NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Mewah tapi Hampa

Begitu langkah kakinya melintasi pintu utama rumah mewah bergaya Eropa modern milik keluarganya, keheningan langsung menyambut Valeska. Rumah seluas itu terasa sangat lengang, hanya terdengar derap langkah sepatunya yang memantul di atas lantai marmer yang mengilap.

Valeska melempar tas Louis Vuitton-nya ke atas sofa tanpa peduli, lalu mengibaskan rambutnya yang terasa makin lepek gara-gara insiden di sekolah tadi.

Seorang wanita paruh baya bermuka ramah dengan celemek yang terikat di pinggangnya bergegas keluar dari arah dapur begitu mendengar suara pintu.

"Eh, Non Valeska udah pulang," sapa Bi Sumi dengan senyum hangat. "Mau Bi Sumi buatin minum es atau dipotongin buah dulu, Non?"

Valeska menyilangkan dadanya, melirik ke arah ruang makan megah yang mejanya kosong melompong. Pertanyaan yang sama—yang selalu dia tanyakan hampir setiap hari walau dia sudah tahu persis jawabannya—kembali terlontar dari mulutnya.

"Mama mana, Bi?" tanya Valeska dengan nada ketus dan dingin seperti biasa.

Bi Sumi meringis pelan, merasa serbasalah. "Anu, Non... Ibu tadi siang pamit pergi sama teman-temannya. Katanya ada acara arisan sekalian fly ke Bali buat weekend nanti."

Valeska mendengus sinis, memutar bola matanya malas. "Kapan sih wanita itu ada di rumah? Kalau Papa?"

"Bapak tadi sempet telepon ke rumah, katanya malam ini ada rapat penting sama investor luar negeri, jadi bakal pulang larut banget. Bapak pesen supaya Non makan malam duluan aja," terang Bi Sumi pelan, menatap iba ke arah anak majikannya itu.

Raut wajah Valeska seketika mengeras. Ada rasa riak kecewa yang menusuk di dadanya, tapi langsung ditutupi rapat-rapat oleh gengsi dan ekspresi tengil andalannya. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Valeska cuma ingin satu hal sederhana yang sudah bertahun-tahun tidak dia rasakan: duduk di meja makan yang sama, menyantap makan malam bertiga bersama Papa dan Mamanya tanpa ada interupsi ponsel atau urusan bisnis.

"Sok sibuk banget," gumam Valeska sinis. Dia lalu menoleh menatap Bi Sumi dari atas ke bawah dengan raut wajah kesal.

"Bibi kenapa masih berdiri di situ, sih? Gue kan cuma nanya, bukan nyuruh Bibi berdiri ngeliatin gue kayak gitu!" semprot Valeska ketus. "Mending Bibi siapin air hangat di kamar mandi gue sekarang. Gue mau mandi, badan gue gatal semua gara-gara dijemur di sekolah!"

"I-iya, Non. Siap, langsung Bi Sumi siapin," jawab Bi Sumi terburu-buru sambil mengangguk panik, lalu bergegas naik ke lantai dua.

Valeska mendesis, menatap deretan foto keluarga berbingkai emas yang terpajang di dinding ruang tamu. Di foto itu, mereka bertiga tersenyum manis ke kamera—sebuah kepalsuan sempurna yang dibeli dengan uang, tapi sama sekali tidak terasa seperti rumah.

Selesai mandi dengan air hangat beraroma vanilla, Valeska berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Dia memoleskan makeup tipis tapi tegas—garis eyeliner yang tajam, sedikit blush on, dan pemerah bibir berwarna plum yang membuat wajahnya makin terlihat mewah dan dewasa. Gaun hitam press body di atas lutut dipadukan dengan jaket kulit mahal melengkapi penampilannya malam ini. Valeska Aurelia sudah kembali ke wujud aslinya: cantik, memesona, dan tak tersentuh.

Sambil menyemprotkan parfum Chanel ke leher dan pergelangan tangannya, dia melangkah turun menuruni tangga melingkar.

Bi Sumi yang sedang mengelap meja kopi di ruang tamu langsung mendongak. Melihat penampilan anak majikannya yang rapi dan wangi, Bi Sumi memberanikan diri untuk bertanya.

