[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
"Apa otakmu sudah benar-benar gila sampai yakin akan mengajak makhluk itu ikut berjalan bersama kita?"
Ethan berbisik dengan volume suara yang teramat pelan. Suaranya nyaris sepenuhnya tenggelam oleh deru angin malam yang menyapu ladang jagung. Sepasang mata merah pekatnya sesekali bergerak melirik penuh rasa curiga dan waspada ke arah Damian.
Sementara itu, pria berambut cokelat gelap tersebut tetap berjalan konstan beberapa langkah di belakang posisi mereka. Postur tubuh Damian tegak lurus dengan rona wajah datar tanpa emosi, layaknya seorang pengawal pribadi yang setia.
Alan memberikan anggukan kepala mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. "Tentu saja aku sangat yakin, Ethan. Pria itu saat ini sedang berada dalam kondisi membutuhkan bantuan kita secara mutlak. Dia sama sekali tidak mengenali seluk-beluk geografis tempat ini dan tidak tahu arah jalur jalan pulang menuju rumahnya."
Alan menepuk bahu Ethan pelan. "Karena alasan krusial itulah, aku meminta bantuanmu untuk membawanya ikut serta menuju ke Kota Vespera besok pagi. Tugasmu sebenarnya tidak sulit. Kamu hanya perlu mengantarkan dirinya dengan selamat sampai ke dalam gerbang kastil milik keluarganya."
Langkah kaki Ethan mendadak terasa seberat timah, terhenti seketika di atas tanah gembur. Sepasang manik mata calon Alpha itu membelalak lebar. Mulutnya bahkan sempat ternganga saking terkejutnya mendengar instruksi gila dari sahabatnya.
"Apa kamu saat ini sedang mencoba melempar lelucon konyol padaku, Alan?! Pria yang berjalan di belakang kita itu adalah Damian! Sang Raja Demon superior yang namanya terkenal teramat kejam dan keji di seluruh peradaban benua ini!" protes Ethan berbisik dengan nada menuntut.
"Kenapa makhluk sepertinya tidak menggunakan kekuatan sihir teleportasinya saja untuk pulang dalam hitungan detik? Tidak mungkin seorang penguasa abadi bisa mengalami amnesia konyol sampai lupa cara mengaktifkan energi magisnya sendiri, kan?!"
Ethan terus-menerus menuntut penjelasan yang mendesak. Sementara itu, Damian hanya memilih untuk tetap berjalan diam membisu di posisi belakang mereka.
Meskipun indra pendengarannya yang sensitif sanggup menangkap vokal suara bisikan dari dua orang di depannya, ia sama sekali tidak mengerti konteks atau substansi dari apa yang sedang mereka perdebatkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, rasa penasaran yang besar bercampur rasa jengkel yang samar mulai merayap di dalam lubuk hati Damian. Ia merasa tidak nyaman karena terus-menerus dijadikan objek bahan pembicaraan negatif oleh pria berambut biru itu.
"Seperti yang sudah aku jelaskan kepadamu berulang kali di dalam ladang jagung tadi, struktur jiwanya memang sedang mengalami gejala kehilangan sebagian memori ingatannya secara misterius," jelas Alan dengan tingkat kesabaran yang penuh.
"Saat ini, kondisi mental di dalam jiwanya merasa dirinya masih merupakan seorang anak kecil yang baru menginjak usia sepuluh tahun. Itulah landasan alasan utama kenapa dia wajib hukumnya ikut pergi bersamamu besok pagi."
Ethan menghentikan pergerakan langkah jalannya secara total. Ia memutar tubuhnya ke belakang, menatap lurus tepat ke arah wajah Damian dengan pancaran pandangan mata yang sarat akan rasa tidak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Seriously? Bagaimana jika skenario aslinya makhluk kejam ini hanya sedang berpura-pura linglung? Siapa tahu dia hanya mencari celah aman untuk membunuhmu kembali saat pertahanan tubuhmu sedang lengang nanti?" tuduh Ethan tajam.
Kalimat tuduhan yang dilontarkan Ethan seketika bertindak sebagai pemantik emosi. Damian Dexter, yang sejak awal perjalanan sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri dari segala intimidasi verbal, kini mengambil langkah maju yang lebar membelah jarak.
Wajah tampan nan rupawannya tampak menegang kaku. Sepasang manik mata hitam pekatnya kini tampak berbayang samar—bukan karena dipicu oleh haus darah instan ras Demon, melainkan lebih karena menahan bendungan air mata yang mendesak kuat untuk keluar. Jiwa seorang bocah kecil berusia sepuluh tahun yang terperangkap secara mistis di dalam wujud tubuh pria perkasa itu merasa teramat tersakiti oleh tuduhan kejam Ethan.
