NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pertarungan Terakhir di Puncak Menara

Langit di atas Kota Kegelapan tidak lagi berwarna hitam pekat seperti malam yang abadi, namun juga belum cerah kembali seperti siang hari yang damai. Kini, langit itu berubah menjadi perpaduan warna merah darah dan ungu kelam, dihiasi awan-awan asap tebal yang berputar liar seolah alam pun ikut merasakan amarah dan ketegangan yang melanda tempat itu. Di bawah sana, di dasar kawah purba yang kini berubah menjadi benteng terkuat di muka bumi, neraka telah terbuka lebar.

Pertempuran berkobar di setiap jalan, di setiap persimpangan, di antara gedung-gedung besi yang dingin dan tinggi menjulang. Suara ledakan meriam berat bergema tiada henti, menggetarkan tanah hingga retak-retak, beradu dengan dentuman senapan mesin yang berderet-deret seperti guntur tak berujung. Api menyala di mana-mana, menjilat dinding-dinding bangunan, memantulkan cahaya kemerahan di baju zirah ribuan prajurit yang saling bunuh dengan kebencian yang sudah terakumulasi selama lima belas tahun lamanya.

Di satu sisi, berbaris pasukan Kelompok Mata Hitam—pasukan yang selama ini menjadi mimpi buruk seluruh wilayah, pasukan yang mengira diri mereka penguasa mutlak, pasukan yang percaya bahwa kekuatan teknologi dan senjata canggih adalah hukum tertinggi dunia. Mereka bertempur dengan disiplin tinggi, dengan senjata yang jauh lebih modern, dan dengan keyakinan bahwa kemenangan ada di tangan mereka.

Namun di sisi lain, berjuang pasukan Garuda Security dan Pasukan Elang Bebas. Mereka tidak memiliki jumlah yang banyak, tidak memiliki persenjataan yang paling canggih, dan tidak memiliki kemewahan persediaan. Tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki musuh: kebenaran di hati, dendam yang membara, dan tekad baja untuk tidak kembali kecuali membawa kemenangan atau mati di tempat. Mereka bertempur bukan untuk kekuasaan, bukan untuk uang, dan bukan untuk ambisi gila seseorang. Mereka bertempur untuk kebebasan, untuk masa depan, dan untuk menghapuskan jejak kejahatan yang sudah terlalu lama menguasai bumi ini.

Di garis depan pertempuran yang paling panas, Reza dan Dedi memimpin pasukan serbu elit mereka, bergerak seperti pisau tajam yang membelah daging. Keduanya, si kembar yang sama-sama berani namun berbeda gaya bertarungnya, kini menjadi pusat perhatian di tengah kekacauan itu.

Reza bertempur dengan ganas dan berapi-api. Di tangan kanannya ia menggenggam senapan serbu yang sudah dimodifikasi, di tangan kirinya sebilah parang besar yang berkilauan tajam. Ia bergerak ke sana kemari, melompat di antara kendaraan yang hancur, berteriak mengeluarkan seluruh amarahnya, menebas dan menembak siapa saja yang berani menghadangnya. Darah musuh membasahi seragamnya, wajahnya penuh debu dan keringat, tapi matanya bersinar terang, penuh semangat perang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"MAJU! TERUS MAJU! JANGAN BERHENTI!" teriak Reza parau, suaranya terdengar lantang di tengah hiruk-pikuk suara senjata. "INGAT MEREKA YANG GUGUR! INGAT MEREKA YANG DISIKSA! HARI INI KITA BAYAR SEMUANYA TUNAI! TIDAK ADA TAWANAN! TIDAK ADA AMPUN!"

Di sampingnya, Dedi bergerak dengan gaya yang jauh lebih tenang, dingin, dan mematikan. Ia tidak berteriak, ia tidak berlari sembarangan. Ia berjalan tegap, mengangkat senapan runduk beratnya, matanya yang tajam memindai setiap sudut, setiap celah, setiap jendela dan perlindungan musuh. Setiap kali ia menarik pelatuk, pasti ada satu nyawa musuh yang melayang. Setiap peluru yang keluar dari laras senapannya seolah punya mata sendiri, selalu menemukan celah terkecil di antara baju zirah musuh, selalu mengenai titik paling vital. Ia adalah kematian yang diam, penyeimbang bagi kegilaan saudaranya.

"Jaga sayap kiri, Reza," ucap Dedi singkat dan tenang, sambil menembak jatuh tiga orang musuh yang mencoba mengepung mereka dari samping. "Jangan sampai kita terjebak di sini. Kita harus buka jalan menuju menara utama."

