King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Lorong utama Stone Hospital malam itu biasanya setenang kastil tua.
Rumah sakit yang berdiri megah di pusat kota Chicago ini bukan sekadar tempat penyembuhan; ini adalah simbol kekuasaan mutlak dari Klan Stone.
Dinding-dinding marmer Italia yang berkilau, lampu gantung kristal yang temaram, dan penjagaan super ketat di setiap sudut menegaskan bahwa hanya orang-orang dengan nama besar—atau isi dompet tak berseri—yang bisa menginjakkan kaki di sini.
Namun, ketenangan itu hancur berantakan dalam satu detakan jantung.
"Dokter!!!"
"Dokter!!!"
"Sialan, cepat ke sini!!!"
Suara raungan itu menggema, memantul di antara dinding-dinding kaca IGD eksekutif.
Pintu otomatis lobi utama terbuka paksa, dan beberapa pria berjas hitam dengan wajah tegang mendorong sebuah brankar dengan kecepatan penuh.
Di samping brankar itu, seorang pria muda dengan guratan wajah tegas namun dipenuhi kepanikan luar biasa terus berteriak jahat, tangannya mencengkeram sisi ranjang besi.
Kendrick Stone, sang pangeran kedua dari Klan Stone, kehilangan seluruh ketenangan yang biasanya ia agungkan. Kemeja putihnya yang mahal kini ternoda oleh cipratan darah segar yang kontras.
Di atas brankar, berbaring kembaran identiknya, King Stone. Sang pangeran pertama, pria berusia 27 tahun yang terkenal kejam dan dingin di dunia bisnis Chicago, kini memejamkan mata rapat-rapat.
Wajahnya yang biasa angkuh tampak pucat pasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Di bagian perutnya, kemeja hitam yang ia kenakan telah robek, memperlihatkan luka sayatan yang sangat dalam dan lebar. Darah pekat terus mengalir dari sana, merembes di antara jemari tangan King yang mencoba menahan ususnya sendiri agar tidak keluar.
"Bertahanlah, King! Demi Tuhan, buka matamu, bajingan!" bentak Kendrick, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan kehilangan.
Suasana IGD langsung menegang. Para perawat yang mengenali siapa yang dibawa langsung bergerak panik.
Menangani anggota Klan Stone sama saja dengan mempertaruhkan nyawa dan karier mereka. Jika pria di atas brankar ini mati, tamat sudah riwayat semua orang di ruangan ini.
Di tengah kepanikan massal itu, sebuah langkah kaki yang konstan dan tenang mendekat.
Seorang wanita dengan jubah putih residen berjalan membelah kerumunan perawat.
Di dadanya, tersemat papan nama perak bertuliskan: dr. Olivier Martinez, Residen IGD.
Wajahnya tertutup masker medis hijau, hanya menyisakan sepasang mata bulat yang tajam, jernih, dan sama sekali tidak memancarkan ketakutan.
Usianya sama, 27 tahun, namun ketenangannya di tengah badai darah ini seperti seorang veteran perang.
Begitu matanya menangkap sosok King Stone dan luka di perutnya, Olivier tidak membuang waktu satu detik pun untuk terkejut atau sekadar memberi hormat pada Kendrick yang sedang mengamuk.
"Dorong ke Ruang Tindakan Satu! Sekarang!" perintah Olivier. Suaranya jernih, tegas, dan penuh otoritas yang tak bisa dibantah.
"Kau! Selamatkan kakakku! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan tempat ini!" ancam Kendrick dengan mata memerah, menunjuk tepat ke wajah Olivier.
Olivier bahkan tidak melirik Kendrick. Ia langsung ke sisi brankar, tangannya dengan cekatan mengambil tumpukan kain kasa steril berukuran besar, lalu menekannya dengan kuat tepat di atas luka sayatan di perut King untuk menghentikan pendarahan hebat yang sedang berlangsung.
"Ahg-hh..." King mengerang tertahan, tubuhnya mengejang sesaat akibat tekanan mendadak itu.
Sepasang matanya sempat terbuka sedikit, sayu dan buram, menatap siluet wanita bermasker di atasnya sebelum kesadarannya kembali meredup.
"Tensi darah drop ke 90/60, denyut nadi lemah!" seru seorang perawat yang memasang monitor.
"Siapkan empat kantung darah golongan O-negatif sekarang! Pasang jalur IV ganda, guyur!" perintah Olivier tanpa ragu.
