NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Pria berjubah hitam di dalam cengkeramannya meronta hebat. Ia berusaha melepaskan tangan Ye Chan dari lehernya, tetapi cengkeraman itu terkunci mati layaknya ragum besi.

“Lepaskan!” jerit pria itu, suaranya teredam oleh gemuruh air.

Ye Chan tidak membalas. Ia mengunci pandangannya pada wajah musuhnya yang mulai membiru kekurangan oksigen.

Darah segar merembes dari sudut bibirnya, membaur cepat dengan air sungai yang keruh. Benturan di tebing tadi membuat tulang rusuknya terasa retak, menghantam paru-parunya setiap kali ia mencoba mengambil napas. Bahu kirinya mati rasa, sisa dari tebasan pedang musuh.

Setiap gerakan terasa seperti menyiksa tubuh sendiri. Ia baru saja mendobrak paksa gerbang Pembentukan Inti Awal, dan fondasinya kini masih dalam kondisi yang sangat rapuh. Namun, ia tidak akan membiarkan pria ini lepas.

Bukan karena dendam, melainkan karena sesuatu yang lain.

Sesuatu berada tepat di bawah mereka.

Dua titik cahaya keemasan berpendar di kedalaman yang pekat. Semakin besar. Semakin mendekat dengan kecepatan yang tidak wajar.

Ye Chan akhirnya bisa melihat bentuk makhluk itu dengan jelas. Sisik hitam yang berkilau di balik kegelapan air, disusul oleh kepala raksasa menyerupai ular naga. Dua tanduk pendek mencuat dari sisi kepalanya, melengkung tajam ke belakang.

Tubuhnya begitu masif hingga dasar sungai terasa hilang ditelan badannya. Hewan Buas Bertanduk Hitam. Tingkat kultivasinya setara dengan Pembentukan Inti Atas.

Tiga tahap di atas Ye Chan.

Mustahil untuk menang. Terutama di dalam air, dengan tubuh yang sudah babak belur seperti ini.

Pria berjubah hitam juga menyadari kehadiran makhluk itu. Bola matanya melebar, napasnya tersengal di balik air yang menghimpit.

“Itu...” gumamnya, suara yang hampir hilang.

Makhluk tersebut membuka rahangnya lebar-lebar.

Arus air di sekeliling mereka mendadak berputar gila-gilaan, membentuk pusaran isap yang mengerikan. Tubuh Ye Chan terseret ke depan, tertarik paksa menuju mulut sang monster.

Pria berjubah hitam menjerit ketakutan. “Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!”

Ye Chan justru menarik kerah pria itu lebih kuat, menyeretnya mendekat ke wajahnya.

“Ingin hidup?” tanya Ye Chan dingin.

Pria itu menatapnya dengan raut tidak percaya. “Apa maksudmu?”

“Kalau ingin selamat, ikuti arahanku.”

“Aku tidak percaya padamu!”

“Kalau begitu, mati saja di sini.”

Ye Chan melepaskan cengkeramannya seketika. Pria berjubah hitam itu langsung terseret arus yang mulai mengamuk. Matanya melebar saat melihat Ye Chan berbalik arah.

Ye Chan menendang dasar sungai dengan sisa tenaga terakhirnya. Tubuhnya melesat seperti anak panah ke arah celah di tebing.

Pria itu mencoba berenang mengejarnya, tangan menggapai-gapai ke udara kosong. Namun terlambat.

Rahang makhluk raksasa itu mengatup dengan dentum teredam. Air berputar hebat saat pria berjubah hitam tersedot ke dalamnya. Jeritannya terputus sebelum sempat mencapai permukaan.

Ye Chan mencapai celah batu itu. Tangannya mencengkeram tepi tebing yang berlumut licin.

Tubuhnya terbanting keras saat ia menarik diri masuk. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan kasar.

BOOM!

Sungai di belakangnya bergetar hebat. Celah batu itu berguncang, menjatuhkan butiran debu dan kerikil ke kepala Ye Chan. Ia menahan napas, mematung di balik kegelapan lorong sempit tersebut.

Bayangan hitam melintas di depan mulut gua. Begitu besar hingga seluruh cahaya dari permukaan sungai tertutup total.

Ye Chan diam. Ia menunggu.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Begitu bayangan raksasa itu menjauh dan suasana kembali tenang, ia menarik tubuhnya masuk lebih dalam menuju perut tebing.

