Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECURIGAAN PENGUASA KOTA
Keheningan yang menggantung di lorong batu itu terasa lebih berat daripada gemuruh pertempuran sebelumnya. Debu halus dan sisa-sisa uap es tipis melayang pelan di atas kawah selebar tiga meter, tempat bangkai Beruang Zirah Besi tergeletak kaku dengan kepala yang hancur berantakan.
Lin Yuan berdiri diam di tepi kawah. Tangannya yang bersimbah darah hitam monster gemetar pelan—bukan karena takut, melainkan karena rasa lelah yang amat sangat setelah memeras seluruh energi dari meridiannya yang baru saja terbuka. Otot-otot di kedua lengannya terasa tegang dan panas, bagaikan ditarik paksa hingga batas tertinggi.
Paman Gu melangkah pincang mendekati kawah, menancapkan besi panjangnya ke tanah untuk menopang tubuh tuanya. Mata kaburnya menatap lekat-lekat pada mayat monster kelas dua itu, lalu beralih ke wajah Lin Yuan yang pucat.
"Kau tidak apa-apa, Bocah?" Tanya Paman Gu seraya mengambil selembar kain kusam dari saku celemeknya dan menyodorkannya pada Lin Yuan.
"Masih bernapas, Paman," Jawab Lin Yuan pendek sambil menerima kain itu untuk mengusap darah hitam dari jemarinya.
Di belakang mereka, Lin Heng perlahan berdiri dari tanah basah. Wajah murid elit klan itu masih seputih kertas. Ketakutan yang semula ditujukan pada monster kini berpindah sepenuhnya kepada Lin Yuan. Ia menatap punggung Lin Yuan dengan pandangan campur aduk: tidak percaya, cemburu, dan rasa terancam yang mendalam.
Sebelum ada yang sempat bersuara lagi, derap langkah kaki kuda yang tergesa-gesa dan gemerincing zirah logam melengking dari arah lorong utama.
"Buka jalan! Penguasa Kota tiba!" Teriak seorang pengawal dari barisan depan.
Sebuah rombongan besar pasukan bersenjata lengkap Menerobos sisa-sisa kabut fajar. Di barisan paling depan, menunggangi kuda hitam bertubuh tegap, duduk seorang pria paruh baya berwajah tegas dengan kumis tebal bercabang. Ia mengenakan jubah sutra merah bersulam benang emas dan zirah perak—Penguasa Kota Pinggiran, Feng Shidong.
Di sampingnya, berjalan dengan langkah tergesa-gesa, hadir Penatua Utama Klan Lin, Lin Zhen—pria tua berambut abu-abu dengan wajah tajam yang biasanya memegang komando tertinggi di dalam kompleks klan.
Mereka membawa puluhan prajurit elit kota dan pengawal klan. Namun, ironisnya, rombongan bertubuh tegap dan bersenjata lengkap ini baru menampakkan hidung setelah raungan monster sepenuhnya padam dan ancaman maut telah diselesaikan.
"Apa yang terjadi di sini?!" Teriak Penatua Lin Zhen seraya menyapu pandangannya ke sekeliling lorong yang hancur.
Langkah kaki rombongan itu mendadak terhenti begitu mata mereka tertuju pada kawah besar di tengah jalan. Wajah Penguasa Kota Feng Shidong mendadak berubah tegang saat melihat bangkai Beruang Zirah Besi yang kepalanya remuk tak berbentuk.
"Ini... Beruang Zirah Besi?" Gumam Penguasa Kota Feng Shidong, matanya membelalak kaget. Ia melompat turun dari kudanya, melangkah cepat mendekati kawah dengan pedang panjang di pinggang yang siap diakses kapan saja.
Penguasa Kota Feng Shidong adalah seorang kultivator Tingkat Penjernihan Qi Tahap 6. Ia sangat paham betapa kerasnya cangkang zirah hitam pada monster kelas dua tersebut. Bahkan untuk seorang kultivator seperti dirinya, membutuhkan puluhan tebasan tebal berlapis *qi* murni untuk bisa menembus kulit monster itu.
Namun di depannya, kepala beruang raksasa itu meremuk murni akibat hantaman pukulan tunggal dari arah depan.
