Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 Ratu mafia istri dokter dingin
Napas Mike tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar menatap sosok penyusup berbalut pakaian serba hitam dengan belati bergambar naga merah yang baru saja melompati jendela balkon. Jantung sang dokter berdegup sangat kencang, bersiap meneriakkan peringatan.
Namun, sebelum suara Mike sempat keluar dari mulutnya, sebuah pergerakan kilat terjadi di balik bayangan sudut koridor.
Bugh!
Sosok bertubuh tegap berbalut setelan serba hitam dan mengenakan masker kain—yang tidak lain adalah Danu, asisten sekaligus kepala pengawal setia Sindi—melesat tanpa suara.
Dengan satu pukulan telak di titik saraf leher sang penyusup, pria asing pembawa belati itu langsung terkulai lemas tak berdaya sebelum sempat menyadari kehadiran orang lain.
Danu dengan sigap menangkap tubuh pingsan penyusup tersebut, lalu menyeretnya mundur melalui jalan gelap menuju tangga servis belakang tanpa meninggalkan suara sedikit pun.
Mike yang berdiri di ambang pintu kamarnya mengucek matanya tidak percaya. Semuanya terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan detik. Penyusup bersenjata tajam itu lenyap begitu saja seolah ditelan kegelapan.
Tepat pada saat itu, langkah kaki yang tenang terdengar dari arah tangga utama. Sindi muncul dengan balutan gaun tidur malam yang elegan, berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa di rumah itu.
Begitu melihat Mike berdiri mematung di koridor dengan wajah pucat pasi dan napas memburu, Sindi langsung memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya membelalak seolah dilanda kepanikan luar biasa.
"Mas Mike...?" panggil Sindi dengan suara gemetar yang sangat meyakinkan.
"Kamu kenapa berdiri di sini tengah malam begini? Wajah kamu pucat sekali. Ada apa?!"
Tanpa memikirkan gengsinya lagi, Mike yang dilanda panik langsung berlari menghampiri Sindi, mencengkeram kedua lengan istrinya dengan kuat untuk memperingatkan.
"Sindi! Kamu nggak apa-apa kan?! Tadi... tadi ada penyusup masuk lewat balkon!" seru Mike setengah berteriak, suaranya sarat akan kekhawatiran yang nyata.
"Ada orang asing bawa belati mau masuk ke area kamar kita! Rumah ini nggak aman, Sindi!"
Mendengar kepanikan tulus dari sang suami, alis Sindi terangkat sebelah. Alih-alih merasa takut, sudut bibir Sindi justru berkedut menahan senyum geli. Ia menatap Mike dari atas ke bawah dengan pandangan penuh selidik.
"Mas... apa-apaan sih pegang-pegang begitu?" ujar Sindi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, memasang wajah menggoda.
"Dan tumben banget Mas perhatian sama aku begini... Apa Mas mulai suka sama aku, ya?"
Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Sindi, Mike seketika tersadar dari kepanikannya. Ia langsung menarik kedua tangannya, mundur satu langkah ke belakang, lalu memasang kembali ekspresi dingin dan angkuhnya.
"Jangan mimpi aku bakal suka sama kamu!" jawab Mike ketus dengan nada datar yang dibuat-buat, berusaha menutupi salah tingkahnya.
"Aku cuma nggak mau terjadi apa-apa sama orang yang ada di rumah ini, titik!"
Sindi terkekeh pelan, tawanya terdengar begitu merdu namun menyindir.
"Ya... ya... Mas. Tuh... baru saja kamu bicara sama aku nggak pakai kata 'saya', tapi pakai 'aku'." Sindi menyipitkan mata indahnya, menatap Mike tajam.
"Katanya benci, tapi refleksnya jujur banget."
Mike berdehem keras untuk menutupi rasa salah tingkah di dadanya.
"Sudahlah! Jangan ngawur! Aku mau ke kamar!" ketus Mike, lalu berbalik dan membanting pintu kamarnya sendiri rapat-rapat.
Sindi berdiri sendirian di koridor yang sepi. Senyum tipis yang tadi menghiasi bibirnya perlahan menguap, digantikan oleh raut wajah sedingin es. Ia melangkah pelan bukan kembali ke kamarnya, melainkan menuju lift pribadi yang membawanya langsung turun ke lantai bawah tanah mansion.
Di basement tersembunyi itu, Danu sudah berdiri tegak menunggu di dekat kursi interogasi. Di hadapannya, si penyusup Red Dragon yang tadi dibekuk kini terikat kuat di atas kursi kayu dengan rantai besi, kesadarannya perlahan pulih sambil mengerang kesakitan.
