Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Mertua yang Dulu Menghinaku, Kini Menjilat Kakiku
Lobi utama Gedung Konsorsium Vion tidak pernah sesunyi ini dalam sepuluh tahun terakhir.
Ratusan karyawan, resepsionis, tamu VIP, bahkan petugas kebersihan, semua menahan napas. Tidak ada yang berani bergerak. Tidak ada yang berani bersuara. Semua mata tertuju pada satu pemandangan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Di tengah lantai marmer putih yang mengilap seperti cermin, Rian Mahardika berlutut.
Jas putihnya yang kemarin gagah di altar Hotel Grand Mulia kini kusut dan kotor oleh debu lantai. Buket mawar merah layu yang ia bawa untuk merayu Alesha berserakan di sekeliling kakinya, kelopaknya menghitam terinjak sepatu hak tinggi Alesha.
Wajah Rian pucat pasi. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Matanya sembab, bukan karena menangis untuk Alesha, tapi karena panik melihat Akta Pernikahan yang tergeletak di depannya.
Akta Pernikahan Vion Adhyaksa & Alesha Zahra - 15 September 2026.
Fotonya jelas. Alesha dalam balutan jas putih sederhana, tersenyum tipis di samping Vion yang dingin dan berwibawa. Stempel emas resmi negara di bawahnya membuktikan ini bukan main-main. Ini sah.
"Les... Alesha... ampun... jangan hancurkan aku... aku mohon..." Rian mengangkat kedua tangannya, mencoba meraih ujung sepatu Alesha yang lancip. Suaranya serak, putus asa, seperti pengemis di pinggir jalan. Tidak ada lagi angkuhnya seorang CEO startup yang kemarin berteriak, "Kau hanya wanita biasa!" di depan mikrofon.
Clarissa Mahardika yang berdiri di belakangnya merah padam menahan malu dan amarah. Ia tidak menyangka Rian, calon suami yang ia banggakan di depan teman-teman sosialitanya, akan berlutut seperti anjing di hadapan wanita yang dulu ia sebut perempuan jalanan.
"Rian! Bangun! Apa yang kau lakukan?! Kau mempermalukan keluarga Mahardika! Kau mempermalukan Papaku!" jerit Clarissa histeris, menarik lengan jas Rian kasar hingga jahitannya hampir robek. "Dia hanya pelakor! Dia hanya wanita simpanan Tuan Vion! Bangun dan lawan dia!"
Sebelum Clarissa sempat menarik Rian berdiri, sebuah suara berat dan dingin menghentikan semua gerakan di lobi.
"Pelakor?"
Vion akhirnya bersuara. Nadanya tidak tinggi, bahkan pelan. Tapi setiap katanya menusuk seperti es ke tulang sumsum.
Vion melangkah satu langkah ke depan, masih dengan rangkulan posesif di pinggang Alesha. Tatapannya setajam silet kini lurus ke Clarissa.
"Wanita simpanan?" ulang Vion, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis paling mengerikan yang pernah dilihat karyawan gedung itu. "Nona Clarissa Mahardika, anak tunggal Presdir Grup Mahardika yang bahkan tidak mampu bayar utang perusahaannya sendiri dua triliun tanpa suntikan dana dari konsorsiumku... berani menyebut istri sahku sebagai pelakor dan simpanan di dalam gedungku sendiri?"
Kata "istri sahku" dan "gedungku sendiri" menghantam Clarissa seperti dua truk melaju kencang.
Wajah Clarissa yang tadi merah karena amarah kini pucat seperti kertas. Kakinya yang pakai hak 12 cm gemetar hebat.
"Tuan... Tuan Vion... saya... saya tidak bermaksud..." Clarissa terbata, mundur selangkah, hampir jatuh karena lututnya lemas.
Alesha menyaksikan itu hanya dengan senyum tipis, senyum dingin yang tidak sampai ke mata. Ia menatap Rian yang masih berlutut, lalu beralih ke Clarissa yang gemetar ketakutan.
Perlahan, Alesha lepas dari rangkulan Vion. Ia maju satu langkah, mencondongkan tubuh hingga wajahnya hanya beberapa senti dari Rian yang mendongak memohon.
"Rian," bisik Alesha. Suaranya pelan, hanya Rian, Clarissa, dan Vion yang dengar, tapi jauh lebih mematikan daripada teriakan.
"Kau ingat kemarin? Di Hotel Grand Mulia? Kau suruh petugas keamanan mengusirku seperti pengemis. Kau bilang aku hanya masa lalu yang tidak berguna. Kau bilang dunia kita sudah berbeda."
Rian menelan ludah susah payah. Air mata mengalir di pipinya, bukan penyesalan, melainkan ketakutan pekat.
"Les... aku salah... aku khilaf... aku... hanya tertekan karena keluarga Mahardika mendesak perusahaanku... Clarissa... Clarissa yang paksa aku..."
