NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Hangat Mangkuk Sup dan Ujian Keseriusan

Hujan deras yang mengguyur Desa Sukmawarna kemarin sore meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang hingga keesokan harinya. Di dalam kamar bambunya yang sederhana di rumah Mbah Harjo, Arkan bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang sedikit pucat. Tubuh tegapnya agak meriang akibat membiarkan dirinya kehujanan demi melindungi Nayla di gubuk sawah kemarin.

Namun, rasa lelah itu seketika sirna saat pintu kamarnya diketuk pelan. Sosok Bude Lastri masuk membawa nampan berisi semangkuk sup ayam kampung yang masih berasap tebal dan secangkir teh jahe hangat.

"Ini dimakan dulu, Le," ucap Bude Lastri hangat. "Oalah... Tuan Muda Jakarta kok bisa sampai demam gini. Tapi tadi Bu Aminah—ibunya Nayla—pesan khusus ke Bude. Katanya kamu harus makan sup ini sampai habis. Nanti malam Pak Suryo dan Bu Aminah mengundang kamu makan malam di rumah mereka sebagai bentuk terima kasih karena sudah menjaga Nayla."

Arkan menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut. "Pak Suryo mengundang saya makan malam?"

"Iya, Le. Pak Suryo itu orangnya tegas dan punya harga diri tinggi, tapi kalau ada orang yang tulus menolong keluarganya, beliau sangat menghargai," senyum Bude Lastri Penuh arti.

Malam harinya, dengan balutan kemeja flanel kasual berwarna gelap yang rapi dan celana bahan yang bersih, Arkan melangkahkan kakinya menuju rumah keluarga Rahmadi. Mbah Harjo dan Pak Barkah menyuruhnya pergi sendiri agar Arkan belajar lebih dekat dengan warga desa.

Pintu rumah sederhana itu terbuka. Nayla muncul menyambutnya dengan balutan baju rumahannya yang masih terlihat sopan. Saat melihat Nayla Arkan sempat terpaku sejenak di ambang pintu.

"Arkan... masuklah," sapa Nayla dengan suara lembutnya yang khas, diiringi rona merah tipis yang menghiasi kedua pipinya. "Bagaimana keadaanmu apa sudah lebih baik?"

"Sudah jauh lebih baik setelah makan sup buatan ibumu tadi sore," jawab Arkan dengan suara baritonnya yang tenang, mendaratkan pandangan mata penuh kehangatan pada gadis di depannya.

Makan malam berlangsung dalam suasana yang begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Di atas meja kayu sederhana, tersaji sajian hidangan desa: ayam goreng bumbu kuning, sambal terasi, lalapan segar, dan sayur lodeh hangat buatan Ibu Aminah. Bagas—adik Nayla—tampak sangat antusias duduk di sebelah Arkan, sibuk menanyakan berbagai hal tentang kehidupan teknologi dan otomotif di Jakarta, yang dijawab Arkan dengan agak kaku.

Pak Suryo yang duduk di kepala meja memperhatikan interaksi tersebut dengan seksama. Setelah menyeka mulutnya dengan serbet, pria paruh baya bertubuh tegap khas petani pekerja keras itu mendaratkan pandangannya lurus ke arah Arkan.

"Mas Arkan," suara Pak Suryo terdengar berat dan berwibawa, membuat suasana meja makan mendadak hening sejenak. "Saya mendengar cerita dari Nayla dan Pak Barkah soal kebaikan Mas Arkan merapikan barang pameran yang rusak dan mengusulkan ide bazar untuk desa ini."

Arkan meletakkan sendoknya, menatap Pak Suryo dengan sopan. "Saya cuma menyampaikan ide yang sekiranya bisa membantu kelompok tani di sini, Pak."

Pak Suryo mengangguk-angguk pelan. Ada binar rasa hormat yang terpancar dari mata tegasnya. "Jujur, awal kedatangan Mas Arkan ke desa ini, saya kira Mas Arkan cuma anak kota manja yang suka berbuat ulah. Tapi melihat kerja kerasmu di sawah Pak Barkah dan ketulusanmu membimbing pemuda desa... saya harus mengakui bahwa Mas Arkan adalah pria muda yang punya tanggung jawab dan watak yang baik."

Mendengar pujian tulus dari ayahnya untuk Arkan, dada Nayla bergemuruh hebat. Sepasang matanya menatap Arkan dengan binar kebahagiaan yang tak mampu ia sembunyikan. Sementara Arkan menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat.

