Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Tiga tetes
Saskia merangkak mendekati kepala Si Belang, jemarinya yang gemetar membawa tiga tetes air jernih.
Darah dari hidungnya masih menetes, tapi ia sudah tidak peduli. Ia sudah merobek sedikit ujung kain jaritnya yang lusuh, menyumpalkan ke kedua lubang hidung. Sumbatan darurat. Tidak steril. Tidak ideal. Tapi cukup untuk menghentikan aliran darah yang mengotori segalanya.
Si Belang menatapnya dengan mata coklat yang sayu. Nafasnya masih tersengal, cuping hidungnya kembang kempis tidak beraturan. Bulu di sekitar moncongnya kering, pecah-pecah, dan ada cairan lendir kental yang mengering di sudut lubang hidungnya.
"Belang," panggil Saskia pelan. Suaranya serak, tapi nadanya lembut. Nada yang biasa ia pakai untuk menenangkan hewan yang ketakutan di meja operasi. "Aku tidak tahu apa yang barusan terjadi padaku. Tapi air ini... air ini sesuatu."
Sapi itu tidak merespon. Hanya menatap dengan pandangan kosong yang sama.
Tiga tetes.
Saskia menatap jemarinya yang basah. Air dari ruang spasial itu entah bagaimana masih menempel di ujung jarinya, meskipun ia sudah kembali ke dunia nyata. Tiga tetes kecil, masing-masing seukuran biji wijen, berkilau di bawah cahaya matahari siang yang menyelinap dari genting retak.
"Kakek buyutmu pernah bilang air ini bisa menyembuhkan ternak yang sekarat," gumam Saskia, lebih ke dirinya sendiri. "Aku tidak tahu apakah itu benar atau cuma dongeng keluarga. Tapi kau... kau sudah di ambang mati, Belang. Ini satu-satunya pilihan."
Ia mendekatkan jemarinya ke moncong sapi itu.
Si Belang refleks menjauhkan kepalanya. Insting alami. Hewan yang lemah cenderung lebih waspada terhadap apapun yang mendekat.
"Ssstt... tenang. Aku tidak akan menyakitimu."
Tangan kirinya terulur, menyentuh lembut bagian bawah rahang Si Belang. Gerakan yang sama yang tadi ia lakukan sebelum Bibi Laras datang. Kali ini sapi itu tidak menjauh.
"Bagus. Anak pintar."
Perlahan, sangat perlahan, Saskia menyelipkan ujung jarinya ke celah bibir Si Belang. Bulu-bulu halus di sekitar moncongnya basah oleh air liur yang kental. Bibir sapi itu terasa kasar, penuh retakan.
Satu tetes.
Air Suci itu jatuh di lidah Si Belang yang pucat.
Saskia menahan nafas. Matanya tidak berkedip, mengamati setiap perubahan kecil pada tubuh sapi itu. Pupil mata. Irama nafas. Kedutan otot di sekitar rahang.
Tidak ada apa-apa.
"Oke," desahnya. "Satu lagi."
Tetasan kedua jatuh. Kali ini tepat di bagian belakang lidah, dekat pangkal tenggorokan. Si Belang refleks menelan. Gerakan menelannya lambat, berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya.
Masih tidak ada perubahan.
Saskia menggigit bibirnya sendiri. Ragu mulai merayap di dadanya. Mungkin air ini cuma ilusi. Mungkin ruang spasial tadi cuma halusinasi akibat anemia akut. Otak yang kekurangan oksigen bisa menciptakan apapun untuk menghibur diri sebelum mati.
Tapi darah di hidungnya nyata. Rasa hangat di telapak tangannya tadi juga nyata.
"Satu lagi. Terakhir."
Tetasan ketiga jatuh.
Kali ini Si Belang menjilat bibirnya sendiri, gerakan refleks yang lebih cepat dari sebelumnya. Matanya berkedip. Sekali. Dua kali.
Lalu tidak ada apa-apa lagi.
Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit.
Si Belang masih berdiri di sudut kandang dengan kaki yang gemetar. Nafasnya masih tersengal. Matanya masih sayu. Tidak ada perubahan apapun.
Saskia menghempaskan punggungnya ke tiang kayu kandang. Kepalanya mendongak, menatap genting retak di atas sana. Kekecewaan menggenang di dadanya, berat dan dingin.
"Bodoh," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau dokter hewan, Saskia. Percaya sama air ajaib? Dasar idiot."
Perutnya kembali melilit. Lapar. Haus. Lelah. Semua bercampur jadi satu. Kelopak matanya terasa seperti digantungi batu. Tubuhnya yang ringkih ini sudah terlalu banyak menerima hukuman hari ini: konfrontasi dengan Bibi Laras, pingsan, mimisan, dan sekarang eksperimen gagal dengan air misterius.
"Sori, Belang. Sepertinya aku tidak bisa menyelamatkanmu."
