Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Tidur Bersama Malam Ini
"Tuan? Anda sudah datang?"
Keyla mematung di ambang pintu kamar mandi dengan jemari yang masih basah setelah membasuh muka.
Di atas ranjang besar itu, Dominic sudah duduk bersandar dengan santai. Sebuah laptop menyala di pangkuannya. Cahaya layarnya memantul di wajah tegas yang selalu tampak tak tersentuh itu.
"Hmm," jawab Dom singkat tanpa mengalihkan pandangan.
Sebenarnya, ada kedutan kecil di rahang Dominic saat mendengar sebutan tuan. Rasanya seperti ia sedang menginap di hotel dan dilayani staf, bukan sedang berada di kamar bersama istrinya.
Namun, Dominic berusaha menahan egonya. Ia sadar, gadis kecil di depannya ini butuh waktu.
Pernikahan mereka bukan datang dari bunga-bunga romansa, melainkan dari kekacauan semalam yang merenggut segalanya dari Keyla.
Keyla berjalan sembari meraba dinding lalu mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur. "Aku tidak bisa tidur dengan lampu masih menyala," ucapnya pelan.
Keyla kemudian naik ke atas ranjang, menyusup ke dalam selimut tebal yang aromanya sangat maskulin. Aroma Dominic.
Dengan sedikit kikuk, Keyla berbaring membelakangi pria itu, meringkuk kecil seolah ingin menghilang di balik bantal.
"Kau membelakangi suamimu, gadis kecil." suara berat Dom memecah keheningan dan terdengar lebih dingin dari biasanya.
Keyla sedikit tersentak. "Maaf jika aku tidak sopan pada anda. Sebenarnya, aku merasa tak enak hati pada kak Clara. Harusnya anda tidak berada di sini. Harusnya anda juga tidak menikahiku."
Jemari Dominic berhenti menari di atas papan ketik. Ia menutup laptopnya lalu mengalihkan seluruh fokus pada punggung mungil yang gemetar di sampingnya.
"Katakan yang ingin kau katakan. Tidak perlu berbelit-belit!"
Keyla menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Anda menikahi kak Clara karena cinta, bukan? Lalu kenapa anda menduakannya? Bukankah jika mencintai seseorang, kita tidak akan sanggup menyakitinya?"
Ia tetap tidak berani berbalik.
Menatap mata tajam Dominic sambil menanyakan hal sensitif itu terasa seperti menyerahkan leher ke singa.
"Haruskah aku menjelaskan alasannya padamu?" balas Dom datar. "Sudah jelas, aku menikahimu karena tanggung jawab. Dan soal Clara, dulu aku memang mencintainya. Tapi saat tahu seperti apa dirinya di balik topeng cantik itu, aku sadar aku hanyalah pria bodoh yang terbuai kata-kata manis."
Dominic menerawang sejenak. Memori malam pertama mereka lima tahun lalu melintas, dimana Clara sudah tidak pera-wan dan dia bukan yang pertama bagi wanita itu.
Dominictidak mempermasalahkannya. Karena ia mencintai wanita itu apa adanya.
Namun, tahun-tahun berikutnya adalah siksaan mental. Clara berubah menjadi sosok yang haus validasi, sering mengamuk tanpa alasan, dan menguras hartanya hanya untuk memuaskan ambisi Siska, ibu mertuanya yang gila foya-foya.
Puncaknya adalah saat Dominic meminta seorang pewaris. Clara menolak mentah-mentah dengan alasan karier modeling-nya lebih berharga daripada rahimnya.
Dan sekarang, dunia menganggap Dominic pria egois hanya karena ia menginginkan seorang anak.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud mencampuri—"
"Apa kau tahu kenapa sampai sekarang aku belum menceraikannya?" potong Dom tajam.
"Anda tidak perlu menjelaskannya. Itu urusan anda," sahut Keyla.
"Ada aturan tak tertulis di keluarga Fredrick," lanjut Dom, mengabaikan penolakan Keyla. "Jika pasangan belum melakukan kesalahan fatal seperti perzinahan atau pengkhianatan besar, kami tidak akan menceraikan tanpa alasan yang bisa diterima publik. Harga diri keluarga jauh lebih tinggi dari sekadar perasaan."