Di bagian lain medan pertempuran, Karin memimpin pasukan Elang Bebas dengan gagah berani. Wanita itu, yang sejak kecil hidup dalam pelarian dan pertempuran, yang tumbuh dengan cerita tentang kejahatan Kelompok Mata Hitam dan pengkhianatan Aditya, kini bertempur dengan seluruh jiwa raganya. Di matanya, terbayang wajah ayahnya, Letnan Bima, yang gugur demi kebenaran. Di hatinya, terukir sumpah yang ia ucapkan saat masih kecil: untuk membalas dendam dan memulihkan nama baik Garuda.

Ia bergerak di antara pasukannya, memimpin serangan, memberi perintah dengan suara tegas dan jernih, menghancurkan setiap pertahanan musuh yang mencoba menghalangi jalan mereka. Di sampingnya, Jenderal Agus—pria tua yang kini berusaha menebus segala kesalahan masa lalunya—bertempur dengan kecepatan dan ketangkasan yang mengejutkan siapa saja yang melihatnya. Meski tubuhnya sudah menua, meski rambutnya sudah memutih, semangatnya masih sama membara seperti saat ia masih muda, saat ia dan Dirgantara serta Aditya mendirikan organisasi ini dengan mimpi damai.

"MAJU TERUS! JANGAN BIARKAN MEREKA BERKUMPUL KEMBALI!" teriak Jenderal Agus, menembak dengan senapan tua peninggalan masa mudanya, senjata yang sama yang ia pakai saat bertempur berdampingan dengan sahabatnya dulu. "KEKUATAN MEREKA ADA DI PUSAT KOMANDO! HANCURKAN PUSAT ITU, MAKA SELURUH PASUKAN INI AKAN RUNTUH SENDIRI!"

Namun, di tengah kekacauan, di tengah hujan peluru dan ledakan itu, ada satu sosok yang bergerak berbeda dari yang lain. Sosok yang tidak terganggu oleh bahaya, tidak terhalang oleh musuh, dan tidak terbelokkan oleh apa pun. Sosok yang menjadi harapan terakhir mereka, pewaris satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah nasib pertempuran ini.

Raka Pratama.

Di tangannya, kristal Sumber Unggul bersinar terang dengan cahaya biru murni yang semakin kuat dan menyilaukan. Sejak ia menyentuh kristal itu, sejak energi itu menyatu dengan darah dan jiwanya, tubuhnya berubah. Kini, cahaya itu tidak lagi hanya bercahaya redup. Kini, cahaya itu membentuk selubung pelindung yang menyelimuti seluruh tubuhnya, berdenyut kencang seiring detak jantungnya, seolah memiliki nyawa sendiri.

Setiap kali ia melangkah, tanah di bawah kakinya bergetar pelan. Setiap kali ia mengangkat tangan, angin di sekelilingnya berubah arah. Setiap peluru yang ditembakkan ke arahnya, baik itu peluru biasa, peluru penusuk baja, maupun peluru energi panas, semuanya berbelok arah atau hancur lebur menjadi debu sebelum sempat menyentuh kulitnya. Selubung cahaya biru itu adalah benteng yang tak tertembus, perlindungan mutlak dari kekuatan alam itu sendiri.

Raka tidak berlari, ia tidak berteriak, dan ia tidak menembak. Ia hanya berjalan lurus, menembus medan pertempuran, menembus kepulan asap hitam, menembus barisan pasukan musuh yang terbelalak ketakutan melihatnya berjalan di tengah hujan maut tanpa terluka sedikit pun. Matanya menatap lurus ke depan, menatap satu-satunya tujuan yang ada di benaknya: Menara Raksasa yang menjulang tinggi di tengah kota itu, tempat di mana akar segala kejahatan bersembunyi, tempat di mana Aditya, Sang Penguasa, bertahta.

"Ayah... Pak Seno... Teman-teman... tunggu aku," bisik Raka dalam hati, setiap langkahnya terasa berat namun penuh tekad. "Aku datang. Aku datang untuk menyelesaikan ini semua."

Saat ia sampai di lobi utama menara itu, pintu masuknya tertutup rapat oleh lempengan besi setebal lima meter yang tampak kokoh dan tak tergoyahkan. Namun, yang lebih mengerikan bukanlah pintu itu, melainkan dua belas sosok raksasa yang berbaris rapi di depannya, menciptakan tembok manusia yang mengerikan dan menakutkan.

Mereka adalah Penjaga Kegelapan, pasukan elit terkuat yang pernah diciptakan oleh Aditya. Mereka bukan lagi manusia biasa, bukan lagi tentara bayaran, dan bukan lagi prajurit yang bertempur demi kepercayaan. Mereka adalah hasil eksperimen gelap, makhluk buatan yang tercipta dari perpaduan daging manusia, logam berat, dan energi gelap murni yang diambil dari inti kawah ini sendiri. Tubuh mereka besar dan kekar, tinggi hampir dua meter, tertutup baju zirah besi hitam yang berkilauan dan dihiasi garis-garis cahaya ungu yang berdenyut hidup. Di balik helm tertutup mereka, hanya terlihat sepasang mata merah menyala yang kosong dan kejam. Kekuatan satu orang saja sudah diperhitungkan setara dengan satu peleton pasukan biasa. Dua belas orang ini saja sudah cukup untuk menghancurkan satu benteng pertahanan sendirian.