"Siapa yang membunuh monster ini?" Tanya Penatua Lin Zhen dengan suara berat dan menuntut, matanya menatap tajam ke arah Paman Gu dan Lin Heng. "Apakah ada pakar tua atau utusan dari sekte luar yang datang membantu?"
Lin Heng menelan ludah serak. Ia melangkah maju dua kali, membungkuk dalam-dalam di hadapan Penatua Lin Zhen dan Penguasa Kota.
"Penatua... Penguasa Kota..." Ucap Lin Heng dengan suara yang sengaja digetarkan, menunjuk ke arah Lin Yuan yang berdiri di samping Paman Gu. "Bukan pakar luar. Yang melakukan ini... adalah Lin Yuan."
Penatua Lin Zhen keningnya berkerut rapat, tatapannya beralih ke Lin Yuan dengan nada tidak percaya yang tajam. "Lin Yuan? Sampah klan yang bahkan tidak punya *qi* di meridiannya? Kau sedang membual di depan Penguasa Kota, Lin Heng?!"
"Saya tidak membual, Penatua!" Teriak Lin Heng panik, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang hancur. "Kami semua melihatnya! Dia... dia mendadak mengeluarkan aura aneh yang sangat mengerikan! Tubuhnya memancarkan cahaya asing dan dia meremukkan kepala beruang itu hanya dengan satu pukulan tangan kosong!"
Penguasa Kota Feng Shidong tidak langsung mempercayai omongan Lin Heng. Pria setengah baya itu mengambil tiga langkah mendekati Lin Yuan, memicingkan matanya untuk mengamati sekeliling.
Suhu udara di sekitar kawah masih terasa sangat dingin secara tidak wajar. Dan saat Feng Shidong mencoba menyebarkan indra spiritualnya untuk memeriksa sisa-sisa energi di udara, dadanya mendadak terasa sesak.
Ada jejak aura purba yang amat liar, berat, dan kuno—sebuah tekanan jiwa yang sama sekali tidak menyerupai aliran *qi* dari lima elemen alam yang biasa dipelajari oleh para kultivator di kerajaan ini. Rasa dingin itu bukan berasal dari elemen es, melainkan tekanan murni dari hirarki pemangsa tingkat tinggi yang membuat meridian Feng Shidong sendiri bergetar tidak nyaman.
Penguasa Kota Feng Shidong menatap Lin Yuan dari kepala hingga ujung kaki. Ia melihat pemuda itu berdiri tegak, dadanya bersimbah darah, namun sorot matanya terlampau tenang untuk seorang anak belasan tahun yang baru saja lolos dari maut.
Rasa takut yang tersembunyi perlahan merayap di dalam hati Penguasa Kota. Sebagai penguasa daerah, hal yang paling ia takuti bukanlah serangan monster biasa, melainkan kemunculan kekuatan liar yang tidak berada di bawah kendalinya—terutama kekuatan yang terhubung dengan ajaran sesat atau sekte iblis kuno yang dilarang oleh kekaisaran.
"Lin Yuan," Panggil Penguasa Kota Feng Shidong dengan suara dingin dan menusuk. Tangannya perlahan memegang gagang pedangnya. "Jelaskan darimana kau mendapatkan kekuatan ini."
Lin Yuan menatap Penguasa Kota dengan pandangan lurus tanpa kedipan. "Aku bertarung untuk bertahan hidup, Penguasa Kota. Saat monster itu hendak membunuh warga, aku hanya menggunakan seluruh tenaga yang aku punya."
"Jangan berbohong!" Potong Penguasa Kota Feng Shidong dengan bentakan keras yang menggelegar. "Aku sudah memeriksa ratusan kultivator di wilayah ini! Tidak ada teknik kultivasi resmi dari klan atau kerajaan yang memancarkan aura seberat dan seliar ini! Kau adalah seorang pemuda tanpa *qi* selama bertiga tahun, bagaimana mungkin dalam satu malam kau bisa membunuh monster kelas dua jika tidak menggunakan ajaran iblis?!"
Penatua Lin Zhen di sampingnya mendadak teringat sesuatu. Wajah tua itu ikut mengeras, dipenuhi kecurigaan yang mendalam. "Benar... teknik kanibalisme energi atau pemuatan jiwa iblis dari Sekte Darah Iblis! Hanya ajaran sesat yang bisa memberi dorongan kekuatan fisik secara mendadak dengan menumbalkan organ tubuh atau jiwa orang lain!"
