🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menatap Maut Tanpa Takut
Langkah Bibi Wang Cui terhenti seketika. Mulutnya yang tadi terbuka lebar hendak mengeluarkan makian kasar, kini tertutup rapat seolah ada tangan tak terlihat yang menekan rahangnya. Matanya melotot menatap sosok Shen Yue yang berdiri tegak di ambang pintu toko bunga.
Perubahan itu terlalu mencolok.
Gadis yang kemarin masih terlihat kurus, lemah, dan penakut, yang selalu menundukkan kepala dan gemetar setiap kali disapa, kini berdiri tegak lurus. Bahunya yang sempit terlihat kokoh, dagunya terangkat tinggi, dan sorot matanya... sorot mata itu bukan milik Su Xinyi yang mereka kenal. Itu adalah tatapan tajam, dingin, dan penuh penilaian, persis seperti seorang tuan putri yang sedang menilai pelayan rendahan.
Namun, yang membuat darah Bibi Wang membeku bukanlah perubahan sikap keponakannya itu, melainkan sosok tinggi besar yang berdiri santai di belakang bahu mungil Shen Yue.
Jubah hitam panjang yang bergoyang pelan tertiup angin, aura dingin yang menekan udara di sekitar hingga sulit bernapas, dan wajah yang begitu tampan namun mengerikan itu...
Xiao Chen.
Nama itu berputar liar di kepala ketiga orang itu seperti kutukan maut. Paman Lin De langsung menelan ludah dengan susah payah, kakinya yang kurus gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada bahu istrinya agar tidak jatuh terjerembap ke tanah. Lin Hongmei yang tadinya bermuka masam dan penuh kebencian, kini matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka, campuran rasa takut dan kekaguman yang gila memenuhi isi kepalanya.
Siapa yang tidak kenal Xiao Chen? Penguasa kota, iblis jalanan, orang yang namanya saja cukup untuk membuat anak-anak berhenti menangis di malam hari. Kenapa, kenapa sosok mengerikan itu ada di sini? Di toko bunga kecil yang kumuh ini? Dan yang lebih penting... kenapa ia berdiri di belakang Su Xinyi? Gadis miskin yang selama ini mereka injak-injak?
Bibi Wang mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya, meski suaranya keluar bergetar dan pecah. Ia menunjuk ke arah Shen Yue dengan jari yang gemetar hebat.
"K-kau... Xinyi... apa-apaan ini? Kenapa... kenapa Tuan Xiao ada di sini? Kau... kau pasti melakukan sihir jahat atau menipu Tuan Xiao, kan?!" makian itu terdengar lebih seperti rengekan ketakutan daripada kemarahan. "Cepat minta maaf dan ikut kami pulang! Kau... kau mempermalukan keluarga!"
Shen Yue menghela napas panjang, lalu melangkah maju selangkah, memotong jarak antara dirinya dengan keluarga jahat itu. Ia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Pulang ke mana, Bibi?" tanya Shen Yue tenang, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam. "Rumah itu adalah milikku. Tanah ini adalah milikku. Toko ini adalah milikku. Kalianlah yang menumpang hidup di sini selama sepuluh tahun ini, makan hasil keringatku, tidur di atapku, dan bersenang-senang di atas penderitaanku. Dan sekarang kalian berani bilang aku yang mempermalukan keluarga?"
Shen Yue berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap masuk ke dalam kepala mereka yang kosong. Ia melirik sekilas ke arah Lin Hongmei yang menatap Xiao Chen dengan tatapan memuja dan penuh nafsu. Tatapan itu menjijikkan baginya.
"Dan soal Tuan Xiao..." Shen Yue melanjutkan, nada bicaranya berubah sedikit lebih dingin. Ia menoleh ke belakang, menatap sekilas ke arah Xiao Chen yang bersandar malas di kusen pintu, tangan disilangkan di dada, matanya yang hitam pekat menatap mereka seolah sedang menatap sekumpulan semut yang sedang berkelahi. "Tuan Xiao adalah pelanggan istimewaku. Ia datang ke sini untuk membeli bunga, untuk mencari ketenangan. Dan kalian... dengan suara bising dan tingkah laku kasar kalian... berani-beraninya mengganggu kenyamanan Tuan Xiao. Kalian sadar tidak, apa risiko mengganggu Penguasa Kota?"
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada berbisik, namun seolah guntur yang menyambar telinga mereka.