"Berhenti di tempat, anak manusia!" suara berat, bergema, dan tidak bernyawa keluar dari helm pemimpin mereka, terdengar jelas di seluruh ruangan lobi yang luas itu. "Di sini adalah batas terakhir. Di sini adalah tempat suci Sang Penguasa. Tidak ada makhluk hidup, tidak ada manusia, dan tidak ada apa pun yang boleh melangkah masuk ke hadapan Yang Mulia. Siapa pun yang berani melangkah... akan mati tanpa sisa."

Raka tidak berhenti melangkah. Ia tidak mengangkat senjata, ia tidak memasang kuda-kuda bertempur, dan ia tidak mengubah ekspresi wajahnya yang tenang dan dingin. Ia hanya terus berjalan maju, matanya menatap lurus ke depan, menembus celah di antara dua belas makhluk itu, menatap pintu besi besar di belakang mereka.

"Singkir," ucap Raka pelan, namun suaranya terdengar begitu jelas, begitu kuat, dan begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya, seolah suara itu bukan keluar dari tenggorokannya saja, tapi bergema dari seluruh ruangan, dari dinding, dari lantai, dan dari udara itu sendiri.

"KURANG AJAR! BERANI KAU MENGATAKAN ITU PADA KAMI!" teriak pemimpin Penjaga Kegelapan itu, amarahnya tersulut. Ia mengangkat senjata raksasa berbentuk kapak bergerigi yang panjangnya hampir tiga meter, senjata yang terbuat dari logam terkeras dan dilapisi api energi ungu yang panas membara. Dengan kekuatan yang luar biasa, ia melompat tinggi ke udara, menghantamkan senjatanya ke arah kepala Raka dengan kekuatan yang cukup untuk membelah tanah beton setebal sepuluh meter menjadi dua.

Namun, sebelum senjata raksasa itu menyentuh rambut Raka, sebelum angin hantamannya pun menyentuh wajah pemuda itu... Raka hanya mengangkat tangan kirinya sedikit saja, gerakan yang sangat santai, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

Dari telapak tangannya, sebuah gelombang cahaya biru yang lebar, padat, dan murni melesat keluar. Gelombang itu tidak panas, tidak tajam, dan tidak berisik. Tapi kekuatannya adalah kekuatan mutlak, kekuatan alam semesta yang menolak segala sesuatu yang bersifat kejahatan dan ketidakseimbangan.

Dua belas Penjaga Kegelapan itu, makhluk yang dianggap tak terkalahkan, makhluk yang kebal terhadap peluru, kebal terhadap ledakan, dan kebal terhadap api... semuanya terlempar ke belakang seolah ditabrak oleh kereta api berkecepatan tinggi. Tubuh-tubuh besar mereka menghantam pintu besi raksasa itu dengan bunyi gedebuk yang mengerikan, hingga pintu yang kokoh itu pun bergeser dan penyok ke dalam. Mereka jatuh terguling di lantai yang keras, tidak sadarkan diri, baju zirah mereka retak dan pecah, dan energi ungu yang dulu hidup dan kuat di tubuh mereka kini padam seketika, lenyap ditelan cahaya kebenaran.

Raka berjalan melewati tubuh-tubuh besar itu, tidak menoleh sedikit pun, tidak peduli apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Baginya, mereka hanyalah penghalang, hanyalah alat buatan yang tidak punya kehendak sendiri. Ia mendorong pintu besi yang berat itu hingga terbuka lebar, lalu masuk ke dalam ruang lift utama yang megah namun suram.

Pintu tertutup rapat, memisahkannya dari kegaduhan dan darah di luar sana. Mesin berdenyut pelan, dan perlahan namun pasti, lift itu mulai bergerak naik dengan kecepatan yang luar biasa, membawa Raka menembus ratusan lantai bangunan raksasa itu, menembus awan asap hitam yang menyelimuti kota, menuju puncak menara setinggi hampir seribu meter, tempat di mana nasib dunia akan ditentukan.

Selama perjalanan naik yang panjang dan sunyi itu, Raka memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan setiap getaran energi yang ada di sekelilingnya, merasakan betapa kotor, betapa gelap, dan betapa jahatnya energi yang memenuhi seluruh bangunan ini. Di dalam kepalanya, suara ayahnya kembali terdengar, jelas, tenang, dan penuh kasih sayang, persis seperti saat ia pertama kali menyentuh kristal Sumber Unggul itu.

