NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:460
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: MENANTIKAN BAYANGAN DI UJUNG SENJA

Satu setengah bulan telah terlewati sejak Arum lahir ke dunia, dan itu berarti masa hukuman Mas Rendra seharusnya sudah berakhir. Kalender di dinding ruang tamu rumah kami telah penuh dengan coretan silang yang kubuat setiap hari, menghitung detik demi detik menuju hari kepulangannya. Setiap pagi, aku menyiapkan rumah dengan lebih teliti; menyapu halaman hingga bersih, memastikan pekarangan penuh dengan bunga-bunga yang mekar, dan tentu saja, memasak hidangan favoritnya. Bapak dan Ibu pun ikut merasakan gelombang antisipasi yang sama. Bapak bahkan telah membersihkan area kandang bebek lebih sering, memastikan bahwa saat Mas Rendra pulang, dia akan melihat suasana rumah yang benar-benar tertata.

Namun, hari demi hari berlalu dengan hening yang mencekam.

Minggu pertama setelah tanggal kebebasannya, aku masih berusaha berpikir positif. "Mungkin dia sedang mengurus administrasi," atau "Mungkin dia sedang mencari pekerjaan dulu di kota agar tidak datang dengan tangan kosong," bisikku pada diriku sendiri setiap kali perasaan cemas mulai merayap di hatiku. Namun, saat minggu kedua dan ketiga berlalu tanpa ada kabar berita, tanpa ada ketukan di pintu, dan tanpa ada suara motor yang kukenal berhenti di halaman, dinding-dinding rumah kayu kami mulai terasa menekan.

Arum, malaikat kecil yang kini sudah mulai bisa memberikan senyuman-senyuman kecil, sering kali menatap ke arah pintu seolah tahu bahwa ada seseorang yang seharusnya mengisi ruang kosong di sampingku. Aku sering menggendongnya di teras saat senja, menatap jalan desa yang berdebu, menanti sesosok bayangan yang tak kunjung muncul. Apakah dia takut? Apakah rasa bersalahnya justru membuatnya memilih untuk menjauh daripada menatap wajahku dan wajah anaknya sendiri?

Rasa cemas yang selama ini kusembunyikan di balik ketegaran perlahan berubah menjadi sebuah batu besar yang menghimpit dada. Teman-teman di desa mulai berbisik. Beberapa tetangga yang baik hati sering datang bertanya, "Yuni, apa Rendra belum pulang?" dengan nada yang terdengar simpati, namun justru menusuk hatiku. Aku hanya bisa menjawab dengan senyum tipis yang dipaksakan, mengatakan bahwa dia mungkin sedang sibuk, padahal di dalam hati, aku sedang berjuang menahan badai keraguan.

Bapak tidak pernah bertanya langsung kepadaku, namun tatapannya saat menatap jalan desa setiap sore menunjukkan bahwa beliau pun menyimpan kecemasan yang sama. Ibu, di sisi lain, lebih sering memelukku tanpa kata-kata, mengusap punggungku seolah menyalurkan kekuatan yang dia miliki. Mereka tidak menghakimi Mas Rendra, namun diam mereka menyiratkan bahwa harapan yang kami gantungkan mulai layu satu demi satu.

Suatu sore, aku memutuskan untuk pergi ke warung telepon di desa sebelah untuk mencoba mencari informasi. Aku memberanikan diri menelepon kenalan di Semarang yang sempat membantuku selama Mas Rendra di penjara. Jawabannya sangat singkat dan menyakitkan: "Rendra sudah keluar sejak hari yang dijadwalkan, Yun. Kami tidak tahu ke mana dia pergi."

Dunia seakan runtuh saat itu juga. Dia sudah bebas. Dia sudah bisa menghirup udara kebebasan, namun dia tidak memilih jalan pulang menuju Sukorejo. Ke mana dia pergi? Apakah dia memilih untuk melupakan masa lalunya, termasuk aku dan Arum? Apakah bayang-bayang masa lalunya di Semarang, atau mungkin ketakutan akan kemiskinan yang pernah menghancurkannya dulu, lebih kuat daripada kerinduan untuk melihat istri dan anak yang telah menantinya dengan setia?