“Pembentukan Inti Atas,” gumamnya lirih sambil menyeka darah dari wajah. “Dan aku baru saja susah payah mencapai Pembentukan Inti Awal.”

Ia tertawa kecil, sebuah tawa kering yang sarat akan rasa sakit.

Itu bukan tawa kegembiraan. Itu adalah tawa seseorang yang baru saja menyadari betapa buruk nasib yang sedang menimpanya hari ini.

“Master!”

Suara Yuen Fang terdengar memecah keheningan dari dalam lorong. Ye Chan segera bangkit dan melangkah masuk lebih jauh.

Lorong batu yang lembap itu ternyata tembus ke sisi tebing lainnya, berakhir di sebuah ruang gua kecil yang tersembunyi. Zhan Ya berdiri di sana, pedangnya masih terhunus erat di tangan. Begitu melihat Ye Chan muncul dari balik bayang-bayang, raut wajahnya langsung berubah drastis.

“Kau terluka parah,” ujar Zhan Ya, napasnya tercekat melihat kondisi Ye Chan.

“Hanya sedikit luka gores.”

“Sedikit katamu?”

Zhan Ya melangkah cepat, tangannya terulur menyentuh bahu Ye Chan yang terkulai lemas.

Ye Chan meringis tertahan. Rasa nyeri menusuk tajam saat kain pakaiannya yang basah bergesekan dengan luka. Zhan Ya langsung menarik tangannya dengan cemas.

“Rusukmu? Apakah patah?”

“Sepertinya hanya retak,” jawab Ye Chan pelan.

“Duduklah.”

“Zhan Ya, aku masih—”

“Duduk sekarang!” perintahnya dengan nada tidak menerima bantahan.

Ye Chan menurut. Ia menjatuhkan diri di atas permukaan batu yang datar. Yuen Fang memperhatikan mereka dari samping dengan tatapan penuh selidik. Ada senyum kecil yang terlukis di wajah gadis muda itu.

Ye Chan melirik tajam. “Kau tersenyum?”

“Tidak,” jawab Yuen Fang cepat.

“Aku jelas melihat bibirmu tertarik,” desak Ye Chan.

Yuen Fang segera memalingkan wajah, menatap dinding gua yang dingin.

“Master hanya terlihat lebih galak kalau sedang khawatir pada seseorang.”

Zhan Ya melirik muridnya dengan tatapan tajam.

“Yuen Fang.”

“Ya, Master?”

“Diam.”

“Baiklah.”

Ye Chan menahan tawa, meski setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Zhan Ya mengambil beberapa botol ramuan kecil dari dalam kantong penyimpanannya.

“Minum ini,” perintah Zhan Ya sambil menyodorkan botol itu.

Ye Chan menatap ramuan kental di dalam botol tersebut. “Obat pemulih tulang?”

“Tepat sekali.”

“Kau selalu membawanya di kantong penyimpanan?”

Zhan Ya menatapnya dalam, kilatan emosi samar terpancar di matanya. “Aku membawa banyak hal di sini. Untuk berjaga-jaga.”

“Termasuk membawa masalah?” sindir Ye Chan pelan.

Zhan Ya terdiam sejenak. “Masalah utamaku sekarang sedang duduk di depanku, bertanya dengan bodoh.”

Ye Chan terdiam. Suasana mendadak canggung, hanya menyisakan suara tetesan air dari langit-langit gua. Yuen Fang menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan kain perbannya.

Ye Chan akhirnya meneguk ramuan tersebut. Cairan hangat mengalir turun, menyebar dari tenggorokan menuju dada, meredam denyut nyeri di tulang rusuknya.

Zhan Ya duduk di depannya, menopang dagu dengan tangan.

“Sekarang, katakan padaku.”

Ye Chan menghela napas panjang, menatap wanita di depannya dengan keseriusan penuh.

“Orang tadi, mereka berasal dari sekte mana?”

Zhan Ya menggeleng pelan. “Aku tidak mengenali teknik mereka. Mungkin orang luar.”

“Kalau begitu mereka pengincar bayaran yang tahu kau bersamaku.”

Ye Chan menunduk. Jarinya mengetuk lututnya berirama.

“Ini bukan kebetulan,” ucap Ye Chan. “Berapa lama mereka menguntitmu?”

“Entahlah, aku baru menyadarinya saat mereka menyerang.”

“Apakah mereka menyebut namaku?”