Paman Lin De langsung jatuh berlutut ke tanah. Kakinya sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya lagi. Ia tahu betul kebiasaan kejam Xiao Chen. Konon, orang yang berani mengganggu ketenangannya akan ditarik gajah atau dikubur hidup-hidup.
"Ma-maafkan kami, Tuan Xiao! Kami tidak tahu! Kami... kami tidak bermaksud mengganggu!" seru Paman Lin sambil menundukkan kepala sampai menyentuh debu jalanan, berkali-kali bersujud memohon ampun.
Bibi Wang ikut berlutut, wajahnya pucat pasi, air mata ketakutan mulai mengalir. "Maafkan kami! Kami salah! Kami akan pergi sekarang! Kami tidak akan pernah datang lagi!"
Hanya Lin Hongmei yang masih berdiri kaku. Gadis itu, yang sombong dan merasa dirinya paling cantik di dunia, justru merasa ada peluang emas di sini. Ia memberanikan diri—dalam ketidaktahuannya yang bodoh—untuk melangkah maju sedikit, merapikan rambutnya, dan melemparkan senyum manja ke arah Xiao Chen.
"Tuan Xiao..." suaranya merayu, manja, dan dibuat-buat. "Jangan marah pada kami. Kami hanya khawatir pada saudari saya ini. Dia... dia anak yang tidak waras, pembawa sial. Jika Anda mencari pelayan atau teman bicara yang lebih baik... saya Lin Hongmei, saya jauh lebih cantik, lebih pandai, dan lebih pantas menemani Anda..."
Lin Hongmei mengira kecantikannya dan rayuan gombal itu akan membuat pria mana pun luluh, apalagi dia hanya gadis desa. Ia tidak sadar bahwa kata-katanya adalah kalimat terakhir yang hampir merenggut nyawanya.
Udara di sekitar berubah drastis.
Senyum tipis di bibir Xiao Chen lenyap seketika. Cahaya di matanya meredup, digantikan oleh kegelapan pekat yang mengerikan. Aura pembunuhnya meledak hebat, begitu kuat hingga membuat dedaunan di pohon sekitar berguguran seketika. Bahu Shen Yue pun ikut menegang. Ia tahu, Xiao Yi sudah kembali mengambil kendali, dan ia sangat, sangat marah.
Xiao Yi melangkah keluar dari bayang-bayang pintu. Satu langkah saja, namun rasanya seperti seekor naga raksasa turun ke bumi. Ia tidak menatap Lin Hongmei dengan nafsu atau ketertarikan, melainkan dengan tatapan jijik dan dingin, seolah sedang melihat kotoran di jalanan.
"Kau..." suara Xiao Yi rendah, berat, dan penuh ancaman kematian. Ia menunjuk Lin Hongmei dengan jari telunjuknya yang panjang. "Berani-beraninya kau membandingkan dirimu... dengannya?"
Xiao Yi mengangguk sedikit ke arah Shen Yue di sampingnya.
"Kau pikir kau lebih baik? Lebih cantik? Lebih pantas?" Xiao Yi tertawa rendah, tawa yang tidak ada rasa gembiranya sama sekali, tawa yang membuat tulang sumsum membeku. "Di mataku, kau tidak lebih berharga dari serangga kecil. Sedangkan dia..."
Ia berhenti, lalu menoleh menatap Shen Yue. Pandangan dinginnya sedikit melembut, namun tetap penuh dominasi dan kepemilikan mutlak.
"Dia adalah satu-satunya manusia yang berani menatap mataku tanpa takut. Satu-satunya yang berani bicara padaku dengan logika dan kebenaran. Kau? Kau hanya makhluk menjijikkan yang ingin menjual diri sendiri demi kekayaan dan kuasa."
Xiao Yi mengangkat tangan kanannya perlahan. Di kejauhan, A-Ming yang berdiri diam di samping pintu sudah bersiap, tangannya berada di gagang pedang di pinggangnya. Tinggal satu kode lagi, dan kepala ketiga orang itu akan berguling ke tanah.
"Tuan Xiao! Ampun! Ampunkan kami!" jerit Paman Lin semakin keras, mencium debu tanah sambil gemetar hebat.
Shen Yue melihat ini. Ia tahu Xiao Yi sangat mudah membunuh, dan baginya membunuh tiga orang ini sama mudahnya memetik bunga. Namun, meski mereka jahat, meski mereka kejam, Shen Yue tidak ingin darah mengalir di depan tokonya. Lagipula, hukuman mati terlalu mudah bagi mereka. Ia ingin mereka hidup dalam kehinaan, dalam kemiskinan, dan menyadari betapa rendahnya diri mereka. Itu hukuman yang lebih berat daripada kematian.
