Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Alina mengerutkan keningnya karena mulai merasa ada sesuatu yang aneh pada suaminya itu. Sejak kembali bekerja setelah makan siang, beberapa kali dia menangkap Lorenzo sedang memandanginya.
Pria itu lebih sering memperhatikannya. Bukan sekali atau dua kali, tetapi hampir sepanjang hari. Setiap kali Alina sedang memeriksa dokumen, merapikan jadwal, atau berbicara dengan karyawan lain, tatapan Lorenzo seolah selalu tertuju kepadanya.
Yang lebih aneh lagi, Lorenzo tidak banyak mengomel. Biasanya, kesalahan kecil saja bisa membuat pria itu langsung mengoreksi pekerjaannya dengan wajah serius. Namun hari itu, Lorenzo justru diam. Terlalu diam.
Awalnya Alina berusaha mengabaikannya. Namun, semakin lama, rasa penasaran mulai mengganggu. Ketika akhirnya dia kembali menoleh, Lorenzo buru-buru mengalihkan pandangan ke layar komputer.
Alina mengerutkan kening. "Dia kenapa, sih? Lihatin aku terus."
Dia menyentuh pipinya. "Apa ada sesuatu di wajahku?"
Tangannya kemudian bergerak ke bibirnya. "Jangan-jangan lipstikku berantakan?"
Alina mengambil ponsel dan membuka kamera depan. Dia memeriksa wajahnya diam-diam. Tidak ada noda. Tidak ada sisa makanan. Riasannya juga masih rapi.
Alina semakin bingung. "Terus kenapa dia lihat-lihat aku?"
Dari balik meja kerjanya, Lorenzo menahan senyum. Dia bisa mendengar semua pertanyaan itu.
Namun, justru pertanyaan sederhana tersebut membuat pikirannya semakin kacau. Sejak percakapannya dengan Alvaro tadi, satu pertanyaan terus berputar-putar di kepalanya.
Apa benar aku jatuh cinta sama Alina?
Lorenzo menatap layar komputernya. Tidak ada satu pun tulisan yang benar-benar masuk ke kepalanya. Kursor di layar bahkan sudah berkedip selama beberapa menit tanpa ada perubahan. Dia mengembuskan napas. Kemudian pikirannya kembali pada kejadian semalam.
Ciuman itu bagi Lorenzo, ciuman bukan sesuatu yang baru. Dia pernah mencium Bianca. Namun, ciuman dengan Alina terasa berbeda.
Ketika bibir mereka bertemu, jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Bukan sekadar karena kedekatan fisik. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh. Perasaan hangat menjalar sampai ke ujung jarinya. Setelah ciuman itu berakhir, dia justru ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Lorenzo menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya menyentuh bibir sendiri tanpa sadar.
Kenapa aku ingin menciumnya lagi?
Dia langsung menurunkan tangan. Wajahnya sedikit memerah.
"Ini gawat," gumamnya pelan.
Dari meja di seberang, Alina langsung menoleh. "Ada apa?"
Lorenzo tersentak. "Enggak."
Alina menyipitkan mata. "Barusan kamu bilang sesuatu?"
"Tidak."
"Sepertinya aku dengar." Alina memajukan bibirnya sedikit.
Lorenzo kembali menatap layar komputer. "Aku sedang bicara dengan diriku sendiri."
Alina mengangguk pelan. Dia kembali bekerja. Namun beberapa detik kemudian, pikirannya terdengar lagi.
"Dia aneh banget hari ini."
Waktu berjalan sampai sore. Biasanya, bekerja bersama Lorenzo membuat Alina harus menyiapkan mental.
Pria itu terkenal sangat teliti. Satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya mendapat komentar panjang. Namun hari ini? Tidak ada.
Alina sudah menunggu teguran sejak siang, tidak kunjung datang. Dia bahkan sengaja memeriksa dokumen tiga kali sebelum menyerahkannya.
Lorenzo menerimanya. Membaca. Diam. Lalu mengembalikannya.
"Sudah."
Alina menatap dokumen itu. "Hanya itu?"
Lorenzo mengangguk. "Iya."
Alina masih menatapnya. "Enggak ada yang harus diperbaiki?"
"Enggak."
Alina mulai curiga. "Ini Lorenzo asli, kan?"
Lorenzo menahan tawa.
Jam pulang kerja akhirnya tiba. Alina merapikan meja, memasukkan tablet dan beberapa dokumen ke dalam tas.
