Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kekhawatiran Seorang Kakak Perempuan
Disaat Yuda mengendarai Rolls-Royce Cullinan Black Badge II menuju kerumah Risa.
Di sisi lain tempat.
Pagi itu, area taman Universitas Prasmul tampak ramai oleh lalu lalang mahasiswa.
Angin sepoi-sepoi menembus rimbunnya dedaunan, menciptakan ketenangan tersendiri di bawah pohon tempat Nabila duduk di kursi dengan kaki putih panjang bersilang.
Nabila tampil begitu manis dan mencuri perhatian.
Gaun shirt dress krem sebatas lutut membungkus tubuhnya yang proporsional.
Meski model gaunnya terkesan simpel dan sopan, potongannya yang pas di badan mencetak jelas siluet dadanya yang terbilang penuh.
Sementara kacamata hitam berbingkai tipis bertengger di hidungnya.
Ia terlihat seperti gadis muda polos pemalu seperti gambaran gadis berkacamata di anime.
Tapi dia sebenarnya orang yang aktif dan punya banyak teman.
Ditambah ia juga mahasiswi yang berprestasi di sekolahnya dulu, bahkan di Prasmul pun masuk 10 besar.
Di tangannya, segelas es susu dingin sesekali ia seruput menikmati pagi.
Ketenangan Nabila mendadak hilang saat dua sahabatnya, Lina dan Lila, datang dengan langkah tergesa-gesa.
Kedua gadis itu memancarkan aura khas mahasiswi bebas, santai, namun sangat berprinsip.
Lina dan Lila sama-sama mengenakan atasan oversize dan kulot yang memberikan kesan santai namun tetap stylish.
Atasan yang longgar ini menutupi bentuk tubuh mereka dengan elegan, sementara kulot yang lebar memberikan kenyamanan dan kebebasan bergerak.
Meskipun ukuran dada mereka tidak sejelas milik Nabila, penampilan mereka tetap memikat dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi.
Tanpa permisi, Lina langsung mengambil posisi di sisi kanan Nabila, sementara Lila menyambar sisi kirinya.
Tubuh Nabila seketika terhimpit rapat di tengah-tengah mereka.
"Bil! Kamu jujur sama kita dulu. Soal obrolan semalam itu beneran, kan? Kamu serius tentang sewa kamar di NavaPark?"
Lina memajukan wajahnya, menatap Nabila penuh tuntutan.
Nabila sedikit menggeser kacamata hitamnya ke bawah hidung, menatap Lina dengan bingung. "Iya. ada apa?"
Lila yang duduk di sebelah kiri matanya menatap Nabila sedikit melebar. "Kau tanya ada apa? Bil. NavaPark itu tempat orang-orang kaya. Masa ada kamar yang disewain? Dan itu cuma 5 juta? Tidak masuk akal."
Nabila menaikkan kembali kacamatanya dengan telunjuk, lalu menyesap es susunya dengan santai.
"Ada kok. Yang nawarin juga memang bilang segitu."
Lina dan Lila saling pandang.
Raut wajah keduanya jelas menunjukkan mereka masih belum percaya.
"Terus siapa yang nawarin?" tanya Lina.
"Kak Yuda... Mas-mas ojek yang kemarin nganterin aku."
Kata 'ojek' meluncur santai dari bibir Nabila, dan seketika itu pula Lina dan Lila tertegun.
"Mas-mas ojek?!" Lina menatap Nabila tidak percaya. "Bil, kamu serius?"
"Iya. Kenapa sih?"
Lila menggeleng-gelengkan kepala. "Nah, justru itu yang bikin kita curiga. Jangan-jangan dia calo atau bagian dari kelompok yang memang nyari mangsa di sekitar sana."
Keduanya berpikir kalau tukang ojek yang nawarin kos ke Nabila ini penipu ulung.
Tapi mereka tidak tahu, kawasan NavaPark itu ketat keamanannya, jadi tidak mungkin ada yang namanya komplotan penipu.
Mereka berkata itu juga karena khawatir dengan sahabatnya.
Nabila hanya memutar-mutar sedotan di dalam gelasnya. "Tapi aku udah lihat tempatnya."
"Hah? Jangan bilang kamu juga udah bayar?" sela Lina cepat.
Nabila terdiam sebentar. "Udah..."
"Udah?" Lina langsung menatapnya.
"Berapa?" tanya Lila, kali ini suaranya ikut berubah.
"DP 5 juta. Udah aku transfer kemarin."
Mendengar itu, raut wajah keduanya langsung berubah.
"Nabila Aprilia, kamu serius?" Lina menepuk paha Nabila dengan wajah panik. "5 juta kamu transfer ke orang yang baru kamu kenal sehari? Kalau dia ternyata bohong gimana?"
