NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Harapan yang Tumbuh dalam Diam

Pagi datang perlahan di wilayah perbatasan.

Cahaya matahari menyelinap di antara pepohonan, menerangi halaman pos yang mulai ramai oleh aktivitas para anggota. Suara langkah kaki, percakapan singkat, dan instruksi persiapan tugas terdengar bersahutan.

Bagi sebagian orang, hari hanyalah mengurang rutininas biasa.

Namun, bagi Kapten Reihan, pagi tersebut terasa sedikit berbeda.

Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan laporan ketika Yanto masuk membawa beberapa dokumen yang harus ditandatangani. Sang kapten menerima berkas itu, membacanya sekilas, lalu membubuhkan tanda tangan pada lembar yang diperlukan.

"Untuk kegiatan di desa, ada perkembangan?" tanya Reihan.

Yanto mengangguk, "Panitia masih menyusun jadwal penyisihan dan final voly putra dan putri, Kapten. Kemarin Bu Guru menyampaikan bahwa beberapa kebutuhan perlengkapan perlu dipastikan kembali."

Reihan berusaha mempertahankan ekspresi biasa, “Kalau ada yang membutuhkan bantuan dari anggota, koordinasikan dengan baik. Jangan sampai persiapan acara mengganggu tugas utama."

"Siap, Kapten, “Yanto hendak berbalik ketika Reihan kembali berbicara.

"Sersan Yanto."

"Siap?"

"Apakah kamu tahu jadwal rapat panitia berikutnya?"

Yanto terdiam sepersekian detik.

Pertanyaan itu sebenarnya wajar. Sebagai kapten yang bertanggung jawab terhadap koordinasi kegiatan, Reihan memang perlu mengetahui jadwal rapat. Namun, Yanto yang mengenalnya sejak masa pendidikan di Magelang tahu bahwa pertanyaan tersebut mungkin memiliki alasan lain.

"Kalau tidak ada perubahan, kemungkinan besok sore, Kapten."

Reihan mengangguk, “Baik. Pastikan jadwalnya dikonfirmasi."

"Siap." Yanto keluar dari ruangan dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan.

Ia tidak akan mengganggu Reihan dengan pertanyaan macam-macam. Namun, ia melihat bahwa atasannya  yang selalu membatasi pergaulan dengan lawan jenis itu mulai memberi perhatian pada Guru PJOK yang menawan itu.

Dan jika dugaannya benar, situasi tersebut akan menjadi persoalan yang cukup menarik untuk diamatinya. Tentu saja, ia tidak akan membiarkan urusan pribadi mengganggu tugas mereka. Bagi Yanto, kedisiplinan tetap harus dijaga, apa pun yang terjadi.

Tetapi sebagai seorang sahabat, ia juga berharap Reihan menemukan seseorang yang  akan menjadi  rumah sebagai tempat untuk kembali dan berbagi kebahagiaan.

Lelaki itu terlalu sering memikirkan tanggung jawab, terlalu terbiasa menyelesaikan persoalan orang lain, tetapi tidak memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk mencari kebahagiaan sejati.

………

Sementara itu, di rumahnya, Mita baru saja selesai sarapan ketika teringat saputangan putih yang tersimpan di dalam tas. Ia mengambilnya dengan hati-hati.

Setelah pulang dari kantor desa semalam, ia sempat berniat langsung mencucinya. Namun, karena tubuhnya terlalu lelah, ia memilih menyimpannya itu terlebih dahulu agar tidak tertinggal atau terkena barang-barang lain.

Kini, ia membuka lipatan saputangan tersebut dan memeriksanya. Kain putih itu sudah sedikit kusut, tetapi masih tampak bersih. Mita mengusap permukaannya dengan ujung jari sebelum melipatnya kembali.

Ia merasa tidak enak karena telah menggunakan barang milik Reihan untuk menghapus air matanya.

"Seharusnya aku lebih bisa mengendalikan diri," gumamnya pelan.

Ia terdiam setelah mengucapkan kalimat itu.

Mengendalikan diri.

Selama ini, ia memang selalu berusaha melakukannya. Ketika peristiwa menyakitkan itu muncul, ia berusaha mengalihkan perhatian dengan bekerja. Ketika kesedihan datang tanpa diduga, ia mencoba tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia telah meyakinkan dirinya bahwa waktu akan membantu menyembuhkan luka tersebut. Namun, ternyata ada hari-hari ketika semuanya terasa lebih sulit.

Mita memejamkan mata sejenak, mengingat percakapannya dengan Reihan. Kapten itu tidak memaksanya menceritakan apa pun. Ia tidak mengajukan pertanyaan yang membuatnya semakin terpojok. Bahkan ketika air matanya jatuh, Reihan tidak memperlihatkan sikap canggung ataupun menganggapnya berlebihan. Ia hanya memberinya ruang untuk menenangkan diri.

Sikap itu membuat Mita merasa dihargai. Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan semacam itu ketika sedang menghadapi persoalan pribadi. Namun, Mita segera mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu jauh menafsirkan kebaikan orang lain.

Reihan adalah seorang perwira yang memiliki tanggung jawab terhadap banyak orang. Ia mungkin memang terbiasa bersikap tenang dan penuh perhatian. Bisa jadi, apa yang dirasakannya semalam hanyalah rasa terima kasih kepada seseorang yang telah membantunya melewati momen sulit.

