Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Senyum yang Dipaksakan
Senyum Clara itu juara bertahan.
Bukan cuma nilai ulangannya. Senyumnya juga.
Paling rapi. Paling aman. Paling gak bikin orang nanya banyak.
"Clara, 98 lagi. Gila ya, otak kamu diisi apa sih?"
Bu Lilis nempel stiker bintang emas di mading. Anak-anak langsung ngerubungin.
Clara cuma ketawa kecil.
"Hehe. Kebetulan belajarnya pas masuk aja, Bu."
Padahal semalam dia belajar sampai jam satu. Sambil nahan perutnya yang perih.
Tapi siapa yang perlu tau?
Jam istirahat pertama, dia sibuk.
Bantuin Riko yang ketinggalan rumus.
Bantuin ketua kelas fotokopi tugas.
Dengerin curhat anak kelas sebelah yang putus.
Semuanya bilang hal yang sama.
"Enak ya jadi Clara. Hidupnya perfect."
Clara angguk. Senyum lagi.
Senyum yang udah dia latih bertahun-tahun. Senyum yang bilang, gue baik-baik aja kok.
Padahal enggak.
Bel pulang bunyi jam 14.30. Semua orang rebutan keluar. Clara jalan paling belakang. Pelan.
Karena rumah bukan tempat yang pengen dia datengin cepat-cepat.
Rumah Nagendra itu gede. Bersih. Wangi.
Tapi dinginnya kayak kulkas.
Clara buka pintu. Sepatu Thea udah berantakan di depan. Tas sekolahnya dilempar aja.
"Mama, aku pulang," kata Clara.
Dari dapur, Mama Vania cuma noleh sekilas.
"Oh. Taruh tas. Cuci tangan. Thea lagi gak enak badan, jangan berisik."
Udah. Gitu doang.
Papa Faizan duduk di ruang tengah. Koran kebuka. Kacamata turun setengah.
Clara nyamperin. Naro hasil ulangannya di meja. Kertasnya masih anget habis difotokopi.
"Pah, tadi ulangan matematika—"
Faizan ngelirik. Satu detik.
"98? Kenapa bukan 100? Kemarin Thea aja 90 kamu udah heboh. Harusnya kamu bisa lebih."
Clara ngeremas ujung roknya.
"Iya, Pah. Maaf. Besok aku—"
"Udah, sana ganti baju. Mama kamu pusing ngurusin Thea."
Kalimatnya pelan. Tapi nusuknya dalem banget.
Clara angguk. Balik badan. Senyumnya masih nempel. Bodohnya, masih nempel.
Di kamarnya, baru dia lepas.
Tas dibanting pelan ke lantai. Dada sesak. Bukan karena nangis. Karena nahan nangis.
Di seberang kamarnya, kedengeran suara Mama Vania manja-manjain Thea.
"Thea sayang mau bubur apa? Mama bikinin ya. Jangan kecapean main HP terus ya, cantik."
Nada yang sama yang gak pernah Clara dapet.
Clara duduk di lantai. Punggung nempel ke kasur. Napasnya pendek-pendek.
Dia ngambil kotak di bawah kolong meja. Kotak sepatu yang udah lusuh.
Di dalemnya, ada satu buku. Diary biru. Sampulnya udah lecek di ujung-ujungnya. Kuncinya udah rusak, jadi cuma diselotip aja.
Ini satu-satunya tempat Clara boleh jujur.
Dia buka halaman kosong. Tulisannya kecil, miring, buru-buru.
8 Oktober.
Hari ini aku juara 1 lagi. Bu Lilis muji aku di depan kelas. Semua tepuk tangan.
Tapi pas di rumah, gak ada yang tepuk tangan.
Papa cuma liat angka. Mama cuma liat Thea.
Aku capek jadi anak pinter terus. Capek jadi anak baik terus.
Kapan ya, aku bisa jadi anak yang dipeluk juga?
Sekali aja. Peluk yang beneran. Bukan peluk formal pas lebaran.
Aku pengen banget dipeluk Mama. Sekali aja. Apa aku jahat karena minta itu?
Air matanya netes. Satu. Dua. Jatuh ke kertas, bikin tintanya bleber.
Clara buru-buru ngusap. Takut ketauan. Di rumah ini, sedih itu kayak bikin masalah.
Dia nutup diary-nya. Mau diselipin lagi ke bawah meja.
Tapi belum sempat.
TOK TOK TOK.
Pintu kamarnya diketuk kenceng. Bukan ketukan pelan.
"Clara!"
Suara Mama Vania. Dingin. Datar. Dari luar.
"Keluar. Papa sama Mama mau ngomong. Sekarang. Soal Thea."
Clara panik. Diary birunya masih kebuka di pangkuannya. Halaman basah itu masih kebuka.
Dan gagang pintu kamarnya udah mulai muter.