seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TURUNNYA SANG PILAR
Langit di atas Gurun Kematian tidak lagi sekadar robek; angkasa itu hancur layaknya cermin yang dipukul dengan palu godam. Obelisk raksasa yang terbuat dari jalinan tulang belulang iblis itu hancur berantakan, serpihannya tersedot ke atas menuju pusaran merah darah, seolah alam semesta itu sendiri sedang menarik napas panjang sebelum melepaskan kiamat.
Rentetan peringatan dari Sistem Dunia meledak di retina Andre, Bastian, dan Marvin. Peringatan itu bukan lagi berwarna biru atau kuning, melainkan merah pekat yang berkedip dengan kecepatan gila.
[PERINGATAN MUTLAK! ANOMALI TINGKAT DEWA TERDETEKSI!]
[Entitas: Astaroth, Raja Iblis Pilar Kedelapan.]
[Estimasi Level: Tidak Diketahui (Melampaui Batas Pembacaan Sistem - Di atas Level 150)]
[Saran Sistem: EVAKUASI SEGERA. TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP: 0%]
Udara di padang pasir itu mendadak menjadi seratus kali lebih berat. Bukan sihir gravitasi, melainkan manifestasi murni dari tekanan aura eksistensi yang berada di puncak hierarki dimensi. Pasir hitam di bawah kaki mereka amblas sedalam setengah meter.
Bastian mengerang keras. Zirah barunya yang bersinar keemasan berderit mengerikan, nyaris melengkung ke dalam. Ia harus menancapkan perisainya ke tanah dan berlutut dengan satu kaki hanya untuk mencegah tulang punggungnya patah. Di belakangnya, Marvin jatuh tersungkur. Hidung dan telinga remaja itu mulai mengeluarkan darah segar. Tekanan ini terlalu absolut bagi manusia biasa, bahkan bagi mereka yang baru saja menyentuh ranah Third Job.
Namun di tengah lautan tekanan yang meremukkan itu, Andre berdiri tegak.
Tubuhnya sama sekali tidak terpengaruh. Jubah hitamnya berkibar tenang. Ia mengalirkan aura kegelapannya sendiri, menciptakan kubah tak kasat mata yang menolak invasi aura sang Raja Iblis, melindungi ruang di sekitarnya dan membiarkan Bastian serta Marvin kembali menarik napas.
Dari dalam pusaran merah di langit, sesosok kaki berbalut zirah yang terbuat dari materi bintang mati melangkah keluar, menjejakkan kakinya di udara kosong.
Sosok itu memiliki tinggi hampir tiga meter. Wujudnya menyerupai manusia yang sangat atletis, namun kulitnya berwarna abu-abu pucat bak mayat yang telah membeku selama ribuan tahun. Rambutnya putih panjang, mengambang di udara seolah berada di dalam air. Di atas kepalanya, melayang sebuah mahkota yang terbuat dari duri-duri hitam yang terus meneteskan racun. Ia tidak membawa pedang atau kapak, melainkan sebuah tongkat sabit dengan bilah energi berwarna hijau kehitaman yang memancarkan aura pembusukan jiwa.
Astaroth, Sang Pilar Kedelapan, akhirnya turun ke Bumi.
Mata Raja Iblis itu, yang seluruhnya berwarna hitam tanpa bagian putih, menatap rendah ke hamparan mayat pasukannya. Ia tidak terlihat marah pasukannya dibantai; ia hanya terlihat bosan. Pandangannya kemudian terkunci pada sosok Andre.
"Berapa lama waktu telah berlalu di dimensi fana ini?" Suara Astaroth bergema langsung di dalam tengkorak mereka, dingin dan tanpa emosi. "Belasan tahun? Sebuah kedipan mata bagi kaum kami. Namun bagimu, kematian ternyata mengembalikanmu dalam wujud cangkang yang menyedihkan."
Astaroth melayang turun perlahan hingga berjarak sepuluh meter di depan Andre. Raja Iblis itu memiringkan kepalanya, menganalisis status pemuda di depannya.