Begitu Sindi melangkah masuk mengenakan mantel panjang hitamnya, seluruh anak buah langsung menunduk hormat.
"Selamat malam, Ratu," sapa Danu tegas.
Sindi hanya mengangguk dingin. Ia berjalan mendekati kursi penyusup tersebut, menatap pria bertato naga di lehernya itu bagaikan menatap seekor serangga menjijikkan.
"Mana dia?" tanya Sindi dingin, merujuk pada pimpinan Red Dragon.
"Belum mengaku, Nona. Dia bilang hanya pesuruh bayaran," lapor Danu.
Tanpa banyak bicara, Sindi tiba-tiba menghunuskan pisau belati perak kecil dari balik pinggang mantelnya.
Dengan gerakan secepat kilat, Sindi menancapkan ujung pisau itu tepat di sela-sela jari tangan sang penyusup hingga menembus meja kayu di bawahnya.
Jleb!
"ARGHHH!" jerit penyusup itu histeris, darah segar menetes membasahi lantai semen.
"Berani sekali tikus sepertimu datang dan menginjakkan kaki di rumahku," desis Sindi dengan suara rendah yang luar biasa mengerikan. Ia memutar pisaunya sedikit, membuat pria itu kembali menjerit kesakitan.
"Katakan pada Baron, kalau dia mau bermain-main dengan nyawa, datangi aku langsung ke markas, bukan meneror rumah tanggaku!"
"A-ampun, Ratu... Ampuni aku!" ratap penyusup itu terisak-isak dengan air mata bercampur keringat dingin.
"Aku hanya menjalankan perintah... Aku tidak tahu apa-apa..."
Sindi mencabut pisaunya dengan kasar, lalu menyeka bilah belati itu dengan tisu putih bersih.
"Itu bukan urusanku," jawab Sindi tajam tanpa belas kasihan.
"Berani datang ke rumahku, berarti kamu sudah siap mati." Sindi melirik Danu sekilas.
"Bawa dia, Danu. Jadikan dia makanan hiu di pelabuhan."
"Baik, Nona Sindi!" jawab Danu patuh, langsung menyeret pria malang itu keluar ruangan.
Sindi berbalik, merapikan mantelnya. Permainan kecil dari Baron ini mulai melewati batas, dan Ratu Black Viper itu tahu persis bagaimana cara memberikan balasan yang jauh lebih mematikan.
Keesokan harinya...
Siang hari menjelang sore, suasana di mansion utama tampak cukup tenang. Mike sedang tidak berada di rumah karena harus melakukan jadwal praktik operasi yang cukup padat di rumah sakit.
Sindi sendiri baru saja keluar dari kamar mandi kamarnya, mengenakan gaun rumah santai, berniat turun ke dapur untuk membuat secangkir kopi.
Namun, baru saja Sindi hendak menuruni tangga utama, suara bel pintu depan berbunyi nyaring.
Ting-tong!
Sindi menghentikan langkahnya, mengerutkan dahi. Bibi pelayan yang kebetulan sedang membersihkan meja ruang tamu bergegas berjalan membukakan pintu utama.
Begitu pintu terbuka lebar, sosok wanita bergaun merah muda mencolok dengan tas tangan bermerek langsung menerobos masuk tanpa menunggu diundang.
Dialah Putri Adisti.
Putri sengaja datang ke rumah Mike di siang bolong seperti ini karena ia yakin betul dari informasi rekan sesama perawat bahwa Mike sedang sibuk operasi panjang di rumah sakit, dan Sindi—pikir Putri—pasti tidak ada di rumah atau sedang sibuk di luar. Putri datang membawa sebuah rantang makanan bertingkat, berniat mengambil hati Mike sekaligus mencari kesempatan untuk melihat-lihat kemewahan mansion tersebut.
"Permisi..." ucap Putri dengan nada sok manis pada bibi pelayan, lalu melangkah masuk dengan angkuh.
"Mana Mike? Saya mau taruh makanan ini di—"
Ucapan Putri terhenti seketika di udara.
Langkah kakinya membeku di tengah ruang tamu saat ia mendongak dan melihat sosok wanita bergaun elegan sedang berdiri di anak tangga tengah, menatapnya tajam dari atas dengan senyuman dingin yang sangat menakutkan.
Sindi melipat kedua tangannya di dada, menatap Putri dari atas ke bawah dengan pandangan penuh penghinaan, bagaikan seorang ratu yang sedang melihat tikus got masuk ke istananya.
Suasana di ruang tamu mendadak sunyi mencekam. Putri yang tertangkap basah mendatangi rumah istri sah kekasihnya tanpa diundang langsung pucat pasi, lidahnya kelu tak bisa berkata apa-apa.
Bersambung.......
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,