Lorenzo berdiri di dekat pintu sambil menunggu. Biasanya dia sudah mulai mengomel karena Alina terlalu lama membereskan meja. Hari ini dia diam saja dan itu membuat Alina semakin tidak nyaman.
Mereka berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka. Mereka masuk berdua. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi hening.
Alina berdiri di samping Lorenzo sambil memeluk tasnya. Beberapa detik berlalu.
Akhirnya dia tidak tahan. "Lorenzo."
"Hm?"
"Kamu baik-baik saja, kan?"
Lorenzo menoleh. Dia mengangguk santai. "Memangnya kenapa?"
Alina tersenyum kaku. "Karena kamu seharian ini menjadi pendiam."
Lorenzo mengangkat alis. "Pendiam?"
"Iya." Alina menatapnya. "Kamu juga tidak ngomel-ngomel sama pekerjaan aku."
Lorenzo terdiam. Barulah dia menyadari bahwa Alina benar. Seharian ini dia memang tidak memberikan satu pun teguran. Biasanya, selalu ada saja yang dia komentari.
Lorenzo berdeham. "Ya, karena hasil kerja kamu hari ini bagus."
"Oh." Alina berkedip. Dia menatap pintu lift.
Kemudian bergumam dalam hati. "Jangan-jangan dia sakit."
Alina kembali melirik Lorenzo. "Atau kerasukan?"
Sudut bibir Lorenzo bergerak. Dia buru-buru menghadap pintu lift. Kalau sampai tertawa sekarang, dia bisa membongkar kegelisahannya sendiri.
Ding!
Pintu lift terbuka. Mereka keluar menuju area parkir. Lorenzo masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Sementara Alina duduk di kursi penumpang seperti biasa.
Mobil bergerak meninggalkan tempat parkir. Namun, pikiran Lorenzo masih dipenuhi pertanyaan yang sama. Apa aku benar-benar mencintai Alina?
Lorenzo melirik ke arah Alina. Wanita itu sedang melihat pemandangan di luar jendela.
Lorenzo kembali fokus ke jalan. Namun beberapa detik kemudian, pikirannya kembali melayang. Ciuman semalam. Senyum Alina. Cara wanita itu tertawa. Bahkan omelan kecilnya. Semuanya muncul bersamaan.
Lorenzo tanpa sadar melamun. Sampai—
Tiiin!
Suara klakson keras terdengar dari depan. Lorenzo tersentak. Sebuah kendaraan berhenti mendadak beberapa meter di depannya.
Lorenzo refleks menginjak rem. Mobil berhenti tepat waktu. Wajahnya langsung berubah tegang.
Alina memegang dashboard. "Astaga!"
Lorenzo menarik napas panjang. Dia menatap jalan di depan. Kemudian menoleh kepada Alina.
"Alina. Kamu gantikan aku menyetir."
Alina langsung menoleh. "Hah?!"
"Kamu yang nyetir."
Wajah Alina pucat. "Ta-tapi aku tidak bisa menyetir mobil sport begini."
Lorenzo membuka sabuk pengamannya. "Nyetir saja seperti biasanya."
"Seperti biasanya?" Alina menunjuk dirinya sendiri. "Aku biasanya duduk sebagai penumpang!"
Lorenzo tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil dan turun. Lorenzo berjalan memutari mobil dan membuka pintu sisi pengemudi.
Alina menatapnya tidak percaya. "Lorenzo, tunggu!"
"Geser."
Alina akhirnya bergeser dengan wajah pucat. Begitu duduk di belakang kemudi, tangannya langsung terasa dingin. Dia menatap berbagai tombol di dashboard, banyak sekali.
"Kenapa mobil ini punya tombol sebanyak ini?"
Lorenzo duduk di sebelahnya. "Tenang jangan tegang."
"Iya, aku tenang." Suara Alina justru terdengar bergetar.
Lorenzo menunjuk pedal. "Rem."
Alina mengangguk. "Rem."
"Gas."
"Gas."
"Jangan salah."
"Aku tahu!"
Lorenzo memasang sabuk pengaman. "Jalan pelan."
Alina memegang kemudi erat-erat. "Iya."
Mobil mulai bergerak sangat pelan. Lorenzo sempat menghela napas lega.
"Nah. Begitu."
