Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Pintu lift terbuka perlahan dan memperlihatkan lorong kantor yang kini mulai sepi. Nara berjalan keluar dengan wajah yang sedikit tegang, tapi matanya tetap penuh tekad. Rendra menyertai di sebelahnya, mengenakan kaos putih dan jaket kulit hitam.
Keduanya melangkah melewati meja sekretaris yang sudah kosong, namun layar laptop masih menyala, serta tas kerja milik Alya yang ada diatas meja. Nara berhenti sejenak saat melihat tas itu, matanya menyapu perlahan ke arah layar laptop yang masih menyala. Sepertinya dia sudah bisa menebak ada dimana sekretaris suaminya itu sekarang.
Rendra menyadari perhatian Nara tertuju pada meja itu, "Ada apa, Nara? Mungkin sekretarisnya Arga juga belum pulang dan sedang pergi ke toilet,"
Nara menggeleng pelan, menoleh pada Rendra dan tersenyum kecil, "Kita keruangan mas Arga sekarang,"
Keduanya kembali melangkah dan semakin mendekat ke pintu ruangan pribadi Arga. Rendra mengangkat tangannya ingin mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi Nara menghentikannya dengan menyentuh lengannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nara membuka pintu itu sedikit.
Suara-suara yang tidak diinginkan mulai terdengar lebih jelas, suara Arga yang menggairahkan dan napas yang terengah-engah, diselingi dengan suara lembut dari seseorang wanita. Nara merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Tangan kirinya tergenggam erat di sisi tubuhnya, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melihat yang sedang terjadi didalam sana. Namun saat dia ingin membuka pintu lebih lebar, Rendra menahan pergelangan tangannya.
"Nara, tunggu sebentar," bisik Rendra dengan suara lembut namun tegas, matanya penuh perhatian melihat wajah wanita itu yang mulai memucat. "Kamu yakin ingin melihatnya? Bisa jadi ini akan menyakitimu lebih dari yang kamu bayangkan."
Nara menatap tangan Rendra yang menahan dirinya, lalu melihat ke arah celah pintu yang sudah terbuka sedikit. Matanya terpejam kuat saat suara-suara yang menjijikan itu terdengar semakin sering ditelinganya.
"Aku harus melihatnya, Ren," jawab Nara dengan suara yang sedikit bergetar tapi tetap tegas. "Aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan. Lebih baik aku tahu sekarang daripada terus dipermainkan."
Rendra menghela napas, lalu perlahan melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Nara. "Baiklah... aku ada di sini untukmu."
Dengan hati yang penuh rasa sakit tapi tekad yang tak tergoyahkan, Nara mendorong pintu ruangan itu hingga terbuka lebar. Cahaya dari dalam menerobos keluar, menerangi wajahnya yang kini sudah berkaca-kaca tapi tidak menangis.
"Mas Arga..." suaranya keluar pelan namun cukup keras untuk membuat semua gerakan di dalam ruangan berhenti seketika.
Arga yang sedang menggempur tubuh Alya diatas meja kerjanya langsung menoleh ke arah pintu, pandangannya langsung menemukan sosok istrinya yang berdiri di pintu dengan Rendra berdiri dibelakangnya. Dengan tergesa-gesa Arga langsung mencabut kejantanannya yang sudah sangat keras dari milik Alya, tangannya berusaha dengan cepat untuk menarik celananya kembali dan mengikat sabuknya dengan tangan yang gemetar.
Alya pun ikut menoleh, wajahnya tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun, malah terdapat senyum sinis di bibirnya. Dia perlahan berdiri dan menyusun kembali pakaiannya yang sudah kusut, sambil menatap Nara dengan pandangan yang penuh dengan tantangan.
"Sepertinya istrimu datang tidak tepat waktu, Arga," ucapnya dengan suara yang tenang bahkan sedikit menggoda. "Mengganggu kesenangan kita saja,"
Arga mengabaikan ucapan Alya, matanya terpaku pada Nara dengan wajah yang penuh rasa bersalah dan ketakutan. "Sayang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, aku tidak bermaksud..."
"Tidak bermaksud apa, Mas?!" Nara menyela dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, air mata akhirnya mulai menetes ke pipinya. "Tidak bermaksud berselingkuh dengan sekretarismu? Atau tidak bermaksud berbohong padaku setiap hari tentang pulang terlambat dengan alasan pekerjaan?!"
Dia melangkah masuk ke dalam ruangan, matanya menyapu sekeliling tempat yang seharusnya menjadi ruang kerja profesional suaminya. Di atas meja, foto pernikahan mereka yang terbingkai terpampang jelas di sebelah tumpukan berkas, namun kini sedikit miring seolah tersentuh oleh gerakan yang liar tadi.
