Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Dinding Dingin di Lantai 45
Malam merayap makin larut di atas langit Jakarta. Angin kencang berhembus menampar dinding-dinding kaca penthouse lantai 45, menciptakan gemuruh halus yang menambah kesunyian di dalam ruangan.
Sejak kepulangan mereka dari kantor sore tadi, tidak ada satu kata pun yang terucap di antara Arvin dan Dania.
Dania duduk di meja kerjanya di koridor barat, tenggelam dalam pendar cahaya layar laptop. Jemarinya menari di atas papan ketik, menyusun jadwal keberangkatan dan revisi berkas teknis untuk perjalanan ke Tokyo bulan depan. Ia sengaja mengurung diri dan memfokuskan pikirannya pada pekerjaan agar tidak perlu berpapasan dengan Arvin di ruang utama.
Sementara itu, di ruang tamu utama, Arvin berdiri mematung di dekat jendela kaca raksasa. Cangkir teh hitam di tangannya sudah lama mendingin tanpa tersentuh. Tatapan matanya yang pekat menatap pendar lampu kota di bawah sana, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada peristiwa di ruang kerja lantai 30 tadi siang.
Kata-kata Dania terus bergema di kepalanya: 'Anda bertindak seolah-olah keberadaan saya di samping Anda adalah sebuah risiko yang memalukan, Arvin.'
Arvin mengepalkan tangannya kencang. Pria yang terbiasa mengendalikan pergerakan saham dan keputusan ribuan karyawan itu mendadak merasa sangat frustrasi. Niat awalnya memisahkan protokol perjalanan ke Tokyo adalah murni untuk melindungi Dania dari sorotan liar media internasional yang sering kali kejam menguliti kehidupan pribadi para eksekutif. Namun, cara bicaranya yang kaku dan tertutup justru dipersepsikan sebagai bentuk penolakan dan rasa malu.
Arvin meletakkan cangkirnya di atas meja bar dengan ketukan halus, lalu melangkah mantap menuju koridor barat.
Pintu studio kerja Dania terbuka sedikit, memancarkan garis cahaya ke lorong yang remang. Arvin berhenti di ambang pintu, menatap profil samping wanita yang sedang bekerja itu. Dania tampak mengenakan kaus polos berbahan lembut dan celana kain santai, rambut panjangnya dijepit asal-asalan namun tetap memancarkan keanggunan yang alami.
Arvin mengetuk bingkai pintu kayu dua kali dengan buku jarinya. Tuk... tuk...
Dania tidak langsung mendongak. Jemarinya tetap mengetik di laptop selama beberapa detik sebelum akhirnya berhenti. Ia menoleh pelan, menatap Arvin dengan ekspresi datar tanpa emosi.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Arvin?" tanya Dania dingin, menggunakan sapaan formal yang sengaja dipasangnya sebagai jarak.
Arvin menghembuskan napas pendek lewat hidungnya, melangkah dua pijakan ke dalam ruangan yang bernuansa hangat oleh lampu meja tersebut.
"Perjalanan ke Tokyo tidak perlu diubah," kata Arvin, suara baritonnya yang berat bergema pelan. "Protokol jadwal keberangkatanmu dan tim desain akan tetap berjalan sesuai draf awal."
Dania menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menyilangkan tangan di dada. "Saya tahu. Saya sedang merapikan daftar manifest tim kami sekarang."
Arvin menatap mata Dania lurus-lurus. Rahagnya berkedut tipis, berjuang melawan gengsi besar yang selama ini membentengi dirinya dari orang lain.
"Mengenai ucapanku tadi siang di kantor..." Arvin jeda sejenak, kata-kata yang jarang diucapkannya terasa begitu asing di lidahnya. "Aku tidak pernah menganggap keberadaanmu sebagai sesuatu yang memalukan, Dania."
Dania menaikkan sebelah alisnya, terkejut mendengar pengakuan terus terang dari bibir seorang Arvin Dirgantara. Namun, Dania tetap mempertahankan sikap tenangnya.
"Lalu kenapa Anda bersikap seolah-olah menyembunyikan saya adalah prioritas utama Anda di depan media?" tanya Dania pelan, namun nadanya menuntut kebenaran tanpa kebohongan bisnis.
