jangkung beraura intimidatif yang tadi menabraknya di koridor mendadak melintas di pikirannya. "Dokter... Iblis?"
"Iya! Namanya Dokter Ivandra Arya Wigunadi," jelas Nina penuh semangat campur takut. "Dia itu putra mahkota pemilik rumah sakit ini, tapi sifatnya dingin banget, tanpa emosi. Katanya minggu lalu ada koas yang menangis di ruang operasi gara-gara dibentak dan disuruh keluar saat tindakan. Kamu bayangkan aja betapa horornya!"
Belum sempat Aini merespons cerita Nina, suara pintu auditorium yang terdorong kasar mengejutkan seluruh ruangan. Suasana seketika hening total. Seorang dokter pria senior berusia lima puluhan melangkah masuk bersama sekretaris departemen, membawa map tebal di tangannya.
"Selamat pagi, Dokter Muda sekalian," sapa dokter senior itu tegas. "Saya Dokter Subroto, Kepala Tim Pendidikan Klinik RS Utama Wigunadi. Tanpa membuang waktu, kita langsung saja masuk ke pembagian DPJP dan tim stase stase besar dan kecil."
Suasana ruangan mendadak tegang. Semua orang menahan napas saat Dr. Subroto mulai membacakan daftar nama dan penempatan masing-masing.
"Selanjutnya, untuk Departemen Bedah Saraf..." Dr. Subroto menghentikan bacaannya sejenak, membetulkan kacamata bacanya, lalu menatap lurus ke arah deretan kursi depan. "Tim utama penanganan kasus bedah saraf tingkat lanjut akan langsung berada di bawah pengawasan Kepala Departemen, dr. Ivandra Arya Wigunadi, Sp.BS."
Gumam cemas langsung terdengar samar di seluruh penjuru auditorium. Beberapa koas tampak saling berpandangan prihatin.
"Anggota koas yang ditunjuk masuk ke dalam tim utama Dokter Ivandra adalah..." Dr. Subroto menyebutkan satu nama. "Aini Zahra Wijaya."
Jantung Aini seolah berhenti berdetak saat itu juga. Nina yang duduk di sebelahnya langsung menoleh dengan tatapan kasihan yang tak tertutupi.
"Aini, apakah ada di ruangan ini?" panggil Dr. Subroto keras.
Aini mengangkat tangannya perlahan dengan jemari yang gemetar. "S-saya, Dokter."
"Bagus. Berkas riwayat pasien khusus kasus aneurisma yang kamu pegang itu harus segera kamu serahkan langsung ke ruangan kerja Dokter Ivandra di lantai empat sekarang juga. Beliau sudah menunggu laporan awal," perintah Dr. Subroto tanpa memberi jeda untuk membantah.
"B-baik, Dokter. Segera saya laksanakan," jawab Aini pasrah.
Langkah kaki Aini terasa begitu berat saat ia menyusuri koridor lantai empat yang tenang dan elegan. Pintu-pintu kayu jati berfurnis mewah berjejer rapi, menandakan kawasan ruang kerja para dokter konsultan senior. Di ujung koridor, sebuah pintu ganda bertuliskan papan akrilik emas dr. Ivandra Arya Wigunadi, Sp.BS. - Kepala Departemen Bedah Saraf berdiri megah.
Aini menarik napas dalam-dalam, menata hijabnya yang sebenarnya sudah sangat rapi, lalu mengetuk pintu pelan.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
"Masuk," sahut suara berat berbariton dingin dari dalam.
Aini mendorong pintu perlahan. Ruang kerja itu sangat luas, bernuansa minimalis modern dengan kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Di balik meja kerja mahoni yang rapi, duduk pria yang tadi pagi memberinya trauma mendalam. Pria itu tengah fokus menatap layar monitor yang menampilkan citra CT-Scan otak pasien, stetoskop mewahnya tergeletak di samping papan nama emasnya.
"Permisi, Dokter Ivandra. Saya Aini Zahra Wijaya, koas baru yang ditugaskan membawa berkas pasien dari bagian administrasi," ucap Aini santun, berdiri tegak di depan meja kerja tanpa berani duduk sebelum dipersilakan.
Ivandra tidak langsung menoleh. Tangannya masih lincah menggeser tetikus komputer, menganalisis lembar demi lembar hasil pemindaian medis. Keheningan yang tercipta selama beberapa detik itu terasa begitu menyiksa bagi Aini.
Setelah hampir satu menit, Ivandra akhirnya menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam. Ia mendongak, menatap Aini dengan manik mata elangnya yang dingin dan tanpa ekspresi.
"Letakkan di sana," ujar Ivandra datar sambil menunjuk sudut mejanya yang kosong.
Aini melangkah maju dengan hati-hati, meletakkan tumpukan map yang telah disusunnya rapi sesuai nomor rekam medis. "Ini berkas pasien untuk rapat tindakan siang nanti, Dokter."
Ivandra meraih map teratas, membukanya santai, lalu menatap Aini kembali. "Kamu sudah membaca ringkasan rekam medis pasien ini saat merapikannya tadi?"
Aini terkejut dengan pertanyaan mendadak itu, namun ia berusaha tetap tenang. "S-saya sempat melirik lembar resume medisnya saat merapikan dokumen yang berserakan tadi pagi, Dokter."
"Kalau begitu, sebutkan diagnosis utama dan tindakan operasi yang direncanakan untuk pasien di berkas pertama," perintah Ivandra dingin. Matanya menatap Aini tajam, menguji tanpa kompromi.
Aini menahan napasnya. Memori dari bangku kuliah dan lembaran yang sempat dibacanya tadi melintas cepat di kepalanya.
"Pasien Tuan Ahmad, usia 52 tahun, mengeluhkan nyeri kepala hebat mendadak disertai penurunan kesadaran. Hasil CT-Scan menunjukkan adanya perdarahan subaraknoid akibat ruptur aneurisma pada Arteria Komunikans Anterior. Tindakan yang direncanakan adalah clipping aneurisma melalui prosedur craniotomy," jawab Aini lancar dan jelas, meski nada suaranya sedikit bergetar karena gugup.
Ivandra tidak memberikan tanggapan verbal. Alis tebalnya sedikit terangkat, menyiratkan keheranan tipis atas ketepatan jawaban koas di depannya, namun ekspresi dinginnya kembali terpasang sempurna dalam hitungan detik.
"Bagus kalau otakmu masih berfungsi untuk membaca, bukan cuma untuk menabrak orang di koridor," sindir Ivandra dengan kalimat tajam yang kembali menusuk ulu hati Aini.
Aini mengepalkan jemarinya rapat-rapat di samping tubuhnya, menahan rasa sakit hati dan cemas yang berkecamuk. Wajah cantiknya kian menyiratkan raut sendu yang mendalam, namun ia menolak membiarkan air matanya menetes di hadapan pria angkuh ini.
Bersambung....
mampir ya ke novel ku