Suaranya mengecil di akhir kalimat. Matanya terpejam. Jerami yang menopang punggungnya terasa lebih empuk dari biasanya. Atau mungkin tubuhnya yang terlalu lelah untuk peduli.
Tidur menariknya tanpa perlawanan.
Saskia tidak tahu berapa lama ia tertidur.
Tapi ketika ia membuka mata, yang pertama ia sadari adalah perubahan cahaya. Cahaya matahari siang yang tadi menusuk dari genting retak sudah berubah menjadi cahaya jingga keemasan. Sore. Atau mungkin hampir maghrib.
Yang kedua ia sadari adalah bau.
Bau kandang ini berubah.
Masih ada bau amonia dan jerami busuk, tapi ada sesuatu yang berbeda. Aroma khas sapi sehat. Aroma bulu yang bersih, nafas yang tidak lagi asam, dan...
Suara langkah.
Saskia menoleh cepat. Terlalu cepat. Kepalanya langsung pusing.
Tapi ia tidak peduli.
Karena di sudut kandang, di tempat yang sama di mana Si Belang tadi berdiri dengan kaki gemetar, sekarang sapi itu...
"Belang?"
Sapi itu berdiri tegap.
Keempat kakinya tidak lagi gemetar. Tulang rusuknya masih menonjol, tapi tidak separah tadi. Kulitnya yang tadinya mengelupas dan berwarna merah, sekarang mengering. Bekas-bekas lukanya sudah membentuk keropeng coklat kehitaman. Matanya, yang tadi sayu dan kosong, sekarang berbinar. Binar khas sapi muda yang sehat.
Dan ia sedang makan.
Si Belang menundukkan kepalanya ke palung kayu di dekat dinding kandang. Di dalam palung itu cuma ada sisa-sisa jerami kering yang sudah menghitam. Tapi sapi itu memakannya dengan lahap. Rahangnya bergerak ritmis, menggiling jerami dengan gerakan yang efisien.
Nafsu makan. Si Belang punya nafsu makan.
Saskia bangkit dengan susah payah. Lututnya gemetar, tapi bukan karena lemas kali ini. Karena adrenalin yang tiba-tiba membanjiri pembuluh darahnya.
"Belang! Kau makan!"
Sapi itu mengangkat kepalanya dari palung. Moncongnya masih penuh serpihan jerami. Ia menatap Saskia dengan mata yang berbeda dari beberapa jam lalu. Lebih fokus. Lebih hidup.
Saskia tertawa. Tawa yang keluar dari perutnya, meledak tanpa bisa ia tahan. Air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan sisa darah kering di sekitar hidungnya.
"Kau hidup! Air itu... air itu benar-benar...!"
Ia berlari, atau lebih tepatnya tersandung dengan semangat, menuju Si Belang. Tangannya langsung memeriksa tubuh sapi itu. Meraba lehernya, merasakan denyut nadi jugularis yang kini berdetak kuat. Menyentuh cuping hidungnya yang sudah tidak lagi kering dan pecah. Membuka kelopak matanya, memeriksa konjungtiva yang tadi pucat hampir putih.
Masih pucat. Tapi ada semburat merah muda yang mulai muncul.
"Konjungtiva mulai membaik. Anemia masih ada, tapi tingkat keparahannya turun drastis. Ini tidak mungkin... tiga tetes air tidak mungkin mengandung cukup zat besi untuk..."
Ia berhenti. Jari-jarinya masih menempel di rahang Si Belang.
"Ini bukan soal zat besi," bisiknya. "Air itu tidak menyembuhkan anemia. Air itu... memperbaiki sesuatu yang lebih fundamental."
Si Belang melenguh. Suara lenguhnya berbeda. Lebih berat. Lebih bertenaga.
Dan tiba-tiba sapi itu menjilat pipi Saskia.
Saskia tertawa lagi, kali ini lebih keras. Tangannya memeluk leher Si Belang. Bulu sapi itu masih kasar, masih kotor, tapi rasanya seperti memeluk kemenangan.
"Terima kasih. Terima kasih sudah tidak menyerah."
Tapi saat ia melepaskan pelukannya, sesuatu berubah.
Ujung jemarinya mulai terasa dingin. Bukan dingin biasa. Dingin yang menjalar dari ujung jari, merambat ke telapak tangan, ke pergelangan, ke lengan bawah. Seperti darahnya berhenti mengalir ke ekstremitas.
"Eh..."
Pandangannya berputar. Kandang di sekelilingnya seperti diaduk dengan sendok raksasa. Gambar Si Belang di depannya berubah menjadi dua, lalu tiga, lalu kabur jadi satu bayangan besar yang tidak berbentuk.
Saskia memegang kepalanya. Kedua telapak tangannya menekan pelipis kiri dan kanan.
"Sial... jangan sekarang... jangan..."
Tapi tubuhnya tidak peduli.
Pusing hebat menyerang kepalanya seperti dihantam palu godam, menyeretnya kembali dalam kegelapan tak sadar.