Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Asing
Aroma menyengat yang asing menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Neya. Perlahan, dengan kelopak mata yang terasa seberat bongkahan batu, ia mencoba membuka mata. Cahaya lampu putih yang benderang di atasnya seketika membuat pandangannya kabur dan kepalanya berdenyut nyeri, memaksanya untuk kembali terpejam sejenak sebelum akhirnya benar-benar mampu menyesuaikan diri.
Hal kedua yang ia sadari adalah suara isak tangis yang tertahan.
"Neya? Alhamdulillah, Nak... kamu sudah sadar?"
Neya menggeser pandangannya perlahan. Di samping ranjang tempatnya berbaring, seorang wanita paruh baya dengan mata sembap dan wajah lelah menatapnya penuh binar harapan. Wanita itu langsung menggenggam jemari tangan kanan Neya, menciuminya bertubi-tubi dengan air mata yang kembali luruh.
Neya mengerjapkan mata beberapa kali. Tenggorokannya terasa begitu kering dan tercekat, seolah dipenuhi oleh pasir. Ia memandangi wajah wanita itu lekat-lekat, mencoba mencari baris memori yang familier di dalam kepalanya. Namun, nihil. Otaknya mendadak terasa seperti selembar kertas putih yang kosong bersih.
Kaamu si..siapa ? ..
Tangan wanita itu seketika membeku. Isak tangisnya terhenti, digantikan oleh tatapan tidak percaya yang amat runtuh. "Neya... ini bunda Nak. Ini bunda ... , bundamu sendiri. Kamu tidak mengenali bunda ?"
Neya mengerutkan dahinya dalam-dalam. Denyutan di kepalanya semakin menggila setiap kali ia memaksa otaknya untuk berpikir. Bunda ? Ia tahu kata itu, tapi ia sama sekali tidak memiliki bayangan atau kenangan tentang wanita di hadapannya ini. Ia menggeleng pelan, membuat Imelda langsung membekap mulutnya sendiri, menahan tangis yang pecah sebelum akhirnya berlari keluar kamar untuk memanggil dokter.
Kini, Neya sendirian di dalam kamar bernuansa putih itu. Ia menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Anehnya, di tengah rasa asing yang melingkupinya, ada satu hal yang mengusik batinnya. Dada kirinya terasa teramat sesak. Ada sebentuk rasa hampa dan kehilangan yang begitu hebat meremas jantungnya, seolah ada separuh dari dirinya yang baru saja tercerabut paksa.
Neya menyentuh dadanya sendiri yang berdegup tak beraturan, air matanya menetes tanpa ia tahu apa alasannya. Kenapa hatinya terasa se-sakit ini, padahal ia bahkan tidak ingat siapa dirinya sendiri?
Dokter memeriksa refleks mata dan denyut nadi Neya dengan saksama sebelum akhirnya mencatat sesuatu di papan klipnya. Wajah dokter itu tampak lega, namun sekaligus serius.
"Secara fisik, kondisi Mbak Neya sudah melewati masa kritis setelah operasi pengangkatan proyektil peluru di dadanya," ujar dokter itu pelan, menatap Imelda lalu beralih ke Neya.
Neya tertegun. Peluru? Dada? Ia reflex menyentuh dadanya yang terbebat perban tebal di balik baju rumah sakit. Pantas saja rasanya luar biasa nyeri. Jadi, ia tidak sadarkan diri karena tertembak? Tapi oleh siapa? Dan kenapa? Kepala Neya kembali berdenyut hebat saat mencoba mencari jawaban.
"Lalu kenapa anak saya tidak mengingat saya, Dok?" tanya Imelda dengan suara bergetar menahan tangis.
Itu adalah Amnesia Pasca-Trauma, Ibu Imelda. Benturan keras saat kejadian atau syok hebat akibat trauma tembakan itu membuat otak Mbak Neya memblokir seluruh memorinya sebagai bentuk pertahanan diri," jelas dokter itu menenangkan. "Tapi Ibu tidak perlu cemas berlebihan. Cedera otaknya tidak permanen. Jika Mbak Neya rutin mengonsumsi obat pemulih saraf otak yang saya resepkan nanti, dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan, ingatannya perlahan-lahan akan kembali pulih total."
Mendengar kalimat terakhir dokter, tubuh Imelda seketika menegang. Alih-alih merasa lega, sebersit kilatan penuh ketakutan dan keputusasaan justru melintas di matanya yang sembap. Satu bulan? Jadi Neya akan mengingat semuanya lagi dalam sebulan? Termasuk mengingat pemuda dari keluarga darah biru yang hampir merenggut nyawanya itu?
