NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Jam dinding di kamar utama mansion Van Der Berg menunjukkan pukul dua dini hari. Langit Jakarta di luar jendela masih gelap pekat, namun bagi Alexio Van Der Berg, malam ini terasa lebih menegangkan daripada negosiasi bisnis bernilai triliunan dolar.

Pria yang ditakuti di seluruh benua itu kini berdiri di tepi ranjang dengan piyama sutra kasualnya, memegang ponselnya dengan wajah frustrasi campur bingung.

Di atas ranjang, Clara sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya melengkung ke bawah, menahan tangis yang entah datang dari mana. Hormon kehamilannya sedang memegang kendali penuh.

"Sayang, kumohon," bujuk Alexio dengan nada yang sangat memelas, sebuah nada yang jika didengar oleh musuh-musuhnya akan membuat mereka mati serangan jantung.

"Aku sudah memanggil koki bintang Michelin dari restoran Prancis terbaik di Jakarta untuk datang ke dapur kita malam ini. Dia bisa membuatkanmu escargot, caviar, atau truffle apa pun yang kau mau. Koki Italia kita juga sedang memanaskan oven untuk pizza kesukaanmu."

Clara menggeleng pelan, air matanya menetes di pipi.

"Aku tidak mau caviar, Alexio. Aku juga tidak mau pizza. Semuanya amis."

"Lalu kau mau apa, Moya zhizn? Katakan padaku. Aku akan membeli seluruh pabrik makanannya untukmu sekarang juga." lanjutnya dengan memanggil nama kesayangan dalam bahasa Rusia (Moya zhizn\= Nyawaku / hidupku)

Clara mengusap air matanya.

"Aku mau... rujak buah mangga muda."

Alexio menghela napas lega.

"Hanya itu? Tentu saja. Aku akan menyuruh koki membuatkan rujak mangga paling premium dari mangga madu impor asal Jepang—"

"Tidak mau mangga impor!" potong Clara cepat, membuat Alexio seketika kicep.

"Aku mau rujak mangga muda dari gerobak Mang Udin yang mangkal di depan ruko apartemen lamaku. Dan bumbu kacangnya harus diulek langsung di tempat, pedas manis. Kalau bukan buatan Mang Udin, aku dan bayi kita tidak mau makan."

Hening sejenak. Sang dewa bisnis itu mengerjap. Pukul dua pagi. Rujak gerobak. Di pinggir jalan.

Namun, melihat bibir Clara yang kembali bergetar dan air matanya yang siap tumpah lagi, kewarasan Alexio langsung menguap. Ia tidak sanggup melihat ratunya menangis hanya karena mangga.

Alexio menekan layar ponselnya, menghubungi asisten pribadinya.

Di kamarnya di sayap barat, Reno yang baru tertidur satu jam langsung terbangun saat ponsel khususnya berdering.

"Halo, Tuan Muda? Ada kondisi darurat?" tanyanya dengan suara serak namun sigap, bersiap mengambil senjata dari laci.

"Reno," titah Alexio dengan suara berat dan otoriter.

"Siapkan tiga mobil lapis baja dan lima pengawal elit. Kita berangkat ke ruko apartemen lama istriku sekarang. Bangunkan pedagang rujak bernama Udin, bayar dia berapa pun agar membuat rujak mangga muda sekarang juga, lalu kawal gerobaknya sampai ke mansion."

Di seberang telepon, Reno mematung. Otak mantan pasukan khusus berdarah dingin itu butuh tiga detik untuk memproses perintah absurd tersebut.

"M-menculik tukang rujak, Tuan Muda?"

"Bukan menculik, mengawal, Reno! Cepat, istriku menangis!"

Klik. Telepon ditutup.

Empat puluh menit kemudian, Mang Udin, pedagang rujak paruh baya yang masih mengenakan sarung dan kaus kutang, tampak gemetar hebat saat mengulek bumbu kacang di dapur megah Van Der Berg.

Ia dikelilingi oleh barisan koki kelas dunia dan pengawal berjas hitam yang mengawasinya seolah ia sedang merakit bom nuklir.

Namun, melihat Clara makan rujaknya dengan lahap di meja makan sambil tersenyum bahagia, Alexio menghela napas lega, rela membayar gerobak rujak Mang Udin seharga mobil sport.

Keesokan paginya, suasana di mansion kembali "normal". Clara sedang tertidur pulas setelah memakan rujaknya, sementara Alexio pergi ke ruang kerjanya untuk konferensi video.

Di lorong lantai dasar, Reno berjalan dengan langkah tegap menuju laboratorium si kembar. Sejak insiden "tikus tidur" di rumah sakit kemarin, Reno belum sempat menanyakan langsung pada kedua bos kecilnya itu. Ia butuh kepastian.