"Anu... Non Valeska mau pergi lagi? Ini kan udah malam, Non. Nanti kalau Bapak atau Ibu cari bagaimana?" tanya Bi Sumi hati-hati.

Valeska menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu depan, lalu menoleh dengan pandangan meremehkan.

"Ini urusan anak muda," semprot Valeska dengan nada ketus. "Orang tua kayak Bibi diem aja, enggak usah kepo! Urus aja tuh dapur, enggak usah ngatur-ngatur hidup gue!"

Tanpa menunggu balasan, Valeska menyambar kunci mobil di atas meja konsol, melangkah keluar, lalu menutup pintu depan dengan dentuman keras.

Bi Sumi cuma bisa mengelus dadanya pelan, menatap pintu rumah yang kembali tertutup rapat. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang, menatap bayangan Valeska yang mulai menghilang di balik garasi.

"Ya Tuhan..." gumam Bi Sumi lirih sambil menggelengkan kepala. "Seandainya Bapak sama Ibu bisa luangin waktu sedikit aja buat Non Valeska, mungkin kelakuan Non enggak bakal kayak gini... Kasihan sebenarnya, kesepian."

***

Vrooommm!

Suara derum mesin mobil sport Porsche merah milik Valeska membelah pekatnya jalanan ibu kota. Valeska menancap gas tanpa ragu, membiarkan alunan musik berdentum kencang dari speaker mobilnya untuk membunuh rasa sepi yang terus menggerogoti dadanya.

Tak butuh waktu lama, mobil mewah itu berbelok memasuki area parkir khusus VIP di salah satu kelab malam paling eksklusif di pusat kota. Lampu neon berwarna keunguan memantul di kaca mobilnya, disambut oleh deretan petugas valet yang langsung membungkuk hormat begitu mengenali mobil sang putri konglomerat.

Valeska mendorong pintu mobilnya, turun dengan langkah angkuh, membiarkan sepatu high heels-nya mengetuk lantai dengan percaya diri tinggi. Malam ini, dia tidak mau memikirkan sekolah, Pak Bambang, Elang, atau rumahnya yang dingin dan sepi. Malam ini, Valeska siap membakar uangnya lagi.

Valeska melangkah masuk ke dalam area VIP kelab yang dipenuhi cahaya lampu laser warna-warni dan dentuman musik EDM yang memekakkan telinga. Tanpa buang waktu, dia duduk di salah satu sofa terdepan dan langsung memesan beberapa botol minuman beralkohol paling mahal.

Gelas demi gelas dia teguk tanpa ragu. Rasa pahit yang membakar tenggorokannya justru jadi penawar instan untuk rasa kesepian dan kekesalannya seharian ini. Kepala Valeska mulai terasa berat, pandangannya sedikit kabur, tapi dia hanya tertawa pelan sambil menyandarkan kepala di sofa—menikmati sensasi melayang yang membuat dia lupa dengan rumahnya yang sepi.

Di sudut lain kelab yang sedikit lebih tenang, rombongan Elang sedang duduk santai. Mereka datang ke sana bukan buat pesta liar, melainkan cuma merayakan ulang tahun salah satu teman basket mereka.

Saat Elang sedang sibuk menyesap minumannya, Marco yang duduk di sebelah Elang mendadak menyenggol lengannya kencang-kencang sembari menunjuk ke arah barisan sofa VIP.

"Bro, Bro! Coba lo liat ke arah jam dua," celetuk Marco dengan mata berbinar penasaran. "Itu bukannya si Valeska, ya? Gila, sendirian aja dia ngabisin minuman sebanyak itu. Udah teler parah keliatannya."

Leo yang ikut menoleh langsung menggeleng-gelengkan kepala. "Aduh, cewek gila. Itu kalau ada cowok hidung belang yang niat jahat, kelar udah hidupnya."

Elang mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Marco. Di sana, Valeska tampak terkulai di sofa dengan gaun cantiknya, memegang gelas kosong sambil terkekeh sendirian dengan kondisi setengah sadar.

Elang mendengus pelan, lalu membuang muka kembali menatap gelasnya sendiri. "Biarin aja. Bukan urusan kita. Lagian cewek kayak dia mah merasa paling berkuasa di mana aja, biarin tau rasa."

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!