"Jangan bawa nama Clarissa untuk bela dirimu, Rian," potong Alesha dingin. "Keputusan naik ke panggung sama Clarissa dan buang aku adalah keputusanmu sendiri. Dengan mulutmu sendiri. Di depan mikrofon yang kau pegang sendiri."
Alesha menegakkan tubuh. Ia mengambil Black Card yang tadi ia perlihatkan. Kartu hitam tanpa batas dengan nama Alesha Zahra terukir emas di atasnya.
"Kemarin kau bilang aku wanita biasa yang tidak punya apa-apa," lanjut Alesha, kini suaranya meninggi penuh wibawa hingga seluruh lobi dengar. "Hari ini, dengan kartu ini, aku beli lunas perusahaanmu. Vantec. Beserta seluruh paten kode yang kau curi dariku, dan para karyawan penjilat yang dulu menertawakanku."
Alesha menjentikkan Black Card itu ke wajah Rian. Kartu itu jatuh tepat di pangkuan Rian yang masih berlutut.
"Dan utang-utangmu 47 miliar yang dibekukan bank pagi ini..."
Alesha melirik Vion sekilas, dan pria itu memberi isyarat kecil ke sekretaris pribadinya.
Sang sekretaris maju dengan tablet, menampilkan proyeksi besar di dinding lobi.
Di layar terpampang berita breaking news dari bursa:
BREAKING NEWS: Vantec Digital Solutions Resmi Diakuisisi 100% oleh Konsorsium Vion. Rian Mahardika Didepak dari Jabatan CEO. Seluruh Akses Keuangan Dibekukan Akibat Dugaan Penggelapan Dana Paten.
Rian menatap layar itu. Matanya membelalak hampir keluar. Tubuhnya bergetar seperti orang kena serangan jantung.
"Tidak... tidak... ini tidak mungkin... Vantec... perusahaanku... tidak..." gumamnya seperti orang hilang akal.
Melihat berita di layar raksasa, Clarissa langsung menjerit histeris.
"APA?! Perusahaanmu diakuisisi?! Jadi kau sekarang miskin?! Kau tidak punya apa-apa lagi?!"
Clarissa mundur beberapa langkah, menatap Rian dengan jijik luar biasa, seolah pria di depannya adalah sampah yang baru ia injak.
"Aku tidak mau nikah sama pengangguran! Aku tidak mau nikah sama pria bangkrut! Papa! Papa harus lihat ini!" teriak Clarissa sambil mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar, mencoba hubungi ayahnya.
Alesha menikmati pemandangan itu dengan kepuasan dingin. Ini tujuannya. Bukan cuma hancurkan Rian, tapi robek topeng cinta palsu Clarissa sampai tak bersisa.
Tepat detik itu, pintu kaca utama lobi kembali terbuka kasar.
Seorang wanita paruh baya berbalut blazer merah marun dan menenteng tas Hermes melangkah masuk tergesa. Wajahnya penuh riasan tebal, panik sekaligus marah.
Nyonya Listia. Ibu kandung Rian.
Wanita yang kemarin di ballroom menatap Alesha dengan senyum sinis penuh penghinaan.
Nyonya Listia berlari kecil menghampiri Rian yang masih di lantai.
"Rian! Anakku! Apa yang kau lakukan di lantai?! Bangun! Bangun, Nak! Kamu itu calon menantu keluarga Mahardika! Jangan berlutut di depan perempuan tidak tahu diri ini!" teriak Nyonya Listia sambil berusaha menarik lengan Rian kasar.
Tapi Rian sudah kehilangan tenaga. Ia hanya terduduk lemas di marmer dingin.
Nyonya Listia lalu berbalik, menatap Alesha dengan kebencian yang sama seperti di ballroom kemarin.
"Alesha! Perempuan sialan! Apa yang sudah kau lakukan pada anakku?! Ilmu hitam apa yang kau pakai sampai Tuan Vion mau nikahi kamu?! Kau pikir dengan status Nyonya Vion kau bisa seenaknya hancurkan masa depan anakku?!"
Nyonya Listia maju selangkah, mengangkat tangan tinggi-tinggi berniat menampar wajah Alesha di depan publik. Tangan berkuku palsu panjang itu melayang di udara, mengarah tepat ke pipi Alesha.
Para karyawan spontan tahan napas. Tidak ada yang berani mencegah karena mereka tahu ia ibu mantan CEO mereka.
Tapi tangan itu tidak pernah mendarat.
Sebelum menyentuh kulit Alesha satu senti pun, sebuah tangan kekar yang jauh lebih besar dan kuat mencengkeram pergelangan wanita paruh baya itu dengan cengkeraman besi dari samping.
Bukan pengawal.
Melainkan Vion sendiri.