"Iya, Bil. Kenapa nggak cerita dulu sama kita?" Lila ikut mengomel. "5 juta itu bukan uang sedikit tahu."
Nabila hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
Dari sudut pandang kedua sahabatnya, tindakannya memang terlihat terlalu gegabah.
Ia sangat ingin memberi tahu pada mereka bahwa mas-mas ojek itu adalah pemilik vila seharga puluhan miliar.
Namun ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Jadi ia memilih mengurungkan niat untuk menjelaskan lebih lanjut, karena ia mungkin akan di anggap bodoh.
Dan mungkin lagi mereka semakin ngomel padanya.
Pada saat ia sedang bergumul memikirkan penjelasan masuk akal untuk mereka.
Suara seorang wanita terdengar dari belakang mereka bertiga.
"Kalian lagi ngomongin apa sih? Dari jauh suara kalian udah kedengeran."
Ketiganya spontan menoleh.
Sosok wanita berwajah cantik dan tubuh proporsional berjalan mendekat dengan gaya yang sangat menawan.
Wanita itu memancarkan aura kakak perempuan yang matang, dewasa, dan percaya diri.
Sama seperti Nabila, Amira juga dikaruniai bentuk tubuh yang teramat elok dengan dada besar yang penuh, dibalut blouse sutra tanpa lengan yang tampak elegan.
"Kak Amira," sapa Nabila pelan.
Lina langsung mengambil kesempatan itu untuk menjelaskan.
"Kak Amira, kebetulan banget. Nabila ini katanya mau sewa kamar di NavaPark dari seorang tukang ojek. Dia bahkan udah transfer DP 5 juta kemarin."
Alis Amira sedikit terangkat. "NavaPark? Kamar sewa?"
Nabila mengangguk kecil. "Iya, Kak."
"Di cluster mana tuh?"
"Botanic Villa."
Dua kata itu terucap, dan raut santai di wajah Amira seketika menghilang.
"Botanic Villa?" Kali ini dengan nada lebih serius.
"Iya..."
Lina kembali menyela, "Makanya kita juga curiga, Kak. Masa tukang ojek bisa nawarin kamar di sana? Jangan-jangan dia calo atau memang ada orang dalam yang ikut main."
Amira tidak langsung menjawab.
Berbeda dari Lina dan Lila, Amira adalah penghuni lama di NavaPark.
Ia tahu betul tingkat keamanan dan aturan di kawasan tersebut.
Apalagi Botanic Villa, kawasan itu bukan sekadar cluster mewah biasa, melainkan area paling privat dan eksklusif yang dihuni kalangan atas.
Bahkan dirinya yang tinggal di NavaPark pun tidak bisa begitu saja melewati gerbang Botanic Villa tanpa izin.
Amira kemudian menatap Nabila dengan lebih serius.
"Bil, kamu bilang yang nawarin kamar itu tukang ojek?"
"Iya, Kak. Namanya Yuda."
Amira terdiam sejenak.
Tawaran kamar dari seorang tukang ojek saja sudah cukup aneh.
Seorang tukang ojek seharusnya tidak mungkin bisa menawarkan kamar di Botanic Villa begitu saja.
Apalagi jika Nabila memang sudah sampai masuk ke dalam kawasan tersebut.
"Kamu udah pernah ke sana?"
"Udah." Nabila mengangguk kecil dengan raut wajah serius.
"Dan kamu kesana langsung sama Yuda?"
"Iya."
Jawaban itu justru membuat Amira semakin berpikir.
Kalau hanya soal penipuan, mungkin masih masuk akal.
Tapi bagaimana Yuda bisa membawa Nabila masuk ke Botanic Villa?
Melihat Amira terdiam, Nabila mengambil keputusan untuk menceritakan pertemuan awal mereka.
Jadi dia kemudian menceritakan secara singkat bagaimana dirinya bisa bertemu Yuda sampai akhirnya melihat kamar yang ditawarkan.
Amira mendengarkan tanpa menyela.
Dari cerita Nabila, pria itu memang terdengar cukup berbeda.
Terbuka ketika diajak bicara, tidak memaksa, dan memperlakukan Nabila seperti orang biasa.
Dia tahu sifat Nabila sendiri memang tidak mudah percaya begitu saja kepada laki-laki.
Kalau merasa seseorang punya maksud buruk atau terlalu memaksakan sesuatu, biasanya dia akan menjaga jarak.
Tapi kali ini Nabila justru menerima tawaran tersebut.
Namun, bagi Amira masih ada satu hal yang mengganjal.
Nabila biasanya akan bercerita kepadanya lebih dulu kalau hendak mengambil keputusan seperti ini.