Shen Yue melangkah satu langkah ke samping, berdiri tepat di antara Xiao Yi dan keluarga itu. Ia mengangkat tangan kanannya, menahan isyarat pembunuhan yang hendak diberikan Xiao Yi.
"Tuan Xiao," ucap Shen Yue lantang dan tenang, matanya menatap tepat ke manik mata hitam yang sedang menyala amarah itu. "Biarkan saya yang mengurus mereka. Mereka bukan musuh sepadan bagi Anda. Membunuh mereka hanya akan mengotori tangan Anda dan tanah di depan toko saya. Biarkan mereka hidup dan merasakan betapa pahitnya hidup tanpa orang yang selama ini mereka hisap tenaganya."
Xiao Yi menatap gadis kecil di hadapannya ini. Ia mengerutkan kening, seolah tidak terima ada yang melarangnya melakukan apa pun. Namun, saat ia menatap mata jernih itu, ia merasa sulit untuk menolak. Ada kekuatan aneh yang menahannya, kekuatan yang membuatnya ingin menuruti apa pun yang dikatakan wanita ini.
"Kau yakin?" tanya Xiao Yi dingin. "Mereka berbahaya. Mereka akan mencelakaikanmu lagi saat aku pergi."
Shen Yue tersenyum miring, senyum penuh keyakinan diri.
"Biarkan saja. Selama saya ada di sini, saya siap menghadapi apa pun. Dan... jika mereka berani menyentuh ujung bajiku saja setelah hari ini..." Shen Yue melirik tajam ke arah Paman, Bibi, dan Lin Hongmei yang masih gemetar berlutut. "...maka Anda boleh melakukan apa pun yang Anda inginkan. Saya tidak akan menghalangi lagi."
Xiao Yi diam sejenak, lalu perlahan menurunkan tangannya. Aura pembunuh yang menyesakkan itu perlahan menghilang, digantikan oleh sikap dingin dan angkuhnya yang biasa. Ia berbalik menatap ke arah tiga orang yang sudah pucat seperti mayat itu.
"Kalian dengar itu?" suaranya menggelegar, penuh peringatan mengerikan. "Demi permintaan Nona Su, aku membiarkan kalian hidup hari ini. Tapi ingat baik-baik kata-kataku... jika aku mendengar atau melihat kalian berani mendekat, menyakiti, atau bahkan memikirkan hal buruk sedikit saja pada Nona Su... aku akan membuat kalian berharap kalian tidak pernah lahir ke dunia ini. Aku akan merobek kulit kalian, mematahkan setiap tulang di tubuh kalian, dan memberi kalian rasa sakit yang berlangsung berhari-hari hingga kalian gila dan mati meronta-ronta."
Ancaman itu diucapkan dengan nada datar, tanpa emosi, namun cukup membuat isi perut ketiga orang itu berubah menjadi air. Mereka mengangguk berulang kali, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
"Sekarang... pergilah. Hilang dari pandanganku!" bentak Xiao Yi.
Mereka bertiga langsung bangkit dengan susah payah, lalu lari terhuyung-huyung seperti orang gila, menjauh dari tempat itu secepat mungkin, tidak berani menoleh ke belakang lagi. Rasa takut yang mereka rasakan hari ini akan menghantui mimpi buruk mereka seumur hidup.
Setelah sosok mereka menghilang di tikungan jalan, suasana kembali menjadi hening. Angin berhembus pelan menggoyangkan kelopak bunga di halaman.
Shen Yue menghela napas panjang, merasakan ketegangan di bahunya perlahan menghilang. Ia berbalik menghadap Xiao Yi yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau terlalu lembut pada serangga," komentar Xiao Yi dingin, namun tidak ada kemarahan dalam suaranya lagi. Ia melangkah maju, jarak mereka kembali menjadi sangat dekat. "Tapi aku suka keberanianmu. Kau satu-satunya yang berani menghentikan tanganku yang penuh darah ini."
Shen Yue mendongak, menatap lurus ke manik matanya. "Saya bukan lembut, Tuan Xiao. Saya hanya tahu kapan harus berhenti. Darah tidak selalu menyelesaikan masalah. Kadang, rasa malu dan rasa takut jauh lebih efektif."
Xiao Yi terdiam. Ia menatap wajah gadis itu lama sekali, seolah ingin mengingat setiap garis wajah itu ke dalam ingatannya selamanya. Perlahan, sudut bibirnya yang dingin mulai melengkung naik sedikit. Senyum yang sangat tipis, sangat samar, tapi nyata.
