Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Kembali Ke Mansion
Perjalanan pulang terasa lebih santai. Ge menyetir mobil dengan satu tangan, sementara Zara duduk di samping sambil sesekali melirik ke arahnya.
“Lu yakin bisa nyetir mobil beginian?” tanya Zara. Mengingat sebelumnya dia yang menyetir.
Ge menyeringai. “Tenang aja. Dulu gue sering nyetir mobil… di game.”
Ge sebenarnya sudah bisa menyetir saat SMP, dan itu semua karena kelakuan badungnya. Kala itu Ge penasaran dengan mobil yang baru dibeli Tarno. Ge nekat mencoba menyetir mobil tersebut setelah mengamati bagaimana cara Tarno menyetir. Gilanya, dia bisa dengan mudah melakukannya. Namun akibat itu, Ge sering ingin mencoba menyetir di setiap waktu. Membuat Tarno akhirnya memutuskan menjual mobilnya.
Zara langsung menepuk dahinya. “Ya ampun…”
Ge tertawa kecil. “Santai. Ini gampang kok.”
Malam sudah larut saat mereka sampai di mansion. Jam di dashboard menunjukkan hampir setengah dua belas. Begitu mobil berhenti, suasana rumah terlihat sepi. Lampu masih menyala, tapi tidak ada suara.
“Kayaknya semua udah tidur,” gumam Zara.
Ge keluar dari mobil, lalu menatap rumah besar itu lagi. “Gila… tiap lihat rumah ini, rasanya tetap nggak biasa.”
Zara tersenyum tipis. “Biasain.”
Mereka masuk ke dalam. Benar saja, suasana sunyi. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di lantai marmer.
Ge menoleh ke ruang tamu. Dia berhenti. “Eh…”
Zara ikut melihat. Di sofa, Arif terlihat tertidur dengan posisi setengah duduk. Jasnya masih rapi, tapi wajahnya terlihat lelah.
Ge mengangkat alis. “Serius banget ini orang…”
Zara tersenyum kecil. “Dia pasti nungguin lu.”
Ge menghela napas pelan. “Kasihan juga ya.”
Zara mengangguk. “Udah, kita jangan ganggu.”
Mereka berjalan pelan melewati ruang tamu. Zara lalu memimpin Ge ke lantai atas.
“Gue tunjukin kamar lu,” katanya.
Ge mengikuti sambil melihat sekeliling. Lorong lantai atas juga tidak kalah mewah. Karpet tebal, lampu hangat, dan pintu-pintu besar berjajar.
Zara berhenti di depan salah satu pintu, lalu membukanya. “Ini.”
Ge melangkah masuk dan langsung diam. “Buset…”
Kamarnya sangat besar. Kasur king size di tengah, sofa kecil di sudut, TV layar besar, lemari luas, bahkan ada pintu lain yang mengarah ke kamar mandi dalam.
Ge berjalan masuk pelan, matanya menyapu semuanya. “Ini kamar… atau hotel?” gumamnya.
Zara bersandar di pintu, tersenyum melihat reaksinya. “Kamar tamu.”
Ge langsung menoleh. “Kalau ini tamu… yang punya gimana?”
Zara mengangkat bahu. “Kurang lebih.”
Ge menggeleng pelan. “Gila sih…”
Dia berjalan ke kasur, lalu menekan permukaannya. “Empuk banget lagi.”
Zara terkekeh kecil. “Nikmatin aja.”
Ge mengangguk. “Ya pastilah!”
Zara melirik jam di tangannya. “Udah malam. Gue balik ke kamar ya.”
Ge menoleh. “Kamar lu di mana?”
Zara menunjuk ke arah lorong. “Dua pintu dari sini. Kalau ada apa-apa… cari gue aja.”
Ge menyeringai. “Siap, dek.”
Zara langsung melotot. “Jangan biasain manggil gitu!”
Ge ketawa. “Oke, Zara.”
Zara menggeleng sambil tersenyum tipis. Sebelum pergi, dia menoleh lagi.
“Oh ya,” katanya, “besok pakai baju yang tadi kita beli.”
Ge mengangguk. “Siap. Besok gue bakalan makin ganteng.”
Zara mendengus kecil. “Udah ganteng dari tadi.”
Ge langsung nyengir lebar. “Cuman lu deh kayaknya yang ngakuin kegantengan gue.”
Zara memutar mata, lalu pergi meninggalkan Ge sendirian di kamar.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung sunyi. Beberapa detik Ge hanya berdiri di tengah kamar.
“ANJIRRR!!!” Dia langsung loncat ke kasur. “Empuk banget woy!!” katanya sambil terguling ke sana kemari.
Ge tertawa sendiri. Dia berdiri di atas kasur sebentar, lalu menjatuhkan diri lagi. “Ini hidup apa mimpi sih?!”
Dia bangun, lalu lari kecil ke kamar mandi. Dibukanya pintu itu.
“WOOOOW!”
Kamar mandi itu juga mewah. Shower kaca, wastafel besar, cermin lebar. Ge menatap dirinya di cermin. Rambut rapi, baju bagus. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Gila, Ge… lu naik level.”
Dia tertawa sendiri, lalu kembali ke kasur. Kali ini dia rebahan sambil melihat langit-langit. Beberapa detik dia diam, lalu tiba-tiba duduk lagi.
“Eh, Bimo sama Taufik!” Dia langsung mengambil ponselnya, membuka grup chat mereka.
Tanpa pikir panjang, dia mulai kirim pesan.
“WOY KAMPRET!!!”
Tak lama, dia kirim foto selfie di kasur besar itu.
“GUE LAGI DI ISTANA ANJIR!!!”
Dia lanjut kirim video pendek, memperlihatkan seluruh kamar.
“INI KAMAR GUE SEKARANG!!”
Beberapa detik… lalu balasan masuk.
Bimo: “ANJIR EDITAN YA?!”
Taufik: “INI HOTEL MANA WOY?!”
Ge langsung ketawa.
Dia mengetik cepat.
“INI RUMAH GUE SEKARANG, MISKIN!!!”
Bimo: “HALU LU KAMBUH YA?!”
Taufik: “SERIUSAN GE?!”
Ge mengirim voice note sambil ketawa. “SUMPAH DEMI NASI PADANG!”
Di seberang sana, chat langsung ramai. Ge tertawa puas, lalu menjatuhkan diri lagi ke kasur. Senyumnya masih lebar. Dia menatap langit-langit kamar yang mewah itu, masih dengan ekspresi tidak percaya.