Reno menekan kode sandi dan masuk ke dalam. Ken dan Key sedang sibuk menganalisis grafik di layar monitor mereka.

"Tuan Muda, Nona Muda," sapa Reno sambil menutup pintu, suaranya pelan namun tegas.

"Bolehkah saya bertanya sesuatu tentang... sistem keamanan rumah sakit kemarin?"

Ken memutar kursinya, menatap Reno dengan wajah polos di balik kacamatanya.

"Paman Reno mau bertanya soal empat agen bayaran Volkov yang kami lumpuhkan dengan gas bius halothane dan kami intersep perintahnya sebelum Paman bahkan menyadari kehadiran mereka?"

Reno menelan ludah. Balita ini bahkan tidak repot-repot berpura-pura lagi.

"Jadi... itu benar-benar perbuatan kalian?" bisik Reno, takjub sekaligus ngeri.

"Bagaimana mungkin anak berusia empat tahun meretas sistem sentral rumah sakit dan memanipulasi lift?"

Key terkikik, melompat turun dari kursinya dan menghampiri Reno.

"Paman Reno, rahasia adalah mata uang paling mahal di dunia bawah tanah. Kami menutupi pergerakan kami agar Papa tidak khawatir dan memicu perang yang bisa membuat Mama stres. Jadi, Paman akan tutup mulut dan menyimpan rahasia kami dari Papa, kan?"

Reno menghela napas. "Tuan Muda berhak tahu jika ada ancaman di sekitar Nyonya Clara."

"Kalau Paman Reno memberitahu Papa, kami akan memberitahu Bunda Ketty rahasia Paman," potong Ken santai, menopang dagunya.

Reno tersentak. "R-rahasia apa?"

Ken menekan sebuah tombol. Di layar raksasa laboratorium, muncul kompilasi rekaman CCTV mansion yang menampilkan Reno. Di rekaman pertama, Reno tampak salah tingkah dan menabrak pintu saat melihat Ketty tersenyum.

Di rekaman kedua, Reno diam-diam membelikan kopi karamel yang sama persis dengan pesanan Ketty.

Di rekaman ketiga, detak jantung Reno (yang diretas dari smartwatch-nya) melonjak tajam saat bersentuhan tangan dengan Ketty di ruang tamu.

Wajah Reno seketika semerah tomat. Martabatnya sebagai mantan pasukan berdarah dingin hancur lebur di hadapan dua balita ini.

"Sebagai kepala departemen intelijen, kami menyadari ketidakmampuan Paman Reno dalam mendekati perempuan," ucap Ken layaknya seorang konsultan cinta profesional.

"Jadi, ini kesepakatannya," tambah Key dengan senyum manisnya yang mematikan.

"Paman tutup mulut soal operasi perlindungan kami terhadap Mama. Sebagai gantinya, kami akan menjadi konsultan romansa Paman. Kami tahu persis bunga favorit Bunda Ketty, makanan kesukaannya, dan jadwal kosongnya akhir pekan ini.

Kami bahkan bisa meretas sistem bioskop agar Paman dan Bunda Ketty mendapat kursi VIP couple malam minggu ini. Bagaimana?"

Reno menatap kedua bocah itu dengan perasaan campur aduk antara kagum, malu, dan tertindas. Sang asisten pribadi yang kejam itu akhirnya menunduk, mendesah pasrah.

"Sepakat, Bos Kecil," jawab Reno pasrah.

"Tolong bantu saya dengan jadwal bioskopnya."

Si kembar melakukan high-five kemenangan.

Namun, momen lucu itu langsung lenyap saat alarm darurat dari jaringan komunikasi global Van Der Berg yang ada di saku jas Reno mendadak berteriak dengan nada pitch tinggi.

Reno langsung mengeluarkan perangkat komunikasinya. Wajahnya yang memerah seketika memucat, kembali berubah menjadi asisten tangan kanan sang tiran.

"Ada apa, Paman?" tanya Ken, merasakan perubahan aura di ruangan itu.

"Ini peringatan level merah dari Eropa," lapor Reno dengan suara tegang.

"Dua kilang minyak utama Van Der Berg di perbatasan Rusia dibom malam tadi.

Direktur regional kita di Eropa Timur disandera, dan pergerakan tentara bayaran Volkov terlihat di tiga negara sekaligus. Mereka mendeklarasikan perang terbuka."

Mata Ken dan Key menyipit tajam.

"Mereka sengaja membuat kekacauan masif di Eropa," analisis Ken cepat. "Volkov tahu dia tidak bisa menembus pertahanan Jakarta, jadi dia memancing Papa keluar."

"Dan Papa tidak punya pilihan selain turun tangan secara langsung," gumam Key, mengepalkan tangannya.

