Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bai Hui menunduk dalam-dalam, sampai keningnya menyentuh lantai kayu yang dingin.
"Hamba yang melakukannya, Tuan," ucapnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Hamba sendiri. Tidak ada yang menyuruh hamba."
"Kenapa?" Lin Boqing menatapnya tajam. "Apa untungnya bagimu, seorang dayang paviliun, mencelakai putriku?"
Bai Hui diam sejenak, dadanya naik turun menahan isak. "Hamba... hamba iri, Tuan. Melihat Nona Yuxin diperlakukan istimewa sejak kembali, sementara Nona Ruoxi yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga ini justru... justru terasa tersisih. Hamba hanya ingin membuat masalah untuk Nona Yuxin. Hamba khilaf."
Kalimat itu terdengar janggal bahkan di telinga orang-orang yang tidak mencurigainya, tapi tak seorang pun membantahnya. Nyonya Su mendesah berat, menggeleng seolah kecewa dengan kelakuan seorang pelayan yang tidak tahu diri.
"Bawa dia dan pelayan itu ke gudang, kurung dulu malam ini," perintah Lin Boqing pada penjaga yang berdiri di ambang pintu. "Besok pagi kita bicarakan hukumannya di hadapan kepala rumah tangga."
Dua penjaga segera menyeret Lao Zhou dan Bai Hui keluar. Sebelum benar-benar melewati ambang pintu, Bai Hui sempat menoleh sekali lagi ke arah Ruoxi tapi bukan tatapan benci, melainkan tatapan seseorang yang berharap akan ditolong, dan tahu pertolongan itu tidak akan datang.
Ruoxi memalingkan wajah lebih dulu.
"Ruoxi," Lin Boqing berkata, nada suaranya melunak sedikit, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya reda, "kejadian ini bukan salahmu. Tapi mulai sekarang, awasi pelayan-pelayanmu lebih baik."
"Aku mengerti, Ayah. Aku akan lebih berhati-hati." Ruoxi membungkuk, suaranya masih bergetar halus, air mata masih menggantung di ujung matanya.
Nyonya Su melepaskan pelukannya pada Yuxin, mengusap rambutnya yang berantakan. "Kau sebaiknya istirahat, Nak. Ibu akan minta pelayan lain berjaga di depan pintumu malam ini."
"Terima kasih, Ibu." Yuxin menunduk, wajahnya masih basah, tapi di balik bulu matanya yang berat oleh air mata, sepasang mata itu diam-diam mengawasi punggung Ruoxi yang berjalan keluar.
Satu per satu orang meninggalkan kamar itu, membawa cahaya pelita bersama mereka, sampai yang tersisa hanya Yuxin dan Xiao Yan, dikelilingi kegelapan yang perlahan kembali menelan ruangan.
Xiao Yan menutup pintu geser pelan-pelan, lalu bersandar padanya, seluruh tenaganya seakan baru saja terkuras habis. "Nona... itu tadi... Bai Hui menutupi Nona Ruoxi?"
Yuxin duduk di tepi ranjang, akhirnya membiarkan wajahnya kembali tenang, tanpa air mata, tanpa isak, seperti topeng yang baru saja dilepas.
"Tentu saja," jawabnya pelan. "Dia sudah bertahun-tahun dilatih untuk itu."
Dia menatap ke arah jendela, ke kegelapan paviliun seberang tempat Ruoxi baru saja kembali.
"Tapi Bai Hui baru saja masuk penjara demi orang yang bahkan tidak berani menatap matanya saat dia diseret pergi," lanjut Yuxin pelan. "Aku penasaran, berapa lama lagi kesetiaan semacam itu akan bertahan."
Malam itu, di dalam gudang penyimpanan yang lembap dan gelap, Bai Hui duduk meringkuk di sudut, tangannya terikat tali kasar di depan tubuh. Lao Zhou tergeletak beberapa langkah darinya, mengerang pelan setiap kali bergerak.
Suara langkah kaki terdengar di luar pintu gudang. Namun langkah itu, berbeda dari derap penjaga yang biasa berpatroli.
Celah kecil di sela pintu kayu menampakkan cahaya lilin kecil, dan di baliknya, sepasang mata yang sangat dikenal Bai Hui.
"Nona," bisiknya, suaranya penuh harap. "Nona datang untuk mengeluarkanku?"
Ruoxi berjongkok di luar pintu, lilin kecil diletakkan di tanah agar cahayanya tidak terlalu terang. "Aku tidak bisa mengeluarkanmu malam ini, Bai Hui. Terlalu berisiko."
Wajah Bai Hui berubah pucat. "Nona... aku sudah menanggung semuanya untukmu. Aku bilang aku bertindak sendiri."
"Aku tahu, dan aku berterima kasih." Suara Ruoxi lembut, hampir menenangkan. "Karena itu aku datang. Dengar baik-baik, Bai Hui. Besok pagi, saat mereka menanyaimu lagi, kau harus tetap pada cerita yang sama. Katakan kau bertindak sendiri karena iri hati. Jangan sebut namaku sekali pun, apapun yang mereka lakukan padamu."
