NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sudah satu bulan Kartika pergi dari rumah. Namun bagi Deva, rasanya seperti bertahun-tahun.

Setiap pulang kerja, rumah itu terasa semakin asing. Tidak ada suara Kaivan yang berlari menyambut sambil tertawa. Tidak ada Kalingga yang suka bercerita tentang sekolah dan teman-temannya. Tidak ada Kartika yang menyuruhnya cepat mandi sebelum makan malam.

Yang ada sekarang hanya rumah penuh suara pertengkaran. Dan Deva mulai membencinya.

Hari Minggu pagi itu Deva kembali menyetir mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Sejak keluar dari rumah selepas subuh, ia sudah berkeliling hampir dua jam. Jalanan kota sebelah mulai ramai oleh orang-orang yang hendak berolahraga, sarapan, atau sekadar jalan pagi bersama keluarga.

Namun, mata Deva tidak benar-benar melihat keramaian itu. Ia justru sibuk mencari satu wajah yang sangat dirindukan di setiap sudut jalan.

Mobilnya melaju pelan melewati deretan cafe yang biasa ramai anak muda. Sesekali Deva melambatkan kendaraan ketika melihat perempuan berambut panjang menggandeng anak laki-laki dari kejauhan. Namun, setiap kali diperhatikan lebih jelas bukan Kartika.

Pria itu kembali melanjutkan perjalanan. Ia masuk ke area taman kota. Tempat itu cukup ramai oleh anak-anak yang bermain sepeda dan balon. Mata Deva langsung bergerak liar mencari dua sosok kecil yang sangat dirindukannya, Kalingga dan Kaivan.

Beberapa kali dadanya berdebar ketika melihat anak kecil seusia Kaivan berlari sambil tertawa. Namun, lagi-lagi bukan anaknya.

Deva sampai mengembuskan napas panjang sambil menggenggam setir lebih erat. Sudah sebulan penuh ia berkeliling seperti orang kehilangan arah. Ia mencari ke butik Anggun. Mencari ke tempat bermain anak, ke mall, ke rumah makan favorit Kartika. Bahkan gang-gang kecil pun ia masuki satu per satu seolah berharap tiba-tiba melihat motor Kartika terparkir di sana. Namun, hasilnya tetap sama, tidak ada. Kartika benar-benar menghilang dari hidupnya, bak ditelan bumi.

Mobil Deva akhirnya berhenti di pinggir jalan dekat taman kecil. Pria itu mematikan mesin mobil lalu menyandarkan kepala ke kursi.

Matanya terasa panas. Kurang tidur selama berminggu-minggu membuat wajahnya tampak jauh lebih kusut dari biasanya. Janggut tipis mulai tumbuh tidak rapi di dagunya. Ia mengusap wajah kasar sebelum mengambil ponsel dari dashboard. Layar ponsel langsung menyala. Seperti orang bodoh yang sengaja menyiksa dirinya sendiri, Deva membuka galeri foto.

Seketika wajah Kartika memenuhi layar. Ada foto istrinya sedang tertawa di dapur sambil memegang spatula. Waktu itu Kartika marah karena dirinya diam-diam memotret saat wajahnya belepotan tepung.

Deva menelan ludah pelan. Jarinya bergeser ke foto berikutnya. Kaivan kecil tertidur pulas di dada Kartika. Wanita itu ikut tertidur sambil memeluk anak bungsu mereka dengan wajah lelah setelah begadang semalaman.

Foto Kalingga memeluk mamanya sambil menunjukkan piala lomba mewarnai. Senyum anak itu lebar sekali. Sedangkan Kartika terlihat mencium pipi putra sulung mereka penuh bangga.

Dada Deva langsung terasa sakit sekali. Ia menunduk sambil menahan napas berat.

“Kenapa kamu pergi sejauh ini, Yang,” bisiknya serak.

Selama ini Deva selalu berpikir semuanya masih bisa diperbaiki. Ia yakin Kartika hanya marah sesaat. Yakin istrinya cuma butuh waktu menenangkan diri. Karena selama ini setiap mereka bertengkar Kartika selalu mengalah lebih dulu.