"Level 61," Astaroth terkekeh, suara tawanya membuat tulang belulang mayat iblis di sekitarnya hancur menjadi debu. "Kau baru saja melangkah ke ambang pintu Third Job. Mana milikmu tipis bagaikan genangan air setelah hujan. Jika bukan karena bau jiwamu yang sangat familier, aku tidak akan percaya bahwa Kaisar Kilat yang agung kini hanyalah seorang bocah rendahan yang bahkan belum menyelesaikan pertumbuhannya."
Andre tidak merespons ejekan itu dengan amarah. Pemuda itu justru memiringkan kepalanya, membalas tatapan sang Raja Iblis dengan mata obsidian yang sama-sama kosong dari emosi manusia.
"Cangkang ini lebih dari cukup untuk memenggal kepalamu, Astaroth," jawab Andre datar. Tangan kanannya mencengkeram gagang Nocturne. "Terakhir kali kita bertemu, kau berlindung di balik punggung tiga Calamity dan merantai kakiku dari jarak jauh. Malam ini, kau tidak membawa pengasuhmu. Kau sendirian."
Astaroth menyipitkan matanya. Hinaan itu menembus harga dirinya sebagai Raja Iblis. Tanpa peringatan, sang Pilar Kedelapan mengayunkan tongkat sabitnya.
"Aura of Decay: Soul Rot!"
Sebuah gelombang energi hijau kehitaman menyapu padang pasir dengan kecepatan cahaya. Ini adalah sihir yang sama yang pernah mengunci pergerakan Andre di kehidupan masa lalunya—sihir area absolut yang tidak bisa dihindari dengan kecepatan murni, yang langsung mengincar jiwa dan membusukkan organ dalam siapa pun yang disentuhnya.
Namun, Andre saat ini bukan lagi seorang pejuang murni yang mengandalkan serangan frontal.
Tubuh Andre melebur menjadi bayangan mutlak. Ia tidak mencoba berlari mendahului gelombang pembusukan itu. Ia menggunakan Void Step tingkat tinggi, melipat dirinya ke dalam dimensi ruang antara (sub-space) di mana sihir fisik tidak bisa menjangkaunya. Gelombang hijau itu melewati ruang kosong, melelehkan sisa-sisa gunung pasir di belakang mereka menjadi cairan beracun, tetapi gagal menyentuh sehelai rambut pun dari tubuh Andre.
Astaroth membelalakkan matanya sesaat. "Manipulasi bayangan? Sejak kapan seorang Kaisar Kilat bersembunyi seperti tikus pengecut?!"
"Sejak aku menyadari bahwa tikus bisa menggigit leher singa," bisik sebuah suara dari atas kepala Astaroth.
Andre muncul dari udara kosong. Nocturne diayunkan dalam lengkungan vertikal yang sempurna. Atribut Strength yang dilipatgandakan 200% oleh pedang legendaris itu menghantam udara dengan berat setara gunung yang dijatuhkan dari langit. Tidak ada cahaya, tidak ada kilatan petir, hanya garis kematian hitam pekat yang merobek ruang.
Astaroth bereaksi dengan kecepatan dewa. Ia mengangkat gagang sabitnya secara horizontal untuk menangkis.
BLAAARRR!
Benturan antara Nocturne dan tongkat Raja Iblis itu menciptakan ledakan kejut tak kasat mata yang menyapu daratan. Kawah berdiameter seratus meter seketika terbentuk di bawah kaki Astaroth. Raja Iblis yang tadinya melayang arogan itu kini terhempas ke tanah, kakinya tertanam hingga ke lutut di dalam pasir hitam akibat tekanan absolut dari pedang Andre.
"Pedang sialan apa ini?!" geram Astaroth. Ia bisa merasakan pertahanan sihir mutlak pelindung tubuhnya diabaikan sepenuhnya oleh bilah hitam tersebut. Energi kinetik dari tebasan Andre menembus langsung ke tulang lengannya, membuatnya bergetar nyeri.
Sebelum Astaroth bisa melancarkan serangan balik, sebuah pilar cahaya emas meledak dari sisi kiri.
Bastian Valerius, yang kini telah berevolusi menjadi seorang Guardian elit, menerjang maju. Zirahnya memancarkan cahaya suci yang menyilaukan. Ia tidak menyerang Astaroth; ia tahu serangannya tidak akan menggores kulit Raja Iblis itu. Sebaliknya, Bastian menghantamkan perisai raksasanya ke tanah, menciptakan dinding proyeksi emas setinggi belasan meter yang mengurung Astaroth dari satu sisi, membatasi ruang gerak monster kosmik itu.