Jemarinya yang dibungkus sarung tangan lateks bergerak dengan presisi yang luar biasa. Ia memeriksa kedalaman luka sayat tersebut dengan teliti.
"Luka sayatan sepanjang Sepuluh sentimeter, untungnya tidak mengenai arteri utama atau menembus organ dalam secara fatal, tapi pendarahan eksternalnya terlalu masif. Ambilkan set jahit darurat dan anestesi lokal. Aku harus menghentikan pendarahan di sini sebelum memindahkannya ke ruang operasi."
Selama hampir tiga puluh menit yang mencekam, Olivier bekerja seperti robot yang diprogram sempurna. Ia tidak memedulikan status King sebagai pewaris utama klan paling ditakuti di Chicago.
Baginya, pria bertato yang sedang sekarat ini hanyalah seonggok daging yang butuh dijahit agar nyawanya tidak melayang.
Dengan gerakan cepat dan rapi, ia membersihkan area luka, menyuntikkan anestesi, dan mulai menjahit pembuluh-pembuluh darah yang robek dengan ketenangan yang luar biasa.
Kendrick yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menyaksikan dengan napas memburu.
Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa takjub yang aneh melihat bagaimana dokter residen wanita ini mengendalikan situasi darurat dengan begitu dingin.
Setelah jahitan terakhir selesai dan perban steril dibalutkan dengan rapi di perut King, monitor mulai menunjukkan angka yang lebih stabil. Napas King yang tadinya memburu kini menjadi lebih teratur, meskipun pria itu masih belum sadarkan diri akibat efek trauma dan obat-obatan.
Olivier mengembuskan napas panjang, melepaskan sarung tangannya yang berlumuran darah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Ia membenarkan posisi jubah putihnya, lalu berbalik untuk berjalan keluar dari ruang tindakan.
Kendrick dengan cepat menghadang langkahnya di ambang pintu. Wajah pangeran kedua Stone itu dipenuhi kecemasan yang tertahan.
"Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja? Kapan dia sadar?" tanya Kendrick bertubi-tubi, menuntut jawaban instan.
Olivier menghentikan langkahnya. Ia menatap Kendrick datar dari balik maskernya. Tidak ada binar rasa hormat, tidak ada ketakutan karena sedang berhadapan dengan salah satu penguasa Chicago.
Dengan suara yang teramat tenang, datar, dan tanpa ekspresi, wanita itu menjawab:
"Dia sudah mati."
Deg.
Jantung Kendrick serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Seluruh darah di tubuhnya seolah turun ke kaki. Wajahnya memucat seketika, matanya membelalak lebar menatap Olivier dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan kengerian yang mendalam.
"Apa... apa kau bilang?" bisik Kendrick, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Kau... kau bercanda, kan? Katakan kau sedang bercanda, Dokter Sialan!"
"Aku tidak punya waktu untuk bercanda dengan keluarga pasien," jawab Olivier, nadanya sedingin es di musim dingin Chicago.
"Bisa-bisanya kau!!! Bagaimana mungkin dia mati?! Kau baru saja menjahitnya dengan santai! Kau... kau dokter residen gila! Kau tahu siapa yang ada di dalam sana? Dia King Stone! Dan kau mengatakan hal gila seperti itu di depanku?!" Teriak Kendrick frustrasi, tangannya mengepal erat, siap untuk menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Sarafnya benar-benar putus mendengar kalimat itu.
Melihat reaksi histeris Kendrick, Olivier hanya menaikkan satu alisnya di balik masker. Tanpa dosa, ia melanjutkan kalimatnya yang sengaja dipotong tadi.
"Maksudku, dia sudah mati rasa karena pengaruh anestesi lokal yang kuberi. Dia aman. Masa kritisnya sudah lewat dan dia hanya perlu istirahat. Jika kau mau mengamuk seperti orang kesurupan, lakukan di luar. Ini rumah sakit, bukan ring tinju."
Setelah mengatakan kalimat yang luar biasa tidak sopan itu, Olivier melangkah memutari tubuh Kendrick yang mematung, meninggalkan sang pangeran Stone sendirian dengan mulut ternganga dan dada yang naik turun karena syok ganda.
Kendrick bersumpah, seumur hidupnya, belum pernah ada orang—terlebih lagi seorang dokter residen rendahan di rumah sakit milik keluarganya sendiri—yang berani mempermainkannya sampai hampir terkena serangan jantung seperti ini.
