Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi itu Kartika berdiri di depan cermin membantu Kalingga merapikan seragam barunya. Kemeja putih anak itu masih licin, sepatunya mengilap, das barunya bahkan masih terlihat sangat bagus.
Namun, wajah Kalingga justru murung sejak bangun tidur. Anak itu berdiri diam sambil menunduk.
“Kakak, masih sedih, ya?” Kartika jongkok di depannya sambil membenarkan dasi kecil putranya.
Kalingga mengangguk pelan. “Aku kangen sekolah lama, Ma.”
Suara Kalingga lirih, membuat hati Kartika terasa nyeri. Namun, ia tetap tersenyum lembut.
“Nanti juga akan terbiasa.”
“Tapi aku enggak kenal siapa-siapa di sana.”
Kartika mengusap rambut anaknya perlahan. “Mama juga dulu pernah jadi anak baru.”
“Mama, takut?”
“Banget.”
Kalingga akhirnya sedikit menoleh. “Tapi, kan Mama hebat.”
Kartika tertawa kecil. “Enggak juga.”
Kartika lalu mencubit pipi putranya gemas. “Yang penting Kakak tetap jadi anak baik.”
Tak lama kemudian mereka pun berangkat menuju sekolah baru Kalingga. Bangunan sekolah itu besar dan mewah, dengan halamannya yang luas. Mobil-mobil mahal berjajar di area depan.
Kalingga langsung memegangi tangan Kartika semakin erat. “Mama, ini sekolah beneran?” bisiknya pelan.
Kartika tersenyum geli. “Iya.”
“Kayak hotel.”
Kaivan yang duduk di belakang ikut nimbrung polos. “Adek mau cekolah cini juga!”
Rangga yang duduk di kursi pengemudi, langsung tertawa kecil. “Nanti kalau Kai susah gede, bisa sekolah di sini.”
Begitu turun dari mobil, beberapa orang tua langsung melirik ke arah mereka. Sebagian sibuk mengobrol sambil memegang ponsel mahal. Anak-anak kecil berlari sambil membawa tas bermerek.
Kalingga makin ciut. Dia merasa berada di dunia asing.
Kartika langsung menggenggam pundaknya pelan. “Kakak dengar Mama ya.”
Kalingga menoleh.
“Di sekolah nanti Kakak harus sopan sama semua orang.” Kartika berbicara lembut tetapi serius
Anak itu mengangguk kecil.
“Tapi jangan takut juga.” Kartika membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajah putranya. “Kalau ada yang nakal, lapor guru. Kalau ada yang jahil, jangan balas dulu. Tapi kalau ada yang nyakitin Kakak ...,” suara Kartika sedikit berubah tegas, “Kakak harus berani bela diri.”
Kalingga tampak mendengarkan serius.
Kartika mengusap pipinya pelan. “Mama enggak mau Kakak jadi pembully. Tapi Mama juga enggak mau Kakak dibully.”
Kalingga akhirnya tersenyum tipis. “Iya, Ma.”
Kartika lalu mencium kening putranya lama. “Semangat, ya!”
Saat Kalingga mulai berjalan masuk ke gedung sekolah, anak itu sempat menoleh lagi. Tatapannya masih penuh ragu.
Kartika langsung mengangkat jempol sambil tersenyum menyemangati. Barulah Kalingga masuk ke dalam kelas. Begitu anak itu menghilang di balik pintu, senyum Kartika perlahan memudar. Ia mengembuskan napas panjang.
“Berat juga, ya,” gumam Kartika lirih.
Rangga yang berdiri di samping langsung tersenyum simpati. “Namanya juga seorang ibu.”
Kartika tertawa kecil walau matanya terlihat sendu.
Setelah mengantar Kalingga, Kartika langsung pergi menuju kantornya. Gedung perusahaan itu berdiri megah di pusat kota. Beberapa pegawai yang melihat kedatangannya langsung tampak terkejut sekaligus senang.
“Bu Kartika?”
“Ya ampun, akhirnya balik juga!”
Kartika tersenyum kecil sambil menggandeng Kaivan yang sibuk membawa mobil-mobilan kecil. Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan pekerjaannya setelah menikah dengan Deva.
Namun, ternyata semuanya masih terasa familiar. Ruangan kerjanya masih sama. Meja kayu besar dekat jendela. Rak penuh map. Sofa kecil tempat dulu ia sering tertidur saat lembur.
Bedanya sekarang, ada Kaivan. Anak kecil itu langsung sibuk menjelajah ruangan.
“Mama kelja di cini?”
“Iya.”
“Cendilian?”
“Kan, sama Adek.” Kartika tertawa kecil.
