Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Brak!
Suara gebrakan meja yang sangat keras menggema di seluruh penjuru ruang kelas sebelas IPS dua.
Semua murid yang awalnya berisik langsung terdiam seribu bahasa.
Di depan kelas, Pak Darmawan berdiri dengan wajah memerah menahan amarah.
Guru matematika yang terkenal galak itu menatap tajam ke arah bangku di barisan paling belakang.
"Tommy Nugroho!" teriak Pak Darmawan dengan suara lantang.
Seorang remaja laki-laki dengan rambut agak berantakan perlahan menundukkan kepalanya.
"Iya, Pak," jawab Tommy dengan suara pelan dan gemetar.
"Kamu ini niat sekolah atau tidak sebenarnya?" tanya Pak Darmawan sambil mengangkat sebuah kertas ulangan ke udara.
Semua mata di kelas kini tertuju pada kertas yang dipegang oleh guru tersebut.
Di pojok kanan atas kertas itu, terlihat angka dua belas yang ditulis dengan tinta merah besar.
"Soal yang saya berikan ini adalah soal dasar anak SMP." Pak Darmawan mendengus kasar. "Dan kamu hanya bisa menjawab satu pertanyaan dengan benar?"
Hahaha!
Suara tawa langsung pecah dari seluruh penjuru kelas.
"Maklumi saja, Pak, namanya juga Tommy si bodoh!" seru Bagas, salah satu murid paling populer di kelas itu.
"Iya, Pak, wajar saja dia tidak naik kelas tahun lalu," tambah Reno yang duduk di sebelah Bagas.
Tawa di kelas semakin meledak mendengar celetukan kedua orang itu.
Tommy hanya bisa meremas ujung seragam sekolahnya dengan kuat.
Ia sudah terbiasa dengan semua ini.
Ia sudah terbiasa menjadi bahan lelucon dan ejekan setiap hari.
"Sudah, diam semuanya!" bentak Pak Darmawan untuk menenangkan kelas.
Guru itu kembali menatap Tommy dengan pandangan kecewa.
"Saya benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepalamu itu, Tommy."
"Maafkan saya, Pak," ucap Tommy pelan tanpa berani menatap mata gurunya.
"Maaf tidak akan memperbaiki nilaimu." Pak Darmawan melempar kertas ulangan itu ke atas meja. "Jika semester ini nilaimu tidak ada kemajuan, kamu bisa bersiap-siap untuk dikeluarkan dari sekolah ini."
Deg.
Jantung Tommy serasa berhenti berdetak mendengar ancaman tersebut.
Dikeluarkan dari sekolah adalah hal terakhir yang ia inginkan.
Ibunya bekerja keras siang dan malam sebagai penjahit hanya untuk membiayai sekolahnya.
"Baik, Pak," jawab Tommy dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Duduk kembali, dan perhatikan pelajaran!" perintah Pak Darmawan sebelum kembali menulis di papan tulis.
Tommy duduk kembali di kursinya dengan perasaan hancur.
Ia menatap kertas ulangannya yang penuh dengan coretan merah.
"Kenapa aku bodoh sekali?" batin Tommy meratapi nasibnya sendiri.
Ia bukannya malas belajar.
Setiap malam ia selalu membaca buku sampai larut.
Tetapi entah kenapa, semua huruf dan angka itu seperti menari-nari di kepalanya dan tidak ada satu pun yang menempel di otaknya.
Kringgg!
Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi, menyelamatkan Tommy dari suasana kelas yang mencekam.
Pak Darmawan keluar dari kelas, disusul oleh murid-murid lainnya yang bergegas menuju kantin.
Tommy memilih tetap duduk di bangkunya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Bruk!
Tiba-tiba seseorang menendang meja Tommy dengan keras.
Tommy mendongak dan melihat Bagas sudah berdiri di depannya dengan senyum meremehkan.
"Woi, anak tidak naik kelas," sapa Bagas dengan nada mengejek. "Lo denger kan kata Pak Darmawan tadi?"
