"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Kartu As dari Balik Almamater
****
Pertanyaan Pak Malik bergema di dalam ruang kepala sekolah yang kedap suara, menciptakan keheningan yang mencekam dan menyiksa jiwaku. Tatapan mata seluruh orang di ruangan ini terpusat padaku. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di pelipuk dahiku, sementara tenggorokanku mendadak terasa sekering gurun pasir. Lidahku kelu, terkunci di antara dua pilihan ekstrem yang sama-sama berujung pada kehancuran.
"Mikaela? Kenapa kamu diam saja?" suara Pak Malik kembali memecah kesunyian dengan nada yang lebih menuntut. Beliau mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas meja jati, menambah rentetan ketegangan di dadaku. "Bapak butuh kejujuran kamu sekarang. Apakah benar Saka Aditya memaksa dan mengancam kamu semalam?"
Aku melirik ke arah Devan melalui sudut mataku. Sang Ketua OSIS itu masih mempertahankan posisi duduknya yang tegap dan berwibawa. Wajah tampannya memancarkan ketenangan yang mutlak, namun kilat mata yang dia arahkan kepadaku sarat akan ancaman tak kasat mata yang sangat pekat. Dia tahu dia di atas angin. Dia tahu genggamannya pada rekaman suara tangisanku di ruang OSIS adalah tali jerat yang tidak bisa kupatahkan begitu saja.
Namun, saat aku mengalihkan pandanganku ke sudut ruangan, aku melihat Saka. Cowok ugal-ugalan yang semalam bertaruh nyawa membelah jalanan licin demi membawaku keluar dari sangkar emas Devan, kini sedang menatapku dengan binar mata yang meredup. Tidak ada kemarahan di matanya, yang ada hanyalah sebuah kepasrahan yang teramat dalam. Saka siap menerima pengkhianatanku untuk yang kedua kalinya, asalkan aku aman.
Melihat kepasrahan di mata Saka, ada sesuatu yang mendadak patah di dalam dadaku. Rasa takut yang selama dua minggu ini mengurung mentalku perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa muak yang luar biasa pada manipulasi Devan. Aku lelah menjadi boneka pemeras emosinya. Aku lelah melihat orang yang tulus melindungiku harus selalu menjadi pihak yang dikorbankan.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengatupkan rahangku kuat-kuat, lalu menatap Pak Malik dengan pandangan mata yang lurus dan mantap.
"Tidak, Pak Malik. Semua yang dikatakan Devan... itu bohong," ucapku lantang, memecah kepalsuan di ruangan itu.
*Brak!*
"Mikaela! Jaga ucapan kamu!" Devan refleks berdiri dari kursinya, kehilangan ketenangan formalitasnya untuk pertama kali di depan kepala sekolah. Topeng malaikatnya retak seketika, menampilkan gurat wajah yang mengeras dengan mata yang menyipit tajam penuh amarah yang tertahan. "Kamu jangan mencoba melindungi penjahat ini setelah apa yang dia lakukan semalam!"
"Tenang, Devan! Silakan duduk kembali!" perintah Pak Malik tegas, memberikan isyarat tangan agar Devan mengontrol emosinya. Beliau kemudian kembali menatapku dengan kening yang semakin berkerut dalam. "Mikaela, apa maksud kamu mengatakan Devan berbohong? Bukankah ada bukti foto mobil Devan yang rusak dan laporan kehilangan jam tangan mewah di sini?"
"Mobil Devan rusak karena dia mengejar kami dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan di jalan komplek, Pak!" jawabku berani, mengabaikan tatapan mematikan dari Devan yang kini duduk kembali di sebelahku dengan kepalan tangan yang memutih. "Saka tidak menculik saya. Saya yang meminta Saka untuk membawa saya pergi karena saya merasa terancam berada di dekat Devan. Dan soal jam tangan..."
"Soal jam tangan itu, gue gak pernah mencurinya dengan kekerasan dari Mikaela, Pak Malik."
Suara bariton Saka yang berat dan tenang tiba-tiba memotong kalimatku. Cowok itu melangkah maju dua langkah, melepaskan diri dari kekangan longgar dua petugas keamanan sekolah yang tampaknya ikut tertegun mendengar pengakuanku barusan. Saka berjalan mendekati meja kepala sekolah dengan langkah yang sangat konstan dan rapi, menguarkan aura dominasi baru yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Saka merogoh saku bagian dalam almamater sekolahnya yang terpasang rapi di tubuhnya. Namun, alih-alih mengeluarkan jam tangan mewah perak milik Devan, tangan kokoh Saka justru mengeluarkan sebuah benda elektronik kecil berbentuk persegi panjang berwarna hitam dengan lampu indikator kecil yang berkedip biru halus.