Arvin melangkah lebih dekat, berhenti tepat di samping meja kerja Dania. Aura dominannya mengurung ruangan sempit itu, namun kali ini tidak ada intimidasi dingin di matanya—hanya keteguhan yang sangat jujur.
"Karena media bukan sekadar pencatat berita, Dania," tegas Arvin, suaranya merendah. "Mereka akan mencari tahu siapa kamu, dari mana asalmu, sampai riwayat medis adikmu. Setelah Dion dan Ibu Helen jatuh, ada banyak mata kompetitor yang sedang mencari celah untuk menyerangku—dan menyasarmu adalah cara termudah bagi mereka untuk menekan posisiku."
Dania tertegun. Manik matanya bergetar tipis saat mencerna penjelasan di balik keputusan kaku Arvin tadi siang.
"Jadi... Anda melakukan itu bukan karena meremehkan posisi saya sebagai arsitek?" bisik Dania.
"Aku tidak pernah meremehkanmu," potong Arvin cepat dan mantap. "Aku melihat bagaimana kamu bekerja keras menyusun draf itu malam demi malam di rumah ini. Nominasi di Tokyo itu adalah murni hasil kecerdasan dan dedikasimu. Dan aku... aku bangga atas pencapaianmu."
DEG!
Jantung Dania berdesir hebat. Kata 'bangga' yang keluar dari mulut Arvin terdengar begitu pekat dan tulus, meruntuhkan sebagian besar kejengkelan dan emosi yang ditahannya sejak siang tadi.
Arvin menundukkan kepalanya sedikit, menatap jemari Dania yang berada di atas meja.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa saat kamu berdiri di panggung itu nanti, kamu berdiri sebagai arsitek hebat yang dihormati dunia... bukan sebagai wanita yang dihakimi media hanya karena hubungannya denganku," tambah Arvin pelan.
Dania menatap wajah Arvin yang berada dekat dengannya. Di bawah lampu meja yang temaram, ia bisa melihat gurat keletihan dan kepedulian yang tersembunyi rapat di balik ketegasan sang CEO. Benteng pertahanan yang dibangun Dania seharian ini perlahan-lahan luluh.
Dania menghembuskan napas panjang, mengulurkan tangannya seraya merapikan draf kertas di atas meja.
"Harusnya Anda menyampaikan alasan itu sejak awal di kantor, Arvin," kata Dania dengan nada suara yang sudah kembali lembut dan hangat. "Bukan dengan bersikap kaku dan memerintah seperti biasa."
Sudut bibir Arvin terangkat tipis—sebuah senyuman sangat halus yang hampir tak terlihat, namun sanggup mengubah aura dingin di wajahnya menjadi terasa begitu hangat.
"Aku tidak terbiasa memberikan penjelasan atas keputusan bisnisku pada orang lain," sahut Arvin datar, kembali pada karakter aslinya.
"Tapi saya bukan sekadar 'orang lain' di rumah ini, kan?" balas Dania berani, menatap mata Arvin dengan binar jahil yang jarang ditunjukkannya.
Arvin membeku sesaat mendengar ucapan Dania. Tatapannya mendalam, terkunci rapat pada manik mata bening wanita di depannya. Suasana di studio kecil itu mendadak hening dan sarat akan ketegangan emosional yang tak terucapkan.
"Ya," bisik Arvin rendah, suaranya sarat akan makna yang dalam. "Kamu bukan sekadar orang lain."
Arvin berdiri tegak kembali, merapikan lengan kemejanya untuk menutupi getaran halus di dadanya.
"Istirahatlah," kata Arvin kaku seraya berbalik ke arah pintu. "Besok kita ada rapat penyesuaian anggaran perjalanan bersama Rian jam sembilan pagi."
Dania menatap punggung tegap Arvin yang melangkah keluar dari studionya. Saat pintu kayu itu kembali terbuka lebar, Dania tak bisa menahan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Dinding dingin di lantai 45 malam ini resmi mencair, meninggalkan getaran manis yang makin mengikat dua hati yang sama-sama gengsi tersebut.