"Raka... anakku sayang... kau sudah sampai sejauh ini. Kau sudah berjalan melewati darah dan air mata. Kau sudah melihat betapa jahatnya dunia ini, betapa kejamnya ambisi manusia. Kau sudah melihat betapa besarnya penderitaan yang ditimbulkan oleh keserakahan satu orang saja. Tapi ingatlah satu hal yang paling penting, Nak... kekuatan terbesar di dunia ini bukanlah kemampuan untuk menghancurkan, bukan kemampuan untuk membunuh, dan bukan kemampuan untuk menguasai segalanya. Kekuatan terbesar adalah kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri, tetap baik, tetap jujur, tetap rendah hati, meski kau sudah melihat sisi tergelap dunia, meski kau sudah memegang kekuatan yang setara dewa."

"Aditya bukan musuh yang lemah, Nak. Dia jenius, dia cerdas, dia kuat, dia menguasai segalanya. Dia tahu segalanya tentang energi, tentang teknologi, tentang strategi. Dia jauh lebih hebat dari aku, jauh lebih hebat dari siapa pun yang pernah ada di bumi ini. Tapi dia punya satu kelemahan yang mematikan, kelemahan yang akan menjadi kuburannya sendiri: dia tidak pernah mengerti apa itu pengorbanan. Dia tidak pernah mengerti bahwa kekuatan sejati harus dibayar dengan harga yang mahal. Dia ingin menjadi dewa, tapi dia takut mati. Dia ingin berkuasa selamanya, tapi dia takut kehilangan nyawanya. Dia ingin disembah semua orang, tapi dia tidak pernah mencintai siapa pun selain dirinya sendiri. Dan ketakutan serta keegoisan itulah yang akan mengalahkannya, bukan kekuatanmu."

Air mata menetes dari sudut mata Raka, mengalir turun membasahi pipinya yang penuh debu dan keringat. Ia menggenggam kristal itu lebih erat di dadanya, merasakan kehangatan yang menembus sampai ke tulang sumsumnya.

"Aku tahu, Ayah... aku mengerti semuanya," bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia. Aku tidak akan membiarkan Pak Seno dan teman-teman yang gugur mati sia-sia. Aku akan menyelesaikannya. Aku akan menebus semuanya. Aku akan membuat namamu bersinar kembali, dan aku akan membuat kejahatan ini berakhir hari ini juga."

Tiba-tiba, gerakan lift itu melambat. Bunyi mekanik terdengar berirama, menandakan mereka sudah sampai di tujuan tertinggi.

TING...

Pintu besi itu perlahan terbuka. Dan saat Raka melangkah keluar, napasnya seolah tertahan melihat pemandangan di hadapannya.

Ia berada di ruangan paling atas, ruangan yang sangat luas, megah, dan mengerikan. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca hitam tebal yang tembus pandang, menampilkan pemandangan seluruh kota, seluruh kawah, dan seluruh pegunungan di kejauhan, pemandangan yang indah namun penuh kehancuran dan asap. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah mesin raksasa berbentuk lingkaran besar yang tingginya menjulang sampai ke langit-langit, berdenyut-denyut hebat dengan cahaya ungu yang menyakitkan mata, terhubung ke lantai dan langit-langit dengan kabel-kabel tebal seukuran tubuh manusia yang berkilauan dan memancarkan listrik statis.

Dan di depan mesin raksasa itu, berdiri sosok yang selama lima belas tahun ini menjadi dalang segala penderitaan, orang yang dianggap dewa oleh ribuan pengikutnya, orang yang dulunya adalah sahabat karib ayahnya, dan orang yang paling bertanggung jawab atas segala kehancuran ini.

Aditya.

Ia sudah tidak lagi memakai jubah panjangnya. Tubuhnya kini terlihat berubah drastis. Kulitnya tidak lagi seperti kulit manusia biasa, melainkan berkilauan seperti logam halus yang hidup, dihiasi garis-garis energi ungu yang berdenyut berirama. Otot-otot tubuhnya terlihat membesar dan padat, seolah ia tidak lagi memiliki tulang atau daging, melainkan murni energi yang dipadatkan. Matanya sudah tidak lagi memiliki bagian putih atau hitam, melainkan hanya dua nyala api ungu yang menyala dingin dan cerdas, menatap Raka dengan pandangan yang penuh rasa bangga, rasa ingin tahu, dan rasa kemenangan yang mutlak.

Ia berbalik sepenuhnya menghadap Raka, dan tersenyum lebar—senyum yang tampan namun mengerikan, senyum orang yang merasa dirinya sudah berada di puncak dunia.

"Akhirnya..." ucap Aditya, suaranya kini berubah menjadi berat, bergema, dan mengerikan, seolah ribuan suara berbicara serentak dari tenggorokannya. "Akhirnya kau sampai juga di sini, anak muda. Aku sudah menunggumu lama sekali. Lima belas tahun aku menunggu momen ini. Lima belas tahun aku membangun, meneliti, dan bersiap. Dan kini... kau ada di depan mataku sendiri. Pewaris terakhir dari kebodohan sahabatku itu. Satu-satunya penghalang terakhir menuju keabadianku."