"Tuan Muda Valerius melapor untuk bertugas!" teriak Bastian dengan urat leher menonjol, menyuntikkan seluruh mananya ke dalam perisai untuk menahan tekanan aura Astaroth yang mencoba menghancurkan dinding tersebut.
"Serangga pengganggu!" Astaroth mengaum marah. Ia melepaskan ledakan Miasma beracun dari pori-pori tubuhnya, berniat melelehkan Bastian beserta perisainya. Racun itu bergerak seperti tsunami hijau pekat yang siap menelan sang Tanker.
Namun, sebelum racun itu menyentuh kubah emas Bastian, kabut ungu pekat bergulung maju dan bertabrakan dengan tsunami hijau tersebut.
Di barisan belakang, Marvin berdiri dengan kedua tangan terentang. Darah masih mengalir dari hidungnya, tetapi matanya memancarkan tekad baja. Ia telah mendorong Plague Domain miliknya hingga ke batas evolusi tertingginya.
"Venomous Sanctuary!"
Domain racun Marvin tidak lagi digunakan untuk menyerang, melainkan diubah menjadi penetralisir. Racun ungu yang sangat pekat itu memakan habis Miasma hijau milik Astaroth. Dua jenis elemen pembusukan itu bertabrakan di udara, saling menetralisir dan menghasilkan suara desisan keras yang memekakkan telinga. Meski level Marvin jauh di bawah Astaroth, sifat sihir penangkalnya yang disokong oleh kapasitas mana yang baru saja melonjak berhasil menahan perluasan sihir area Raja Iblis itu selama beberapa detik krusial.
"Apa yang terjadi pada umat manusia?! Siapa bocah-bocah anomali ini?!" Astaroth benar-benar kehilangan ketenangannya. Ia tidak pernah memperhitungkan bahwa dua manusia di bawah ranah keilahian mampu mengintervensi sihir pasifnya.
Gangguan kecil itu adalah satu-satunya celah yang dibutuhkan Andre.
Memanfaatkan momen ketika Astaroth terdistraksi oleh Bastian dan Marvin, Andre melepaskan cengkeramannya pada Nocturne dan membiarkan pedang itu melayang di udara selama seperseribu detik. Dalam pecahan waktu yang mustahil itu, Andre memusatkan seluruh sisa poin Agility-nya ke kakinya, dan memukul gagang pedang itu dengan telapak tangannya.
"Shadow Art: Absolute Penetration."
Pedang hitam itu melesat lebih cepat dari kedipan mata. Senjata itu menembus pertahanan aura Astaroth yang sedang kacau, menembus zirah materi bintang mati di dada kiri sang Raja Iblis, dan menancap dalam hingga menembus punggungnya.
Astaroth mematung. Waktu seakan berhenti di tengah Gurun Kematian.
Darah iblis yang berwarna emas kehitaman menetes dari bilah Nocturne yang menyembul dari punggung sang Pilar Kedelapan. Mata hitam Raja Iblis itu membelalak lebar, menatap tak percaya pada lubang di dadanya. Ia telah hidup selama ribuan tahun, menaklukkan puluhan galaksi, dan malam ini, di sebuah planet fana, dadanya baru saja ditembus oleh seorang manusia Level 61.
Andre muncul dari bayangan tepat di depan Astaroth. Ia meraih gagang pedangnya yang tertancap di dada Raja Iblis itu, menatap lurus ke dalam mata sang monster yang mulai dipenuhi kepanikan.
"Ucapkan selamat malam pada sisa teman-temanmu di neraka," bisik Andre.
Dengan satu putaran brutal, Andre memutar bilah Nocturne di dalam dada Astaroth, menghancurkan inti jiwanya dari dalam. Sang Raja Iblis menjerit, sebuah jeritan kosmik yang merobek tirai langit, sebelum akhirnya tubuh raksasa itu meledak menjadi pilar cahaya hitam yang menembus angkasa, menutup gerbang invasi secara permanen dan menghapus keberadaan Pilar Kedelapan dari alam semesta.