DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: DI AMBANG TANGGAL DELAPAN
Genggaman tangan pria berjaket kulit hitam itu mencengkeram erat jeruji besi pagar rumah Maya.
Ia menggoyang-goyangkan pintu pagar kusam itu dengan gerakan kasar dan tidak sabaran.
Klek! Klek!
Suara benturan nyaring dari rantai besi dan gembok perak yang menggantung tegang memecah keheningan siang lorong gang kami.
Aku merapatkan tirai sedikit.
Pria itu masih mengguncang pagar Maya seolah berharap gembok tersebut tiba-tiba terbuka.
Ia mengenakan helm teropong hitam yang menutup rapat seluruh bagian kepalanya.
Kaca helm yang agak gelap menyembunyikan raut wajah dan pandangan matanya dari balik jendela.
Ia beberapa kali memiringkan badannya, melongok ke arah jendela depan rumah Maya yang tertutup rapat oleh gorden cokelat tebal.
Gerakan tubuh pria berjaket kulit itu terlihat tergesa-gesa.
Tangannya beberapa kali mengguncang pagar, lalu menoleh ke arah jendela rumah Maya.
Melihat pria itu terus mengguncang pagar Maya, aku merasa perlu memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melangkah pelan keluar kamar, menuju area pintu depan rumahku sendiri.
Tanganku meraih ceret penyiram tanaman dari plastik hijau di dekat meja teras, lalu memutar pengunci selot kayu pintu.
Klek!
Daun pintu kayu depan kudorong perlahan ke arah luar.
Hawa udara siang Kota Malang yang mulai menghangat menyapa permukaan kulit wajah dan leherku.
Aku melangkah keluar ke teras semen, berlagak menyiram dedaunan tanaman hias milik Ranti di atas rak bambu.
Pandangan mataku tetap siaga memperhatikan sudut pekarangan sebelah sembari mengayunkan ceret plastik di tanganku.
Pria berjaket kulit hitam itu mendadak menghentikan guncangan tangannya pada pagar Maya saat menangkap gesekan langkah kakiku.
Ia berbalik cepat ke arahku, mendorong kaca helm hitamnya ke atas menggunakan telapak tangan kanan.
"Nyuwun sewu, Mas. Cari Mas Rian?"
Pertanyaan itu kuajukan dengan nada suara yang tenang, ramah, dan terkontrol dari balik pagar pekarangan rumahku.
Pria itu memperlihatkan raut wajah paruh baya berpipi tirus dengan kulit agak gelap.
Matanya yang memerah dan kerutan di keningnya memancarkan kekesalan yang sudah menumpuk sejak tadi.
"Ini rumahnya Rian kan, Bu? Mana Rian?"
"Ditelepon dari kemarin enggak pernah aktif!"
Suara pria itu melengking lumayan keras, bernada tinggi, dan penuh desakan.
"Mboten ngertos, Mas. Rumah sebelah ini sudah dipasangi gembok rapat dari luar sejak hari Rabu sore,"
Sahutku jujur sembari mengamati raut wajahnya yang makin menegang.
"Jancok... malah ngilang!"
Umpatan kasar meluncur mulus dari mulut pria berjaket kulit tersebut sembari menepuk keras setang sepeda motor matiknya.
Ia menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkerat peluh tipis di bawah sengatan matahari siang.
"Saya ini dari Toko Bangunan Subur di Tidar, Bu. Mas Rian punya utang semen sama besi beton lima belas juta lebih belum dibayar!"
Penjelasan pria itu membuatku semakin paham bahwa masalah utang Rian memang serius.
"Kemarin janjinya mau ditransfer sebelum hari Sabtu. Tapi sampai siang ini malah nomor HP-nya mati total!"
Lanjut penagih utang itu dengan napas memburu kencang di depan pagar.
"Apa Mas Rian mboten ada titip pesan atau uang sama Ibu? Ibu kan tetangga sebelah rumahnya,"
Tanya pria itu mengejar kepastian dengan mata terpaku ke arahku.
