Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bik Siska yang sedang merapikan tanaman di halaman terkejut saat matanya menangkap sosok wanita yang berdiri di depan mansion.
Wajah, tinggi badan, hingga cara berdiri sungguh persis sama dengan Sarah yang sudah lama tak ia temui. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari kecil menghampirinya dengan wajah berseri-seri.
"Non Sarah... Non sudah pulang?" serunya penuh haru, senyum lebar mengembang di wajah keriputnya.
Sera menatap wanita itu sejenak.
Ia menduga itu pasti Bik Siska—sebelum datang ke sana, ia sudah menyelidiki siapa saja yang ada di dalam rumah itu.
Dan ia tahu, Bik Siska adalah satu-satunya orang yang peduli pada kakaknya di tengah neraka itu.
Perlahan sudut bibir Sera terangkat, menyunggingkan senyum yang sama persis seperti senyum lembut milik Sarah.
Sera berusaha mengimbangi sikap kakaknya yang lemah lembut. Mengingat sikapnya yang kaku dan tegas, terkadang ia tidak tahu bagaimana membuat orang nyaman di sisinya, membuat gadis itu sedikit sulit meniru karakter sang kakak.
"Iya, Bik. Aku sudah pulang," ucapnya pelan, nada suaranya sengaja ia rendahkan agar tak terlihat bedanya.
Bik Siska menatapnya lekat, merasa wanita di hadapannya agak sedikit berbeda dari istri majikannya. Namun Bik Siska segera menepis perasaannya itu.
"Syukurlah... Non kembali. Selama Non tidak ada, rumah ini terasa semakin sunyi..."
"Maafkan aku, Bik. Aku pergi cukup lama," ucapnya lembut.
"Tidak apa-apa, Non. Yang penting Non Sarah sudah kembali. Mari kita masuk ke dalam," ajak Bik Siska dengan ramah, seketika lupa akan segala lelahnya melihat kehadiran sosok yang ia rindukan.
Sera pun mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam.
Sera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata bukan saja tampak mewah dari luar, bagian dalam rumah ini pun sungguh luar biasa indah dan megah, jauh melampaui bayangannya.
Sera tak pernah menyangka akan menginjakkan kaki di tempat semewah itu—tempat yang menyimpan segala luka dan trauma mendalam bagi kakaknya.
Perlahan tangan Sera mengepal erat menahan amarah yang kembali membara.
"Siapa yang datang, Bik Siska?"
Suara itu memecah keheningan. Martha, sang kepala pelayan, melangkah masuk ke ruang tengah tempat Bik Siska dan Sera berdiri.
Secara refleks, Bik Siska memegangi tangan Sera.
Sera sedikit mengerutkan kening, namun ia masih berdiri diam tanpa bertindak.
"Non... hati-hati," bisik Bik Siska dengan suara bergetar penuh ketakutan. "Sepertinya mereka tidak ingin Non kembali ke sini. Bibi takut... mereka akan menyiksa Non lagi seperti dulu."
Ternyata kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan semata-mata demi sosok yang ia anggap Sarah—wanita lemah yang selama ini hanya tahu menerima pukulan demi pukulan tanpa berani melawan.
Bik Siska sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang berdiri di sampingnya bukanlah Sarah yang lemah, melainkan Sera—yang jika sekali disakiti, ia takkan segan membalasnya berlipat ganda.
"Tenang saja, Bik," bisik Sera membalas pelan.
Kedua mata Martha membelalak saat melihat Sera berdiri tepat di hadapannya.
"Sarah? Berani-beraninya kau datang lagi ke sini! Setelah kau pergi hampir sebulan, kau masih berani menginjakkan kakimu lagi di dirumah ini! Cari mati kau!"
Sera masih diam, tidak membalas, tapi tetap menatapnya tenang.
"Oh, sekarang kau mulai berani ya? Berani menatapku!"
"Martha! Ada apa itu?"
Terdengar suara teriakan dari dalam.
"Rika, coba kau ke sini! Lihat siapa yang datang! Sampah ini berani masuk lagi ke rumah!" jawab Martha dengan nada tinggi.
"Apa!"
Dari dalam terdengar suara Rika yang sudah meledak marah. Wanita itu melangkah cepat keluar dengan wajah bengis. Saat melihat wanita yang dia pikir menantunya, matanya langsung melotot.
"Berani kau kembali ke sini? Kau ingin nyawamu berpisah dengan badanmu? Seharusnya kau tidak pernah menginjakkan kakimu lagi kediaman ini! Adrian akan menceraikanmu sebentar lagi! Jadi, lebih baik kau pergi jalang!!!"
Sera tersenyum tipis, hampir tak terlihat.
"Apa Kakek Adiguna Vergantara mengizinkan Mas Adrian menceraikanku?" jawab Sera.
Nadanya terdengar biasa saja, namun seolah memberi tahu bahwa Adrian tidak bisa seenaknya menceraikannya—karena ia mendapat perlindungan dari Kakek Adiguna Vergantara, kakek kandung Sean.
