NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Bayangan di Ujung Pisau

Layar tablet siber di tangan Clarissa memancarkan pendar biru pucat yang menerangi kabin jet yang kini terasa begitu sempit dan mencekam. Gambar live-feed dari ruang perawatan VIP rumah sakit pusat Jakarta menunjukkan pemandangan yang membuat jantung Haena seolah berhenti berdetak: sosok pria bertopeng perak yang berdiri di samping tempat tidur Tuan Bramasta. Pria itu The Second Elder memegang sebilah pisau bedah steril dengan presisi seorang eksekutor, ujungnya menempel tepat di nadi leher Tuan Bramasta yang terbaring lemah. Di lantai, Pak Baskara dan Ibu Aminah tergeletak tak sadarkan diri, pelipis mereka bersimbah darah segar.

Haena berdiri mematung di atas tangga jet Halim, namun tatapannya yang jernih dari balik kacamata transparan tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut yang melumpuhkan. Sebaliknya, sirkuit otaknya justru semakin dingin, melakukan akselerasi pemrosesan taktis untuk menembus tembok pertahanan psikologis musuh. Kaelen Arkananta yang berdiri di sampingnya merasakan hawa dingin yang keluar dari tubuh Haena sebuah pertanda bahwa gadis itu telah memasuki mode deep-analysis yang paling berbahaya.

"Clarissa, pantau detak jantung Papa melalui alat pacu jantung yang tersambung ke server kita," suara Haena terdengar rendah, tenang, dan mematikan.

"Gavin, jangan bergerak. Jika kita masuk sekarang, dia akan memotong urat nadi itu sebelum kita mencapai pintu."

*The Second Elder* di dalam layar mulai berbicara, suaranya terdistorsi oleh modulasi suara digital yang berat.

"Nona Haena Dirgantara... Anda adalah bidak catur yang paling merepotkan yang pernah saya hadapi. Namun, setiap raja memiliki titik lemah, dan Bramasta adalah fondasi dari seluruh kerajaan Dirgantara Anda."

Pria bertopeng perak itu menekan ujung pisau sedikit lebih dalam, membiarkan setitik darah merah mengalir di leher Tuan Bramasta.

"Saya tidak peduli dengan aset finansial yang Anda sita di Singapura. Saya hanya menginginkan satu hal: kunci enkripsi utama 'Protokol Phoenix' yang Anda sembunyikan di dalam sirkuit jam tangan Anda. Serahkan itu sekarang, atau saya akan mengakhiri silsilah Dirgantara di sini, di atas tempat tidur pesakitan ini."

Nyonya Rosalind yang diseret paksa oleh dua agen Arkananta ke dekat pintu jet tertawa sumbang, wajahnya yang berantakan tampak sangat memuakkan.

"Dengar itu, Haena! Kamu akan kehilangan segalanya! Pilihan ada di tanganmu: perusahaan atau nyawa pria tua itu!"

Vanya yang terduduk lemas di aspal hanya bisa menutup mulutnya, air mata ketakutan yang luar biasa masif membanjiri wajahnya. Dia menyadari bahwa meskipun dia pernah menjadi bagian dari faksi ini, The Second Elder adalah monster yang tidak mengenal loyalitas, bahkan kepada sekutunya sendiri.

Haena melangkah maju ke depan kamera live-feed yang tertanam di dinding ruang perawatan, menatap langsung ke arah topeng perak musuhnya dengan sorot mata yang penuh dengan kecerdasan mutlak.

"Anda mengira saya hanya membawa 'Protokol Phoenix' di dalam jam tangan saya, Second Elder?" ucap Haena, suaranya menggema penuh otoritas yang tak tertandingi.

"Anda terlalu terobsesi dengan data fisik hingga lupa bahwa saya telah mendistribusikan kunci enkripsi tersebut ke dalam ribuan server publik yang tersebar di seluruh dunia. Jika Anda membunuh Papa, sistem pertahanan otomatis saya akan melepaskan seluruh bukti kejahatan Anda ke media internasional dalam waktu kurang dari satu detik."

Kaelen Arkananta menatap Haena dengan kekaguman yang mendalam. Dia tahu bahwa Haena sedang melakukan gertakan maut sebuah permainan psikologis tingkat tinggi di mana dia memposisikan musuhnya untuk takut pada dampak jangka panjang dari tindakannya sendiri.

"Anda tidak akan berani," sahut The Second Elder, namun pisau bedahnya sedikit bergetar.

