NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:155.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sinar matahari gurun yang mulai meredup membiaskan pendar jingga keemasan di sepanjang jalan Deira yang sibuk. Naya melangkah santai menyusuri trotoar berubin bersih usai menyelesaikan agenda belanja kecilnya di toko oleh-oleh Nusantara-Arab Sahabat Dubai Heritage.

Pengalaman singkat bertegur sapa dengan Zeyad di depan toko tadi meninggalkan kesan yang cukup menyenangkan di hatinya. Pria blasteran itu memiliki kombinasi unik: ketegasan wajah Timur Tengah yang dipadu dengan keramahan santun khas Jawa yang sangat natural. Tidak ada arogansi, tidak ada upaya untuk mendominasi—hanya interaksi antarmanusia yang saling menghormati.

Naya menumpang taksi untuk menuju kawasan pemukiman apartemennya. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit, melintasi jajaran gedung pencakar langit yang megah.

Begitu sampai di apartemennya yang serba putih di lantai empat, Naya meletakkan tas belanjaannya di atas meja pantry. Suasana hening apartemen terasa menenangkan. Ia menyeduh secangkir teh chamomile hangat, lalu membawa cangkir tersebut ke arah balkon kaca yang menghadap langsung ke arah lanskap kota.

Ponsel di dalam tasnya bergetar panjang. Naya merogohnya dan melihat nama Sarah terpampang di layar.

"Assalamu’alaikum, Mbak Sarah," sapa Naya lembut seraya menyesap tehnya.

"Wa’alaikumsalam, Naya! Kamu sudah sampai apartemen?" suara Sarah terdengar riang dari seberang telepon.

"Sudah, baru saja duduk di balkon. Ada apa, Mbak?"

"Cuma mau mengingatkan, jangan lupa nanti jam tujuh malam ya! Aku sama mas Danang sudah booking tempat di restoran daerah Marina. Ingat, ini perayaan hari pertama kamu kuliah sekaligus ada teman penting yang mau kami kenalkan!" ujar Sarah penuh semangat.

Naya tertawa kecil. "Iya, Mbak Sarah. Aku ingat kok. Aku siap-siap sejam lagi."

"Sip! Dandan yang anggun ya, calon psikiater kesayangan! Sampai ketemu nanti!"

Setelah sambungan telepon terputus, Naya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Kehadiran orang-orang yang tulus seperti Sarah dan Danang sangat membantunya melalui proses transisi kehidupan di negeri orang.

**

Malam di Dubai Marina selalu punya caranya sendiri untuk memamerkan keindahan. Pantulan cahaya gedung-gedung pencakar langit menari anggun di atas permukaan air teluk yang tenang, membiaskan pendar keemasan pada deretan yacht yang bersandar rapat di dermaga. Udara malam berembus cukup sejuk, membawa aroma samar garam laut dan wewangian kayu cendana yang khas dari promenade.

Pukul setengah tujuh malam, Naya menyelesaikan sematan terakhir pada jilbab krem lembutnya. Ia berdiri sejenak di depan cermin, memeriksa gamis terusan warna navy berpotongan simpel. Penampilannya rapi, elegan, dan memancarkan wibawa alami seorang akademisi muda tanpa harus terkesan berlebihan.

Setelah memesan taksi daring, ia meluncur menembus kepadatan lalu lintas Dubai yang gemerlap. Pikiran Naya sempat melayang pada rangkaian kejadian beberapa hari terakhir. Langkah kaki yang membawanya jauh ke negeri orang ini bukan sekadar pelarian, melainkan bentuk penyembuhan atas luka lama yang tak pernah ia biarkan membusuk di dalam dada.

Tiba di restoran berlantai dua yang dipilih Sarah, pelayan berseragam rapi langsung menyambut dan mengantarkannya menuju area outdoor di dek atas. Meja bundar yang mereka pesan berada di sudut strategis, terlindung panel kaca transparan yang langsung menghadap ke pemandangan dermaga.

"Naya! Di sini!"

Suara khas Sarah memecah hiruk-pikuk lembut restoran. Wanita itu melambaikan tangan dengan antusias. Naya tersenyum pelan, melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang tenang dan percaya diri.

Di meja itu, Sarah tidak sendiri. Ada Danang, serta dua pria lain. Salah satunya duduk membelakangi arah kedatangan Naya—seorang pria berpostur tinggi tegap dengan kemeja linen hitam yang lengan bajunya digulung rapi hingga batas siku. Bahunya yang lebar dan cara duduknya yang santai menunjukkan porsi rasa percaya diri yang matang.

"Nah, ini dia bintang utama kita malam ini!" seru Sarah begitu Naya sampai di tepi meja.

Pria berkemeja hitam itu perlahan memutar badannya, berdiri dari kursi untuk menyambut tamu yang baru datang. Begitu pandangan mereka bertaut, langkah Naya sempat tertahan sepersekian detik.