Sera sudah mencari tahu tentang perjalanan kehidupan keluarga itu. Ternyata, selama ini Adrian hanya direstui dengan Sarah. Bahkan Kakek Adiguna juga pernah mengatakan kalau dia hanya ingin punya cucu dari Sarah.
Wajah Rika seketika berubah murka mendengar jawaban Sera yang terdengar begitu tenang namun penuh tantangan.
"Jadi kau berani menantangku sekarang?"
Tanpa ragu ia bergerak cepat, meraih sebilah cambuk yang tersimpan di sudut ruangan—benda yang sudah bertahun-tahun ia gunakan untuk melampiaskan amarahnya pada sosok Sarah.
Sera tetap berdiri diam, raut wajahnya tak berubah sedikit pun, meski dalam dadanya api kemarahan berkobar hebat saat melihat benda itu.
Dia tahu, itu pasti cambuk yang membuat punggung kakaknya penuh bekas luka yang takkan pernah hilang.
Jadi kau yang sering melakukannya pada Kak Sarah... batinnya penuh kebencian.
"Mari sini kau! Biar aku beri kau pelajaran yang pantas, supaya kau tahu bagaimana cara bersikap sopan pada orang yang lebih dewasa!"
Rika mulai menarik lengannya, siap mengayunkan cambuk itu, namun gerakannya tiba-tiba terhenti saat suara terdengar dari arah lorong dalam.
"Sarah! Berani sekali kau kembali ke rumah ini! Apa perkataanku tempo hari belum cukup jelas? Aku sudah muak melihat wajahmu!"
Muncul Adrian yang berjalan sembari merangkul pinggang wanita di sampingnya—tak lain adalah Alena.
Senyum tenang di wajah Sera perlahan memudar, digantikan oleh tatapan membunuh yang menyimpan dendam mendalam.
Itulah pria yang menjadi sumber semua penderitaan kakaknya selama ini.
Melihat Sera hanya diam mematung, Alena semakin berani mendekatkan wajahnya pada Adrian dan berbisik lirih.
"Mas, usir saja dia sekarang juga. Kalau dia tidak mau pergi dengan baik-baik, kita bisa saja menyingkirkannya untuk selamanya..."
"Sudah dengar itu? Angkat kakimu dan keluar dari sini sekarang juga!" bentak Adrian semakin keras.
Namun Sera justru menatap Adrian dengan wajah yang dibuat-buat tampak sedih dan terluka.
"Mas... kenapa Mas mengusirku? Kita kan belum bercerai secara sah..." ucapnya pelan, seolah menahan tangis. "Apa... apa Mas sudah tidak mencintaiku lagi?"
Di luar ia tampak memohon, namun di dalam hati Sera merasa ingin muntah harus mengucapkan kata-kata yang begitu menjijikkan baginya.
"Cinta? Kau bilang cinta? Cuih!"
Adrian meludah ke arahnya, meski tak mengenai tubuh Sera.
"Melihat wajahmu saja aku sudah jijik, apalagi harus mencintaimu! Selama ini aku menikah denganmu hanya demi hartamu, dan sekarang aku sudah mendapatkan semua yang aku mau. Untuk apa lagi aku menampungmu di sini? Sebentar lagi aku akan menceraikanmu!"
"Jangan, Mas... aku mohon... Kalau Mas menceraikanku, lalu aku mau ke mana? Mas sudah mengambil semua hartaku... Kalau Mas menceraikanku, bagaimana caranya aku hidup? Kalau memang benar Mas ingin menceraikanku, maka kembalikan hartaku itu..."
"Cih! Jangan bermimpi! Sekalipun kau berlutut dan menjilat sepatuku, dan menjadi budak seumur hidup di rumah ini, aku tidak akan pernah memberikan padamu harta itu! Lagipula, itu bukan lagi milikmu, itu sudah menjadi hak milikku sepenuhnya!"
Dasar laki-laki berwajah tembok dan tidak tahu malu... batin Sera, sudut bibirnya tersenyum tipis yang tak terlihat siapa pun.
Ternyata ia berhasil memerankan sosok kakaknya dengan sempurna—semua orang di sana begitu percaya bahwa wanita yang berdiri di hadapan mereka adalah Sarah yang lemah dan tak berdaya.
"Mas... kamu jangan tega sama aku... Mas ingat dulu, Mas sering bilang kalau Mas sangat mencintaiku..."
"Jangan ucapkan hal itu lagi! Aku jijik mendengarnya!" potong Adrian kasar.
Ia segera berjalan menghampiri ibunya, dimana Rika yang masih memegang cambuk.
Dengan cepat ia merampas benda itu dari tangan ibunya, lalu siap mengayunkannya ke arah Sera.
"Apa ada reunian disini?"
Tiba-tiba suara bariton dan dingin terdengar dari ambang pintu.
Semua orang seketika menoleh ke sumber suara. Adrian buru-buru menyembunyikan cambuk di belakang punggungnya saat melihat siapa yang datang.
Sera juga ikut menoleh perlahan, dan matanya langsung beradu pandang dengan sosok pria berwajah sedingin es yang berdiri di sana.
Itu dia... Akhirnya kau datang juga... batin Sera tersenyum dalam hati melihat kedatangan Sean Vergantara.