Aditya mengangkat tangannya, menunjuk ke arah mesin raksasa berdenyut di belakangnya.

"Lihatlah ini, Raka. Lihatlah keagungan ini. Ini adalah Alat Penyatuan. Lima belas tahun aku membangunnya dengan keringat, darah, dan kecerdasanku. Mesin ini akan menyerap energi dari Sumber Unggul yang kau bawa itu, lalu menyatukannya dengan diriku. Dan saat itu terjadi... aku tidak lagi menjadi manusia. Aku tidak lagi menjadi makhluk biasa. Aku akan menjadi makhluk yang tidak bisa mati, tidak bisa dilukai, tidak bisa dikalahkan, dan tidak bisa dihentikan oleh siapa pun atau apa pun. Aku akan menjadi dewa yang sesungguhnya, penguasa alam semesta ini selamanya."

Aditya melangkah maju selangkah, cahayanya makin terang dan menekan dada Raka.

"Ayahmu, Dirgantara... dia bodoh. Dia punya kecerdasan, dia punya kekuatan, dia punya kesempatan emas yang sama sepertiku. Tapi dia membuang semuanya demi kata-kata kosong seperti 'kebaikan', 'keadilan', dan 'pengorbanan'. Dia mati konyol karena dia terlalu lemah. Dan kau... kau mengikuti jejak kebodohannya. Kau datang ke sini dengan berani, dengan niat melawan kejahatan, dengan niat menjadi pahlawan. Tapi kau tahu apa yang akan terjadi, Raka? Kau hanya akan menjadi bahan bakarku. Kau hanya akan menjadi bagian dari sejarahku, sebagai orang yang terakhir kali mencoba melawanku sebelum aku memulai kekuasaanku yang abadi."

Raka berdiri tegak di ambang pintu, mencengkeram kristal Sumber Unggul di dadanya dengan erat. Ia tidak mundur, ia tidak takut, dan ia tidak tergoda oleh kata-kata manis Aditya. Ia menatap mata ungu itu dengan pandangan yang penuh rasa kasihan, rasa jijik, dan rasa kemarahan yang dingin.

"Kau salah, Aditya," jawab Raka pelan namun tegas, suaranya bergema di seluruh ruangan luas itu. "Kau yang bodoh, bukan Ayahku. Kau yang lemah, bukan Ayahku. Kau menghabiskan lima belas tahun hidupmu, menghabiskan nyawa ribuan orang, menghancurkan seluruh wilayah ini, hanya demi ketakutanmu sendiri... ketakutan akan kematian, ketakutan akan dilupakan, ketakutan akan menjadi kecil dan tidak berarti. Kau mengira menjadi dewa berarti hidup selamanya dan berkuasa atas segalanya? Kau salah besar. Menjadi dewa berarti bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. Menjadi dewa berarti melindungi yang lemah. Menjadi dewa berarti rela berkorban demi orang lain. Dan kau... kau tidak punya satu pun dari sifat itu."

Raka mengangkat kristal itu lebih tinggi, cahaya biru murni bertemu cahaya ungu gelap, menciptakan badai energi di tengah ruangan itu, angin kencang yang menderu-deru dan menarik benda-benda di sekitarnya.

"Ayahku mati dengan senyum di wajahnya karena dia tahu dia sudah melakukan hal yang benar. Mayor Seno mati dengan tenang karena dia tahu dia sudah melindungi kami. Ribuan orang mati dengan bangga karena mereka berjuang demi kebenaran. Sementara kau... kau hidup dalam kemewahan dan kekuasaan ini... tapi kau mati di dalam. Kau tidak punya teman, kau tidak punya kepercayaan, kau tidak punya cinta. Kau hanya punya ketakutan... ketakutan bahwa suatu hari nanti, kebenaran akan datang menuntutmu. Dan hari itu... adalah hari ini."

Wajah Aditya berubah seketika. Dari senyum bangga berubah menjadi amarah yang meledak-ledak, amarah yang begitu besar hingga membuat seluruh menara itu bergetar hebat. Ia mengaum mengerikan, suara yang begitu dahsyat hingga kaca-kaca dinding itu retak berurat.

"CUKUP! CUKUP DENGAN KATA-KATA KOSONGMU! KAU HANYA ANAK KECIL YANG TIDAK MENGERTI APA-APA TENTANG DUNIA INI! AKU ADALAH YANG TERKUAT! AKU YANG MENEMUKANNYA! AKU YANG MEMBANGUNNYA! DAN AKU YANG AKAN MENJADI PENGUASA!"

Aditya mengayunkan tangannya ke depan dengan sekuat tenaga. Gelombang energi ungu yang dahsyat, cukup kuat untuk merobohkan gunung berapi, melesat menuju Raka dengan kecepatan cahaya.