"Mboten ada titip pesan apa-apa, Mas. Kemarin sore cuma Tante Maya yang sempat pinjam sedikit uang belanja dapur, setelah itu rumahnya langsung tertutup rapat,"
Jawabku tetap menjaga batas fakta yang benar-benar kuketahui tanpa berspekulasi.
Pria berjaket kulit itu menggeram gusar, memandangi gembok perak di pagar Maya sekali lagi dengan tatapan tajam.
"Awas kalau sampai besok mboten ada kejelasan dari Mas Rian. Saya bakal bawa orang-orang toko buat bongkar ini rumah!"
Ancam pria itu keras sembari menendang ban depan sepeda motornya sendiri.
Ia menarik turun kaca helmnya dengan gerakan kaku dan kasar, lalu menekan tombol starter mesin.
Brummm!
Suara deru mesin sepeda motor matik bercat hitam itu meraung nyaring, memecah kesunyian lorong gang kami.
Pria asing itu memutar arah kendaraannya, lalu memacu sepeda motornya melintasi aspal gang dengan kecepatan tinggi.
Aku berdiri mematung di pekarangan depan, memperhatikan debu tipis yang membumbung di bekas lintasan roda motornya.
Pandangan mataku sempat melirik sejenak ke arah gembok perak tebal di pagar Maya yang membisu di bawah terik siang.
Rumah di balik gembok itu tetap tertutup rapat tanpa memberi petunjuk apa pun.
Berarti benar, masalah utang Rian bukan sekadar kabar dari warga. Pria dari toko bangunan itu sendiri datang mencarinya.
Namun, keberadaan Rian dan Maya yang menghilang secara mendadak di balik pagar yang tergembok dari luar tetap menjadi misteri yang tidak terjawab.
Aku membawa ceret plastik hijau kembali ke dalam rumah, lalu memutar kunci pintu depan rapat-rapat.
Klek!
Di ruang tengah yang terang dan hangat, Dini dan Ranti sedang duduk di meja makan porselen mengupas buah mangga harum manis.
Dini menengok ke arahku dengan raut wajah cemas saat mendengarku mengunci pintu depan.
"Bu, tadi orang berjaket kulit di luar itu siapa? Kok suaranya teriak-teriak kasar banget?"
Tanya Dini sembari meletakkan pisau dapur kecil di atas piring porselen.
"Itu penagih utang bahan bangunan dari Tidar, Din. Dia cari Mas Rian karena masalah pembayaran semen sama besi beton,"
Sahutku pelan sembari menarik kursi kayu jati untuk duduk di samping putri keduaku.
"Kalau utang materialnya sampai segitu, berarti masalah proyek Mas Rian memang berat, ya, Bu?"
Tanya Dini cepat, analisis rasionalnya mencoba mencerna angka nominal yang baru saja didengarnya.
Dini menatapku lurus, dahinya berkerut memikirkan desakan utang yang menimpa tetangga sebelah.
"Apalagi kalau proyeknya sedang tersendat dan utang materialnya sebesar itu, wajar kalau masalahnya jadi makin rumit,"
Lanjut Dini sembari menggeser piring porselen berisi irisan mangga manis.
"Aduh, kasihan Tante Maya ya, Bu. Pasti kemarin-kemarin di rumah stres banget dikejar-kejar penagih utang,"
Gumam Ranti prihatin, nada suaranya sangat lembut memancarkan kepekaan empati pada tetangga sebelah.
Ranti meletakkan garpu kecil, memandangi dinding samping yang memisahkan rumah kami dengan pekarangan Maya.
"Pantesan waktu pinjam uang belanja sama Ibu kemarin sore, muka Tante Maya pucat banget kayak orang kebingungan,"
Tambah Ranti dengan mata berkaca-kaca menatapku penuh iba.
"Iya, Ran. Masalah uang memang bisa membuat hubungan orang bertengkar dan bingung,"
Sahutku menepuk pelan punggung tangan Ranti, menyaring setiap informasi agar kedua anakku tidak perlu menanggung beban ketakutan.
Aku sengaja menyimpan rapat-rapat temuan potongan kain perca basah di laci kamar maupun ingatan pada suara seretan malam hari.