"Coba saja," Haena melipat tangannya di dada dengan anggun. "Namun, saya punya penawaran yang lebih baik. Lepaskan Papa, Pak Baskara, dan Ibu Aminah. Saya akan memberikan akses penuh ke satu server cadangan yang berisi seluruh data manipulasi finansial yang Anda perlukan untuk melarikan diri dari kejaran otoritas global. Anda bisa pergi sekarang, atau Anda akan terperangkap di Jakarta dan hancur bersama dengan faksi Rosalind ini."

Di tengah ketegangan yang menyesakkan, Tuan Bramasta yang terbaring lemah perlahan membuka matanya. Meskipun dia tidak bisa bergerak, dia menatap kamera dengan tatapan yang sangat bangga ke arah Haena. Dia tahu bahwa putrinya telah tumbuh menjadi penguasa yang jauh lebih tangguh daripada dirinya sendiri.

The Second Elder terdiam selama beberapa saat, menimbang antara keserakahan dan kelangsungan hidup. Suasana di dalam ruang perawatan VIP menjadi sangat sunyi, hanya suara detak monitor jantung Tuan Bramasta yang terdengar berirama.

Tiga puluh detik, Second Elder," Haena memberikan tekanan psikologis terakhir dengan suara yang tenang. "Pilih antara kebebasan yang tidak terhormat, atau kehancuran yang sangat cepat."

Pria bertopeng perak itu perlahan menarik pisau bedahnya dari leher Tuan Bramasta. Dia berdiri tegak, memandang ke arah kamera dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.

"Anda menang untuk saat ini, Nona Haena. Namun, permainan kita belum berakhir. Kota ini masih akan menjadi makam bagi Anda dan keluarga Anda."

Pria itu kemudian berbalik, melemparkan pisau bedah ke lantai, dan menghilang ke arah lorong rumah sakit dengan kecepatan yang tidak wajar, meninggalkan ruangan yang kini berantakan.

Begitu sosok pria bertopeng itu menghilang, Haena segera memberikan perintah cepat kepada Gavin dan tim medis taktis yang sudah disiagakan di bandara untuk segera menuju rumah sakit dengan helikopter medis Arkananta.

Di landasan pacu, Kaelen mendekati Haena, tangannya dengan lembut membelai rambut hitam gadis itu.

"Itu adalah langkah yang sangat berisiko, Haena. Dia bisa saja nekat."

Haena menarik napas dalam-dalam, ketegangan yang selama ini dia tahan akhirnya sedikit mengendur. Jari telunjuknya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya dengan gerakan yang perlahan melambat.

"Dia seorang pragmatis, Kaelen. Pria seperti dia tidak akan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebuah kunci enkripsi jika dia bisa mendapatkan jalan keluar yang lebih aman. Tapi saya tidak akan membiarkannya pergi sejauh itu."

Haena menoleh ke arah Nyonya Rosalind yang kini terdiam ketakutan.

"Gavin, seret dia dan Vanya ke mobil tahanan. Kita akan membawa mereka ke markas komando Arkananta. Saatnya mencari tahu siapa sebenarnya orang-orang yang ada di balik 'The Second Elder' ini."

Saat helikopter medis lepas landas membawa tim medis menuju rumah sakit, Haena berdiri sendirian di dekat pintu jet, menatap langit Jakarta yang mendung. Dia tahu bahwa meskipun Papa, Pak Baskara, dan Ibu Aminah telah diselamatkan, ancaman yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sang putri sejati telah kembali ke tempat yang seharusnya, namun dia harus menghancurkan seluruh bayangan yang mencoba meruntuhkan takhtanya dari balik layar.

(Cliffhanger)

"Setengah jam kemudian, saat Haena tiba di markas komando Arkananta, Clarissa berlari ke arahnya dengan wajah yang benar-benar pucat pasi. "Nona Haena... ada pesan terenkripsi yang masuk ke sistem server kita, bukan dari The Second Elder, tapi dari dalam perangkat Papa! Sebuah file rekaman audio yang otomatis berputar! Itu adalah suara Papa yang direkam sepuluh tahun yang lalu, namun berisi satu kalimat yang membuat saya merinding: 'Haena, jika kamu mendengar pesan ini, itu artinya kunci 'Protokol Phoenix' yang sebenarnya bukanlah data, melainkan kamu sendirisebuah kode genetika yang ditanam oleh kakekmu ke dalam DNA-mu untuk mengendalikan seluruh sistem Dirgantara dari dalam tubuhmu sendiri.'"

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!