Namun Raka tidak menghindar. Ia tidak mundur selangkah pun. Ia hanya mengarahkan kristal Sumber Unggul ke depan, memancarkan cahaya biru yang tebal dan kokoh, menciptakan perisai mutlak di hadapannya.

Dua kekuatan terbesar di dunia itu bertabrakan di tengah ruangan, menciptakan ledakan yang memekakkan telinga, mengirimkan gelombang kejut yang memecahkan seluruh kaca di ruangan itu hingga hancur berkeping-keping, dan mengirimkan angin kencang yang menarik debu dan puing-puing terlempar keluar ke jurang di bawah sana.

Pertarungan terakhir pun dimulai.

Aditya bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat oleh mata manusia biasa, melesat ke sana kemari seperti bayangan gelap, menyerang Raka dengan pukulan-pukulan berenergi yang bisa menghancurkan baja, dengan sinar-sinar pemusnah yang panas membara, dan dengan gelombang-gelombang kejut yang merobek udara. Setiap serangannya membawa kekuatan yang tak terbayangkan, kekuatan yang ia kumpulkan dan serap selama bertahun-tahun dari ribuan sumber.

Namun Raka tidak kalah. Dengan bimbingan suara ayahnya yang terus berbisik di dalam kepalanya, dengan keberanian yang tumbuh dari cinta dan kebenaran, ia bergerak lincah, tenang, dan tepat. Ia membalas setiap serangan dengan kekuatan biru yang murni, tajam, dan bersih. Ia tidak bertarung dengan amarah, ia bertarung dengan keyakinan. Ia tidak bertarung untuk membunuh, ia bertarung untuk menghentikan kejahatan.

Mereka bertukar pukulan, terbang melintasi ruangan luas itu, menghantam dinding-dinding besi yang tebal hingga penyok dan retak, dan saling mendorong dengan kekuatan energi murni yang membuat seluruh bangunan itu bergetar hebat seolah akan runtuh kapan saja. Di bawah sana, ribuan pasukan yang bertempur di jalanan Kota Kegelapan berhenti sejenak, menengadah ke atas dengan napas tertahan, melihat dua cahaya terang—satu biru murni dan satu ungu gelap—yang bertarung di puncak menara itu, menari-nari di langit yang gelap dan penuh asap.

Namun lama-kelamaan, keunggulan Aditya mulai terlihat jelas. Ia sudah bertahun-tahun menyerap, melatih, dan memanipulasi energi gelap itu. Tubuhnya sudah berubah menjadi separuh energi, separuh mesin buatan. Ia tidak merasa lelah, tidak merasa sakit, dan kekuatannya seolah tidak akan pernah habis.

Sebuah pukulan keras dari samping, yang bergerak begitu cepat hingga Raka hampir tidak sempat melihatnya, menghantam dada pemuda itu tepat di tengah ulu hati. Raka terlempar ke belakang seolah ditabrak roket, tubuhnya menghantam dinding besi tebal hingga penyok ke dalam. Ia jatuh terhempas ke lantai yang keras, darah segar segera mengalir deras dari sudut bibirnya, dari hidungnya, dan dari luka-luka di tubuhnya. Ia terengah-engah, merasakan rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tulang dan sarafnya, rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Kristal Sumber Unggul tergelincir sedikit menjauh dari genggamannya, berputar perlahan di lantai yang bergetar.

Aditya berjalan mendekat perlahan, langkahnya berat, penuh kekuasaan, dan penuh kemenangan yang manis. Ia tertawa puas, suara tawanya bergema mengerikan di seluruh ruangan itu. Ia berhenti tepat di depan Raka yang terkapar lemah, menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan dan kejam.

"Kau lihat? Kau lihat perbedaannya, Raka?" ejek Aditya dingin. "Kau bertarung dengan perasaan, dengan hati, dengan belas kasihan... itu semua adalah kelemahan! Itu semua adalah rantai yang mengikat kekuatanmu! Sementara aku... aku sudah membuang semua itu lima belas tahun lalu! Aku sudah menjadi murni kekuatan! Aku tidak punya hati, jadi aku tidak bisa terluka. Aku tidak punya perasaan, jadi aku tidak bisa dikalahkan. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku! Sama persis seperti ayahmu dulu tidak bisa mengalahkanku!"

Aditya berlutut di samping Raka, menatap mata pemuda itu lekat-lekat.

"Lima belas tahun lalu, di lembah itu... aku hampir mati. Aku terbakar, aku hancur, aku seharusnya sudah tiada. Tapi aku selamat. Aku selamat karena aku mau melakukan apa saja untuk hidup. Aku makan apa saja, aku serap apa saja, aku ambil apa saja yang ada di sekitarku agar aku tetap ada di dunia ini. Dan sekarang... kau akan mengalami nasib yang sama persis dengan ayahmu. Kau akan mati di sini, di tempat ini, dan aku akan mengambil kekuatanmu, menyatukannya dengan diriku, dan menjadi penguasa abadi yang tidak ada tandingannya sampai kapan pun."