"Apapun yang mereka lakukan?" Bai Hui mencengkeram jeruji kayu di depannya. "Nona, hukuman untuk mencelakai putri sulung bisa berupa cambuk, atau lebih buruk. Aku takut, Nona."
"Kalau kau menyebut namaku," Ruoxi berkata pelan, nada suaranya tidak berubah sedikit pun, "keluarga Lin akan mengusirku. Ayah dan Ibu akan berpaling dariku, dan Yuxin akan mendapatkan segalanya tanpa perlawanan. Kau mau itu terjadi?"
Bai Hui terdiam, air mata kembali menggenang di matanya.
"Tenang saja," lanjut Ruoxi, mengulurkan tangan lewat sela jeruji, menepuk pelan tangan Bai Hui yang terikat. "Aku akan mencari cara untuk membebaskanmu setelah semua ini reda. Kau sudah melayaniku sejak kecil, Bai Hui. Aku tidak akan melupakan itu."
Kata-kata itu terdengar hangat, tapi genggaman tangan Ruoxi terlalu singkat, terlalu cepat ditarik kembali, seperti seseorang yang enggan menyentuh sesuatu yang kotor terlalu lama.
Bai Hui mengangguk pelan, meski keraguan masih membekas jelas di wajahnya. "Baik, Nona. Aku akan tetap diam."
Ruoxi tersenyum tipis dalam gelap, mengambil kembali lilinnya, dan berdiri. "Bagus. Aku pergi dulu, sebelum ada yang melihatku di sini."
Dia berbalik dan melangkah menjauh, langkahnya tenang dan mantap, seakan percakapan barusan tidak pernah terjadi.
Dari balik pohon di sudut halaman, tak jauh dari gudang itu, sesosok bayangan lain berdiri diam, menyaksikan seluruh percakapan yang baru saja berlangsung.
Xiao Yan menahan napas, lalu berbalik secepat mungkin, berlari kecil menuju paviliun Yuxin sebelum Ruoxi sempat menyadari keberadaannya.
Xiao Yan berlari kecil menembus lorong gelap, napasnya memburu saat dia membuka pintu kamar Yuxin tanpa mengetuk lebih dulu.
"Nona!" bisiknya keras, menutup pintu cepat-cepat di belakangnya. "Aku baru saja melihat sesuatu di dekat gudang!"
Yuxin, yang masih duduk di tepi ranjang, menoleh tenang. "Katakan ada apa?"
"Nona Ruoxi... dia mendatangi Bai Hui. Aku mendengar semuanya." Xiao Yan terengah, tangannya masih gemetar. "Dia menyuruh Bai Hui tetap bungkam, dan menyuruhnya mengaku bertindak sendiri. Dia bilang, kalau sampai namanya disebut, dia akan diusir dari keluarga Lin."
Yuxin tidak terkejut. Wajahnya tetap sama seperti sebelum Xiao Yan masuk, tenang dan hampir datar.
"Nona?" Xiao Yan menatapnya bingung. "Nona tidak kaget?"
"Aku sudah menduganya," jawab Yuxin pelan.
"Tapi... bagaimana Nona bisa begitu yakin? Bai Hui bahkan sudah bilang di depan semua orang kalau dia bertindak sendiri."
Yuxin menatap ke arah jendela, ke kegelapan yang menyelimuti paviliun seberang. Dia tidak bisa menjelaskan bahwa dia sudah melihat pola ini sekali, di kehidupan yang lain bagaimana Ruoxi selalu tahu cara membuat orang lain menanggung dosa-dosanya, dan bagaimana kesetiaan yang dibangun bertahun-tahun bisa dipakai habis dalam semalam.
"Karena Ruoxi tidak pernah mengotori tangannya sendiri, Xiao Yan," ucapnya akhirnya. "Dia selalu punya orang lain untuk melakukannya."
Xiao Yan duduk di dekat kakinya, masih berusaha mencerna semuanya. "Lalu, apa yang akan Nona lakukan? Beri tahu Tuan besar?"
"Tidak, XiaoYan. " Yuxin menggeleng pelan. "Kalau aku melapor sekarang, hanya akan membuatnya terlihat seperti di fitnah oleh kita. Bai Hui sudah berjanji untuk tetap diam, dan Ruoxi terlalu pintar untuk meninggalkan bukti."
"Jadi kita biarkan saja?"
"Tidak juga," jawab Yuxin, matanya menajam sedikit. "Kita simpan ini baik-baik, Xiao Yan. Suatu hari, saat Ruoxi merasa paling aman, paling yakin tak seorang pun tahu kebusukannya, kita akan menggunakannya. Bukti macam ini paling berharga justru saat orangnya sudah lupa pernah membuatnya."
Dia menatap Xiao Yan, nada suaranya melunak. "Kau sudah melakukan hal yang benar malam ini. Ingat baik-baik wajah Ruoxi, kata-katanya, semuanya. Suatu saat, ingatanmu ini akan lebih berharga daripada selembar pengakuan tertulis."