"Terima kasih atas penilaiannya, Pak Suryo. Berada di desa ini membuat saya banyak belajar arti merendahkan hati," sahut Arkan mantap.

Sekitar pukul delapan malam, acara makan malam pun usai. Setelah berpamitan kepada Pak Suryo dan Bu Aminah, Arkan berjalan pulang menyusuri jalan setapak desa yang sepi di bawah penerangan lampu jalan yang temaram. Nayla sempat mengantarkannya hingga ke depan pagar bambu.

Namun, baru beberapa puluh meter Arkan melangkah meninggalkan pekarangan rumah Nayla, sebuah sosok tegap berdiri menunggunya di bawah bayangan pohon rimbun di persimpangan jalan setapak.

Dimas Dananjaya berdiri bersedekap dada. Kemeja PPL yang dikenakannya tampak rapi, namun raut wajah manis khas Jawanya kini dipenuhi keseriusan yang luar biasa mendalam.

Langkah kaki Arkan terhenti. Pria kota itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Dimas dengan rahang mengeras. "Ada perlu apa, Dimas? Menunggu saya malam-malam begini?"

Dimas melangkah maju dua langkah, mengikis jarak di antara mereka. Sorot matanya menatap Arkan dengan pandangan pria dewasa yang menuntut kejujuran.

"Saya cuma mau menanyakan satu hal yang sangat penting, Mas Arkan," ucap Dimas dengan intonasi suara yang tegas dan tanpa basa-basi. "Soal Nayla."

Arkan menaikkan dagunya, aura dominan khas pewaris Dewangga Group seketika menguar kuat dari tubuh tegapnya. "Kenapa dengan Nayla?"

"Warga desa mulai membicarakan kedekatan kalian. Soal kalian yang berteduh berdua di gubuk sawah kemarin, dan soal kamu yang makin sering berada di sekitar Nayla," Dimas berdeham pelan, menahan gejolak emosi di dadanya. "Mas Arkan... kamu ini orang kota. Kamu kaya, punya segalanya di Jakarta, dan keberadaanmu di Desa Sukmawarna ini cuma sementara sebagai bentuk hukuman dari ayahmu."

Dimas menatap Arkan lebih dalam, menyuarakan kekhawatiran terbesar seluruh warga desa—termasuk dirinya sendiri. "Setelah masa hukumanmu selesai, kamu bakal pulang ke kehidupan mewahmu di kota besar. Jadi saya minta dengan sangat... jangan main-main dengan perasaan Nayla. Dia gadis desa yang polos, jujur, dan punya masa depan cerah di sini. Kalau kamu cuma menganggap kedekatan ini sebagai pengisi waktu luang saat kesepian di desa, lebih baik kamu mundur dari sekarang."

Pertanyaan tajam dari Dimas itu menghantam kesadaran Arkan bagaikan pukulan telak. Kalimat "kamu cuma sementara di sini" bergema berulang kali di dalam benaknya.

Arkan tidak langsung marah. Pria itu terdiam sejenak, menatap Dimas dengan pandangan mata yang sangat dalam, dingin, dan sarat akan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Kamu salah kalau berpikir saya cuma main-main, Dimas," suara bariton Arkan terdengar begitu berat, tenang, namun penuh penekanan yang menusuk. Arkan melangkah satu langkah mendekati Dimas, mengunci pandangan saingan cintanya itu. "Saya memang berasal dari kota, tapi rasa menghargai saya pada Nayla jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. Saya tahu apa yang saya lakukan, dan saya tidak pernah mundur dari apa yang sudah saya pilih."

Dimas terpaku menatap keseriusan di dalam mata cokelat gelap milik Arkan. Pria desa itu bisa merasakan bahwa Arkan tidak sedang bersilat kata atau bersikap sombong, melainkan sedang menyatakan komitmen seorang pria sejati.

"Baguslah kalau begitu," bisik Dimas lirih dengan senyum tipis yang penuh kepahitan. "Karena kalau sampai kamu melukai perasaan Nayla, saya sendiri yang akan berdiri paling depan untuk menagih penjelasanmu, Arkan."

Arkan hanya mengangguk tipis tanpa rasa gentar sedikit pun. Tanpa menambah kata-kata lagi, Arkan membalikkan badannya dan melangkah pergi menembus kegelapan malam desa. Di sepanjang jalan pulang menuju rumah Mbah Harjo, dada Arkan bergejolak hebat. Konfrontasi dengan Dimas malam ini tidak meruntuhkan keberaniannya, melainkan makin mempertegas dan memantapkan satu hal di dalam hatinya: bahwa ia harus segera menyatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada Nayla.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!