Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 12 - Anjingku
Untuk sesaat Davion memang tertegun melihat penampilan Aluna malam ini, namun bukannya kagum ia justru merasa aneh. Berpikir apa lagi yang akan Aluna sekarang?
Atau wanita ini membawa misi baru dari mom Ivana untuk menggodanya?
Pikiran Davion sudah terlalu jauh tentang Aluna, di matanya wanita itu sedikit pun tak memiliki sisi baik.
Dan melihat Davion yang diam saja, Aluna pun kembali melanjutkan langkah yang terjeda. Biasanya Davion akan masuk ke kamar pukul 10 malam, saat ia harus pura-pura tidur agar tak mengganggu pria tersebut.
"Dav," panggil Aluna setelah mendekat, ia tersenyum kecil berharap penampilannya yang berubah mampu menyenangkan Davion meski hanya sedikit. Tak peduli seburuk apapun hubungan mereka selama ini, diam-diam Aluna masih berharap semuanya bisa membaik.
Terlebih Aluna tahu, ia tak akan pernah bisa terbebas dari pernikahan ini.
"Siapa yang memilih gaun itu untukmu? Mommy?" tanya Davion.
"Bukan, aku sendiri yang memilihnya," jawab Aluna dengan senyum kecil, rasa bangga muncul di hatinya sebab ini adalah kali pertama Aluna mengambil pilihannya sendiri, "Kata mom Ivana aku bisa memilih gaun manapun yang aku suka."
Davion tersenyum miring, "Dan ternyata pilihanmu sangat buruk."
Aluna tertegun, senyumnya perlahan pudar mendengar kata-kata tersebut. Harapannya runtuh seketika, bukannya memuji seperti mom Ivana, Davion justru tak menyukainya.
Pandangan Aluna sedikit turun dan menatap gaun yang ia kenakan malam ini. 'Benarkah seburuk itu di mata Davion?'
"Gaun bagus pun tetap saja akan terlihat buruk jika dipakai oleh orang yang tidak tepat," ucap Davion lagi.
Aluna makin terdiam, sejenak ia lupa bahwa Davion tak pernah menerimanya. Kata perhatian 'Hati-hati' siang tadi bukanlah bentuk dari ketulusan, melainkan hanya sandiwara saja. Davion pasti menyadari bahwa mom Ivana ada di dekatnya.
Mama Sarah memang sudah tak ada lagi di rumah ini, namun Davion seperti memilki bayangan wanita tersebut.
"Maaf Dav, aku hanya menuruti keinginan Mommy," jawab Aluna.
Davion makin tersenyum miring mendengarnya. "Begitulah kamu, selalu menyebut orang lain atas apa yang kamu lakukan. Ini atas keinginan mommy, ini permintaan Daddy, ini maunya mama Sarah, ini keinginan papa Pieter," balas Davion, ia maju satu langkah mengikis jarak diantara keduanya.
Sumpah demi apapun Davion benci sekali tiap mendengar Aluna bicara seperti itu, entah kapan Aluna akan benar-benar mempertanggung jawabkan semuanya sendiri, tanpa melibatkan orang lain.
"Apa kamu anjing peliharaan mereka semua?" tanya Davion kemudian, kalimat kejam itu dia lontarkan begitu saja saat jarak mereka semakin dekat.
Namun bukannya bereaksi membatah, Aluna masih tetap diam. Kata-kata Davion selalu saja berhasil membuat hatinya terluka, tapi Aluna bisa apa?
"Apa kamu juga anjing peliharaan ku?" tanya Davion lagi, makin menyayat hati Aluna.
"Kenapa diam? Kamu senang kuanggap anjing peliharaan?"
"Lepas bajumu sekarang, anjingku," tantang Davion pula.
Aluna tergugu, kedua matanya mulai terasa panas oleh air mata. Namun dia selalu mampu menahannya agar tidak tumpah.
Davion sudah tidak peduli lagi jika dia terus melanggar kontrak, mengikis jarak yang dia atur harus dua meter, melarang ada sentuhan fisik. Dia masih mengingat dengan jelas semua aturan itu, tapi Davion benar-benar sudah tidak peduli. Saat ini Davion hanya ingin memuaskan egonya sendiri atas Aluna.
Dan tanpa ada kata-kata, Aluna mulai melepaskan bajunya...