Alina mulai sedikit tenang. Namun, beberapa detik kemudian, tanpa sadar kakinya menginjak pedal gas terlalu dalam.
Wuuush!
Mobil melesat. Mata Alina langsung membesar. "Aaaaaa!"
Lorenzo mencengkeram pegangan di atas pintu. "Alina!"
"Aku tidak sengaja!"
"Kurangi gas!"
"Aku sudah!"
"Rem!"
"Aku takut!" Alina semakin panik. "Aku tidak tahu pedal yang mana!"
Lorenzo menunjuk ke bawah. "Yang tengah!"
Alina menginjak pedal. Mobil kembali melaju lebih cepat.
Lorenzo langsung pucat. "Itu gas!"
"Aaaaaaa!" Alina menjerit. "Lorenzo! Aku masih ingin hidup!"
Mobil melaju melewati kendaraan di depan. Lorenzo memegang dashboard dengan satu tangan dan kursi dengan tangan lainnya.
"Kendalikan, Alina!"
"Aku sedang berusaha!" teriak Alina, sementara laju kendaraan masih kencang.
"Alinaaaa, jangan dulu bawa aku ke alam baka!" teriak Lorenzo setengah mati.
"Aku juga tidak mau mati!" teriak Alina tidak kalah kencang.
“Kalau begitu berhenti membuatku takut!”
“Aku tidak sengaja!”
"Rem! Berhenti menginjak gas!"
"Alina!"
"Lorenzo!"
Keduanya berteriak hampir bersamaan.
Mobil terus melaju. Alina menggenggam kemudi sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya mulai berkaca-kaca.
Lorenzo memejamkan mata sambil memegang erat pegangan di samping pintu. Dalam hati, ia mulai menyesali keputusannya. Seharusnya tadi mereka pulang menggunakan sopir. Atau lebih baik ia sendiri yang menyetir. Jangan-jangan ia memang sudah gila karena membiarkan Alina mengambil alih kemudi.
Alina menggenggam setir semakin kuat. "Kenapa aku mau menurut saja ketika dia menyuruhku menyetir?"
Lorenzo menoleh kepadanya. Dia mendengar pikiran itu dan hampir tertawa kalau saja situasinya tidak begitu mengerikan.
Namun, saat mobil kembali bergoyang karena Alina mengerem terlalu mendadak, Lorenzo langsung berubah serius. "Pelan-pelan!"
"Aku sudah pelan!"
"Ini bukan pelan!"
Mobil akhirnya mulai mengurangi kecepatan. Lorenzo mengembuskan napas lega. Namun, belum sempat dia merasa aman, Alina kembali menginjak pedal yang salah. Mobil melaju kencang lagi.
Lorenzo langsung menutup mata. "Ya Tuhan, jangan dulu cabut nyawaku."
Dia menatap langit-langit mobil. "Kalau hari ini aku selamat, aku bersumpah tidak akan pernah menyuruh Alina menyetir lagi."
Alina meliriknya dengan wajah panik. "Aaaaaa, Lorenzo!"
"Apa lagi?!"
"Di depan ada mobil truk!"
Lorenzo langsung membuka mata. "Waduh!"
emg Alina bisa bawa mobil, tp bukan mobil sport jg kaleee 😆
hhadeeuuuhh,,kamu ini Ren g bisa meliat fakta d lapangan..klo wanita tuh bisa memutar balikkan pedal dn tombol 😆..coba kamu bayangin, mo belok kiri..sein kanan yg nyala,,mo ngerem malah pedal gas yg d injak..berhenti d lampu merah, gara2 d klaksonin dr belakang langsung ngeblank..ujung2 nya mobil ngedadak mati mesin 🤦♀️
kamu malah nyuruh Alina bawa mobil kamu, ini sih mempercepat pendaftaran k alam lain 🤣🤣..karena wanita makin dia panik, makin salah apa yg seharus nya d gunakan 🤭..apalagi ini d jalanan,,auto Alina jd Michael Schumaker ini maah...pegangan yg kenceng Reeen, pembalap lg beraksiiii!!! /Curse//Curse/
tanda2 kebucinan akan mulai tampak niiih....🙈
Lorenzo akan makin berbeda k depan nya Al,,jd kamu siap2 d perlakukan dengan manis...ooohh berasa makan gulaaa manis nya g ada obaaatt!! 🤭
suka ceritanya othor
tidak ada balas dendam yang berlebihan
semangat othor 👍👍👍👍👍