Tiga jam kemudian, di dalam kamar rawat VIP nomor satu yang luasnya setara dengan griya tawang mewah, suasana jauh lebih tenang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi parfum maskulin yang mahal. King Stone akhirnya membuka matanya.
Rasa nyeri yang menusuk di bagian perutnya langsung menyambut kesadarannya, membuat pria itu mendesis pelan.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang kekar, namun segera mengurungkan niat saat merasakan tarikan perban di perutnya.
Sepasang mata elangnya yang hitam pekat menatap langit-langit kamar, lalu beralih ke samping di mana Kendrick sedang duduk di sofa sambil menegak segelas wiski dengan wajah masam.
"Kau belum mati, ternyata," gumam Kendrick menyadari pergerakan kakaknya. Ia berdiri dan mendekati ranjang King.
"Luka kecil seperti ini tidak akan bisa membunuhku, Kendrick," sahut King dengan suara serak yang berat.
Pria berwajah tampan dengan rahang tegas itu mencoba menstabilkan napasnya. Tangan kanannya yang dipenuhi tato bermotif hitam- hingga ke punggung tangan, bergerak menyentuh perutnya sendiri.
"Siapa yang membawaku ke sini? Dan siapa dokter yang menanganiku? Jahitannya terasa sangat ketat."
Mendengar pertanyaan tentang dokter, ekspresi wajah Kendrick langsung berubah menjadi sangat kesal. Amarah yang sempat terpendam beberapa jam lalu kembali meluap ke permukaan.
"Ah, soal dokter itu... Kau tidak akan percaya betapa kasarnya bajingan bermasker yang menanganimu di IGD tadi, King!" adu Kendrick dengan nada berapi-api. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah ranjang kakaknya.
King mengerutkan kening, menatap adiknya dengan tatapan dingin yang biasa. "Kasar? Di Stone Hospital? Siapa yang berani?"
"Seorang dokter residen wanita! Aku bersumpah, dia adalah makhluk paling tidak sopan yang pernah kutemui di Chicago!" seru Kendrick frustrasi.
"Saat aku bertanya bagaimana kondisimu setelah operasi darurat itu, dengan wajah datar dan suara sedingin mayat, dia menatapku dan berkata, 'Dia sudah mati.' Aku hampir mati berdiri saat itu juga, King! Dan setelah membuatku jantungan, dia dengan santai melanjutkan bahwa maksudnya kau hanya 'mati rasa' karena anestesi! Dia bahkan mengusirku dan menyuruhku jangan mengamuk seperti orang kesurupan. Dia benar-benar memperlakukan kita seperti sampah!"
Mendengar cerita adiknya, sepasang mata elang King menyipit tajam. Kilat kemarahan yang berbahaya muncul di sana.
Sebagai pangeran pertama Klan Stone, harga dirinya jelas terusik. Di rumah sakit miliknya sendiri, ada seorang residen yang berani mengintimidasi dan mempermainkan adiknya, bahkan terkesan meremehkan nyawanya? Ini tidak bisa dibiarkan.
"Seorang residen?" tanya King, suaranya merendah, menandakan dia sedang dalam mode paling tidak bersahabat. "Kenapa dia begitu tidak sopan? Apa dia sudah bosan hidup atau sudah bosan bekerja di dunia medis?"
"Aku tidak tahu! Dia memakai masker sepanjang waktu, tapi namanya kalau tidak salah... Martinez. Sialan, aku akan memastikan izin praktiknya dicabut besok pagi!" umpat Kendrick.
"Tidak perlu menunggu besok," potong King dengan nada dingin yang mutlak. "Panggil dokter tadi ke sini sekarang. Aku ingin melihat sendiri seberapa besar nyali yang dimiliki oleh seorang dokter residen wanita yang berani menghina Klan Stone di kandangnya sendiri."
"Bagus. Aku akan menyuruh perawat menyeretnya ke sini," ucap Kendrick puas, segera berbalik dan keluar dari kamar untuk melaksanakan perintah kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar yang sepi, King menyandarkan kepalanya di bantal yang ditinggikan.
Pikirannya dipenuhi oleh rasa penasaran yang bercampur amarah. Selama bertahun-tahun memimpin lini bisnis legal maupun ilegal milik keluarganya, semua orang selalu menunduk ketakutan di hadapannya.
Ditambah lagi, reputasinya sebagai mantan playboy internasional saat masa-masa kuliah dulu membuat wanita-wanita selalu bertekuk lutut dan memujanya seperti dewa.