Tak lama kemudian beberapa pegawai masuk membawa mainan dan karpet kecil. Rupanya Rangga sudah menyuruh mereka menyiapkan area bermain khusus untuk Kaivan. Satu sudut ruangan langsung berubah menjadi tempat bermain kecil.
Ada perosotan mini, robot-robotan, mobil-mobilan, peralatan menggambar, dan tenda kecil warna biru.
“Mamaa!” Kaivan langsung duduk anteng di sana sambil memainkan mobil.
Kartika sampai tersenyum haru melihatnya. Anak itu benar-benar tidak merepotkan.
Sesekali Kaivan menghampiri Kartika hanya untuk menunjukkan gambar atau meminta dibukakan snack. Sisanya ia bermain sendiri dengan tenang.
Beberapa pegawai perempuan bahkan diam-diam gemas melihat Kaivan.
“Lucu banget sih anaknya Bu Kartika.”
“Kalau ngomong bikin pengin cubit.”
Kartika hanya tertawa kecil. Namun di balik itu, hatinya kembali nyeri. Biasanya jam segini Deva sering video call untuk melihat Kaivan.
Dan hari ini tidak ada. Dia memang sengaja menonaktifkan nomor miliknya.
Sore harinya Kartika menjemput Kalingga. Namun baru saja anak itu masuk mobil, tasnya dilempar ke kursi belakang.
“Aku enggak mau sekolah di sini!”
Kartika langsung terkejut. “Kenapa, Kakak?”
Wajah Kalingga merah. Matanya berkaca-kaca. Tangis anak itu langsung pecah.
“Aku benci sekolahnya!”
Kartika buru-buru memeluk putranya. “Heh ... kenapa?”
Kalingga menangis sambil mengusap pipinya kasar. “Mereka jahat!”
Rangga yang duduk di depan langsung saling melirik menahan senyum. “Memangnya ada apa?” tanya Rangga hati-hati.
Kalingga langsung menunjuk pipinya sendiri dengan kesal. “Tadi ada anak perempuan nyium pipi aku!”
Hening beberapa detik. Lalu, Rangga langsung batuk keras menahan tawa. Dia buru-buru menutup mulut.
Sedangkan Kartika langsung melongo. “Hah, Kakak dicium?!”
Kalingga makin kesal melihat reaksi mereka. “Aku serius! Aku lagi duduk tiba-tiba dia datang terus bilang aku ganteng! Terus dia cium aku!”
Kaivan yang mendengar langsung ikut heboh.
“Kakak dicium, adek juga mau!”
“IIIIIH!”
“Terus, apa yang Kakak lakukan?” tanya Kartika penasaran.
Kalingga langsung merengut malu sekaligus marah. “Aku dorong dia!”
Kartika langsung membelalak. “Kakak dorong anak cewek?”
“Iya!” jawab Kalingga kesal. “Aku enggak suka! Terus dia nangis! Abis itu temen-temennya marahin aku!”
Tangis anak itu pecah lagi. “Mereka bilang aku jahat sama ratu sekolah!”
Kartika langsung menahan tawa mati-matian.
“Ratu sekolah?” ulang Rangga pelan.
Kalingga mengangguk kesal. “Katanya semua anak harus nurut sama dia!”
Rangga langsung tertawa keras kali ini sambil memegang perut. “Ya ampun, hari pertama sekolah langsung bikin masalah.”
“Aku enggak salah!” protes Kalingga sambil menangis.
Kartika buru-buru mengusap punggung anaknya. “Iya... iya... Kakak enggak salah. Tapi lain kali jangan dorong terlalu keras.”
Kalingga masih cemberut. “Aku kesel!”
“Siapa sih anak perempuan berani banget itu?” tanya Rangga penasaran.
Kalingga mendengus. “Namanya Aruna. Dia bilang dia paling cantik satu sekolah.”
Rangga jelas menahan tawa. Sedangkan Kartika mulai pusing sendiri. Baru hari pertama masuk sekolah anaknya sudah bermasalah.
Rangga akhirnya menoleh sambil tersenyum jahil. “Kalingga.”
“Apa, Om?”
“Mau enggak belajar bela diri?”
Mata Kalingga langsung berkedip bingung. “Buat apa?”
“Biar kalau ada yang kasar sama kamu, bisa kamu lawan.” Rangga menyeringai kecil.
Kartika langsung melotot. “Rangga!”
Rangga malah tertawa puas. “Bercanda.”
Diam-diam pria itu memang gemas. Anak sekecil Kalingga sudah dicium perempuan duluan.
“Aku jadi pengin lihat tuh anak.”
Kartika langsung menggeleng pasrah sambil memijat pelipisnya. Sedangkan Kalingga masih duduk manyun sambil memeluk tasnya erat. Di tengah kekesalannya, anak itu diam-diam masih mengusap pipinya sendiri dengan jijik.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