Bagi anak-anakku, cukuplah mereka mengetahui masalah ini sebagai kesulitan ekonomi tetangga yang patut diwaspadai.
"Kemarin Bu RT juga bilang Pak RT sempat didatangi penagih utang material lain,"
Tambah Dini mengingatkan obrolan warga tadi pagi.
"Makanya kalian berdua kalau di rumah harus tetap waspada dan pastikan pintu depan sama jendela selalu dikunci rapat,"
Pesanku menegaskan kembali instruksi keselamatan bagi kedua putriku di rumah.
"Iya, Bu, pasti kami kunci terus kok. Pintu samping juga sudah Dini selot rapat dari dalam,"
Balas Dini mantap menganggukkan kepala.
Ranti meraih piring yang berisi irisan mangga, lalu mengangsurkannya mendekat ke tanganku.
"Dimakan dulu mangganya, Bu. Dari tadi Ibu kelihatan capek banget,"
Ujar Ranti lembut sembari tersenyum tenang.
"Matur nuwun nggih, Ran. Kamu sama Dini selalu bikin Ibu tenang,"
Balasku mengambil sepotong irisan mangga manis itu.
Melihat mereka berdua tetap tenang membuat pikiranku sedikit lebih ringan.
Ranti mengusap permukaan meja porselen dengan lap kain bersih, lalu merapikan piring-piring bekas sarapan.
Dini beranjak menuju ruang depan untuk memeriksa kembali kerapatan kait pengunci jendela kaca.
Suasana rumah kami terasa hangat dan damai di tengah teka-teki ganjil yang menyelimuti pekarangan sebelah.
Sore hari perlahan-lahan menyelimuti permukiman kami saat hawa dingin khas pegunungan merayap masuk dari luar.
Sinar matahari yang meredup menciptakan bayangan panjang dan tebal di sepanjang lorong gang samping.
Aku melangkah dari Dapur menuju area lorong samping, melongok sejenak ke arah dinding pembatas rumah kami.
Dinding semen dan atap genteng rumah Maya berdiri membisu di bawah temaram bayangan sore yang dingin.
Keheningan mutlak melingkupi pekarangan sebelah, tanpa ada satu pun tanda-tanda kehidupan atau aktivitas manusia.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar tidur utamaku untuk merapikan meja kerja dan lemari pakaian.
Aku mengembuskan napas panjang.
Entah kenapa, angka 8 di kalender dinding itu membuat pikiranku kembali pada Maya.
Hari Sabtu tanggal 7 ini akan segera berakhir dalam hitungan jam.
Artinya, esok hari adalah hari Minggu tanggal 8—tanggal yang disebut Maya ketika berjanji akan membayar pinjamannya dua hari lalu.
Aku berjalan mendekati meja rias kayu di sudut kamar tidurku.
Tanganku mengambil kunci kecil dari dalam saku kemeja, lalu memasukkannya ke lubang kunci laci bagian atas.
Klek!
Laci kayu itu terbuka pelan, memperlihatkan tumpukan benda penting yang tersimpan rapi di dalamnya.
Di sana, nota kelontong berangka 8 tebal, buku catatan alamat Mbak Yuni, dan potongan kain perca basah tersusun berdampingan.
Aku menyentuh tepi potongan kain perca kusam yang terbungkus tisu bersih itu dengan ujung jari tangan kananku.
Sensasi dingin yang terasa kaku masih menempel kuat di permukaannya, disertai samar aroma tanah merah basah yang khas.
Tiga benda itu membuatku semakin sulit menganggap semua kejadian di rumah sebelah sebagai kebetulan.
Didorong oleh rasa penasaran dan keinginan mencari kejelasan rasional, aku meraih telepon genggam hitam milikku dari atas meja rias.
Aku membuka daftar kontak, menekan nomor telepon Rian yang pernah diberikan Pak RT dua hari lalu.
Layar ponsel memperlihatkan panggilan menyambung selama beberapa detik.
Tut... tut... tut...