Tidak. Imelda mengepalkan tangannya tersembunyi di balik saku baju. Ia tidak akan membiarkan putrinya kembali ke lingkaran setan yang hampir membunuhnya. Ini adalah kesempatan emas dari Tuhan untuk menjauhkan Neya selamanya, bahkan jika ia harus mengarang dosa besar.
Setelah dokter pamit keluar, Imelda kembali mendekati ranjang. Ia menggenggam tangan Neya, memasang wajah sehangat mungkin demi menutupi detak jantungnya yang berdegup kencang karena rencana nekat yang baru saja tersusun di kepalanya.
"Neya, anakku..." bisik Imelda lembut, mengusap rambut ikal putrinya. "Jangan dipaksakan berpikir jika kepalamu sakit, Nak. bunda akan merawatmu. Bunda dan... suamimu."
Neya tersentak, matanya membelalak kecil. "Su-suami? Neya... sudah menikah?"
Imelda mengangguk mantap, Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menunjukkan sebuah foto kepada Neya.
Di layar ponsel itu, tampak foto Neya yang sedang tersenyum canggung bersanding dengan seorang laki-laki berwajah ramah dan berpotongan rambut rapi. Laki-laki itu tampak sangat asing bagi Neya.
"Namanya Aris, Nak. Dia suamimu," ucap Imelda dengan suara selembut mungkin. "Nanti setelah kamu pulang dari rumah sakit, kalian akan menikah ulang secara sederhana di rumah. Hanya untuk menyegarkan memorimu karena sekarang kamu sedang lupa. Dia laki-laki yang sangat baik.
Neya terdiam, menatap lekat-lekat wajah laki-laki bernama Aris di foto itu. Aneh. Di dalam benaknya yang kosong, ia merasa hampa. Mengapa wajah laki-laki yang disebut sebagai suaminya itu sama sekali tidak memicu getaran apa pun di dadanya?
"Lalu... kalau dia suamiku, kenapa dia tidak ada di sini sekarang, Bun?" tanya Neya bingung, matanya mengedar menatap sudut-sudut kamar rawatnya yang sepi dan dingin.
Imelda menarik napas dalam, wajahnya mendadak sendu yang meyakinkan. "Suamimu sedang dinas di luar kota, Nak. Dia sedang mengurus proyek pekerjaan penting di luar pulau saat musibah penembakan ini terjadi. Begitu Ibu kabari kamu sudah sadar, dia langsung panik luar biasa. Tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggal begitu saja. Besok atau lusa, begitu urusannya selesai, dia berjanji akan langsung terbang ke sini untuk menjagamu."
Neya hanya mengangguk pelan, menerima alasan itu meski batinnya masih merasakan ada sesuatu yang janggal yang tidak bisa ia jelaskan.
Malamnya, suasana rumah sakit menjadi teramat sunyi. Di sofa rawat, Imelda sudah tertidur lelap karena kelelahan. Neya mencoba memejamkan mata, membiarkan tubuhnya yang letih terbuai menuju alam bawah sadar.
Namun, di dalam tidurnya yang gelisah, sebuah mimpi buruk datang menyerergap.
Anehnya, di dalam mimpi itu, Neya sama sekali tidak melihat wajah Aris. Laki-laki di mimpinya memiliki perawakan yang sangat berbeda—lebih tinggi, dengan bahu kokoh yang tampak bergetar hebat karena rapuh. Laki-laki misterius itu sedang mencengkeram erat jemari tangan Neya di bawah guyuran hujan lebat, menangis tersedu-sedu seolah dunianya sedang hancur lebur.
Jangan pergi, Neya... tolong bertahan... Suara tangisan laki-laki di dalam mimpinya terdengar begitu nyata, begitu pilu, hingga mencabik-cabik dada Neya dengan rasa sakit yang luar biasa.
Neya seketika tersentak bangun dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dada. Saat ia menyentuh pipinya, tahu-tahu air mata hangat sudah membanjiri wajahnya. Ia menatap nanar ke arah jendela kamar rawat yang gelap gulita.
Pikirannya mendadak kacau dan dipenuhi tanda tanya besar. Jika Aris adalah suaminya yang sedang dinas di luar kota seperti kata bundanya, lalu siapa laki-laki bertubuh tinggi yang menangis di dalam mimpinya tadi? Dan kenapa rasa rindu serta rasa sakit di dadanya justru tercipta untuk laki-laki misterius di dalam mimpi itu, bukan untuk suaminya sendiri?
lalu Kinan ?