Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Mulut Gua
Angin malam bertiup kencang, membawa aura keheningan yang mencekam di luar mulut gua. Sosok bertopeng tengkorak itu melayang perlahan turun dari dahan pohon, mendarat di atas batu basah tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Sepasang belati di tangannya dilapisi cairan hitam pekat yang memancarkan bau amis beracun. Matanya di balik topeng menatap Hiraisin bagaikan seekor elang yang siap menyambar mangsanya.
"Berapa harga yang ditawarkan Gani untuk kepalaku?" suara Hiraisin memecah kesunyian malam, terdengar dingin tanpa sedikit pun nada gemetar.
Pembunuh bayangan itu terkekeh nyaring. Suaranya melengking garang, menggetarkan daun-daun kering di sekitarnya.
"Tiga ribu keping emas murni dan seluruh harta karun pusaka milik Sekte Awan Putih," jawab pembunuh bayangan itu. "Nilai yang sangat fantastis hanya untuk mencabut nyawa seekor tikus kecil sepertimu."
Dari balik kegelapan gua, Master Kaelen berdiri tenang sambil menggenggam tongkat kayunya. Pria tua itu tidak berniat mencampuri pertarungan ini.
"Ini adalah ujian pertamamu, Hiraisin," bisik Master Kaelen dalam batinnya. "Gunakan apa yang telah kau pelajari dari Mantra Hati Petir."
Hiraisin tidak menjawab. Tangan kanannya perlahan menyentuh hulu pedang patah yang terikat di punggungnya.
Ia bisa merasakan denyut energi petir yang bergejolak panas di dalam tubuhnya, siap untuk meledak kapan saja. Namun, mengingat pesan Kaelen, Hiraisin menekan gejolak itu rapat-rapat agar keberadaan energi purbanya tidak membumbung terlalu mencolok.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seorang pembunuh," bisik Hiraisin datar.
"Kesombonganmu akan menjadi penyesalan terakhirmu!" raung sang pembunuh bayangan.
Dalam sekejap mata, tubuh sosok bertopeng itu memudar dan menyatu sempurna dengan bayangan malam. Ia lenyap dari pandangan, meninggalkan jejak bau racun yang menyengat di udara.
Hiraisin memejamkan matanya rapat-rapat. Dalam kegelapan batinnya, ia tidak lagi mengandalkan penglihatan mata telanjang, melainkan getaran arus ozon di sekitarnya.
Czzz...
Arus listrik tipis yang sangat halus menyebar dari telapak kaki Hiraisin, merayapi permukaan tanah dan batu basah dalam radius sepuluh meter.
"Di sana!"
Hiraisin mendadak bergeser setengah langkah ke kanan. Ujung belati beracun menyambar tepat di samping telinganya, memotong beberapa helai rambutnya yang melayang.
Ssst!
Gagal dengan serangan pertamanya, sang pembunuh bayangan berputar cepat di udara. Belati keduanya meluncur lurus mengincar tenggorokan Hiraisin dengan kecepatan merusak.
Tring!
Suara dentang besi membentur besi bergema nyaring di malam yang sunyi. Hiraisin berhasil menangkis serangan mematikan itu menggunakan bilah pedang patahnya.
Percikan bunga api berkilauan di antara kedua senjata tersebut, menerangi wajah tegang sang pembunuh di balik topeng tengkoraknya.
"Bagaimana mungkin kau bisa membaca pergerakanku?" seru pembunuh bayangan itu kaget. Matanya membelalak tak percaya.
"Teknik menyembunyikan diri milikmu terlalu lambat untuk mataku," balas Hiraisin dingin.
Pembunuh bayangan itu melompat mundur beberapa meter, menapak ganjil di atas dahan pohon. Rasa terkejutnya dengan cepat berubah menjadi amarah yang meluap-luap.
"Jangan membual, Bocah!" jeritnya murka. "Aku adalah Gagak Hitam Tingkat Tiga! Kau hanya beruntung!"
Sang pembunuh merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Aura hitam pekat terpancar dari tubuhnya, membelah diri menjadi tiga bayangan identik yang mengepung Hiraisin dari tiga arah berbeda.
"Teknik Rahasia Bayangan: Tiga Bayangan Penjagal!"
Ketiga sosok itu meluncur bersamaan secara melingkar, menciptakan badai belati beracun yang mengurung semua jalur melarikan diri Hiraisin.
Master Kaelen menyaksikan adegan itu dengan mata terpaku. Tangannya yang menggenggam tongkat kayu menegang sejenak.
"Dia menggunakan ilmu ilusi bayangan murni," gumam Kaelen khawatir. "Tanpa energi petir yang eksplosif, sulit membedakan tubuh aslinya dalam kegelapan."