Benar saja, sepuluh menit kemudian, Alexio mengumpulkan Reno dan para komandan penjaga di ruang kerjanya. Wajah pria itu lebih dingin dari kematian itu sendiri.

"Siapkan jet pribadiku. Aku berangkat ke Eropa dalam dua jam. Aku butuh waktu maksimal empat puluh delapan jam untuk meluluhlantakkan Volkov dan seluruh anak buahnya dari peta dunia," titah Alexio mutlak.

Alexio menatap Reno lekat-lekat. "Reno, kau tetap di sini. Tugasmu bukan ikut berperang. Tugasmu adalah menjaga Clara, Ken, dan Key dengan nyawamu. Jangan biarkan satu ekor lalat pun masuk ke mansion ini selama aku pergi."

"Siap, Tuan Muda! Nyawa saya taruhannya," janji Reno bersumpah.

Namun, di balik layar laboratorium mereka, Ken dan Key menatap pergerakan radar musuh yang aneh. Sementara satelit Alexio fokus pada ledakan di Eropa, radar khusus ciptaan si kembar mendeteksi anomali di titik buta keamanan.

Volkov memang memancing Alexio pergi. Namun tujuannya bukan Eropa.

Malam harinya, saat jet pribadi Alexio lepas landas membelah awan menuju benua seberang, sebuah bayangan hitam tak terdeteksi radar berhasil melompati pagar belakang mansion Van Der Berg. Seseorang telah mematikan sensor perimeter laser dari dalam.

Ada pengkhianat di dalam istana sang naga. Dan sang ratu kini sedang terlelap tanpa rajanya.

Bersambung...

1
Siti Nurhayati
bagus semakin seru cerita y jgn sampai mamy terluka si kembar pasti bsa menjaga keluarga y
Umi Zein
ada penghianatan yg menyusup di dalem mansion. siapa ya kira2 🤔🤔
Umi Zein
mang Udin keren naik pamor gerobaknya masuk mansion mewwah 😍🤣🤣🤣
Umi Zein
ooh Reno lg pdkt sm Ketty toh! ayo Ren gercep jngn ksih kendor 🤭🤣🤣🤣
Munas Tuti
haaaah tegang banget mbak author 🤭🤭
Munas Tuti
tajiiir banget seeeh, punya pengamanan yg super canggih....kerenn abis
neny
wah,,wah,,rupa nya si penyusup ini menyerang kelemahan si bucin,,hati2 Loch klau si bucin udh kalap🤭
neny
maa syaa Allah,,gk bs berkta kata AQ sm keluarga ini,,top bgt,,tdk ingin menyulitkan ratu,dan tdk ingin ratu tau apa yg terjadi diluaran sn yg sdng mengancam diri nya,,keren othor nya,,love sekebon buat Kaka othor ❤️❤️
Munas Tuti
huuuuuh....msh ada lagi ternyata
Rani R.I
Ayuk ken jgn sampai bunda ketty kalian terluka sedikit pun,,dan si pembunuh bayaran itu jgn langsung mati,, harus di siksa Duluu biar tahu dia karena sudah mengusik wilayah kalian
Rani R.I
uhhh kerennn 👍👍👍👍👍
biar pun byk musuh thourr,, tapi tidak bisa menyentuh sedikit pun ratu mereka,, ituu yg akuu suka,, kerennn 👍👍👍🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪
Rani R.I
semakin SERUUU iniii jgn sampai ada yg terluka dari keluarga Alexio,, akuu yakin Alexio dan si kembar bisa mengatasi musuh,, Ayuk mateo kembali ke mode kejam mu jgn sampai lengah 💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥
riniandara: /Grin//Proud//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Ariany Sudjana
wah makin seru ini, tapi kok bisa kecolongan yah? sampai Ketty ga bisa berkutik. semoga Ken bisa menolong Reno melumpuhkan penyusup tersebut
Rani R.I
terimakasih thourr,, semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰
sehat slalu yea thourr,,dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲🥰🥰🥰👍👍👍
riniandara: terima kasih kakku, Amin doa yang sama kakak/Kiss/buat
total 1 replies
Rani R.I
Wahh ada tamu yang tak di undang,,, Ayuk ken dan key jgn sampai ada orang luar mendekat,,,
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 di kembar cerita nya jadi mak comblang niy 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
riniandara
Terima kasih buat yang sudah meluangkan waktu untuk mereview karya ini, happy reading selalu ya.
Munas Tuti
waaaah ancaman berbahaya lagii nii
Ariany Sudjana
Ketty harus belajar kalau Reno harus selalu waspada, bahaya mengancam mafia seperti Alexio Dan keluarganya setiap waktu, jadi meskipun lagi liburan, waspada juga perlu
Munas Tuti
anak2 heibat ....sapa sangka anak TK ternyata melebihi org dewasa kepintarannya 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!