NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan Arvin

Pernikahan Rahasia Tuan Arvin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Retakan di Balik Topeng Es

Layar proyektor di ruang rapat lantai 30 baru saja dimatikan, namun atmosfer kemenangan masih menggantung hangat di udara. Para investor Jepang melangkah keluar seraya membungkuk hormat, meninggalkan Arvin dan Dania yang berdiri berdampingan di sudut ruangan.

Arvin mengancingkan jas navy-nya, lalu membalikkan badan menghadap Dania. Untuk pertama kalinya, tidak ada tatapan dingin berprasangka di matanya. Yang tersisa hanya rasa kagum yang samar namun tegas.

"Mobil sudah siap di pelataran bawah," kata Arvin seraya mengecek jam tangannya. "Sesuai janjiku, Rian akan mengantarmu ke Rumah Sakit Medika Utama sekarang."

Dania merapikan laptop dan drawing tablet ke dalam tasnya. Ia mendongak, menatap Arvin dengan dahi sedikit berkerut. "Anda tidak ikut kembali ke penthouse?"

"Ada beberapa dokumen sabotase Dion yang harus kubereskan dengan tim legal," jawab Arvin datar, meski ada kilat kelelahan di matanya. "Dan jangan lupa, pengawal pribadi yang kuisikan di mobil akan tetap berada di sekitar area ICU. Ini bukan negosiasi, Dania. Dion sedang terbakar amarah."

Dania menelan ludah pelan. Ia ingat betul bagaimana mata Dion menyipit penuh dendam saat meninggalkan ruang rapat tadi. "Terima kasih, Tuan Arvin. Dan... terima kasih untuk dana operasi Rehan."

Arvin hanya mengangguk pendek. "Pergilah. Adikmu membutuhkanmu."

Aroma cairan antiseptik dan suara dentang teratur dari mesin EKG menyambut Dania saat ia tiba di ruang perawatan ICU. Di balik kaca transparan, tubuh kecil Rehan—adik laki-lakinya yang berusia dua belas tahun—terbaring lemah dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya.

"Mbak Dania..."

Seorang dokter spesialis jantung melangkah mendekat dengan lembaran rekam medis di tangannya. Dokter Gunawan, pria setengah baya yang menangani Rehan sejak awal, tersenyum hangat.

"Dokter," panggil Dania cemas. "Bagaimana kondisi Rehan?"

"Sangat stabil, Dania," jawab Dokter Gunawan gembira. "Laporan laboratorium menunjukkan fungsi organ penunjangnya membaik. Dan yang paling penting, seluruh biaya tindakan operasi coronary bypass untuk hari Jumat besok sudah dilunasi penuh oleh pihak yayasan perwalian Dirgantara Group."

Dania mengelus dada, meresapi rasa lega yang luar biasa. Beban berat yang menghimpit bahunya selama bertahun-tahun mendadak terangkat. Bayangan Arvin yang menyodorkan amplop dan menandatangani dokumen perwalian berkelebat di benaknya. Pria itu memang arogan dan dingin, tapi dia memegang kata-katanya.

Dania melangkah masuk ke dalam kamar steril setelah mengenakan jubah khusus. Ia duduk di kursi samping ranjang, meremas lembut jemari tangan adiknya yang dingin.

"Rehan... kamu dengar Mbak, kan?" bisik Dania dengan suara bergetar. Air mata keharuan menetes perlahan di punggung tangan adiknya. "Hari Jumat nanti kamu bakal dioperasi. Kamu harus kuat, ya? Mbak bakal terus ada di sini."

Jari-jemari Rehan bergerak halus, seolah merespons bisikan sang kakak.

Dania menghabiskan waktu dua jam di samping Rehan sampai jam besuk berakhir. Saat ia melangkah keluar dari gedung rumah sakit menuju area parkir VIP, langit Jakarta sudah berubah gelap kebiruan dipenuhi lampu-lampu jalan.

Sebuah sedan hitam menunggunya dengan pintu yang dibukakan oleh Rian. Namun, saat Dania melangkah mendekat, matanya membelalak kaget.

Di kursi belakang sedan mewah itu, Arvin duduk menyandarkan kepala seraya memejamkan mata. Jas luarnya sudah dilepas, melipat lengan kemeja putihnya hingga pergelangan tangan. Wajah tegasnya tampak begitu lelah.

"Tuan Arvin?" panggil Dania ragu seraya masuk ke kabin mobil. "Kenapa Anda ada di sini? Bukannya tadi Anda bilang ada rapat legal?"

Arvin membuka matanya perlahan. Manik matanya yang pekat menatap Dania dalam remang lampu mobil.

"Rapatnya selesai lebih cepat," sahut Arvin pelan, suaranya terdengar agak serak. "Bagaimana keadaan adikmu?"

Dania tertegun sejenak. Ia tidak menyangka pria sesibuk dan sekeras Arvin akan menanyakan kondisi adiknya secara langsung.