Mita tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apa pun. Ia masih membutuhkan waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Jika suatu hari nanti ia kembali membuka hati, ia ingin melakukannya karena benar-benar siap, bukan karena merasa kesepian atau membutuhkan seseorang untuk mengisi ruang kosong dalam hidupnya.

Dengan pikiran itu, Mita memasukkan saputangan ke dalam kantong kain kecil yang telah disiapkannya. Ia akan mencucinya dengan hati-hati, kemudian mengembalikannya kepada Reihan ketika mereka bertemu kembali.

Sederhana saja.

Tidak perlu mencari alasan untuk memperpanjang pertemuan. Tidak perlu pula memikirkan sesuatu yang belum tentu memiliki arti lebih jauh. Setidaknya, itulah yang berusaha diyakinkannya.

Namun, ketika kembali membayangkan tatapan Reihan yang begitu teduh malam sebelumnya, sebuah senyum kecil tanpa sadar muncul di wajahnya. Mita segera menunduk, seolah takut ketahuan oleh dirinya sendiri.

"Sudahlah, Mita," bisiknya. "Jangan ngehalu...."

Ia tertawa pelan, lalu kembali membereskan pekerjaannya. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ingatan tentang seseorang tidak hanya menghadirkan kesedihan. Ada pula sedikit kehangatan yang ikut tertinggal.

…

Sore harinya, Reihan kembali memeriksa laporan kegiatan sebelum mempersiapkan tugas berikutnya. Ia berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan, tetapi pikirannya sesekali melayang kepada Mita.

Ia tidak tahu apakah perempuan itu masih memikirkan kejadian semalam. Mungkin Mita sudah melupakannya dan kembali sibuk dengan rutinitasnya. Mungkin pula saputangan itu sudah dicuci dan akan dikembalikan pada pertemuan berikutnya.

Apa pun yang terjadi, Reihan tidak ingin membangun harapan hanya berdasarkan sebuah momen singkat. Ia harus mengenal Mita lebih dekat terlebih dahulu.

Bukan hanya sisi dirinya yang tampak di depan orang banyak, melainkan juga perempuan yang memiliki impian, ketakutan, kebiasaan, dan batasan pribadi. Ia ingin mengetahui apa yang membuat Mita bahagia, tetapi ia juga harus menerima jika perempuan itu belum siap membagikan semua kisahnya.

Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala, “Masuk."

Yanto muncul sambil membawa sebuah berkas, "Maaf mengganggu, Kapten. Ini laporan koordinasi kegiatan desa."

Reihan menerima berkas tersebut, "Terima kasih."

Yanto tidak langsung pergi. Ia berdiri sejenak, memperhatikan atasannya yang kembali membaca laporan,  "Kapten."

"Ada apa lagi?"

"Kalau boleh memberi pendapat, terkadang seseorang tidak membutuhkan jawaban atas semua masalahnya. Kadang-kadang, dia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan."

Reihan menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Yanto dengan jidat agak mengerut, "Apa maksudmu?"

Yanto mengangkat bahu, "Tidak ada, Kapten. Hanya teringat pembicaraan kita beberapa waktu lalu."

Reihan menyipitkan mata, “Sejak kapan kamu menjadi psikolog?"

Budi yang kebetulan melintas di lorong mendengar pertanyaan itu dan langsung menyembulkan kepala melalui pintu yang terbuka, "Sejak saya menjadi konsultan tidak resmi, Kapten!"

Yanto spontan menoleh, "Siapa yang memanggilmu?"

Budi tertawa, "Saya hanya lewat. Tapi kalau ada konsultasi gratis, saya siap membantu."

Reihan menggeleng sambil menahan senyum, "Kalian berdua sepertinya terlalu banyak waktu luang."

"Siap, Kapten! Kami segera kembali bekerja!"

Budi langsung menarik Yanto keluar sebelum sang kapten benar-benar memberikan tugas tambahan kepada mereka. Suara tawa keduanya terdengar menjauh di lorong.

Sekilas senyum terbit di sudut bibirnya. Bawahannya, Yanto dan Budi paling  dekat dengannya, walau tidak seakrab Yanto. Tapi ketiganya  terkadang masih sempat bercanda receh di luar profesi yang mereka Jalani.

Reihan kembali memandang laporan di tangannya. Entah mengapa, nasihat Yanto masih terngiang di benaknya. Terkadang, kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Ia memikirkan Mita lagi.

Mungkin itulah yang harus dilakukannya jika suatu hari perempuan itu kembali merasa sedih. Bukan datang membawa nasihat panjang, bukan pula menawarkan solusi yang tidak diminta.

Cukup hadir. Cukup mendengarkan. Dan cukup menghormati keputusan Mita, apa pun itu.

Reihan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tidak tahu apakah perhatiannya kepada Mita hanya karena simpatik atas kesedihan yang ia alami, atau inikah perasaan terhadap lawan jenis yang sesungguhnya?  Hatinya belum yakin atas apa yang terjadi.

Ia memejamkan mata seketika raut manis itu berputar dalam bayangannya. Senyum kembali terbit di sudut bibir perwira muda itu.

Biarkan waktu berproses. Ia hanya mengikuti alur yang akan ia jalani ke depannya. Tetapi yang pasti, senyum manis dan tawa renyahnya akan menjadi spirit tersendiri dalam langkah sang perwira muda.

1
Lenita Vernandes
mantap lanjut
Farida Dalle
Ternyata cinta dan cemburu itu berjalan seiring, hehe🤭
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
Farida Dalle: Duh.... si Rayhan, masih kcl sdh baca novel jg, hehe🙏✌️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!