Nara meraih bingkai foto itu dengan hati yang hancur, menatap wajah bahagia dirinya dan Arga di dalamnya sebelum kemudian melempar keras foto itu ke lantai.
"Kamu bahkan menyimpan foto kita di sini saat melakukan hal yang keji dengan dia, Mas?!" ucapnya dengan suara yang mulai bergetar. "Berapa lama ini sudah terjadi? Berapa lama?!"
Arga mundur satu langkah dengan tubuh gemetar dan wajah penuh rasa bersalah, "Sudah enam bulan, Sayang... aku tahu aku salah besar. Aku tidak bisa memberikan alasan apa pun. Aku kehilangan kendali, Nara... dan sekarang aku benar-benar sangat menyesalinya!"
Alya mendekat dengan langkah santai, tangan kirinya menyentuh bahu Arga sambil menatap Nara dengan tatapan yang semakin menyindir. "Kamu harus mengerti, Nara. Dalam enam bulan ini, aku bisa memberikan apa yang dia butuhkan. Perhatian, kehangatan, bahkan hal-hal yang mungkin kamu tidak sanggup berikan padanya sebagai istri."
Darah Nara semakin mendidih mendengar kata-kata itu, dia melangkah cepat ke arah Alya dan mengangkat tangan kanannya untuk memberikan tamparan keras pada wajah Alya.
Plakkk!
Suara tamparan itu terdengar nyaring di ruangan yang tiba-tiba sunyi. Wajah Alya terhuyung ke satu sisi, pipinya memerah dengan jejak merah tangan Nara yang jelas terlihat.
"Aku sudah cukup mendengar omong kosongmu yang hina itu!" teriak Nara dengan suara yang penuh kemarahan, tangannya yang baru saja menampar masih bergeming. "Kamu hanya wanita ja-lang yang mengobral tubuh pada suami orang!"
Alya menyentuh pipinya yang terasa sakit, ekspresi wajahnya berubah dari sinis menjadi marah. Dia ingin menampar balik, tapi Rendra dengan cepat menahan pergelangan tangannya yang sudah terangkat tinggi, matanya menyala dengan kemarahan.
"Jangan kamu berani menyentuhnya. Jika kamu melakukannya, aku tidak akan tinggal diam." ucapnya, pelan namun tajam. Dia menghempaskan tangan Alya dengan gerakan kasar, lalu beralih menggenggam tangan Nara.
Rendra menatap Nara dengan pandangan sedikit menajam tapi penuh perhatian, "Kamu masih ingin tetap disini, atau ikut denganku pergi,"
"Aku sudah tidak punya sesuatu yang ingin dikatakan lagi di sini," ucap Nara dengan suara yang mulai tenang namun tetap tegas. Dia menatap Arga yang berdiri seperti batu, wajahnya penuh rasa bersalah. "Semua yang kulakukan selama ini untuk rumah tangga kami, ternyata tidak berarti apa-apa baginya!"
Arga ingin bergerak mendekat, tapi suara tegas Rendra lebih dulu terdengar, menahan semua pergerakannya.
"Sebaiknya kamu urus dulu mainanmu ini, Arga. Istrimu, biar aku yang urus."
Rendra memberikan pandangan terakhir yang penuh ancaman pada Arga sebelum menarik tangan Nara meninggalkan ruangan itu. Keheningan menyelimuti ruangan setelah mereka pergi, Alya menatap Arga dengan mata yang penuh kemarahan.
"Arga..."
"Keluar!" bentak Arga. "Keluar dari ruanganku sekarang!"
Alya tersentak kaget mendengar bentakan itu. Dia menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya melangkah cepat ke arah pintu. Suara pintu yang ditutup keras menggema di dalam ruangan, Arga tetap berdiri diam di tengah ruangan, pandangannya menatap arah pintu di mana Nara pergi tadi. Matanya yang sebelumnya penuh rasa bersalah kini berubah menjadi kemarahan, bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri.
Dia melangkah dengan langkah gontai ke arah meja kerja, tangan kirinya menyentuh permukaan meja yang masih terasa hangat. Di sana, foto pernikahan mereka yang sudah pecah tergeletak di lantai. Arga berjongkok dan meraih foto itu, menatap wajah bahagia Nara dan dirinya di dalamnya. Air mata yang sudah lama menumpuk akhirnya menetes ke pipinya, jatuh ke atas pecahan kaca yang dingin.
"Aku telah menghancurkan segalanya..." bisiknya dengan suara serak. "Maafkan aku Nara... Maaf..."
-
-
-
Bersambung...