Menemukan satu wanita yang berani berlaku kasar pada keluarganya adalah hal baru yang sangat mengusik egonya.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar rawat VIP itu terbuka kembali.
Kendrick melangkah masuk terlebih dahulu dengan senyum kemenangan yang tertahan di wajahnya.
Di belakangnya, mengikuti sesosok wanita bertubuh ramping yang masih mengenakan jubah putih residennya.
Wajah wanita itu masih tertutup rapat oleh masker medis hijau, dan tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku jubahnya.
Langkah kakinya terdengar santai, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan seolah-olah dia baru saja dipanggil ke ruang eksekusi.
"Ini dia orangnya, King. Dokter sombong yang mengatakanmu mati," ujar Kendrick sambil menunjuk wanita itu dengan ibu jarinya.
Olivier Martinez berdiri di ujung ranjang tempat King berbaring. Sepasang mata bulatnya yang jernih menatap langsung ke arah sepasang mata elang King Stone yang sedang menghujamnya dengan tatapan membunuh.
Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti keheningan yang mencekam, perang urat syaraf terjadi hanya melalui tatapan mata.
"Kau yang bernama Dokter Martinez?" tanya King, suaranya berat dan penuh penekanan yang mengintimidasi.
Olivier tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat santai, bahkan terkesan malas, tangan kanannya terangkat ke wajahnya. Ia menarik tali masker medisnya yang terkait di telinga, lalu menurunkan masker hijau itu hingga ke dagu, mengekspos seluruh wajahnya yang tanpa riasan tebal namun memiliki kecantikan alami yang sangat tegas.
Bibirnya yang tipis terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang menantang.
Ia menatap King, lalu beralih ke Kendrick, sebelum kembali menatap King dengan tatapan yang sangat meremehkan.
"Ada apa? Hah? Kau ingin memecatku?" ucap Olivier dengan nada suara yang santai, bahkan terkesan menantang badai yang sedang bersiap menerjangnya.
Deg.
Atmosfer di dalam kamar mewah itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Waktu seolah berhenti berputar di detik itu juga.
King Stone yang tadinya siap mengeluarkan kalimat kutukan yang bisa menghancurkan karier wanita di hadapannya, tiba-tiba mematung.
Seluruh tubuhnya menegang kaku di atas ranjang. Sepasang mata elangnya membelalak lebar, menatap wajah di depannya dengan rasa syok yang luar biasa besarnya—bahkan jauh lebih syok daripada saat perutnya robek disayat pisau beberapa jam lalu.
Di sampingnya, Kendrick Stone tidak kalah terkejutnya.
Mulut pangeran kedua itu sedikit terbuka, matanya bergerak bolak-balik antara wajah wanita itu dan wajah kakak kembarnya yang kini pucat pasi dengan ekspresi yang belum pernah Kendrick lihat seumur hidupnya: ketakutan dan rasa bersalah yang amat sangat.
King Stone boleh saja melupakan nama-nama, lekuk tubuh, atau wajah dari puluhan—bahkan ratusan—mantan kekasih atau wanitanya selama ia menjadi playboy internasional di masa-masa kuliahnya dulu.
Dia bisa dengan mudah menghapus memori tentang wanita-wanita yang mengejar harta dan ketampanannya.
Namun, gadis yang berdiri di hadapannya saat ini... gadis dengan mata jernih yang menatapnya penuh kebencian dan keangkuhan ini... adalah pengecualian mutlak.
Dia adalah cinta pertamanya. Satu-satunya gadis yang pernah memiliki seluruh hatinya sebelum King berubah menjadi Playboy Gila.
Mantan kekasihnya selama tiga tahun penuh penderitaan dan kebahagiaan di masa high school dulu, sebelum King meninggalkannya begitu saja.
"Olivier... Martinez..." gumam King dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan angin. Suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh otoritas dan kekejamannya. "Kau... kau bekerja di sini?"
Olivier tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bersedekap, menatap King seolah pria itu adalah seonggok sampah medis yang salah tempat.
Kendrick yang menyadari perubahan drastis atmosfer ruangan dan melihat bagaimana kakaknya yang kejam tiba-tiba ciut seperti anak kucing di depan dokter residen ini, langsung menghubungkan titik-titik memori di otaknya. Ingatannya berputar kembali ke masa remaja mereka, saat King sering mengurung diri di kamar sambil menatap foto seorang gadis dengan seragam sekolah yang sama.