Wanita itu selalu kembali dan bertahan. Namun, kali ini berbeda. Kartika pergi tanpa menoleh lagi. Kartika benar-benar berniat meninggalkan dirinya.

Kenyataan itu membuat Deva takut. Pria itu sadar kalau ia benar-benar bisa kehilangan keluarganya.

Kartika tidak pergi karena sudah tidak cinta.

Wanita itu pergi karena terlalu lama terluka sendirian.

Deva tidak pernah membayangkan Kartika tinggal di kawasan perumahan elit. Komplek besar dengan gerbang tinggi dan keamanan ketat. Tempat yang bahkan tidak bisa dimasuki sembarang orang. Karena itulah selama ini pencariannya tidak pernah membuahkan hasil.

Deva terus mencari di tempat-tempat biasa. Padahal wanita yang dicarinya berada sangat jauh dari jangkauannya.

***

Di rumah hidup Deva semakin terasa kacau setiap harinya. Rumah yang dulu bersih, rapi, dan hangat sekarang berubah berantakan seperti kapal pecah.

Pagi itu Deva baru saja pulang membeli sarapan di luar karena di rumah tidak ada makanan sama sekali. Begitu membuka pintu, langkahnya langsung terhenti di ruang tamu.

Mainan Delisa berserakan di lantai. Bahkan bungkus snack dan tisu bekas tercecer di bawah sofa. Di meja ruang tamu masih ada mangkuk mie instan yang kuahnya mulai mengering. Gelas susu dibiarkan begitu saja sampai menimbulkan bau asam.

Deva memejamkan mata sebentar. Dadanya terasa sesak. Dulu rumah ini selalu bersih, rapi, dan wangi. Kartika bahkan tidak pernah membiarkan piring kotor menginap di wastafel. Namun sekarang, rumah itu terasa sumpek dan tidak terurus.

Deva berjalan cepat menuju dapur. Keadaannya tidak jauh berbeda. Wastafel penuh piring kotor. Rice cooker kosong.NTidak ada lauk, apalagi masakan hangat. Yang ada hanya plastik bekas makanan delivery di atas meja.

Deva mengusap wajah kasar. Kepalanya langsung nyut-nyutan. Dengan emosi yang sudah menumpuk sejak pagi, Deva membuka pintu kamar yang ditempati Iriana dan Delisa.

“Iriana!”

Suara keras itu membuat Delisa yang sedang menonton video di tablet langsung kaget.

Sementara Iriana masih rebahan santai sambil bermain ponsel, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya bahkan belum dicuci.

“Apa lagi sih, Kak?!” bentak Iriana kesal karena merasa kegiatannya terganggu.

Deva menunjuk keluar kamar dengan wajah tegang. “Lihat, rumah sangat berantakan!”

Iriana mengernyit malas. “Memangnya kenapa?”

“Kenapa?!” ulang Deva tidak percaya. Rahangnya sampai mengeras menahan emosi. “Rumah berantakan kayak gitu enggak kelihatan sama kamu?!”

Iriana malah kembali menyender santai ke bantal. “Kan, bisa dibersihin nanti.”

“NANTI?!” Suara Deva menggelegar sampai Delisa langsung mengecilkan volume tablet ketakutan.

“Kamu tinggal di sini udah sebulan! Minimal tahu diri!”

Iriana langsung duduk tegak sambil melotot. “Ini bukan rumah aku! Kenapa aku yang harus capek-capek beberes?!”

Deva sampai tertawa karena terlalu kesal. Namun, tawanya terdengar pahit penuh emosi yang dipendam terlalu lama.

“Terus siapa yang beresin?!” sindirnya tajam. “Mama?!”

Iriana langsung hendak membalas, tetapi suara langkah cepat terdengar dari depan rumah. Bu Hania muncul dengan wajah tidak senang.

“Ngapain sih pagi-pagi teriak begitu sampai kedengaran keluar?!” bentak Bu Hania membela putrinya.

Deva langsung menoleh cepat. “Bu lihat sendiri rumah sekarang kayak apa!”

