Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Lorong Empat
Mulut tambang batu napas berupa celah gelap di kaki bukit, ditopang dua tiang kayu setebal paha orang dewasa. Di depannya, enam belas murid kelompok ketiga berbaris sambil memanggul sekop, pasak, dan keranjang rotan. Pengawas berewok berdiri di samping pintu dengan gulungan bambu di tangan, memeriksa nama satu per satu.
"Qiu Bo."
"Hadir," sahut Qiu Bo. Wajahnya pucat, dan ia tidak berhenti menggosok telapak tangan di celananya.
"Jian Chen."
"Hadir," kata Jian Chen. Karung baji besi tergantung di pinggangnya, tersembunyi di balik jubah luar.
"Tan Fu."
"Hadir, Pengawas." Murid gemuk di ujung barisan melambaikan tangan sambil menahan keranjang di bahu. Wajahnya ramah dan ia selalu terlihat seperti orang yang baru selesai makan, padahal jatah muridnya sama saja dengan yang lain.
Pengawas menyelesaikan daftar dan menutup gulungannya. "Aku tidak masuk," katanya. "Pemeriksa tidak datang lagi, jadi aku hanya bisa menunggu di sini. Kalian bekerja di lorong empat sampai matahari condong. Kalau ada bunyi aneh, keluar. Mengerti?"
"Mengerti, Pengawas," jawab mereka serempak.
Jian Chen melirik pengawas itu. Lelaki berewok itu menatap balik sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Dalam tatapan itu ada sesuatu yang bukan lagi kecurigaan. Lebih seperti keraguan yang ia sendiri tidak mau akui.
Mereka masuk berbaris. Udara di dalam tambang lembap dan dingin, berbau tanah basah dan logam. Lampu minyak digantung di dinding setiap sepuluh langkah, dan cahayanya hanya cukup untuk melihat punggung orang di depan. Lorong empat berada di ujung jaringan, turun melalui tangga batu yang licin.
"Kau yakin ini aman?" bisik Qiu Bo.
"Tidak," jawab Jian Chen jujur.
"Hebat. Kupikir kau akan bilang aman."
"Kalau aku bilang aman, kau akan lengah."
Lorong empat lebih lebar daripada yang ia ingat. Langit-langitnya menurun setinggi dua kepala dari tanah, ditopang barisan tiang kayu hitam yang dipasang tiap tujuh langkah. Di ujung lorong terlihat dinding batu napas berwarna biru pucat, tempat kelompok mereka harus memahat. Di tiang tengah, retakan sepanjang lengan memanjang dari atas sampai setengah tiang.
"Itu dia," gumam Jian Chen.
Ia berhenti di depan tiang itu dan menurunkan karung dari pinggangnya. Dari dalamnya ia mengeluarkan enam baji besi dan sebuah palu kecil pinjaman Dao. Beberapa murid menoleh.
"Hei, apa itu?" tanya Tan Fu sambil menurunkan keranjangnya.
"Pasak tambahan," jawab Jian Chen. "Kita pasang di tiang ini sebelum mulai memahat."
"Siapa yang menyuruh?"
"Aku." Jian Chen berlutut dan menyelipkan baji pertama di celah antara tiang dan balok atap. "Bantu aku, Qiu Bo. Pegang di sini, jangan lepas sampai aku selesai memukul."
"Kau tidak punya wewenang," kata seorang murid kurus di barisan belakang. Suaranya sinis. "Kita disuruh memahat, bukan memasang pasak."
"Kalau kau mau memahat di bawah tiang retak, silakan," balas Jian Chen tanpa menoleh. "Aku tidak akan melarang."
Murid kurus itu terdiam. Tan Fu tertawa pendek, lalu berjongkok di samping Jian Chen. "Aku bantu. Kalau tiang ini jatuh, aku mau ada yang menahan dari atas, bukan dari bawah."
"Terima kasih, Tan Fu."
"Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuk perutku." Tan Fu menepuk perutnya. "Aku masih ingin makan malam."
Mereka memasang baji satu per satu. Setiap pukulan palu terdengar nyaring di lorong sempit itu dan menggema ke ujung gelap. Baji pertama masuk dengan mudah. Baji kedua menahan. Pada baji ketiga, Jian Chen merasakan getaran halus merambat dari kayu ke telapak tangannya, getaran yang bukan berasal dari palunya.
Ia berhenti.
"Ada apa?" tanya Qiu Bo.
"Diam."