Sialan, batin Kendrick. Gadis betina gila ini adalah Olivier yang itu?!
Dengan gerakan perlahan dan wajah yang dipenuhi kengerian baru, Kendrick mendekatkan wajahnya ke telinga King. Ia berbisik dengan volume suara yang sangat rendah, namun masih bisa terdengar jelas di keheningan kamar itu.
"Syukur kau tidak disuntik mati oleh gadis betina gila ini kak," ucap Kendrick, menelankan suaranya yang bergetar menahan tawa sekaligus ngeri. "Jika aku jadi dia, aku sudah menyuntikkan racun tikus ke dalam cairan infusmu saat kau pingsan tadi."
Meskipun suara Kendrick sangat pelan, telinga tajam Olivier menangkap setiap kata dengan sempurna. Sepasang matanya langsung menghujam Kendrick dengan tatapan tajam yang seolah bisa memotong kepala pria itu menjadi dua.
"Brengsek kau Kendrick, kau mengataiku gila?" potong Olivier dengan nada ketus, sama sekali tidak menggunakan embel-embel sopan santun 'Tuan' atau 'Pangeran'.
Ditunjuk dan dibentak langsung seperti itu oleh sang mantan kakak ipar tiruan, nyali Kendrick yang tadinya besar langsung menciut drastis. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda menyerah, lalu melangkah mundur dengan cepat menuju pintu keluar.
"Tidak-tidak! Aku tidak ikut campur! Aku akan keluar. Urus saja urusan rumah tangga masa lalu kalian!" ucap Kendrick dengan cepat, segera memutar knop pintu dan keluar dari kamar rawat VIP itu, menutup pintu dengan rapat, meninggalkan kakak kembarnya yang penuh tato itu sendirian menghadapi maut dalam wujud seorang dokter residen.
Kini, tinggallah King Stone sendirian di dalam kamar yang luas itu bersama Olivier.
Suasana mendadak menjadi sangat canggung dan mencekam bagi King.
Pria yang biasanya bisa mengintimidasi para CEO papan atas di Chicago itu, kini bahkan merasa kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa sangat kering, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa sangat terintimidasi oleh kehadiran seorang wanita.
Mata King bergerak memperhatikan penampilan Olivier dari bawah hingga ke atas. Gadisnya dulu yang selalu memakai kuncir kuda dan membawa buku-buku tebal, kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang sangat mandiri, mengenakan jubah putih yang melambangkan kecerdasannya. Namun, tatapan mata hangat yang dulu selalu menyambutnya, kini telah berubah total menjadi tatapan dingin tanpa dasar.
Mencoba memecah keheningan yang menyiksa dan menutupi rasa gugupnya yang luar biasa, King berdeham pelan. Ia menatap Olivier dengan pandangan yang melembut, sesuatu yang sangat langka bagi seorang King Stone.
"Bagaimana kabarmu?" tanya King dengan suara rendah, mencoba terdengar ramah.
Olivier menaikkan kedua alisnya, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya yang sangat kentara mendengar pertanyaan dan basa-basi busuk dari pria yang pernah menghancurkan hatinya itu.
Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke ranjang King, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan sorot mata yang penuh dengan kilatan amarah yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Untuk apa kau bertanya?" sahut Olivier, suaranya terdengar sangat tajam dan sinis. "Apa kau buta? Aku berdiri dalam kondisi sehat, brengsek."
King tersentak mendengar makian itu keluar dari bibir wanita yang dulu bahkan tidak pernah meninggikan suara di depannya.
Namun, alih-alih marah karena dihina, King justru merasakan denyutan aneh di dadanya. Rasa bersalah yang terpendam selama bertahun-tahun kini bangkit kembali, menghantamnya dengan telak.
"Olivier, aku... soal masa lalu—"
"Jangan berani-berani kau menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, King Stone," potong Olivier dengan cepat, suaranya merendah namun penuh ancaman yang nyata.
Ia menunjuk tepat ke wajah King dengan jari telunjuknya. "Aku di sini sebagai dokter yang sialnya harus bertanggung jawab atas pasien IGD yang masuk ke areaku. Aku tidak datang ke sini untuk bernostalgia tentang masa lalu yang menjijikkan bersama seorang penjahat egois sepertimu."
...🌷🌷🌷...
Happy reading Kak 🦋 semoga suka sama Cerita Kingstone.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