Aditya mengulurkan tangan kirinya, mengarahkan telapak tangannya ke arah kristal biru yang tergeletak di lantai itu. Dengan kekuatan tarikan magnetik yang dahsyat, kristal itu melayang naik perlahan, bergerak mendekat ke genggaman Aditya. Kristal itu bergetar hebat, seolah menolak, seolah meronta, tapi energi gelap Aditya terlalu kuat, terlalu besar, dan terlalu dominan. Kristal itu semakin dekat, semakin dekat, hingga akhirnya jatuh tepat ke telapak tangan Aditya.

"Sudah selesai, Raka. Permainanmu sudah habis. Kemenanganku sudah di tangan."

Saat itu juga, saat Aditya sibuk menatap kristal di tangannya dan tertawa penuh kemenangan... Raka yang terbaring lemah itu tersenyum. Senyum yang lemah, penuh darah, namun senyum kemenangan yang sesungguhnya, senyum yang membuat Aditya seketika berhenti tertawa dan merasa ada yang salah.

"Kau benar..." ucap Raka pelan, suaranya parau namun jelas. "Kau lebih kuat dariku... secara fisik. Kau lebih canggih, kau lebih banyak pengalaman, kau punya lebih banyak kekuatan. Kau benar... aku tidak bisa mengalahkanmu dengan kekuatan otot atau kekuatan teknologi. Tapi ada satu hal kecil yang kau lupa, Aditya... hal yang paling mendasar dari segalanya."

Raka mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah kristal biru yang kini sudah ada di genggaman Aditya.

"Energi ini... Sumber Unggul ini... ia tidak bekerja seperti yang kau pikirkan. Kau pikir kau bisa mengambilnya dengan paksa? Kau pikir kau bisa menguasainya dengan ambisi? Kau pikir kau bisa memaksanya tunduk pada keinginanmu? Kau salah besar, Aditya. Kau salah kaprah dari awal sampai akhir."

Raka menarik napas panjang, menatap mata Aditya yang mulai terlihat bingung dan waspada.

"Ayahku pernah bilang padaku... Energi ini adalah cermin. Ia akan memantulkan apa yang ada di dalam hatimu. Jika hatimu penuh kebaikan, penuh cinta, penuh kebenaran... ia akan memberimu kekuatan untuk melindungi dan menyembuhkan. Tapi jika hatimu penuh kejahatan, penuh ambisi, penuh ketakutan, penuh dosa... maka energi ini akan menjadi neraka yang paling menyakitkan yang pernah kau bayangkan. Ia akan membakarmu dari dalam ke luar. Ia akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya."

Mata Aditya melebar tiba-tiba. Ia merasakan sesuatu yang mengerikan. Kristal di tangannya tidak menyerap masuk ke dalam dirinya seperti yang ia rencanakan, seperti yang ia hitung di dalam rumus-rumus matematikanya. Sebaliknya, kristal itu justru menarik energi dari dirinya! Kristal itu bersinar makin terang, makin panas, membakar kulit tangannya yang dilapisi energi gelap itu hingga melepuh dan menghitam.

"APA INI?! APA YANG TERJADI?! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Aditya panik, mencoba melepaskan tangannya, mencoba melempar kristal itu, tapi kristal itu seolah menempel kuat, menancap di dagingnya, menyedot seluruh kekuatan ungu yang ada di tubuhnya, menyedot ambisinya, menyedot ketakutannya, menyedot segala kejahatan dan dosa yang ia kumpulkan selama lima belas tahun ini.

"TIDAKKKK! AKU TIDAK AKAN KALAH! AKU ADALAH DEWA! AKU ADALAH PENGUASA!" Aditya berteriak histeris, matanya melotot penuh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—ketakutan akan kematian yang sesungguhnya, ketakutan akan lenyapnya diri sendiri selamanya.

Ia berusaha berlari menjauh, berusaha merobek tangannya sendiri agar terlepas, tapi sudah terlambat. Kristal Sumber Unggul itu memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan hingga seluruh ruangan itu berubah menjadi putih bersih, cahaya yang membakar segala ketidaksucian, segala kejahatan, dan segala kepalsuan.

Suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh menara, seluruh kawah, dan seluruh tanah di sekitarnya. Sebuah pilar cahaya biru raksasa melesat naik ke langit, menembus awan hitam, menembus sampai ke angkasa luar, menerangi seluruh wilayah yang gelap itu dengan cahaya suci yang murni dan damai.

Di bawah sana, seluruh pasukan—baik Garuda, Elang Bebas, maupun sisa pasukan Mata Hitam yang masih bertempur—semua berhenti dan berlutut, terpaku melihat keajaiban itu. Mereka merasakan rasa damai yang tiba-tiba memenuhi hati mereka, rasa damai yang menghapus rasa benci, rasa marah, dan rasa takut yang selama ini ada di dada mereka.