Tangan Deva menunjuk ke arah ruang tamu dengan kesal. “Berantakan! Jorok! Enggak pernah ada yang beres!” Dadanya naik turun menahan emosi.

Setiap hari pulang kerja ia selalu disambut rumah kacau seperti itu. Padahal dulu semua sudah tersedia tanpa dirinya perlu bicara.

Baju bersih, makanan hangat, rumah rapi juga bersih. Anak-anak terurus. Kartika mengurus semuanya sendirian tanpa banyak mengeluh.

Deva baru benar-benar menyadari tidak semua wanita bisa melakukan pekerjaan yang Kartika lakukan.

Namun Bu Hania malah mendecak tidak peduli. “Ya, tinggal sewa pembantu.”

Kalimat itu langsung membuat Deva diam. Ia memejamkan mata beberapa detik. Dia lelah dan muak. “Semua solusinya selalu uang,” gumamnya lirih. Suara pria itu terdengar sangat capek.

Bu Hania tetap tidak merasa ada yang salah. “Kamu kan gajinya besar.”

Kalimat itu langsung membuat Deva tersenyum hambar. Senyum yang menyakitkan. Dulu ucapan seperti itu terdengar biasa saja di telinganya, tetapi sekarang terasa berbeda. Selama ini keluarganya hanya melihat hasil akhirnya saja. Melihat gaji besar, punya mobil, punya rumah. Namun, tidak ada yang pernah peduli bagaimana dirinya bekerja sampai larut malam.

“Apa yang harus aku lakukan agar kalian berubah?!” batin Deva.

1
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose/
Tismar Khadijah
baru nemu cerita keren gini
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir ya dikarya pertamaku
Judul : janji yang kau ingkari

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2 dukung dan baca juga karya pertamaku
Judul : janji yang kau ingkari

Terimakasih 🙏
Raisha
motor model baru ya kak Santi,kok ada pintunya?🤭😂😂...pakai jaket & helm tp kok bukain pintu pas anaknya kluar dari skolah?🤔🤔
Partini Minok Nur Maesa
sebenarnyA tika baik.aku yakin klo klg deva baik.tanpa diminta pun pst dibantu
Partini Minok Nur Maesa
jual aja rumahnya
Partini Minok Nur Maesa
katanya tika punya saham dipsrusahaan t4 kerja deva tp kok ksejanya dit4 rangga
🌸 Sunshine 🌸: Perusahaan Rangga itu perusahaan keluarga Kartika juga.
Kalau perusahaan tempat Deva kerja, Kartika hanya punya saham di sana.
Beda kota lagi, kedua perusahaan itu.
total 1 replies
Bakulgeblek
hlah, perkara begini saja gk bisa mikir, kok berani2nya nikah...???? oealah va...va...
ngocok ae mas, rasah mbojo sik...🤣🤣🤣
Bakulgeblek
mulia kali dirimu dek...dek...
Bakulgeblek
sudahlah, cerai saja drpd jadi dosa...
Bakulgeblek
aku wong lanang we milu mencak2...
model lanangan aswwww ngunu kui...
Bakulgeblek
kwapokmu kapan....
rasakno... jingux...
4,5???
woiii jatah hepi2 bojoku diluar urusan rumah tangga dan anak wae minim 2jt...
Bakulgeblek
tugase suami....!!!
Bakulgeblek
lanangan goblog...
wong wedok kiy ncen takdire sedurunge mbojo diragati pakne, bar mbojo diragati bojone...
simbok didisekne ning ojo nglalekne bojo ro anak... blog...goblog...
Bakulgeblek: maap thor, misuhi tokohe, dudu othore 🤣
total 1 replies
Partini Minok Nur Maesa
mending pisah aja baru kembali bekerja
Partini Minok Nur Maesa
kyk film keluarga suami adalah hama
Weni Kasandra
cerita yang bagus..
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Temen2 baca jg karya pertamaku 😊
Judul : Cinta SeLaras

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2 mampir juga ya di karya pertamaku 😊
Judul : Cinta SeLaras

Terimakasih 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!