Wajah Vion yang semula tenang kini berubah jadi topeng es paling mematikan. Sorot matanya menatap Nyonya Listia seperti tatapan malaikat maut.
"Berani menyentuh istriku satu inci saja dengan tangan kotor kalian," suara Vion menggema berat di seluruh penjuru lobi, mengulang kalimat yang sama seperti di ballroom Hotel Grand Mulia, tapi kali ini sepuluh kali lebih dingin dan mengerikan.
"Maka aku pastikan seluruh keluarga kalian, termasuk Grup Mahardika yang hampir bangkrut itu, akan lenyap dari muka bumi sebelum matahari terbenam besok."
Cengkeraman Vion begitu kuat hingga Nyonya Listia memekik kesakitan, tas Hermes mahalnya terlepas dan jatuh ke lantai.
"Argh! Sakit! Lepaskan! Lepaskan tanganku!"
Alesha menatap Nyonya Listia yang menjerit dalam cengkeraman Vion. Wanita yang dulu selalu menghinanya sebagai wanita miskin tidak selevel saat ia datang ke rumah Rian bawakan kue buatan sendiri.
Perlahan, Alesha melangkah mendekat. Menatap Nyonya Listia dari atas, memancarkan aura ratu yang sedang menilai pengemis.
"Nyonya Listia," sapa Alesha dengan nada sangat pelan dan manis, namun beracun. "Kemarin di ballroom, Ibu menatap saya dengan senyum sinis, seolah kehadiran saya adalah aib, bukan?"
Nyonya Listia membalas dengan mata berkaca menahan nyeri.
Alesha tersenyum manis.
"Sekarang... berlututlah."
Satu kata. Berlututlah.
Seluruh lobi hening total. Bahkan dengung AC pun seolah lenyap.
Nyonya Listia membelalak. "Apa?! Kau suruh aku berlutut?! Kau sudah gila?! Aku lebih tua darimu! Aku—"
"Berlutut," ulang Alesha, kali ini suaranya meninggi, memancarkan otoritas mutlak Nyonya Vion yang tidak terbantahkan. "Atau aku pastikan anak kesayangan Ibu ini tidak hanya kehilangan perusahaannya, tapi juga mendekam di penjara dua puluh tahun atas kasus penggelapan dana paten yang akan aku laporkan ke polisi siang ini juga."
Mendengar kata penjara, Rian langsung menengadah menatap ibunya dengan mata penuh permohonan.
"Ibu... Ibu... berlututlah... kumohon... aku tidak mau dipenjara... Ibu... berlututlah untukku..."
Nyonya Listia menatap putranya yang bersimpuh, lalu beralih memandang Alesha yang berdiri angkuh memegang Black Card, serta Vion yang masih mencengkeram pergelangannya dengan tatapan menghunus.
Air mata penyesalan dan pedih mulai menetes membasahi pipi Nyonya Listia yang penuh riasan tebal.
Dengan lutut gemetar hebat menanggung malu teramat sangat, perlahan...
Nyonya Listia, wanita yang kemarin melempar penghinaan keji kepada Alesha di atas panggung, benar-benar berlutut.
Bersimpuh di hadapan kaki Alesha.
Di tengah lobi Gedung Konsorsium Vion.
Disaksikan ratusan karyawan yang merekam momen itu pakai ponsel mereka.
"Maafkan... maafkan kami, Nyonya Vion..." bisik Nyonya Listia terisak, dengan kepala tertunduk dalam-dalam menyentuh lantai marmer dingin.
Alesha menatap dua sosok yang kini berlutut di hadapannya. Mantan pengantin pria yang mengkhianatinya, dan mantan calon mertua yang merendahkannya.
Ia kemudian menoleh ke Vion, yang berdiri di sisinya dengan senyum penuh kemenangan.
"Bagaimana, Tuan Vion? Apakah ini sudah cukup untuk membuat mereka sadar siapa yang telah mereka buang kemarin?"
Vion tertawa rendah, memancarkan kepuasan mendalam. Ia melepas cengkeramannya dari pergelangan Nyonya Listia hingga wanita itu tersungkur lemas.
"Belum, Ratuku," bisik Vion tepat di telinga Alesha sambil merangkul pinggangnya dan membimbingnya berbalik menuju lift, meninggalkan Rian dan Nyonya Listia yang masih bersimpuh di lantai dalam kehinaan paling telak.
"Ini baru permulaan. Karena tamu utama kita yang sesungguhnya... baru saja tiba."
Pintu kaca utama lobi kembali bergeser terbuka.
Kali ini, sosok yang melangkah masuk adalah pria paruh baya berjas mewah yang dikawal puluhan pengawal di belakangnya.
Presdir Mahardika. Ayah Clarissa. Pemilik sah Grup Mahardika.
Dan wajah pria itu merah padam menahan amarah yang siap meledak ke arah Alesha.