Itu adalah alat perekam suara digital milik Devan yang dia curi dari ruang OSIS kemarin sore.
Devan yang melihat benda itu berada di tangan Saka, seketika membelalakkan matanya. Wajah tampan sang Ketua OSIS yang biasanya selalu memiliki rona kemerahan sehat, mendadak berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Dia baru menyadari bahwa kartu as yang selama ini dia gunakan untuk mengunci kebebasanku, kini telah berpindah tangan sepenuhnya.
"Apa itu, Saka?" tanya Pak Malik sambil membetulkan letak kacamata bacanya.
Saka tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin nan tajam yang ditujukan langsung ke arah wajah pucat Devan. "Ini adalah alat perekam suara digital yang saya temukan tertinggal di ruang OSIS, Pak Malik. Di dalam alat ini, terdapat rekaman audio utuh berdurasi tiga puluh menit dari kejadian hari Selasa dua minggu lalu. Momen di mana Ketua OSIS kebanggaan sekolah kita ini, secara sengaja melakukan pemerasan emosional dan ancaman hukum kepada Mikaela."
Saka meletakkan benda hitam itu di atas meja Pak Malik, tepat di atas draf berkas laporan bersampul merah milik Devan.
"Di dalam rekaman ini, Anda bisa mendengar sendiri bagaimana Devan memaksa Mikaela untuk memutuskan hubungan pertemanan dengan semua orang dan memaksa Mikaela menjadi pacarnya, dengan jaminan draf pemecatan saya akan dirobek jika Mikaela patuh," tutur Saka dengan nada suara yang sangat teratur, rapi, dan tak terbantahkan. "Jadi, jam tangan mewah milik Devan yang ada di tangan saya sekarang, bukanlah barang hasil curian dengan kekerasan. Jam tangan itu saya ambil dari ruang OSIS sebagai barang bukti pendukung bahwa Devan telah menyalahgunakan wewenang jabatannya untuk melakukan tindakan intimidasi psikologis kepada siswi di sekolah ini."
Saka memundurkan tubuhnya kembali, memasang pose tegap dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya yang rapi. "Sekarang, semua bukti kebenaran sudah ada di atas meja Anda, Pak Malik. Silakan Anda putar rekaman itu, dan Anda akan tahu siapa sebenarnya berandal berkedok malaikat yang memiliki *red flag* sesungguhnya di sekolah ini."
Mendengar penuturan Saka yang begitu matang dan runtut, Pak Malik langsung meraih alat perekam suara tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar. Beliau menekan tombol *play*, dan detik berikutnya, suara tangisan histerisku yang memohon-mohon dipadukan dengan suara dingin nan manipulatif Devan mulai menggema memenuhi ruangan kepala sekolah yang sunyi.
Gue menundukkan kepala, membiarkan setitik air mata lega akhirnya jatuh membasahi punggung tanganku. Dinding kebohongan yang mengurungku selama dua minggu ini akhirnya runtuh total sore itu. Di balik meja kepala sekolah yang terhormat ini, Devan Dirgantara akhirnya resmi terjebak di dalam jaring manipulasinya sendiri, sementara Saka Aditya... si berandal patuh aturan itu, baru saja berhasil membalikkan keadaan dengan mengeluarkan kartu as paling mematikan dari balik almamater rapinya. Perang babak kedua ini telah resmi dimulai dengan kekalahan telak di pihak sang Ketua OSIS yang posesif.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Boom! Skakmat total buat Devan Dirgantara di Bab 18 ini, guys!** Sumpah, puas banget pas ngetik bagian Saka mengeluarkan alat perekam suara rahasia itu dari balik almamater rapinya. Taktik 'patuh aturan' yang dimainkan Saka seminggu ini bener-bener jadi bumerang yang menghancurkan seluruh reputasi mulus milik Devan di depan Kepala Sekolah!
> Kita bisa melihat gimana keren dan dewasanya pergerakan Saka di bab ini. Dia gak lagi pakai otot atau pukulan ugal-ugalan buat menyelesaikan masalah, melainkan pakai otak dan bukti hukum sekolah yang gak bisa dibantah sedikit pun oleh Devan. Dan keberanian Mikaela buat jujur di depan Pak Malik bener-bener jadi kunci pembuka gerbang kebebasannya dari kurungan emas tersebut.
> Kira-kira setelah Pak Malik mendengar seluruh isi rekaman pemerasan emosional tersebut, sanksi berat apa ya yang bakal dijatuhkan kepada Devan Dirgantara? Apakah jabatan Ketua OSIS-nya bakal langsung dicopot secara tidak hormat?
>