Semua orang diam. Dalam keheningan itu, terdengar bunyi gemeretak pelan dari arah ujung lorong, bunyi seperti batu yang menggeser batu lain. Jian Chen menahan napas. Di dalam ingatannya, bunyi ini seharusnya datang dari tiang tengah, tepat di atas kepalanya. Tetapi bunyinya sekarang datang dari belakang, dari bagian lorong yang lebih dalam, tempat tujuh orang sedang mengumpulkan batu.
"Semua keluar!" teriak Jian Chen. "Sekarang! Tinggalkan alatnya!"
"Apa?" Tan Fu mendongak. "Tapi baru..."
"Keluar! Lewat tangga! Cepat!"
Bunyi gemeretak itu berubah menjadi deru. Debu jatuh dari langit-langit seperti hujan kering. Beberapa murid mulai berlari tanpa berpikir. Yang lain berdiri kaku, sampai Jian Chen menarik lengan seorang murid dan mendorongnya ke arah tangga.
"Lari! Jangan menoleh!"
"Tujuh orang di dalam!" teriak seseorang dari belakang. "Ada tujuh orang di ujung!"
"Aku tahu!" balas Jian Chen. Ia menarik Qiu Bo ke arah tangga, tetapi Qiu Bo menahan tangannya.
"Kau mau ke mana?"
"Ke ujung."
"Gila! Kau belum bisa mengangkat sekop lebih dari sepuluh kali!"
"Aku tidak akan mengangkat sekop. Aku hanya akan memberi tahu mereka jalan." Jian Chen melepaskan tangan Qiu Bo. "Keluar, Qiu Bo. Bawa yang lain ke luar. Panggil Dao dan Lin Xue."
"Aku..."
"Lari!"
Qiu Bo menatapnya sebentar, lalu berbalik dan berlari. Jian Chen berlari ke arah berlawanan, melewati tiang-tiang yang mulai berderit. Ia mendengar teriakan dari ujung lorong. Tujuh orang sedang berlari ke arahnya dengan wajah panik, debu menempel di rambut mereka.
"Lewat sini!" teriaknya. "Jalur kiri! Jangan lewat tengah!"
Mereka berlari melewatinya satu per satu. Lima orang. Enam. Orang ketujuh masih jauh di belakang, terhuyung membawa keranjang yang terlalu berat.
"Lepaskan keranjangnya!" bentak Jian Chen.
"Tapi isinya..."
"Lepaskan!"
Orang itu melepaskannya. Terdengar dentuman keras dari atas, dan batu sebesar kepala manusia jatuh persis di tempat ia berdiri tadi. Murid itu menjerit, tetapi sempat melompat ke samping dan jatuh di kaki Jian Chen.
Jian Chen menariknya berdiri. Di belakang mereka, langit-langit lorong runtuh bagian demi bagian dengan suara seperti gunung yang menghela napas. Debu tebal menghalangi pandangan, dan ia hanya bisa mendengar napas orang di sampingnya dan gemuruh yang makin dekat.
"Lari ke tangga!" teriaknya.
Mereka berlari. Jian Chen terjatuh sekali, bangkit, dan berlari lagi dengan lutut berdarah. Tangga batu muncul di depan, tetapi di tengah-tengahnya sebuah balok besar sudah melintang menutup separuh jalan. Murid yang ia seret terhuyung melewati celah, lalu Jian Chen sendiri merayap menyusul.
Tepat ketika kakinya meninggalkan anak tangga terakhir, tiang tengah di belakang mereka akhirnya patah dengan bunyi seperti tulang besar patah. Seluruh lorong empat runtuh menjadi satu gumpalan debu dan batu, dan di dalam deru itu, Jian Chen mendengar suara-suara yang tidak ia kenali berteriak, lalu berhenti.
Mulut tambang berguncang. Ia terhuyung keluar ke cahaya siang dan jatuh berlutut di tanah. Di sekelilingnya, murid-murid yang selamat terbatuk, menangis, atau hanya berdiri melongo menatap kepulan debu yang keluar dari celah gelap itu.
Qiu Bo berlari ke arahnya, wajahnya hitam oleh debu. "Kau hidup! Kau idiot, kau hidup!"
"Berapa orang yang keluar?" tanya Jian Chen. Suaranya hampir tidak keluar.
"Aku... aku hitung dulu." Qiu Bo menoleh, jari-jarinya gemetar. "Tiga belas. Tiga belas termasuk kau."
Jian Chen menutup mata. Enam belas orang masuk, tiga belas keluar. Dua belas orang yang meninggal di masa lalu kini hanya tinggal tiga. Itu lebih baik, jauh lebih baik, tetapi tiga nama itu tetap nyata. Dan di antara kepulan debu, ia mendengar Dao berteriak dari kejauhan, berlari menuju mulut tambang dengan sekop di bahu.