Perjalanan pulang dari warung telepon itu terasa begitu jauh. Langkah kakiku berat, seolah setiap jengkal tanah yang kupijak menolak untuk memberiku jalan. Di rumah, Arum sedang menangis di gendongan Ibu. Saat aku mengambil alih tanggung jawab merawatnya, dia terdiam, menatap mataku dengan mata beningnya yang polos. Melihat wajahnya yang sangat mirip dengan Mas Rendra, air mata yang selama ini kutahan akhirnya tumpah juga.

"Ayahmu ke mana, Nduk?" bisikku lirih di telinganya. "Apakah kita belum cukup berarti untuk membuatnya kembali?"

Malam itu, aku duduk di teras dengan napas yang sesak. Aku teringat janjinya di balik jeruji besi. Dia berjanji akan bekerja apa saja, berjanji akan menjadi ayah yang bertanggung jawab, berjanji bahwa rumah kontrakan kecil pun akan terasa seperti surga asalkan kita bersama. Apakah itu semua hanyalah kata-kata yang diucapkan oleh seorang pria yang sedang berada di titik nadir, yang kini kehilangan keberaniannya saat realitas kebebasan menghadang?

Aku teringat akan keangkuhan keluarga Wijaya yang dulu menganggapku rendah. Apakah Mas Rendra juga berpikir demikian? Bahwa kembali padaku, kembali pada kehidupan desa yang sederhana, adalah sebuah kemunduran?

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah kesadaran perlahan muncul. Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketidakhadirannya. Aku memiliki Arum. Dia adalah nyawaku, dia adalah fokusku. Aku tidak boleh membiarkan kesedihan ini merusak masa depannya. Jika Mas Rendra memilih untuk tidak pulang, maka itu adalah pilihannya, bukan akhir dari duniaku. Bapak dan Ibu sudah memberiku bekal nutrisi dan ketangguhan yang cukup untuk berdiri sendiri. Tanah desa ini tidak pernah mengkhianati siapa pun yang merawatnya dengan jujur.

Aku teringat akan pesan Bapak: "Harga dirimu adalah apa yang kamu bawa dari desa ini." Harga diriku bukan ditentukan oleh kepulangan Mas Rendra. Harga diriku ditentukan oleh bagaimana aku membesarkan Arum menjadi anak yang baik, bagaimana aku tetap menjaga kejujuran, dan bagaimana aku terus menjalani hidup dengan kepala tegak.

Mulai malam itu, aku memutuskan untuk berhenti menanti di ujung senja dengan air mata. Aku akan tetap menjaga rumah ini, tetap menyiapkan makanan enak, tetap menyambut siapa pun yang datang dengan keramahan—namun aku tidak lagi melakukannya untuk Mas Rendra. Aku melakukannya untuk diriku sendiri dan untuk Arum.

Jika suatu hari nanti dia benar-benar memutuskan untuk kembali, aku akan berada di sini, di tempat yang sama, dengan pintu yang tetap terbuka. Namun, aku tidak akan lagi menjadi gadis yang hancur karena penantian. Aku adalah seorang ibu yang telah ditempa oleh kehidupan, yang kini lebih mencintai kenyataan daripada mimpi-mimpi yang rapuh. Jika dia memilih untuk terus lari dari tanggung jawabnya, maka biarlah waktu yang menjadi hakim yang paling adil bagi langkahnya.

Di rumah kami, kehidupan terus berlanjut. Bebek-bebek di kandang Bapak terus bertelur, padi di sawah terus menguning, dan Arum terus tumbuh dengan sehat. Aku mungkin terluka, tapi aku tidak patah. Luka ini, perlahan-lahan, akan menjadi bekas yang mengingatkanku bahwa aku pernah berjuang begitu keras untuk sesuatu yang kupikir adalah cinta, dan bahwa pada akhirnya, cinta yang paling nyata bukanlah cinta yang harus ditunggu-tunggu dalam kehampaan, melainkan cinta yang kita bangun sendiri di atas tanah yang kita pijak. Aku adalah Sri Wahyuni, dan aku akan memastikan bahwa masa depan Arum tidak akan pernah layu, meski harus dibangun tanpa kehadiran seorang ayah yang telah memilih untuk kehilangan arah di tengah luasnya dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!