Saat cahaya itu perlahan memudar, saat debu dan asap menghilang... puncak menara itu sudah rata dengan tanah. Mesin raksasa itu hancur lebur menjadi debu halus yang berterbangan terbawa angin. Dan di tengah puing-puing itu, hanya ada Raka yang berdiri tegak, meski tubuhnya penuh luka dan darah, memegang pecahan kristal yang kini sudah tenang dan lembut, bersinar redup dan hangat.

Aditya sudah tiada. Ia hancur lebur bersama ambisinya, menjadi satu dengan energi yang selama ini ia coba kuasai dengan paksa. Ia lenyap tanpa sisa, dihapus dari sejarah sebagai pengingat abadi bahwa kekuatan tanpa kebaikan hanyalah kehancuran belaka.

Raka menatap ke bawah, melihat kawan-kawannya yang menengadah penuh harap, penuh air mata bahagia. Ia mengangkat tangannya perlahan, dan dari telapak tangannya, sisa-sisa energi biru itu menyebar ke seluruh penjuru kota, menyembuhkan luka-luka para prajurit, menenangkan hati yang gelisah, dan memulihkan tanah yang rusak perlahan-lahan.

Ia berjalan mendekati tepi puing-puing menara itu, berpegangan pada besi yang masih tersisa. Di sampingnya, di udara kosong itu, ia melihat bayangan samar, transparan, namun sangat jelas dan sangat nyata.

Dirgantara Pratama berdiri di sana, tersenyum bangga dan bahagia, wajahnya bersinar terang dan damai. Di sebelahnya ada bayangan Mayor Seno, ada bayangan Letnan Bima, dan ada bayangan semua mereka yang gugur demi kebenaran.

"Kau hebat, Nak..." bisik suara ayahnya, lembut dan penuh kasih sayang, terdengar jelas di dalam hati Raka. "Kau menyelesaikan apa yang kami mulai. Kau membawa damai kembali. Kau membuktikan bahwa kebaikan dan keberanian selalu lebih kuat dari kejahatan dan kekuasaan. Kami bangga padamu, Raka. Sangat bangga."

Air mata bahagia mengalir deras di pipi Raka, bercampur dengan keringat dan darah yang sudah mengering. Ia tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah ia miliki.

"Aku melakukannya, Ayah. Aku melakukannya untukmu. Untuk Ibu. Untuk semua orang yang kami cintai. Damai sudah kembali. Semuanya sudah selesai."

Bayangan-bayangan indah itu perlahan memudar, menghilang menjadi cahaya-cahaya kecil yang terbang ke langit, bebas dan damai selamanya.

Di bawah sana, Jenderal Agus, Karin, Bara, Rio, Reza, Dedi, dan seluruh pasukan berlari masuk ke dalam kawasan menara yang hancur itu, mendapati Raka masih berdiri tegak, hidup, dan selamat. Mereka berlarian mendekat, memeluknya, bersorak sorai, menangis bahagia, dan bersujud syukur.

Perang sudah berakhir. Kejahatan sudah dikalahkan. Damai sudah kembali ke bumi.

Namun, jauh di atas sana, jauh di balik awan-awan tertinggi, jauh di luar jangkauan mata manusia biasa... sepasang mata tajam sedang mengawasi semuanya. Mata yang melihat cahaya biru itu, mata yang melihat hancurnya Aditya, mata yang melihat kekuatan Raka yang luar biasa itu.

Dan di tempat yang jauh itu, sebuah suara berat dan dingin bergema, suara yang menggetarkan seluruh ruang angkasa.

"Jadi... dia ternyata lebih kuat dari yang kami duga. Aditya yang bodoh... dia gagal menyelesaikan tugas sederhana ini. Tapi tidak apa-apa. Kekuatan itu tidak boleh ada di tangan manusia biasa. Kekuatan itu milik Kerajaan Langit. Dan sekarang... karena mereka sudah berani menggunakan kekuatan itu, karena mereka sudah berani melawan utusan kami... saatnya kami turun tangan sendiri. Saatnya kami mengajarkan mereka arti dari rasa hormat dan ketakutan yang sesungguhnya."

Dan di bawah sana, di bumi yang baru saja merasakan damai sejenak, Raka Pratama merasakan sesuatu. Ia merasakan getaran dingin yang menjalar di tulang belakangnya. Ia menengadah ke langit yang kini mulai cerah, namun hatinya merasa berat.

Ia tidak tahu... bahwa kemenangan besar yang baru saja ia raih itu... hanyalah permulaan dari perjalanan yang jauh lebih panjang, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih dahsyat.

Karena musuh yang sebenarnya... baru saja membuka matanya.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!