"Perilaku Anda... Anda benar-benar sudah terasa teramat sangat keterlaluan, Tuan!" teriak Damian dengan nada suara serak yang bergetar hebat karena emosi. Ia merangsek maju secara agresif.
Damian menjulurkan kedua tangannya ke depan, lalu mencengkeram kuat permukaan kerah jaket kulit hitam yang baru saja dikenakan oleh Ethan.
"Aku sendiri bersumpah memang sama sekali tidak mengingat alasan kenapa kondisi wujud ragaku bisa berakhir menjadi aneh seperti ini! Tepat pada saat aku pertama kali terbangun dari tidur secara abnormal, wujud tubuhku sudah berukuran sebesar ini! Aku juga tidak pernah meminta atau mau mengalami takdir gila ini semua! Apa sebenarnya letak kesalahan atau dosaku padamu di masa lalu sampai kamu tega terus-menerus menuduhku sebagai makhluk berniat jahat?!" pekik Damian.
Bibir Damian bergetar hebat menahan gejolak emosinya. Ia mati-matian menggigit bibir bawahnya demi menahan agar butiran air mata tidak jatuh membasahi pipinya yang kotor oleh debu ladang. Namun, Ethan yang terlanjur dilingkupi emosi negatif tidak ambil pusing pada air mata tersebut. Ia membalas tindakan fisik itu secara instan dengan mencengkeram balik kerah jubah beludru mewah milik Damian.
Sreeet!
Sentakan tangan Ethan yang teramat kuat dan bertenaga besar seketika membuat material jubah kain dan kemeja mewah Damian robek besar. Pakaian yang memang kondisinya sudah usang akibat terendam air sungai tiga hari lalu itu terlepas sepenuhnya dari atas tubuh sang raja.
Tubuh Damian sempat terhuyung beberapa langkah ke arah belakang akibat dorongan fisik tersebut. Kejadian itu membuat area bidang dadanya yang kekar terekspos bebas ke udara malam yang dingin menusuk. Ethan hanya menampilkan seulas senyuman miring yang menyebalkan di bibirnya, merasa telah memenangkan pertarungan ego.
Kehilangan seluruh batas kesabaran mentalnya, Damian mengepalkan kedua belah tinju tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Pria itu mengambil posisi bersiap melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Ethan. Di posisi seberangnya, Ethan pun dengan sigap langsung memasang posisi kuda-kuda bertarung yang kokoh, siap membalas serangan fisik apa pun.
"SUDAH, HENTIKAN AKSI KONYOL KALIAN SEKARANG JUGA!"
Sebuah teriakan lantang bernada menggelegar dari Alan mendadak memotong atmosfer ketegangan seketika. Gelombang aura dominan yang meluap dari vokal suaranya membuat Damian dan Ethan tersentak hebat. Keduanya secara refleks langsung membeku mati di posisi masing-masing seolah terkunci oleh sihir.
"Apa isi kepala kalian berdua saat ini memang berniat untuk terus bertengkar fisik di tempat ini sampai pagi tiba dan menghancurkan ladang pertanian jagung milik warga lokal, hah?! Cukup! Hentikan semuanya!" bentak Alan penuh penekanan yang dingin.
Meskipun sisa pasokan napas di dalam rongga dada Ethan dan Damian masih memburu naik-turun dengan ritme kacau, keduanya perlahan-lahan menurunkan kepalan tangan mereka. Sepasang mata mereka masih saling menghunuskan pandangan tajam penuh permusuhan.
Alan mengangkat tangannya, memijat lembut pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening dan berdenyut hebat akibat ulah kekanak-kanakan dua pria di hadapannya.
Dengan perasaan enggan dan pasrah, ia kembali membuka kompartemen tas punggung kulitnya untuk yang kesekian kali. Ia merogoh ke bagian dasar tas, lalu mengeluarkan sepotong pakaian terakhir yang tersisa di sana.
Sebuah kemeja tunik longgar berbahan kain katun lembut berwarna merah muda (pink) cerah. Itu adalah pakaian ganti cadangan terakhir miliknya yang sebenarnya merupakan barang pemberian hadiah langsung dari istrinya di dimensi Alfheim.
"Hanya sepotong pakaian ini saja yang tersisa di dalam tasku saat ini. Cepat ambil dan pakailah pakaian ini untuk menutupi dadamu," ujar Alan sembari menyodorkan pakaian katun pink tersebut ke depan wajah Damian.
Damian menerima uluran kain katun bertekstur lembut tersebut dengan dahi yang berkerut sangat dalam. Ia membolak-balikkan pakaian itu di tangannya dengan raut kebingungan yang amat sangat.
"Apakah... apakah memang sudah sama sekali tidak ada opsi baju cadangan lain yang berwarna normal, Tuan?"