"Kau benar..." gumamnya pelan. "Kau benar-benar menarik, Yue."
Namun, sekejap kemudian, kilatan cahaya lain melintas di matanya. Kerutan keningnya hilang seketika, digantikan oleh sorot mata cerah dan penuh semangat. Postur tubuhnya yang kaku dan mengancam kembali menjadi santai.
Xiao Lei muncul kembali, dengan senyum lebar dan cerah yang khas, seolah tidak ada hal mengerikan yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.
"Wah! Hebat sekali Yue! Kau mengusir mereka dengan hebat! Dan kau melindungi kami dari darah kotor! Bagus, bagus!" seru Xiao Lei riang, lalu ia menepuk-nepuk bahu Shen Yue dengan antusias, sama sekali tidak peduli betapa berat dan kerasnya tepukan itu bagi tubuh kecil gadis itu.
"Dan kau tahu... Xiao Yi itu diam saja karena dia sebenarnya takut kau marah, lho!" bisik Xiao Lei sambil menutup mulutnya dengan tangan, seolah sedang membocorkan rahasia besar. Ia tertawa renyah, matanya berbinar lucu. "Dia dingin dan galak sama semua orang, tapi kalau sama kau... dia cuma patung bisu! Lucu sekali dia!"
Di belakang mereka, A-Ming yang masih berdiri di ambang pintu hanya bisa menutup matanya dan menggeleng pelan, berusaha keras menahan tawa. Tuan muda... benar-benar tidak ada obatnya.
Shen Yue menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pasrah namun hangat. Ia menatap pria di depannya ini, pria yang memiliki dua sisi yang sangat bertolak belakang, namun keduanya sama-sama terikat padanya.
"Sudah, sudah. Cukup mengolok-olok dirimu sendiri, Xiao Lei," ucap Shen Yue sambil berjalan kembali masuk ke dalam toko, memberi isyarat agar mereka masuk. "Sekarang, karena kau sudah ada di sini... mari kita selesaikan urusan belanjamu. Kau butuh bunga putih, kan? Aku sudah siapkan yang terbaik untukmu."
Xiao Lei bersorak gembira, langsung melompat masuk ke dalam toko mengikuti langkah Shen Yue seperti anak anjing yang setia.
"Asyik! Bunga putih! Pasti indah sekali! Yue, Yue... nanti kau ikut aku pulang ya? Aku ingin kau melihat taman bunga rahasia di kediamanku! Di sana indah sekali, tapi... tapi bunganya sering mati karena Xiao Yi sering marah-marah di sana," kata Xiao Lei dengan nada sedih di akhir kalimatnya. Ia menatap Shen Yue dengan pandangan memohon yang polos. "Kau mau kan ikut? Kau pasti bisa membuat bunga itu hidup kembali... sama seperti kau membuat hatiku merasa nyaman setiap kali dekatmu."
Kalimat polos namun dalam itu membuat langkah kaki Shen Yue terhenti sejenak. Ia menoleh, menatap mata jernih Xiao Lei yang sama sekali tidak ada kepura-puraan.
Di luar, matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang hangat menerangi toko bunga kecil itu. Shen Yue sadar, ikatan ini semakin kuat, semakin rumit, dan semakin berbahaya. Namun, entah mengapa, di tengah bahaya dan duri tajam itu, ia justru merasa lebih hidup daripada saat ia berada di dunianya sendiri.
Shen Yue tersenyum lembut, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah. Aku ikut. Tapi ingat satu syarat..." ucap Shen Yue sambil menatap tajam ke arah sudut ruangan di mana aura dingin Xiao Yi masih bersembunyi. "...tidak ada darah, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada ancaman kematian selama aku ada di sana. Setuju?"
Xiao Lei mengangguk antusias, senyumnya melebar hingga menyentuh telinga.
"Setuju! Sepakat! Xiao Yi pasti setuju juga! Kalau dia menolak, aku tidak akan membiarkan dia keluar lagi!" serunya ceria.
Shen Yue menghela napas sambil tersenyum.
Baiklah, pikirnya. Petualangan baru di kediaman sang Penguasa Gelap akan segera dimulai. Dan siapa tahu, di balik tembok tinggi dan pagar besi itu, ia akan menemukan lebih banyak rahasia, lebih banyak luka lama, dan mungkin... tempat di mana ia akhirnya bisa berakar dan mekar dengan indah.