"Dokter bilang kondisinya membaik dan siap untuk operasi Jumat besok," jawab Dania tulus. "Terima kasih banyak... kalau bukan karena dana dari Kakek dan bantuan Anda, saya tidak tahu harus mencari bantuan ke mana lagi."

Arvin menatap Dania cukup lama, memperhatikan mata wanita itu yang masih sedikit sembab bekas menangis. "Kakek tidak pernah salah menilai orang, Dania. Mungkin... aku yang terlalu cepat menarik kesimpulan tentangmu."

Kata-kata itu terucap begitu jujur tanpa benteng keangkuhan yang biasa Arvin tunjukkan. Udara di dalam mobil mendadak terasa begitu sunyi dan intens.

"Tuan Arvin—"

"Panggil Arvin saja kalau kita sedang tidak di depan karyawan," potong Arvin pelan. Ia menyandarkan kembali kepalanya ke sandaran kursi, memandang ke luar jendela mobil yang membelah kemacetan jalanan malam. "Pernikahan kita mungkin rahasia di mata publik, tapi di dalam penthouse itu, kita berada di perahu yang sama."

Dania menggigit bibir bawahnya, mengangguk pelan. Ada rasa hangat asing yang perlahan merayap di dadanya—sebuah rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kedua orang tuanya tiada.

Namun, rasa aman itu tidak berlangsung lama.

Ponsel Arvin di atas pangkuannya mendadak bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Arvin menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga dengan dahi berkerut.

"Halo, Arvin yang terhormat," suara kekehan sinis Dion menyeruak dari seberang telepon, terdengar bising dengan latar belakang suara musik klub malam. "Selamat atas kemenangan kecilmu sore tadi bersama cewek desainermu itu."

Arvin menegakkan duduknya seketika. "Dion. Maumu apa lagi?"

"Cuma mau mengingatkan," bisik Dion tajam, suaranya berubah penuh penekanan beracun. "Kamu boleh menang di proyek Grand Dirgantara Tower. Tapi jangan lupa... dewan komisaris akan mengadakan audit aset dan status pernikahanmu minggu depan. Kalau sampai ada satu saja bukti kalau pernikahanmu dengan Dania itu cuma rekayasa kontrak..."

Dion tertawa pelan yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Aku sendiri yang akan memastikan Dania dan adiknya yang sekarat itu kehilangan segalanya."

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon diputus sepihak. Arvin mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Aura dingin dan berbahaya kembali terpancar kuat dari tubuh sang CEO, memecah ketenangan singkat di antara mereka.

Dania menatap Arvin dengan cemas. "Ada apa? Dion bilang apa?"

Arvin menoleh pada Dania, matanya berkilat penuh tekad. "Dion menabuh genderang perang yang sesungguhnya. Mulai besok... kita harus bertindak seperti pasangan suami istri yang saling mencintai di depan semua orang."

1
sunaryati jarum
Tetap waspada dan cinta kalian saling mengustkan
sunaryati jarum
Cinta yang datang alami tanpa paksakan, semoga manis
sunaryati jarum
Akhirnya Arvin kan yang memulai menjadi pasangan tanpa kontrak
sunaryati jarum
Arvin berani merangkul pinggang Dania di tempat umum yang penuh tokoh pebisnis kalangan eksekutif dan penuh jurnalis
Rhea Vey: terima kasih banyak atas dukungannya, selalu memberikan komentar dan like🥰🙏. bikin author tambah semangat 🤗🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah baru berpisah sebentar sudah rindu, pilihan kakekmu kok ditolak
sunaryati jarum
Nah harus ada penjelasan seperti itu agar tidak terjadi salah paham
sunaryati jarum
Karena pemaparan kamu seolah kamu tidak mau berinteraksi dengan Dania,seakan kau malu dengannya
sunaryati jarum
Dania terperangkap maksud terselubung CEO yang mulai jatuh cinta padanya 🥰🥰
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Arvin mulai menyadari perasaannya
sunaryati jarum
Ternyata Ny Helen dan Dion, hanya perusak perusahaan dan menginginkannya uangnya
sunaryati jarum
Arvin mulai perhatian dan peduli pada Dania
sunaryati jarum
Nanti kamu makin lama terpesona dengan kepiawaian Dania, Arvin
sunaryati jarum
Apa Arvin meminta seluruh pakaian Dania di bawa ke kamarnya
sunaryati jarum
Itu kan dinding yang kau buat,emak sumpahin kamu jatuh cinta duluan
sunaryati jarum
Wow sandiwara sempurna Arvin
sunaryati jarum
Dion membuat pernikahan kontrak jadi pernikahan sesungguhnya
sunaryati jarum
Yang kamu benci akan menyelamatkan kamu,Arvin
sunaryati jarum
Mantap tekatmu Dania
sunaryati jarum
Emak suka karakter Dania yang tidak lemah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!