Namun, Hiraisin tetap tenang di tengah kepungan angin tebasan beracun. Ia menarik napas dalam-dalam, mengalirkan mantra suci ke dalam meridian tangannya.
Mantra Hati Petir Suci: Aliran Senyap.
Energi listrik di dalam tubuh Hiraisin tidak lagi meledak menjadi petir raksasa yang membakar seperti saat melawan Ravaka. Kali ini, energi itu memadat menjadi garis tipis berwarna ungu keemasan di sepanjang mata pedang patahnya.
Ujung pedang berkarat itu berdengung halus, memancarkan getaran frekuensi tinggi yang sangat tajam.
"Hancur!" teriak ketiga bayangan itu serentak, menundukkan belati mereka tepat ke jantung Hiraisin.
Di detik-detik paling kritis, Hiraisin menghentakkan tumitnya ke tanah keras.
Zap!
Tubuh Hiraisin bergerak melingkar dalam kecepatan kilat yang hampir tak kasat mata. Garis cahaya ungu tipis terukir indah membelah kegelapan malam.
Crasss!
Dua bayangan ilusi di samping kiri dan kanannya hancur berkeping-keping menjadi asap hitam. Sementara itu, sosok asli pembunuh bayangan yang berada di tengah mendadak membeku kaku di udara.
Kedua belati beracun di tangannya patah terbelah menjadi dua bagian. Garis memar membara kemerahan menjalar lurus di sepanjang dadanya hingga menembus bagian belakang punggungnya.
"Ini... bukan... ilmu pedang biasa..." bisik sang pembunuh bayangan dengan suara gemetar hebat.
Topeng tengkorak yang dikenakannya terbelah dua dan jatuh terhempas ke tanah, memperlihatkan wajah pria paruh baya yang penuh luka bakar.
"Kau... Pendekar Pedang..."
Sebelum kata-katanya selesai terucap, tubuh sang pembunuh roboh menghantam tanah basah. Napasnya terhenti seketika saat energi petir menyengat organ dalamnya hingga tak berfungsi.
Suasana malam kembali diliputi kesunyian yang mencekam. Hiraisin menarik pedang patahnya kembali, mengusap sisa jelaga di bilahnya sebelum menyarungkannya ke punggung.
Master Kaelen melangkah keluar dari dalam gua, menatap jenazah pembunuh bayangan di tanah dengan binar mengagumi.
"Penyatuan energi petir yang luar biasa," puji Kaelen tersenyum puas. "Kau tidak membuat ledakan suara, namun daya tebasannya sepuluh kali lebih mematikan dari sebelumnya."
Hiraisin membungkuk perlahan, memeriksa pakaian pembunuh bayangan yang tewas tersebut. Dari dalam saku jubah hitamnya, ia menemukan sebuah lencana besi berbentuk kepala gagak serta gulungan peta tua.
"Lencana ini milik Sindikat Gagak Hitam," ujar Kaelen sembari memperhatikan lencana tersebut. "Dan peta ini menunjukkan jalur rahasia menuju wilayah dalam Kota Angin Kelam."
Hiraisin menggegam lencana besi itu erat-erat hingga sudut-sudutnya menancap di telapak tangannya.
"Gani berpikir dia bisa bersembunyi di balik perhimpunan pembunuh ini," bisik Hiraisin dengan pandangan mata yang membara. "Dia tidak tahu bahwa aku sedang mengincarnya."
"Ingat pesanku, Hiraisin," tegur Kaelen dengan raut wajah kembali serius. "Kota Angin Kelam adalah sarang serigala. Jangan bertindak gegabah sebelum kau menemukan tempat pijakan yang aman di sana."
"Aku mengerti, Master Kaelen," jawab Hiraisin tegas. "Aku akan bertindak dengan hati-hati."
Setelah berpamitan dan menerima bekal obat dari Kaelen, Hiraisin membalikkan badan dan mulai melangkah turun menyusuri jalan setapak pegunungan yang curam.
Langkahnya mantap menembus kabut tebal malam, bergerak menuju kota perbatasan yang penuh dengan kejahatan dan bahaya.
Sementara itu, di sebuah kedai minuman yang megah di pusat Kota Angin Kelam, Senior Gani sedang duduk menikmati anggur mahal bersama seorang pria berwajah licik.
Tiba-tiba, sebuah lilin di sudut meja Gani padam dengan sendirinya, memancarkan bau asap beracun yang aneh.
Gani tertegun, cangkir anggur di tangannya bergetar hebat saat firasat buruk yang teramat sangat mendadak menusuk dadanya.