Aura pria di hadapannya sangat khas. Struktur rahang tegas dengan garis keturunan Arab-Jawa yang kentara, cambang tipis terawat, serta sepasang mata cokelat gelap yang memancarkan binar hangat. Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Naya?" sapa pria itu. Suara beratnya terdengar renyah dan santun. "Ternyata mahasiswi spesialisasi yang diceritakan Danang sejak tadi itu kamu?"

Dahi Naya berkerut halus, meski raut terkejut di wajahnya tetap tertata rapi. "Mas Zeyad? Jadi... rekan yang diceritakan Mbak Sarah dan Mas Danang itu Anda?"

Zeyad mengangguk pelan, meletakkan telapak tangan kanannya di dada sebagai bentuk penghormatan tanpa menyentuh.

"Selamat malam, Naya. Akhirnya kita bisa bertemu lagi dalam suasana yang resmi."

Ia kemudian tertawa pelan—suara tawa yang renyah dan jujur, seketika mencairkan kekakuan yang sempat menggantung. "Dunia ternyata tidak selebar yang kita bayangkan. Saya baru tahu dari Sarah sore tadi kalau mahasiswi berprestasi yang dipuji Profesor Vance pagi ini adalah orang yang sama dengan yang bertemu di perpustakaan dan mampir ke toko oleh-oleh."

Sarah dan Danang saling pandang dengan raut heran bercampur bingung.

"Lho? Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Sarah heboh, matanya berbolak-balik menatap Naya dan Zeyad.

"Tidak sengaja bertemu lebih tepatnya, Mbak," jawab Naya tenang seraya menyimpulkan senyum tipis.

"Masya Allah... emang dunia sempit banget ya," seloroh Danang seraya terkekeh dan mempersilakan semua orang kembali duduk. "Oh ya Naya, kenalin juga, ini dokter Hasby. Dokter spesialis kesehatan jiwa yang bekerja di klinik medis punya Emir."

Naya menoleh ke arah pria berkacamata di samping Zeyad. "Naya," sapanya santun, menangkupkan kedua tangan di depan dada.

"Hasby," balas pria itu ramah. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung. Emir dan Danang sudah banyak cerita soal analisis kasus yang kamu susun kemarin."

Naya sempat melirik Zeyad perlahan. "Mas Zeyad seorang dokter juga?"

Zeyad yang baru saja menuangkan air mineral ke gelasnya tertawa kecil. "Bukan. Saya ini cuma pemilik klinik medis, tidak jadi dokter. Maunya dulu memang ambil kedokteran, tapi karena saya tidak terlalu pandai belajar dan menghafal detail anatomi, makanya tidak kesampaian. Jadi saya ambil jalur bisnisnya saja, lalu merekrut orang-orang hebat seperti Dokter Hasby ini."

Candaan yang disampaikan secara terbuka dan tanpa beban ego itu membuat seluruh meja tertawa renyah. Rasa canggung yang biasanya muncul saat orang-orang baru berkumpul menguap begitu saja.

Percakapan sepanjang makan malam berjalan sangat mengalir. Hidangan bergaya Mediterania disajikan bertahap, namun perhatian Naya lebih banyak tersedot pada kualitas diskusi di meja tersebut. Tidak ada hierarki yang menekan, tidak ada pamer status sosial, dan tidak ada dominasi percakapan.

Ketika topik bergeser ke arah integrasi antara terapi perilaku klinis dan ruang perawatan medis, Naya menyampaikan pandangannya mengenai penanganan trauma jangka panjang pada pasien pasca-krisis.

"Pendekatan medis sering kali berfokus pada pemulihan gejala fisik atau penstabilan hormon lewat medikasi," tutur Naya dengan nada bicara yang teratur dan jelas. "Namun tanpa ruang aman secara psikologis untuk memproses akar ketakutannya, pasien cenderung kembali ke pola defensif yang sama begitu obat dihentikan."

Dokter Hasby mengangguk setuju, sementara Zeyad mendengarkan dengan gestur tubuh yang condong ke depan. Tangannya bertumpu di meja, pandangan matanya fokus menatap Naya tanpa mengintimidasi.

"Artinya," sela Zeyad dengan nada suara yang tenang, "fasilitas kesehatan tidak boleh cuma menyediakan ruang periksa yang steril, tapi juga atmosfer ekosistem yang humanis. Menurutmu, Naya, apakah desain lingkungan klinis berpengaruh langsung pada percepatan pemulihan trauma?"

"Sangat berpengaruh," balas Naya tegas. "Elemen visual, privasi, hingga cara staf menyapa pasien di pintu depan adalah bagian dari terapi itu sendiri."

Zeyad mengangguk-angguk pelan, tampak mencatat poin itu dalam benaknya. "Menarik. Itu sudut pandang yang sangat presisi dari sisi psikologi klinis. Klinik kami sedang merancang ruang perawatan baru, dan pendekatan seperti ini yang jujur saja sering terlewat oleh pertimbangan bisnis."