"Tetap saja yang anda lakukan pada kak Clara salah," gumam Keyla masih keras kepala. "Anda malah mendiamkannya dan membawaku ke sini. Seharusnya anda sekarang berada satu ranjang dengannya. Dia pasti sangat terluka."
Keyla hanya ingin pria itu keluar. Kehadiran Dominic di sampingnya membuat atmosfer kamar terasa menyesakkan.
Keyla risih. Ia merasa seperti pencuri di rumah kakaknya sendiri.
"Jadi, kau ingin aku pergi?" tanya Dominic.
Keyla menelan ludah. Ternyata pria ini cukup peka untuk menangkap sindiran halusnya.
"Baiklah, aku anggap diam mu sebagai sebuah jawaban." Dominic bangkit dari ranjang, menyambar ponsel dan laptopnya.
Keyla tertegun. Ia tidak menyangka Dominic akan menyerah semudah itu.
Klik!
Pintu kamar tertutup perlahan. Dominic benar-benar pergi.
Keyla pun berbalik, menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Seiring dengan hilangnya derap langkah Dominic, kesunyian kamar itu mulai terasa mencekam.
Bayangan rumah belakang tempat ia sering dikurung oleh Siska mendadak muncul. Ia teringat dinginnya lantai dan gelapnya ruangan saat ia dihukum hanya karena melakukan kesalahan kecil.
Trauma itu tiba-tiba menghantamnya seperti ombak.
Keyla menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana. Tubuhnya gemetar hebat. Suara-suara imajinasi makian Siska dan Clara seolah bergema di sudut-sudut kamar yang gelap.
Hingga sebuah bayangan muncul dari balik kegelapan pintu yang sedikit terbuka. Dominic rupanya tidak benar-benar pergi jauh, ia hanya berdiri di luar untuk menenangkan diri sebelum akhirnya memutuskan masuk kembali karena mendengar isak tangis yang tertahan.
"Kenapa kau menangis?" tanya Dom sembari menyentuh puncak kepala Keyla.
Keyla mendongak dengan mata yang sudah memerah dan basah. Tanpa sadar, ia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dominic, memeluk pria itu erat seolah-olah ia akan tenggelam.
"Tuan... tolong... jangan tinggalkan aku sendiri. Aku takut gelap... aku takut sendirian," rintihnya.
Dominic mengernyit, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya mendarat di punggung Keyla.
Baru beberapa menit yang lalu gadis ini mengusirnya dengan dalih moralitas, tapi sekarang ia memeluknya seolah Dominic adalah satu-satunya pelampung keselamatannya.
"Kau aneh, gadis kecil," gumam Dom dingin, namun tak melepaskan pelukan itu. Ia justru ikut berbaring di tepi ranjang, membiarkan Keyla meringkuk di pelukannya.
"Aku tidak peduli anda mengatakan aku aneh atau apa pun! Asalkan anda tidak pergi dari sini!" ucap Keyla dengan bibir gemetar seraya mempererat pelukannya.
"Ya, ya, malam ini kita akan tidur bersama. Jadi berhentilah menangis, kau membuat kemejaku basah!" balas Dom datar. Tangannya tak ayal mengusap punggung Keyla dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari kata-katanya.
"Tuan, berjanjilah satu hal padaku," pinta Keyla.
"Apa?"
"Jangan macam-macam seperti semalam. Cukup temani aku tidur saja," ucap Keyla terdengar mirip sebuah perintah daripada permohonan, meski tubuhnya masih menempel erat pada suaminya.
Dominic terkekeh. Ia menatap gadis kecil di pelukannya dengan tatapan geli sekaligus sinis.
"Apa kau sedang amnesia? Kau yang merengek memintaku tinggal, tapi sekarang menyuruhku menjaga jarak dengan posisi kita yang seperti ini?" Dom mendekatkan wajahnya hingga napasnya menerpa kening Keyla.
"Tidurlah, sebelum aku berubah pikiran dan menganggap jangan macam-macam itu sebagai sebuah tantangan," godanya, membuat pipi Keyla bersemu merah.
Sepertinya, Keyla sudah salah meminta tolong pada seekor singa yang kelaparan.