"Ajaran iblis?" Paman Gu melangkah maju satu kali, berdiri membela di depan Lin Yuan dengan suara serak namun tegas. "Penatua Lin, Penguasa Kota! Saat monster-monster ini menyerbu kota dan meremukkan gerbang, Lin Yuan adalah orang yang berdiri di garis depan mempertaruhkan nyawanya! Sementara orang-orang berniat lari dan bersembunyi di balik benteng dalam, bocah ini membunuh dua monster untuk menyelamatkan warga! Apakah orang yang menggunakan ajaran iblis akan mempertaruhkan nyawanya demi warga sipil?!"
"Tutup mulutmu, Pengawal Gu!" Bentak Penatua Lin Zhen dengan mata membara. "Kau hanyalah seorang penjaga gudang yang cacat! Apa hakmu mengguruiku di depan Penguasa Kota?!"
Penguasa Kota Feng Shidong mengangkat tangan kanannya, menghentikan perdebatan itu. Matanya tetap terkunci pada Lin Yuan dengan ketakutan dan kebencian yang samar. Bagi orang-orang berkuasa seperti mereka, fakta bahwa seorang bocah "sampah" yang selama ini dihina mendadak memiliki kekuatan yang sanggup meremukkan Beruang Zirah Besi dalam satu pukulan adalah sebuah ancaman besar bagi tatanan kekuasaan mereka. Mereka tidak peduli siapa yang diselamatkan; mereka hanya peduli bahwa kekuatan itu berbahaya dan tak terduga.
"Aura yang tersisa di tempat ini terlalu asing dan berbahaya," Ucap Penguasa Kota Feng Shidong dengan senyum dingin yang dipaksakan. "Dalam situasi Bulan Darah seperti ini, kita tidak boleh membiarkan ada potensi ancaman iblis yang bersembunyi di dalam kota."
Penguasa Kota memutar badannya, mengibaskan jubah merahnya ke arah para pengawal elit.
"Tangkap Lin Yuan!" Perintah Penguasa Kota Feng Shidong tegas. "Kunci dia di penjara bawah tanah klan! Besok pagi, kita akan menggelar pengadilan terbuka untuk menginterogasi asal-usul kekuatan sesat yang digunakannya!"
SREK! SREK! SREK!
Puluhan tombak dan pedang perak langsung terangkat bersamaan. Para pengawal kota dan prajurit klan melangkah maju, membentuk lingkaran rapat yang mengurung Lin Yuan dan Paman Gu di tengah-tengah.
Paman Gu mengepalkan tangannya erat-erat di gagang besi tuanya, matanya berkilat marah. "Penguasa Kota! Ini tidak adil!"
Lin Yuan perlahan menyentuh pundak Paman Gu, menggelengkan kepalanya pelan agar tua itu tidak melakukan gerakan konyol yang bisa membahayakan nyawanya sendiri.
Lin Yuan menyapu pandangannya ke arah Penguasa Kota Feng Shidong, Penatua Lin Zhen, dan Lin Heng yang tersenyum sinis di belakang mereka. Tidak ada rasa panik, amarah, atau kekecewaan di wajah Lin Yuan. Ia sudah terlalu paham bagaimana hukum dunia ini bekerja: saat kau lemah, kau disiksa dan dihina; saat kau mendadak kuat tanpa izin mereka, kau dituduh sebagai iblis.
Sebuah senyuman tipis—dingin dan amat tenang—terukir di sudut bibir Lin Yuan.
"Pengadilan?" Bisik Lin Yuan pelan dengan nada suara yang begitu datar. "Silakan. Aku akan datang dan mendengarkan kebohongan apa lagi yang akan kalian susun besok."
Lin Yuan menurunkan kedua tangannya, membiarkan dua prajurit pengawal maju dan mengunci kedua pergelangan tangannya dengan rantai besi berat. Ia tidak melawan sedikit pun, melangkah tenang di antara barisan senjata yang menunjuk ke arah dadanya, meninggalkan kawah reruntuhan dan bangkai beruang yang menjadi saksi bisu kebangkitan pertamanya.