Naya meresapi momen itu dalam diam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berada di tengah percakapan dua arah yang benar-benar sejajar. Pria di hadapannya ini tidak memandangnya sebagai sosok yang harus dikoreksi, ditundukkan, atau dibatasi oleh norma patronase. Zeyad mendengarkannya sebagai seorang profesional yang setara, menghargai pemikiran dan kapasitas intelektualnya secara utuh.

Sensasi ini sangat bertolak belakang dengan masa lalunya—saat suaranya sering dianggap angin lalu di bawah bayang-bayang doktrin keberagamaan yang dipelintir untuk membenarkan kesewenang-wenangan.

Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, angin laut berembus sedikit lebih kencang. Sarah dan Danang mulai memilah dokumen kerja sama yang mereka bawa, sementara Hasby berpamitan lebih awal karena ada panggilan darurat dari rumah sakit mitra.

Zeyad memperbaiki posisi duduknya, menatap Naya dengan binar mata yang dalam namun tetap menjaga batas kesopanan. "Pilihanmu untuk mengambil spesialisasi psikiatri klinis di sini... keputusan yang sangat berani, Naya."

Naya tersenyum tipis, merapikan cangkir teh kamomil di depannya. "Setiap orang punya garis waktu untuk memperjuangkan apa yang sempat tertunda, Mas."

"Dan kamu tidak membiarkan apa pun menghentikan garis waktu itu," tanggap Zeyad pelan. Ada ketulusan murni dalam kalimatnya, bukan sekadar basa-basi pujian.

"Saya mengagumi keteguhan itu."

Kata-kata itu sederhana, namun dampaknya merambat pelan ke dalam dada Naya, menghadirkan kehangatan yang asing namun menenangkan.

**

Makan malam telah usai. Danang dan Sarah sedang berjalan menuju area lobi untuk mengurus transportasi pulang, sementara Naya dan Zeyad berdiri berdua di dekat pembatas kaca yang menghadap ke dermaga.

"Terima kasih untuk malam ini, Mas Zeyad," ujar Naya lembut. "Diskusi tadi sangat membuka perspektif baru buat saya."

Zeyad tersenyum hangat, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana bahan yang ia kenakan. "Saya yang harusnya berterima kasih, Naya. Pemikiranmu sangat berharga. Kalau kamu ada waktu di luar jadwal kuliah, klinik kami sangat terbuka kalau kamu mau berkunjung atau sekadar melihat-lihat sistem pelayanan di sana."

"Insya Allah, Mas. Nanti saya kabari Mbak Sarah."

Zeyad menatap Naya sejenak, lalu mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam elegan dari saku jas yang sempat ia gantung di kursinya tadi. Ia mengulurkannya pada Naya.

"Ini apa, Mas?" tanya Naya bingung.

"Koleksi wewangian kayu cedar dan amber dari toko saya," jawab Zeyad pelan. "Bukan hadiah berlebihan, hanya kenang-kenangan ucapan selamat datang di Dubai. Aromanya sangat tenang, cocok untuk menemani malam-malam panjang saat belajar."

Naya ragu sejenak, namun melihat ketulusan tanpa pamor di mata Zeyad, ia akhirnya menerima kotak tersebut.

"Terima kasih banyak, Mas."

***

1
phi_dvas🌼
💪👍👍
enungdedy
ahh harusnya tuh gk usah direstui tuh si rani sm reyhan...mlh sruh nikah resmi
kan jdi gemes klo.gini😄
bibuk Hannan & Afnan
maaf 🙏 nih thor jangan wali, alangkah baiknya penyematan ulama saja jangan wali.

maaf 🙏 jangan tersinggung
enungdedy
harusnya kyai jngan maksain reyhan utk nikahi resmi si rani..biarin aja lah
biar mereka berdua sma2 menyesal
bibuk Hannan & Afnan
bukan pendekatan lg prof tp pengalaman pribadi Naya sendiri 🤭🤭
bibuk Hannan & Afnan
oy Rani kamu sebatang kara juga udah dewasa bukan bocah woy elah serasa dunia mau kiamat aja gak punya sandaran, bisa cari kerja sambil nerusin kuliah biar bermartabat drpd jd yg kedua siri pula, sudah tau Gus Reyhan kala itu statusnya sudah menikah mau mau aja dasar pelakor,
bibuk Hannan & Afnan
ekspektasi mu ketinggian Rani,
Naya cerdas berpendidikan dr latar belakang keluarga yg beradab pula, lah kamu sudah orang biasa dgn merebut suami orang berharap dihormati, mimpi, sanksi sosial cap pelakor itu selamanya meski sudah bertaubat tp cap pelakor itu tdk akan hilang,
bibuk Hannan & Afnan
Al Fatih, duh nama belakangnya sama dgn mantan euy 🤭
bibuk Hannan & Afnan
bersedekah tangan?
maksudnya bersedekap tangan kali ya thor, masa bersedekah 🤭🤭
cecla9
biar cepet mereka bersatu
cecla9
jangan klamaan ah
Shinta Syawal
mana bab selanjutnya
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!