Kenapa kali ini tidak?
Amira bukannya mau menyalahkan Nabila.
Mungkin saja Nabila memang merasa situasinya aman setelah melihat sendiri perilaku baik pria itu dan mengambil keputusan untuk sewa disana.
Ia juga tidak berpikiran bahwa Yuda ini seorang penipu.
Bisa saja memang ada alasan yang belum ia ketahui.
Tetapi statusnya sebagai tukang ojek dan fakta bahwa ia bisa menawarkan kamar di Botanic Villa jelas tidak cocok.
Bagaimana kalau pria itu memang sengaja mendekati Nabila yang tampak polos?
Kemudian ia kembali menatap Nabila dan bertanya. "Terus kamu rencananya bakal ke sana lagi kapan?"
"Nanti sore, Kak. Selesai semua kelas, aku mau ke sana buat beres-beres barang sekalian ketemu Kak Yuda."
Mendengar itu, Amira langsung membuat keputusan. "Kalau begitu, nanti sore Kakak ikut."
Nabila sedikit terkejut. "Eh? Kak Amira mau ikut?"
"Iya." Amira mengangguk. "Kakak mau lihat sendiri tempatnya seperti apa dan ketemu langsung sama Yuda. Kalau memang semuanya sesuai yang kamu ceritakan, Kakak juga jadi lebih tenang."
Nabila terdiam sebentar, akhirnya mengangguk.
Ia sudah mengenal Amira cukup lama untuk tahu sifat kakaknya itu.
Kalau sudah merasa ada sesuatu yang janggal, Amira memang tidak akan tinggal diam.
"Ya udah, ikut aja, Kak." Nabila tersenyum cerah dan hatinya hangat melihat kakaknya mengkhawatirkannya.
Nabila dan Amira memang sudah dekat sejak lama.
Keduanya pertama kali mengenal satu sama lain lewat komunitas content creator ketika Nabila masih berusia 16 tahun.
Saat itu, Nabila baru mulai serius membuat konten dan masih sering mengalami berbagai masalah dalam mengembangkan kontennya.
Amira yang sudah lebih dulu aktif di dunia content creator sering membantu dan memberinya saran ketika Nabila sedang bingung atau mengalami masalah.
Dari sekadar bertukar pesan, keduanya Perlahan menjadi semakin dekat.
Mereka juga beberapa kali bertemu langsung di berbagai acara creator, anime, cosplay, dan komunitas lainnya.
Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat hingga Nabila terbiasa menganggap Amira seperti kakaknya sendiri.
Bahkan sampai sekarang, mereka masih sering berkolaborasi saat live.
Amira kembali tersenyum kecil. "Yang penting kamu jangan pergi sendirian dulu."
Lina disebelah mendengar itu langsung mengangkat tangan. "Kalau begitu kami ikut juga."
Lila mengangguk cepat. "Iya. Aku juga penasaran tempatnya kayak apa.
Nabila menatap keduanya sebentar.
"Kalian mau ikut?"
"Jelas," jawab Lina. "Kita udah ikut khawatir dari tadi. Masa cuma bisa nunggu kabar?"
Lila terkekeh. "Lagipula aku juga pengen lihat Botanic Villa. Katanya itu tempat orang kaya banget."
Amira menghela napas kecil, lalu mengangguk. "Ya sudah. Kalau begitu kita pergi bareng nanti."
Nabila tersenyum tipis dan merasa hangat.
Percakapan mereka kemudian berakhir ketika bel tanda pergantian kelas mulai terdengar dari arah gedung.
Namun, bagi Amira, satu pertanyaan masih tertinggal di kepalanya.
Adalah identitasnya pria itu yang membuatnya penasaran.
Seorang tukang ojek bisa masuk ke Botanic Villa dengan begitu mudah, bahkan sampai menawarkan kamar di dalamnya.
Sebenarnya siapa Yuda ini?
'Apakah dia generasi kedua kaya yang memiliki hobi jadi tukang ojek, atau...'
Tiba-tiba Sebuah kemungkinan buruk kembali terlintas di benaknya.
Bagaimana kalau pria itu memang sengaja mendekati Nabila yang terlihat polos dan ingin memanfaatkannya?
Amira sedikit menyipitkan matanya. 'Sepertinya aku harus lebih berhati-hati saat bertemu Yuda nanti.'
Ia kemudian berpikir sejenak. 'Mungkin aku bawa alat perlindungan diri saja.'
Setidaknya, Amira ingin memastikan dirinya tidak datang ke sana hanya sebagai kakak yang ikut mengantar Nabila, tetapi juga sebagai orang yang siap menjaga adiknya jika terjadi sesuatu.
Bab Berakhir.