Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Sore ini Gibran, pak Burhan dan bu Siti langsung mendatangi rumah yang sudah mereka bayar uang muka nya. Mereka akan langsung pindah malam ini dan berencana untuk merayakan kemenangan mereka malam ini.
Tapi alangkah terkejut nya mereka, saat tiba di rumah itu, rumah itu sudah di tenpati oleh orang lain.
"Pak, siapa mereka? Kenapa mereka ada di rumah kita?" Tanya Bu Siti.
"Entah, aku juga kurang tahu!" Jawab pak Burhan.
Dari kejauhan, mereka melihat pintu yang terbuka dan tampak beberapa orang mengangkut barang - barang masuk ke dalam rumah itu. Bergegas bu Siti menghampiri mereka.
"Siapa kalian? Kenapa kalian membawa barang - barang ke rumah ku?" Tanya bu Siti dengan geram.
"Kami di bayar untuk memindahkan barang - barang ke rumah ini, saya adalah supir dan ini adalah kenek saya!" Jawab salah satu dari mereka.
"Ini adalah rumah saya, siapa yang memberi kalian perintah untuk memasuki rumah saya!" Bentak Bu Siti dengan garang.
"Ada apa ini ribut - ribut?" Tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke dalam rumah ku?" Tanya Bu Siti.
"Aku adalah pemilik rumah ini, memang nya ibu ini siapa? Datang ke rumah orang langsung marah - marah?" Tanya wanita yang usia nya sama dengan bu Siti.
"Jangan bicara sembarangan kamu, rumah ini milik ku!" Bentak bu Siti dengan suara melengking.
"Milik ibu? Rumah ini aku beli satu minggu yang lalu secara Cash, jadi mana mungkin bisa jadi kilik ibu!" Ujar wanita itu.
"Bu, ibu jangan mengada - ada. Baru tadi pagi kami membeli rumah ini, dan kami akan pindah malam ini juga!" Pak Burhan membela istri nya.
"Kalian membeli rumah ini dari siapa? Dan mana bukti nya?" Tanya laki - laki yang merupakan suami dari wanita itu.
"Kami membeli nya dari pak Anton, kepala pemasaran perumahan ini!" Jawab Bu Siti.
"Apakah kalian punya bukti nya?" Wanita yang di ketahui bernama Sari.
Pak Burhan dan bu Siti saling pandang, kebetulan sekali tadi pagi saat menyerahkan uang muka mereka lupa minta bukti. Pak Anton mengatakan besok kuitansi nya baru bisa di ambil di kantor pemasaran.
"Kami memang tidak baw bukti nya, tapi yang pasti ini adalah rumah kami!" Ujar Bu Siti lagi.
"Tanpa bukti yang valid, itu semua tidak sah. Kami punya bukti nya jika rumah ini milik kami!" Ujar Bu Sari.
Bu Sari langsung masuk ke dalam kamar, tidak lama kemudian dia kembali keluar membawa sesuatu di tangan nya. Sebuah sertifikat rumah ini, dia pun menunjuk kan pada bu Siti.
"Tidak mungkin, aku sudah membayar uang muka nya. Bagai mana bisa rumah ini menjadi milik kalian!" Bu Siti berkata dengab sinis.
"Begini saja bu, agar semua nya lebih jelas. Sekarang kita semua pergi ke kantor pemasaran, dan kita tanyakan langsung kebenaran nya!" Suami bu Sari memberi usul.
"Baik lah, kami setuju. Lebih baik kita pastikan semua nya di kantor pemasaran nanti!" Gibran yang diam saja sejak tadi ikut bicara.
"Gibran, ibu sudah membayar uang muka rumah ini. Tapi kenapa rumah nya bisa menajadi milik orang lain?" Tanya bu Siti.
"Maka nya sekarang kita harus memastikan semua ini, kita pergi ke kantor pemasaran!" Ajak Gibran.
Akhir nya mau tidak mau bu Siti pun mengikuti saran dari Gibran, mereka semua pergi ke kantor pemasaran.