Zhan Ya terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Ya. Mereka mengatakan aku menyembunyikan Ye Chan.”

Ruangan mendadak senyap. Yuen Fang ikut terdiam, tidak berani menyela. Ye Chan mengusap dagunya dengan cemas.

“Jadi identitasku sudah mulai tersebar,” gumamnya.

“Sepertinya begitu.”

“Shi Zhong?”

“Belum tentu.” Zhan Ya memandang Ye Chan tajam. “Kenapa kau berpikir begitu?”

“Jika Shi Zhong benar-benar ingin aku mati, dia tidak akan membuang waktu mengirim orang luar untuk mencarimu. Dia akan turun tangan sendiri.”

Ye Chan mengingat kembali pria berjubah hitam itu. Tingkat Pembentukan Inti Menengah. Itu bukan level bawahan yang bisa direkrut sembarangan.

“Dan mereka tidak berusaha membunuhmu,” sambung Ye Chan. “Mereka ingin membawamu hidup-hidup.”

“Benar.”

Ye Chan menatap lantai batu yang kasar. “Berarti mereka menginginkan sesuatu darimu. Atau sesuatu yang berhubungan denganku.”

Tatapan Zhan Ya berubah gelisah. “Tentang giok itu?”

Ye Chan langsung menatapnya tajam.

Zhan Ya menyadari kecerobohannya, ia segera membuang muka dan terdiam.

Ye Chan tidak menjawab. Giok Kehampaan itu berada di dalam jiwanya, sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun. Setidaknya, seharusnya begitu.

Zhan Ya merendahkan suaranya, hampir berbisik. “Aku tidak tahu pasti apa yang mereka cari.”

Ye Chan menatapnya cukup lama, mencoba mencari kebohongan di matanya. “Aku percaya padamu.”

Zhan Ya menghela napas lega, bahunya merosot sedikit lebih rileks. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, sebuah suara aneh terdengar.

Krek.

Ye Chan menoleh dengan gerakan cepat. Dari luar lorong, air menetes masuk, tapi suara itu bukan berasal dari tetesan air. Suara itu berasal dari dinding batu.

Retakan tipis muncul di permukaannya, merambat layaknya jaring laba-laba.

Yuen Fang berdiri dari duduknya. “Master?”

Ye Chan mengangkat satu tangan. “Jangan bergerak.”

Retakan itu kian melebar. Debu berjatuhan menutupi lantai gua. Kemudian, sebuah suara berat terdengar dari balik dinding yang mulai rapuh.

“Ketemu.”

Ye Chan berdiri tegak, rasa sakit di rusuknya ia abaikan sepenuhnya. Zhan Ya langsung menghunus pedangnya, sikap tubuhnya siap menerjang. Yuen Fang mundur ke sudut ruangan.

DUAR!

Dinding batu itu meledak berkeping-keping. Tiga sosok asing menerobos masuk melalui celah yang terbuka. Dua orang berada di tingkat Pembentukan Inti Awal, sementara satu lainnya di tingkat Pengumpulan Qi Atas.

Ye Chan menatap mereka satu per satu. Lalu, ia melirik ke arah lorong sempit di belakangnya. Tidak ada jalan keluar.

Salah satu kultivator yang berdiri paling depan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Serahkan Ye Chan.”

Ye Chan tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. “Kalau aku tidak mau?”

Pria itu mengangkat pedangnya lebih tinggi, bilahnya bergetar dengan aura pembunuh. “Kalau begitu—”

Sebuah suara gemuruh aneh terdengar dari luar gua. Semua orang berhenti bergerak. Air sungai di luar gua tiba-tiba naik dengan kecepatan yang tidak wajar.

Zhan Ya menoleh ke arah sumber suara. “Air itu...”

Ye Chan merasakan tekanan yang jauh lebih buruk. Tekanan dari dasar sungai tadi telah kembali, dan kali ini terasa jauh lebih dekat. Jauh lebih kuat.

Seluruh tebing di atas mereka mulai bergetar hebat.

Ye Chan menatap ketiga kultivator di hadapannya dengan tatapan mengejek, lalu beralih ke arah sungai yang mulai meluap masuk.

“Sepertinya kalian salah memilih tempat untuk bertarung hari ini.”

Dua titik cahaya keemasan muncul dari balik kegelapan lorong, menatap tajam ke arah mereka semua. Makhluk dari dasar sungai itu telah menemukan mereka.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!