Tommy memilih diam dan tidak menjawab.
"Kalau otak lo emang udah mentok, mending lo keluar aja dari sekarang," ucap Reno yang berdiri di belakang Bagas. "Bikin malu sekolah aja lo."
"Gue cuma mau lulus dengan tenang," balas Tommy pelan.
"Lulus tenang palamu!" Bagas tertawa sinis. "Nilai matematika dua belas mau mimpi lulus?"
Beberapa murid yang masih ada di kelas ikut tertawa mendengar ucapan Bagas.
"Udah, biarin aja si bodoh ini meratapi nasibnya," kata Bagas sambil berbalik pergi.
"Awas nangis lo, Tom!" ejek Reno sebelum menyusul Bagas keluar kelas.
Tommy hanya bisa menghela napas panjang melihat kepergian mereka.
Ia memang tidak punya keberanian untuk melawan.
Tubuhnya kurus, dan ia tidak punya teman satu pun di sekolah ini.
Semua orang menjauhinya karena ia dianggap benalu dan anak buangan yang gagal.
"Aku cuma ingin lulus," gumam Tommy pelan pada dirinya sendiri.
Waktu berlalu terasa sangat lambat bagi Tommy hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.
Tommy berjalan kaki pulang menuju rumahnya yang berada di gang sempit pinggiran kota.
Setibanya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di depan mesin jahit.
"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa ibunya dengan senyum hangat.
"Iya, Bu," jawab Tommy sambil mencium tangan ibunya.
"Gimana sekolahmu hari ini? Lancar?"
Pertanyaan ibunya membuat dada Tommy terasa sesak.
Ia teringat ancaman Pak Darmawan dan kertas ulangannya yang bernilai dua belas.
"Lancar kok, Bu," bohong Tommy dengan senyum dipaksakan. "Tommy mau ke kamar dulu ya, mau ganti baju."
"Ya sudah, nanti makanannya ibu siapkan di meja ya."
Tommy mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamarnya yang kecil dan pengap.
Ia melempar tasnya ke lantai dan merebahkan dirinya di atas kasur tipisnya.
Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan mulai menetes.
"Maafkan Tommy, Bu," bisiknya dengan suara bergetar. "Tommy anak yang bodoh."
Ia merasa sangat tidak berguna.
Ibunya bekerja keras sampai sakit-sakitan, sementara ia bahkan tidak bisa mengerjakan soal matematika anak SMP.
Malam harinya, setelah makan malam yang sunyi, Tommy kembali ke kamarnya.
Ia duduk di depan meja belajarnya yang reot.
Di atas meja, buku paket matematika terbuka lebar menampilkan angka-angka yang membuatnya pusing.
"Ayo, Tommy, kamu pasti bisa," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Ia mengambil pensil dan mulai membaca soal pertama.
Sebuah soal persamaan linear yang sebenarnya sangat sederhana.
Tommy membacanya sekali, dua kali, tiga kali.
Tetapi otaknya sama sekali tidak bisa menangkap maksud dari soal tersebut.
"Rumusnya apa ya?" gumam Tommy sambil membolak-balik halaman buku dengan frustrasi.
Satu jam berlalu.
Kertas coretan Tommy sudah penuh dengan hitungan yang salah dan coretan tidak bermakna.
Ia meremas rambutnya sendiri dengan kuat.
"Kenapa susah sekali sih!" teriaknya tertahan karena takut didengar oleh ibunya.
Rasa putus asa menyelimuti hatinya dengan sangat pekat.
Ia merasa masa depannya sudah hancur.
Ia pasti akan dikeluarkan dari sekolah, dan ibunya pasti akan sangat kecewa.
"Tuhan, kalau memang aku ditakdirkan bodoh, kenapa aku harus dilahirkan?" batin Tommy sambil menundukkan kepalanya di atas meja.
Di tengah keheningan malam dan keputusasaannya, sesuatu yang aneh terjadi.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