"Selamat sore pak, saya mau tanya tentang rumah di blok B, nomor 25. Saya sudah membayar uang muka nya, tapi kenapa rumah itu bisa menajadi milik orang lain?" Tanya bu Siti dengan kesal.
"Baik bu, tinggu sebentar!" Ujar kepala pemasaran itu.
Dia segera membuka komputer nya, dia memeriksa kelengkapan proses jual beli rumah itu.
"Maaf bu, rumah itu memang sudah di beli secara cash oleh pak Awam dan bu Sari sejak satu minggu yang lalu. Sertifikat nya memang atas nama dia!" Jelas petugas itu.
"Tidak, tidak mungkin. Baru tadi pagi aku memberikan uang sebesar 30 juta untuk uang muka nya, dan rumah itu milik ku!" Bu Siti berkata dengan histeris.
"Sebelum nya saya mau tanya sama ibu, ibu membayar uang muka nya dengan siapa?" Tanya kepala pemasaran itu.
"Tadi pagi saya dan suami saya membayar uang nya dengan pak Anton, dia bilang surat rumah ini akan di urus besok di kantor pemasaran!" Bu Siti pun menjelaskan duduk persoalan nya.
"Benar itu pak, saya sendiri ikut menemani istri saya membayar nya!" Pak Burhan membela istri nya.
"Maaf bu, pak Anton sudah bukan lagi bagian dari perusaan kami. Dia sudah di pecat sejak 3 minggu yang lalu, dia melakuan penggelapan dana di perusahan ini. Jadi karena dia bukan lagi bagian dari tempat ini, maka otomatis pembayaran nya tidak sah!" Jelas laki - laki itu.
"Apa???" Tanya Bu Siti dengan nada tidak percaya.
"Benar bu, jadi ibu dan bapak pasti sudah di tipu oleh pak Anton!" Jelas laki - laki itu.
Seketika lutut bu Siti terasa lemas, sekarang dia baru sadar bahwa diri nya sudah di tipu. Uang 30 juta nya lenyap begitu saja, dan rumah ini tidak pernah menjadi milik nya.
"Tidak pak, ini tidak mungkin!" Bu Siti berteriak dengan histeris.
"Ini bukti pembelian rumah ini, rumah ini sah milik pak Awam dan bu Sari!" Petugas itu menunjuk kan semua bukti- bukti itu pada mereka.
Dengan cepat Gibran meraih kertas - kertas itu, dia membaca nya dengan teliti. Semua yang di ucapkan oleh petugas itu memang benar, dan rumah ini bukan lah milik mereka.
"Ayah, bu Siti. Di sini jelas tertulis bahwa rumah itu bukan milik kalian, itu arti nya kalian sudah di tipu!" Gibran berkata pada kedua nya.
Bu Siti menangis histeris menghadapi kenyataan ini, dia sudah bangga akan memiliki rumah baru. Tapi nyata nya, dia malah di tipu habis - habisan. Pak Anton sudah di pecat dari tempat ini, dan pak Anton sudah membawa uang nya pergi sebanyak 30 juta rupiah.
"Jadi sudah jelas dan terbukti kan bu, rumah itu milik kami bukan milik ibu!" Bu Sari berkata pada bu Siti.
"Mas, bagai mana ini mas?" Tanya bu Siti pada pak Burhan.
"Kita pulang sekarang, kita bicarakan masalah ini di rumah!" Ajak pak Burhan.
Mau tidak mau akhir nya bu Siti menurut, dia akan semakin malu jika berada di sini terlalu lama. Dia sudah kehilangan uang nya, dan rumah itu bukan lah milik nya. Tidak ada yang bisa di lakukan oleh bi Siti selain meratapi uang nya yang hilang dan tidak mungkin akan kembali lagi.
klo g pngen hidup susah..... krja dunk santi....
wloupun g bikin kaya.... stidknya klo krja punya uang untuk mnyambung hidup.... bisa beli mkanan untuk ankmu...