Suara nada panggilan mendadak terputus kasar, berganti nada rekaman otomatis operator seluler.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
Panggilan itu gagal. Entah ponselnya mati atau berada di luar jangkauan, aku tetap tidak bisa menghubunginya.
Aku menarik napas panjang, meletakkan kembali ponsel di atas meja kayu.
Aku mendorong laci meja rias hingga rapat kembali, lalu memutar kuncinya sampai berbunyi klak.
Klek!
Malam hari melingkupi permukiman gang kami sekitar pukul sembilan malam.
Suara azan Isya dari pengeras suara mushola gang bersahut-sahutan dengan hembusan angin malam yang makin menggigit kulit.
Selesai memastikan seluruh selot pintu dan jendela terkunci rapat dari dalam, aku mematikan lampu utama ruang tengah.
Suara desir angin malam yang berhembus melintasi dahan pohon mangga di pekarangan terdengar amat jelas di kesunyian.
Deru mesin sepeda motor tetangga yang melintas di jalan raya depan gang perlahan-lahan menghilang, meninggalkan keheningan tebal.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar tidur utamaku, menyalakan lampu tidur temaram di sudut meja rias.
Suasana kamar terasa hening dan dingin.
Aku melangkah mendekati jendela kayu depan, memeriksa kerapatan engsel dan kait penguncinya sekali lagi.
Hawa dingin malam menyusup kaku melalui celah kayu tebal, membelai kulit jemariku.
Aku kembali duduk di tepi ranjang kayu jati, menyandarkan punggung pada dinding papan tempat tidur yang berbatasan langsung dengan lorong samping.
Setiap detik yang bergerak pada jarum jam dinding kamar terasa berjalan amat lambat dan menekan jiwaku.
Pikiranku terus teringat pada ucapan Maya dua hari lalu saat meminjam uang dengan jemarinya yang gemetar.
Namun, ke mana sebenarnya Maya dan Rian pergi di balik gembok pagar yang terkunci rapat dari luar tetap menjadi misteri.
Waktu di jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam.
Suhu udara di dalam kamar tidurku mendadak merosot jauh lebih dingin dari biasanya.
Hawa dingin yang asing menyusup masuk melintasi celah dinding, membuat tengkuk dan kedua lenganku meremang.
Bersamaan dengan penurunan suhu udara itu, dari arah celah ventilasi atas jendela depan, berhembus semerbak aroma pekat.
Bau tanah merah basah yang segar bercampur aroma kain lembap tua berhembus tajam memenuhi seluruh ruangan kamar.
Bau itu terasa amat pekat dan menusuk hidung, persis seperti aroma pada telepon kantor berdesis dan potongan kain perca di laciku.
Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada di balik kemeja tidur yang kukenakan.
Rasa cemas yang menekan dada membuat napasku terasa agak tertahan di dalam keheningan kamar.
Aku menegakkan posisi dudukku di tepi ranjang, memandangi pergerakan jarum jam dinding yang terus berputar pelan.
Setiap ketukan detik jam dinding seolah beradu cepat dengan detak jantungku di tengah kegelapan kamar.
Jarum panjang jam dinding tepat menyentuh angka dua belas malam.
Ting... ting... ting...
Suara denting lonceng jam dinding di ruang tengah bergema dua belas kali di tengah kesunyian rumah.
Denting lonceng itu menandai resmi bergantinya hari Sabtu tanggal 7 menuju hari Minggu tanggal 8.
Tepat saat denting lonceng terakhir terhenti membisu, sebuah ketukan kaku dan nyaring mendadak menghantam pintu samping rumahku dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan kayu itu bergetar keras dan teratur di tengah keheningan malam yang pekat.
Bersamaan dengan ketukan itu, dari arah ambang pintu samping yang terkunci selot besi, terdengar suara gesekan halus kaku.
Krrrit... krrrit...
Suara gesekan itu terdengar seperti kain basah atau jemari kaku yang merayap pelan di atas ubin semen.
Aku menahan napas di dalam kegelapan kamar, memegang dada dengan telapak tangan yang membeku dingin.
---